
Abu-abu
Libur memang sudah dimulai. Selama liburan Oktia
dan Dayat tak saling berkomunikasi. Meskipun begitu, Oktia sering membuka
facebook hanya sekedar ingin tahu kabar Dayat melalui status yang dibuatnya.
“Lhoh ada apa ini?
Kalau Dayat memang suka sama aku kok dia ngetag Tita note di facebooknya? Dia
juga nggak nyari aku tuh. Apa-apaan lagi ini? Puput berteman dengan saudaranya
Dayat? Ada hubungan apa antara Dayat sama Puput? Sampai-sampai saudaranya Dayat
berteman sama Puput.”
Hari kedua masuk kuliah setelah libur lebaran,
Oktia berpapasan dengan Dayat ketikan hendak menuju kelas. Dayat berangkat
bersama Damar. Kelas yang dituju berada di lantai dua. Mereka berjalan bersama.
Oktia, Dayat, dan Damar. Kebetulan juga ada Okti. Sesampainya di balkon Dayat
memberi bros berwarna abu-abu yang entah ia dapatkan dari mana.
“Oktia, kamu mau ini nggak?”
“Tapi itu warnanya abu-abu.”
“La ini bening lho!”
“La tapi itu abu-abu.”
“Yaudah tak buang aja. Lagian aku nemunya di
tempat sampah.” Kata Dayat sambil membuang bros itu di tempat sampah.
“Kamu nggak suka abu-abu ta?” tanya Damar sambil
berjalan masuk kelas.
Oktia hanya diam menanggapi pertanyaan Dayat.
Sesampainya di kelas Dayat menyindir Oktia.
__ADS_1
“Tadi malem lihat 1cak. Sayang kalau kita nikah
kamu mau aku belikan motor atau mobil? Motor aja sayang biar kita bisa
boncengan berdua. Kita ntar kan bisa lebih deket. Kalau gitu aku nggak mau. Mak
jlep.”
“Maksud aku nggak gitu Yat. Aku cuma pengen
ngasih tahu kamu kalau kamu itu abu-abu. Kamu nggak jelas. Kamu deketin aku,
emang beneran suka atau gimana? Sekali-kali aku pengen nyindir kamu. Masak kamu
terus yang nyindir aku. Tiap hari kamu sindirin itu bikin hati aku sakit.
Ngomong aja terus terang kenapa? Maaf tentang bros itu. Aku nggak bermaksud
nolak kamu. Tapi kamu udah nge-judge kalau udah aku tolak. Kalau emang aku niat nolak kamu, sejak aku tahu kamu suka
sama aku, aku nggak mau kamu deketin.”
Ada file materi kuliah yang belum Damar miliki.
Maka, ia mengirim pesan pada Oktia untuk meng-email-kan file mata kuliah yang
dengan warnet terdekat lumayan jauh, sekitar 3-4 km.
Hari Senin, Damar menanyai Oktia. Tepat sebelum
kuliah Fisika Statistik.
“Warnetnya jauh nggak dari rumahmu?”
“Deket kok Pan.” Jawab Oktia. “Paling jaraknya 3
km dari rumahku. Kenapa sih tanya-tanya? Penting ya? Aku ngelakuinnya senang-senang
aja kok. Kayak nggak ada beban meski jauh.” Batin Oktia.
“Aku sebenarnya pengen bilang nggak usah aja.
Kalau aku jadi kamu aku nggak mau. Panas-panas ke luar rumah.”
“Kamu kok gitu sih Mar. Aku rela repot-repot ke
warnet kan demi kamu.” batin Oktia kecewa.
__ADS_1
Kuliah Fisika Statistik dimulai. Dayat ditanyai
sang dosen pengampu mata kuliah Fisika Statistik
“Remang-remang tidak jelas itu apa Mas?”
“Abu-abu Pak.”
“Abu-abu? Berasa aku yang mempopulerkan kata
abu-abu yang kutulis di statusku.”
Dayat masih berusaha untuk mendekati Oktia. Ia
mengajak Oktia belajar.
“Belajar bareng
yuh, habis isya di P3AI.”
Oktia yang kecapean
ketiduran setelah maghrib dan terbangun ketika jam sudah menunjukkan pukul
8.00. Oktia baru saja membaca SMS dari dayat yang ia kirim setelah Oktia
tertidur.
“Belajar barengnya
jadi? Aku baru bangun. Tadi ketiduran aku capek banget.”
“Nggak jadi kok.”
Keesokan harinya
ketika kuliah dan dosen belum juga memberi kuliah, tanpa sengaja Oktia mendengar
perkataan Heni.
“Tadi malem ngerjain sama Dayat nggak ketemu
og.”
“Katanya tadi malem nggak jadi belajar bareng?
Kok Heni bisa bilang kayak gitu? Berarti tadi malem aku dibohongi?” batin Oktia
__ADS_1
meredam kekecewaan dan sakit hati karena dibohongi.