Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 19


__ADS_3

19. Tatapan Mata yang Menyadarkan


            Ujian


Teori Relativitas Khusus dilaksanakan take


home. Ujian dilaksanakan secara berkelompok. Kelompok Damar ada Widi dan


Gita. Sedangkan kelompok Oktia ada Rini dan Rensa. Padahal, Widi, Gita, Rini,


dan Rensa ada presentasi yang belum mereka kerjakan. Gita dan Widi mengusulkan


agar Damar dan Oktia jadi satu kelompok karena Rini dan Rensa juga ada


presentasi.


            “Ti, aku ngerjainnya


bareng kamu.”


            “Lho kok bisa Mar?”


            “Kelompokmu kan Rini


dan Rensa. Mereka ada presentasi. Jadi yang banyak waktunya cuma kamu.


Sedangkan kelompokku ada Gita dan Widi. Mereka juga ada presentasi. Kata Gita


kita ngerjainnya bareng aja.”


            “Ok deh nggak


apa-apa.”


            Hari telah berganti. Deadline dikumpulkan ujian hampir


tiba.


            “Kita ngerjainya di


kost kamu ya Ti.”


            “Jangan di kost-ku Mar.


Kita ngerjainnya bareng-bareng aja sama temen-temen di perpus.”


            Dalam percakapan


antara Oktia dengan Damar, Dayat sedang menaikkan radarnya untuk menangkap isi


pembicaraan Oktia dengan Damar. Oktia memilih mengerjakan di perpustakaan.


Sedangkan Damar memilih mengerjakan ujian di rumahnya. Mereka tidak jadi


mengerjakan ujian bersama.


            Matahari baru saja


tenggelam di ufuk barat. HP Oktia berbunyi. Ada SMS dari Damar.


            “Okti, kamu udah


selesai ngerjain UTS-nya? Kalau udah habis magrib aku ke kost-mu ya. Boleh


nggak? aku mau ngopy?”


            “Aku belum selesai


Mar. Aku cuma ngerjain bagianku yang nomor 3.”


            SMS Oktia tak


kunjung di balas. Oktia mengirim pesan pada Damar lagi.


            “Boleh Mar, tapi aku


baru ngerjain soal nomor 3. Soalnya kelompokku ada pembagian tugas. Yang nomor


lain dikerjain Rensa dan Rini.”


            “Maaf , nggak tak


balas. Besok pagi aja aku nyonto.”


            Oktiapun mulai


galau. Ingin rasanya Oktia menyanyikan sebuah lagu sebagai ungkapan isi


hatinya.

__ADS_1


Aku terperangkap


Di antara dua hati yang mencintaiku


Mencintaiku


Kubingung tak menentu


Siapa yang benar-benar mencintaiku


Mencintaiku


Mereka berlomba saling mencuri mendapatkan hatiku


Siapa yang pantas yang bisa kuandalkan


Bukan rayuan bukan pujian


Yang aku butuhkan cinta apa adanya


Aku pilih dia


Tuhan tolong aku


Siapa yang benar-benar aku cintai hidup dan mati


Beri petunjukmu


Biar aku takkan salah pilih yang tepat tepat akurat


Selasa pagi. Hari di mana akan di adakan ujian


Kewirausahaan. Oktia melangkahkan kakinya menuju kampus. Tampaknya sang penjaga


kampus kesiangan. Gedung kuliah yang akan dipakai belum dibukanya. Damar dan


Anti datang lebih pagi dari Oktia.


            “Lama sekali penjaga


kampusnya.” batin Oktia.


            Oktia memilih


menunggu pintu gerbang gedung kampus dibuka bersama Damar dan Anti pas di depan


pintu gerbang kampus. Awalnya Oktia, Damar, dan Anti ngobrol bersama. Oktia


beranda dekat pintu gerbang gedung kampus kira-kira berjarak sepuluh meter dari


tempat Oktia berdiri bersama beberapa teman yang lain. Oktia menghentikan acara


ngobrolnya dengan Damar dan Anti dari pada Oktia harus melihat sorot mata Damar


yang penuh kecemburuan ketika melihat Oktia ngobrol dengan Damar. Anti berjalan


ke arah beranda tempat di mana ada Dayat. Oktia mengikuti Anti yang ternyata di


beranda sudah banyak teman-teman sekelas. Ternyata Damar juga mengikuti Oktia.


