Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 35


__ADS_3

Sebuah Pion


            Setelah


ujian Matematika Fisika, Oktia dan Risma makan siang di foodcourt. Setelah


makan siang, mereka pergi ke perpustakaan. Dalam perjalanan menuju


perpustakaan, seperti biasa Oktia curhat tentang masalahnya dengan Dayat di


hari Senin kemarin. Tiba-tiba Risma menyuruh Oktia diam.


            “Ada anak kelas lain


Ti. Lewat sana aja.” saran Risma sambil menarik tangan Oktia.


            “Mereka tadi nggak


denger apa-apa kan Ris? Masalahnya ada sepupu Dayat juga.” kata Oktia sambil


menoleh ke arah gerombolan yang ditunjuk Risma.


            “Kalaupun denger


pasti mereka juga nggak ngerti.”


            Oktia dan Risma


memasuki perpustakaan dan tiba di ruang penitipan tas.


            “Mereka tadi jadi ke


perpus nggak Ris?” tanya Oktia sambil merapikan buku-buku yang akan dibawanya.


“Nggak tahu.” jawab Risma. Kemudian Oktia


melihat ke arah depan. Jedderrr.


Seketika pandangan Oktia menuju ke arah sepupu Dayat. “Untung aku tadi nggak


ngomong macem-macem lagi.” batin Oktia.


“Hehehe Riza... ke perpus juga ya?” basa-basi


Oktia.


“Iya, besok kamu ujian apa Ti?” tanya Riza.


“TRK.”


“Sama berarti.”


“Aku duluan ya Za.”


Oktia dan Risma menuju lantai dua di ruang


koleksi untuk belajar. Setelah mencari buku, mereka mencari tempat duduk. Oktia


belum sholat zuhur. Ia memutuskan untuk sholat di mushola perpustakaan. Setelah


selesai sholat, Oktia mengecek HP-nya apakah ada SMS atau tidak. Ternyata ada


SMS masuk dari Dayat setengah jam yang lalu.


“Okti, ke perpus yuh.” isi SMS Dayat.


“Aku udah di perpus lantai dua.” balas Oktia.


Ana datang. Ia juga akan belajar bersama di


perpustakaan. Jam menunjukkan pukul 14.00. Biasanya, Dayat ke perpus jam 14.00.


Namun, ia tak kunjung tiba. Oktia menengok ke arah jendela perpustakaan.


“Udah, nanti juga bakal dateng.” kata Risma.


 Oktia


yang masih trauma dengan Dayat yang tak menepati janjinya setelah mengajak ke


perpuatakaan menengok ke arah jendela perpustakaan lagi. Oktia menegok ke


halaman perpustakaan lewat jendela perpustakaan. Ia melihat seorang berbaju


merah maron berhelm putih mengendarai motornya dari arah utara. “Dayat datang.”


batin Oktia. Ia masih mengawasinya dari jendela perpustakaan sampai Dayat


memarkirkan motornya.


“Dayat udah datang Ris.” Kata Oktia. Oktia


kembali duduk di kursinya sambil menunggu Dayat. Beberapa menit kemudian, Dayat


datang membawa buku-bukunya. Kemudian Oktia dan Dayat belajar bersama. Risma


dan Ana belajar sendiri. Sedari tadi Dayat menghela nafas. Dan memang semenjak


Oktia tahu perasaan Dayat. Tiap kali Dayat bersama Oktia, ia sering menghela


nafas. Hela nafasnya seperti menghela untuk melepaskan suatu beban perasaaan.


“Kamu kenapa Yat? Dari tadi menghela nafas.”


“Kurang olah raga.” kata Dayat sambil menepuk


dadanya.


“Kayak gitu kok kurang olah raga. Aku aja yang


nggak pernah olah raga nggak sampai segitunya.” batin Oktia.


“Kamu nanti di perpus sampai jam berapa Ti?”


“Paling jam empatan aku pulang. Emangnya


kenapa?”


“Mita SMS mau ke sini. Entar ndak kecilik.”


