Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 18


__ADS_3

18. Gelombang Cinta


            Embun di


pagi buta masih menetes meski mentari telah bersinar terang di horizon timur.


Sejuknya udara pagi masih bisa dirasakan meskipun kampus berada di kawasan


kota. Oktia sudah sampai di kampus dan menunggu gerbang gedung kampus dibuka di


bawah pepohonan bersama Okti. Oktia dan Okti satu kelompok untuk presentasi di


pagi yang sejuk ini. Selang tak berapa lama Damar datang. Oktia, Okti, dan


Damar membicarakan materi yang akan dipresentasikan oleh Oktia dan Okti. Detik


berganti. Dayat datang melangkahkan kakinya.


            “Itu, Dayat datang.”


kata Okti.


            Oktia yang melihat


Dayat datang memilih menghentikan pembicaraannya dengan Damar. Dayat yang baru


saja datang menyapa Damar. Setelah gerbang gedung kampus dibuka dan pintu kelas


masih tertutup. Oktia, Okti, Dayat, Damar, dan Rahma menunggu di beranda


gedung. Dayat duduk di sebelah Rahma. Tatapan mata Dayat melukiskan hatinya


yang galau. Dalam penantian dibukanya pintu kelas Dayat menyanyikan sepotong


lirik sebuah lagu.


            Kumenangis tertahan ingat kau tak lagi bersamaku


            Oktia yang


mengetahui Dayat galau mencoba menghiburnya. Oktia berbincang dengan Dayat.


Sorot mata Dayat masih melukiskan kegalauan hatinya.


            Selang waktu


berjalan, dosen tak jua datang. Kelas kosong. Rahma meminta Dayat untuk


mengajari materi yang akan dipakainya untuk presentasi. Oktia ikut nimbrung belajar bersama Dayat dan


Rahma. Kelas gaduh riuh rendah. Dayat, Oktia, dan Rahma memilih keluar kelas


menuju beranda gedung kampus. Di beranda gedung kampus itulah mereka kembali


belajar.


            Hari berganti hari.


Tiba saatnya untuk kuliah Optika Geometri dan Fisis. Bangku-bangku favorit


telah terisi. Masih ada satu yang kosong. Bangku yang kosong itu terletak di

__ADS_1


koordinat sebelah kanan Damar tepat di depan Dayat. Oktia duduk di bangku


kosong itu. Sang dosen tiba dengan langkahnya yang tegap meski usianya sudah


senja hampir memasuki usia pensiun. Dosen tak langsung memberi materi kuliah.


Namun, membicarakan masalah ‘gelombang’.


            “Cinta itu datang


dari mata turun ke hati karena adanya gelombang.” terang Dosen.


            “Wul, cinta itu


datang dari mata turun ke hati Wul.” kata Dayat menirukan ucapan dosen pada


Wulan yang duduk di sebelah kanannya. “Kata orang jodoh itu di tangan Tuhan.


Sekarang, jelasin ke gue, gimana caranya ngambil jodoh dari tangan Tuhan.”


            “Ya usaha dong.”


batin Oktia mengomentari ucapan Dayat yang ucapannya masih bisa terdengar oleh


Oktia yang duduk di depannya.


            “Emangnya yang


nyatain cinta duluan itu harus cowok apa? Nyatain cinta itu susah.” kata Dayat


pada Wulan.


barusan. “Ihh.. masak maunya dia cewek duluan yang bilang cinta ke cowok. Ya


nggak mau lah. Yang suka duluan siapa yang disuruh nyatain cinta siapa.” batin


Oktia.


            Oktia yang belum


begitu mengerti dengan karakter Dayat, mencari tahu lewat media sosial facebook untuk mencari tahu riwayat


asmaranya. Kenapa Dayat bisa begitu dan bagaimana pacarnya dulu. Pada intinya


Oktia ingin tahu kenapa Dayat bisa ngomong ‘emangnya yang harus nyatain cinta


duluan itu cowok apa? Nyatain cinta itu susah’. Setelah lama dicari-cari.


Akhirnya ketemu juga. Nama pacar Dayat dulu adalah Mayang. Kuliah di sekolah


vokasi UGM program studi Rekam Medis. “Rekam medis? Kok dulu bilangnya Teknik


Sipil ya?” Foto mantan pacar Dayat juga terpampang dalam cover photo. Orangnya cantik, putih, rambutnya panjang. “Pacarnya


dulu cantik. Kok bisa ya suka sama aku yang kayak gini.” Data untuk mencari


tahu kenapa Dayat bisa ngomong ‘emangnya yang harus nyatain cinta duluan itu


cowok apa? Nyatain cinta itu susah’ belum ketemu.


            Mentari yang

__ADS_1


bersembunyi dalam kelamnya malam kembali muncul. Kuliah dilaksanakan pagi hari.


Sebelum ke kelas, Oktia pergi ke kantin kejujuran. Pagi itu Oktia mengenakan


baju ungu. Setibanya di kantin kejujuran Dayat datang. Ia mengenakan batik


kelas yang berwarna ungu dan berjaket hitam.


            “Eh, pake ungu


juga.” kata Dayat entah pada siapa.


            Setelah urusan di


kantin kejujuran selesai, Oktia menuju kelas. Oktia duduk di barisan depan, di


depan Oktia ada kursi Damar. Dayat tiba di kelas dan duduk di barisan belakang.


Rahma datang. Dipanggilnya Rahma.


            “Yang, Yang duduk di


sebelahku aja Yang.” kata Dayat pada Rahma yang baru saja datang.


            “Yang? Yang sayang


atau Yang Mayang? Ihh.. masak kalau dia suka sama aku, tapi manggil Rahma


‘yang’.” pikir Oktia seketika mendengar Dayat memanggil Rahma dengan kata


‘Yang’.


            Kuliah pagi ini


hampir dimulai. teman-teman sudah datang. Kursi Damar yang semula di depan


sendiri digesernya di samping Oktia. Formasi barisan terdepan pagi itu ada


Hadi, Damar, Oktia, dan Wulan. Oktia duduk di samping kanan Damar. Bangku


sebelah kanan Wulan kosong karena pemilik bangku sebelah kanan Wulan sedang


presentasi di depan kelas. Dayat datang dari barisan belakang menuju barisan


depan.


            “Kursi depan situ


kosong kan? Aku duduk di situ ya?” kata Dayat.


            “Makanya jangan sok


manas-manasin. Panas sendiri kan? Aku duduk dijejeri Damar.” batin Oktia.


            Dayat yang membawa


dua makalah menyerahkan salah satu makalah pada Oktia.


            “Ini ada makalah. Kamu sama Damar,


aku sama Wulan.” kata Dayat pada Oktia.

__ADS_1


__ADS_2