            “Eh.. Damar.” sapa


Dayat pada Damar.


            Seperti beberapa


hari yang lalu. Ketika Dayat melihat Oktia mengobrol bersama Damar sewaktu


menunggu pintu gerbang kampus dibuka pasti yang akan disapa adalah Damar.


            Mereka menunggu


pintu gerbang gedung kampus dibuka di beranda gedung. Dalam penantian dibukanya


pintu gerbang Damar melihat Gigin sedang membuka foto pacarnya via laptopnya.


            “Gigin lagi lihat


foto ceweknya.” kata Damar pada teman-teman.


            “Inisialnya MR.”


kata Dayat.


            “MR kepanjangannya


apa?” sahut Oktia.


            “Miftakhul Rahma.”

__ADS_1


jawab Dayat


            “Aku sering lho


mergokin mereka jalan bareng.” kata Damar.


            “Sebenarnya kamu


pengenkan Mar?” celetuk Dayat.


            Pintu gerbang kampus


telah dibuka. Mereka berjalan menuju kelas yang akan dipakai untuk ujian.


Setibanya di kelas Oktia duduk di barisan kedua. Sedangkan Damar, seperti


biasanya duduk di garda terdepan.


            “Kok nggak duduk di


depan?”


            “Nggak aja lah. Ada


ujian.”


            Di tangan Oktia, terdapat beberapa fotocopy-an makalah yang sudah dipresentasikan. Biasanya Damar


selalu rajin menge-print materi kuliah. Namun, sepertinya tidak untuk kali ini.


            “Okti, Aku pinjam


makalahnya dong!”


            “Yang mana Mar?”


            “Yang lagi nggak


kamu baca.”


            “Ini.”


            Setelah menyerahkan


makalah pada Damar, Oktia melanjutkan membaca makalah lagi sebelum dosen datang


untuk menguji kemampuan mereka. Damar yang masih menghadap ke belakang. Entah


hanya perasaan Oktia saja atau tidak tatapan mata Damar mengisyaratkan sesuatu.


Tatapan mata yang tak kunjung berhenti menatap apa yang dilihatnya. Tatapan


mata yang mengisyaratkan sesuatu itu menuju ke arah wajah Oktia. Oktia


tertunduk malu. Ia menundukkan wajahnya lebih dalam melihat ke arah makalah


yang ada di tangannya. Berharap tatapan mata itu berhenti. Selang beberapa lama


kemudian.


            “Okti, pinjam


makalah yang lain dong!”


            “Ini Mar.”


            Seperti tadi. Ada


sesuatu yang lain dari matanya. Damar menatap Oktia dengan tatapan mata yang


seperti tadi. Oktia menundukkan wajahku lagi. Oktia gelisah.


            “Mar, di belakang ada Dayat Mar,


Dayat yang beberapa waktu lalu membuatku sadar bahwa dia mendekatiku.” batin


Oktia pada Damar. Oktia ingin mencegah Damar agar tidak melihatnya dengan


tatapan mata seperti itu. Tatapan mata yang membuat tertunduk malu. Namun, apa


daya Oktia tak mampu melakukannya. Oktia teringat dengan peristiwa beberapa


waktu yang lalu. Teringat omongan Mbak Sina yang mengatakan bahwa itu terlihat


dari mata Damar. Ya. Hari di mana akan diadakan ujianlah hari di mana Oktia


membuktikan omongan Mbak Sina. Kalimat “kelihatan lho dari mata kamu” terngiang


di telinganya. Setelah sekian lama, baru kali ini Oktia dapat membuktikannya

__ADS_1


sendiri lewat mata kepalanya sendiri.


__ADS_2