Oktia masih berbincang dengan Dayat. Ada seorang


laki-laki yang lewat di depan Oktia hendak menuju rak buku di dekat Oktia dan


Dayat duduk. Seorang laki-laki yang tak dikenalnya berbadan tinggi besar sambil


membawa laptop. Perhatian Oktia sempat beralih pada laki-laki yang lewat


tersebut ketika berbicara dengan Dayat. Dayat yang mungkin menyadari hal itu


melihati laki-laki yang lewat tadi. Semula Dayat berbincang dengan Oktia.


Namun, setelah laki-laki tadi ada tepat di depan Dayat, Dayat melihati


laki-laki tersebut.


“Dayat kok ngelihatinnya sampai segitu sih.”


batin Oktia yang melihat Dayat melihati laki-laki tadi.


Azan berkumandang.


“Aku sholat dulu.”


“Sholat di mana Yat?”


“Mushola perpus.”


“Aku ikut sekalian dong.”


Sebelum menuju mushola, mereka melihat-lihat rak


buku bagian novel.


“Ada novel yang baru nggak?” tanya Dayat.


“Banyak kok. Novel itu minimal berapa halaman

__ADS_1


sih Yat?”


“Segini ini lho.” Kata Dayat sambil


memperlihatkan sebuah novel.


“Aku buat novel sudah hampir delapan puluh


halaman.”


Kemudian mereka menuju mushola perpustakaan.


Mushola perpustakaan cukup ramai. Tempat wudhu laki-laki dan perempuan tidak


dipisah. Oktia memilih menunggu lebih lama supaya tidak bercampur di tempat


wudhu. Setelah sholat, Dayat langsung pulang.


Hari berganti. Ada ujian jam 7.30. sudah banyak


teman-teman Oktia yang ada di depan kelas, termasuk pion-pion Dayat. Setibanya


di depan kelas yang sudah ditentukan sebagai ruang ujian, langkah Oktia


terhenti.


“Kok pada nggak masuk ada apa?” tanya Oktia pada


Okti.


“Ruang ujiannya ganti.” Kata Okti.


Oktia yang belum paham dengan satu soal


kisi-kisi yang telah diberikan dosen, menanyakannya pada Damar yag sudah tiba


sedari tadi. Oktia dan Damar berjalan berdampingan membicarakan soal yang  Oktia tanyakan, menuju lantai dua di belakang


pion-pion Dayat. Pion-pion Dayat yang sudah tiba ada Nudi dan Bowo. Hampir


melangkah ke anak-anak tangga gedung kuliah, Dayat tiba-tiba datang. Masih


dengan langkah yang seperti tadi, Oktia dan Damar melanjutkan pembicaraan


mereka. Setibanya di lantai dua, kelas ruang pengganti ujian belum dibuka.


Oktia menunggu di teras depan kelas. Oktia masih menanyakan kisi-kisi pada


Damar. Dayat datang menghampiri Oktia lalu berdiri di samping kanan Oktia


sambil membicarakan kisi-kisi ujian. Setelah Dayat berdiri di samping kanan


Oktia, Damar masuk kelas yang kebetulan ruang kelas telah dibuka. Setelah masuk


kelas, teman-teman masih sibuk dengan kisi-kisinya.


“Katanya mau njejeri Yat?” tanya salah satu teman Dayat.


“La udah penuh.” kata Dayat.


Kemudian Dayat menghampiri Oktia untuk


menuliskan beberapa rumus yang akan dipakai dalam ujian. Wulan datang,


menanyakan sesuatu pada Dayat. “Yess!” kata Dayat bersemangat sambil


mengepalkan tangannya. Sekiranya Dayat sudah selesai menuliskan rumus yang akan


dipakai ujian, ia pindah ke kursi belakang Oktia.


“Duh


Gusti, paringana bojo sing ayu.” doa Dayat.


Dosen datang menandakan ujian akan segera


dimulai. Setelah soal dibagikan, Oktia membaca soal itu satu persatu. Ada salah


satu soal bertuliskan. “Sebuah pion”. Membaca soal yang ada kata ‘pion’-nya,


Oktia menengak-nengok mencari Risma. Ujian telah usai. Oktia keluar ruang


“Ti, soal yang nomor tiga tadi gimana?”


