Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 37


__ADS_3

Abu-abu


Libur memang sudah dimulai. Selama liburan Oktia


dan Dayat tak saling berkomunikasi. Meskipun begitu, Oktia sering membuka


facebook hanya sekedar ingin tahu kabar Dayat melalui status yang dibuatnya.


            “Lhoh ada apa ini?


Kalau Dayat memang suka sama aku kok dia ngetag Tita note di facebooknya? Dia


juga nggak nyari aku tuh. Apa-apaan lagi ini? Puput berteman dengan saudaranya


Dayat? Ada hubungan apa antara Dayat sama Puput? Sampai-sampai saudaranya Dayat


berteman sama Puput.”


Hari kedua masuk kuliah setelah libur lebaran,


Oktia berpapasan dengan Dayat ketikan hendak menuju kelas. Dayat berangkat


bersama Damar. Kelas yang dituju berada di lantai dua. Mereka berjalan bersama.


Oktia, Dayat, dan Damar. Kebetulan juga ada Okti. Sesampainya di balkon Dayat


memberi bros berwarna abu-abu yang entah ia dapatkan dari mana.


“Oktia, kamu mau ini nggak?”


“Tapi itu warnanya abu-abu.”


“La ini bening lho!”


“La tapi itu abu-abu.”


“Yaudah tak buang aja. Lagian aku nemunya di


tempat sampah.” Kata Dayat sambil membuang bros itu di tempat sampah.


“Kamu nggak suka abu-abu ta?” tanya Damar sambil


berjalan masuk kelas.


Oktia hanya diam menanggapi pertanyaan Dayat.


Sesampainya di kelas Dayat menyindir Oktia.

__ADS_1


“Tadi malem lihat 1cak. Sayang kalau kita nikah


kamu mau aku belikan motor atau mobil? Motor aja sayang biar kita bisa


boncengan berdua. Kita ntar kan bisa lebih deket. Kalau gitu aku nggak mau. Mak


jlep.”


“Maksud aku nggak gitu Yat. Aku cuma pengen


ngasih tahu kamu kalau kamu itu abu-abu. Kamu nggak jelas. Kamu deketin aku,


emang beneran suka atau gimana? Sekali-kali aku pengen nyindir kamu. Masak kamu


terus yang nyindir aku. Tiap hari kamu sindirin itu bikin hati aku sakit.


Ngomong aja terus terang kenapa? Maaf tentang bros itu. Aku nggak bermaksud


nolak kamu. Tapi kamu udah nge-judge kalau udah aku tolak. Kalau emang aku niat nolak kamu, sejak aku tahu kamu suka


sama aku, aku nggak mau kamu deketin.”


Ada file materi kuliah yang belum Damar miliki.


Maka, ia mengirim pesan pada Oktia untuk meng-email-kan file mata kuliah yang


dengan warnet terdekat lumayan jauh, sekitar 3-4 km.


Hari Senin, Damar menanyai Oktia. Tepat sebelum


kuliah Fisika Statistik.


“Warnetnya jauh nggak dari rumahmu?”


“Deket kok Pan.” Jawab Oktia. “Paling jaraknya 3


km dari rumahku. Kenapa sih tanya-tanya? Penting ya? Aku ngelakuinnya senang-senang


aja kok. Kayak nggak ada beban meski jauh.” Batin Oktia.


“Aku sebenarnya pengen bilang nggak usah aja.


Kalau aku jadi kamu aku nggak mau. Panas-panas ke luar rumah.”


“Kamu kok gitu sih Mar. Aku rela repot-repot ke


warnet kan demi kamu.” batin Oktia kecewa.

__ADS_1


Kuliah Fisika Statistik dimulai. Dayat ditanyai


sang dosen pengampu mata kuliah Fisika Statistik


“Remang-remang tidak jelas itu apa Mas?”


“Abu-abu Pak.”


“Abu-abu? Berasa aku yang mempopulerkan kata


abu-abu yang kutulis di statusku.”


Dayat masih berusaha untuk mendekati Oktia. Ia


mengajak Oktia belajar.


“Belajar bareng


yuh, habis isya di P3AI.”


Oktia yang kecapean


ketiduran setelah maghrib dan terbangun ketika jam sudah menunjukkan pukul


8.00. Oktia baru saja membaca SMS dari dayat yang ia kirim setelah Oktia


tertidur.


“Belajar barengnya


jadi? Aku baru bangun. Tadi ketiduran aku capek banget.”


“Nggak jadi kok.”


Keesokan harinya


ketika kuliah dan dosen belum juga memberi kuliah, tanpa sengaja Oktia mendengar


perkataan Heni.


“Tadi malem ngerjain sama Dayat nggak ketemu


og.”


“Katanya tadi malem nggak jadi belajar bareng?


Kok Heni bisa bilang kayak gitu? Berarti tadi malem aku dibohongi?” batin Oktia

__ADS_1


meredam kekecewaan dan sakit hati karena dibohongi.


__ADS_2