“Yang itu Mar? Aku nggak bisa ngerjain. Yang


soalnya ‘sebuah pion’ kan?”


Dalam pembicaraan tersebut, ada pion-pion Dayat


yaitu Bowo dan Nudi. Kemudian, Oktia dan Damar membicarakan penyelesaian soal


‘sebuah pion’. Setelah selesai membahas penyelesaian soal. Oktia yang ditemani


Risma turun ke lantai satu. Melewati anak tangga, Oktia melihat Dayat menunggu


seseorang di depan gedung kampus meskipun Dayat keluar ruang ujian lebih awal


dibanding teman-teman yang lain. Kemudian Oktia dan Risma mampir ke kamar


mandi. Oktia dan Risma ke kamar mandi cukup lama. Setelah keluar dari kamar


mandi, Oktia melihat Dayat masih menunggu seseorang ditemani Mita meskipun


sudah sepi.


“Okti, ke perpus yuh.” Ajak Dayat pada Oktia


seketika Oktia berjalan keluar gedung kampus.


“Iya, tapi aku makan dulu ya Yat.” kata Oktia.


Oktia dan Risma menuju foodcourt bersama Ana dan Wati. Mereka makan bersama. Makanan yang


dipesan tak kunjung datang. Oktia mulai kesal. Ia tidak enak pada Dayat yang


harus menunggu lama. Terlebih Dayat tadi rela menunggu cukup lama hanya demi


akan mengajak Oktia ke perpustakaan.


“Ayo agak cepet Ris, aku nggak enak sama Dayat.”


kata Oktia pada Risma setelah mereka selesai makan.


“Iya, iya sabar. Aku tahu kamu pengen cepet


ketemu.” kata Risma.


Sesampainya di perpustakaan lantai dua, sudah


ada Dayat dan Mita sedang belajar. Oktia duduk di meja yang bisa dipakai untuk


diskusi. Dayat terlalu sibuk mengajari Mita. Oktia menengok jam di dinding


perpustakaan. Masih jam 10.30. Oktia pergi ke mushola perpustakaan untuk sholat


Dhuha. Ia di mushola perpustakaan hampir setengah jam. Sesampainya di lantai


dua lagi, Mita masih belajar diajari Risma. Sedangkan Dayat berbincang dengan


Rina.


“Kamu tadi ke mana Ti?” tanya Ana.


“Aku sholat An.” jawab Oktia.


Dayat kembali ke tempat duduknya setelah


berbincang dengan Rina.


“Itu demi kebaikan kalian lho.” kata Rina.


“Pas itu tu aku udah berusaha tapi Anti malah


yang bisa Rin.” kata Dayat.


“Pasti lagi ngomongin kejantanan lagi.” batin

__ADS_1


Oktia.


Kacamata Oktia diletakkan di meja. Tak sengaja


Dayat menjatuhkan tangannya ke kacamata Oktia.


“Hati-hati, entar pecah.” kata Oktia.


“Aku kalau lihat pake kacamata ini kok jadi


kelihatan lebih kecil ya? Kalau kamu gimana?” tanya Dayat sambil melihat dari


lensa kacamata Oktia.


“Ya tetep kelihatan agak kecil. Lensanya itu


fungsinya untuk mendekatkan yang jauh.”


“Mendekatkan yang jauh. Mendekatkan yang jauh.”


Waktu sudah hampir mendekati zuhur. Dayat, Rina,


dan Mita ke kost masing-masing. Sedangkan Oktia dan Wati sholat di mushola


perpustakaan.


“Untung ada Wati, kalau nggak kamu pasti sholat


sendiri.”


“Bukannya kemarin aku juga sholat sendiri ya?”


“Nggak, kemarin kamu sholat bareng Dayat.”


“Eh, iya ding.”


“Ris, titip barang-barang ya?”


“Bayar!”


“Masak cuma titip sebentar disuruh bayar.”


“Ya udah isi dompetmu aja tak ambil buat bayar.


Eh nggak berani ding, ada foto bapakmu. Aku takut sama bapakmu.”


“Makanya jangan macam-macam sama anaknya


bapakku. J a n g a n macam-macam.” canda Oktia yang sebenarnya menyindir Dayat


namun Dayatnya sudah pergi.


Setelah selesai sholat. Mereka ke kampus untuk


mengikuti ujian. Dalam perjalanan ke kampus.


“Ris, aku butuh pelampiasan buat ngelepasin uneg-uneg.”


“Kamu butuh pelampiasan? Tuh ada pot bunga.”


kata Risma sambil menunjuk pot bunga sebesar ember di pinggir tempat wudhu


kampus.


“Ku ingin


marah, melampiaskan, tapi ku hanyalah, sendiri di sini, ingin kutunjukkan, pada


siapa saja yang ada bahwa hatiku kecewa.” nyanyi Oktia ketika menaiki


tangga kampus.


Ujian hari ini selesai. Mereka yang lelah ujian


semenjak jam 7.30 sampai jam 15.00 pulang ke kost masing-masing.


Hari telah berganti. Masih ada ujian. Oktia


sudah sampai di ruang ujian lalu meletakkan tasnya. Kemudian Oktia belajar


bersama Okti, Risma, dan Wulan. Dayat datang. Dia melewati kursi Oktia. Kakinya


menendang kursi Oktia. “Biasa aja dong.” batin Oktia.


“Sini sudah ditempati belum? Aku sini aja.” kata


Dayat sambil menunjuk kursi di belakang diagonal dengan kursi Oktia.


Beberapa waktu kemudian, Dayat geser ke kursi di


samping kursi yang ditunjuknya tadi. Nudi datang. Nampaknya Nudi ingin duduk di


kursi yang ditunjuk Dayat tadi.


“Woy, woy, woy.” cegah Dayat.


Oktia kembali duduk di kursinya. Gita datang.


“Cie.. couple-an.”


kata Dayat pada Gita yang baru saja datang.


“Itu couple-annya


11 203 Yat.” komentar Nudi yang maksudnya nggak nyambung banget. Warna baju


Dayat dan Gita jauh berbeda.


“Aku couple-an sama Okti.” Kata Dayat.


“Okti aku, atau Okti, Okti?” batin Oktia


bertanya-tanya yang kebetulan warna baju Okti senada dengan warna baju Dayat.


“Rizki, Rizki.” kata Dayat lagi.


Pengawas ujian datang membagikan soal dan lembar


jawab. Ujianpun dimulai. dalam suasana hening itu, sinyal radar pendengaran


Oktia meninggi. Ia mendengar lagu Jambu Alas yang dinyanyikan Didi Kempot dari


arah bawah gedung kampus. Nampaknya ada tukang yang sedang memperbaiki sesuatu


di bawah lalu memutar lagu Jambu Alas. Mendengar lagu itu batin Oktia


tersentak. Ia akan ingat Damar dan Dayat begitu mendengar lagu Jambu Alas. Ia ingat


kejadian beberapa waktu lalu ketika Dayat menyanyikan lagu Jambu Alas untuk


Damar yang sedang duduk di samping Oktia. Damar duduk di depan Oktia jarak


beberapa baris segaris dengan Dayat bila dilihat dari depan.


“Wah, di depan ada Damar, di belakang ada


Dayat.” batin Oktia. Lagu Jambu Alas masih terputar.


Kelingan manis eseme terus kelingan ramah gemuyune


Tresna lan kasih kasih sayange karep atiku kelakon dadi bojone


Sayange wis duwe bojo nanging aku, aku wis kadung tresna


Nelangsa rasaning ati yen aku ora kelakon melu duweni


Jambu alas kulite ijo sing digagas uwis duwe bojo


Ada gula ada semut durung randa aja direbut


Sumpah ning batin yen kula jadi kawin


E kade ngerti ora bakal luru ganti


Sumpah wis janji arep sehidup semati


Seneng lan sedih bareng-bareng dilakoni

__ADS_1


Jambu alas nduk manis rasane


Senajan tilas tak enteni randane


__ADS_2