
Sebuah Pion
Setelah
ujian Matematika Fisika, Oktia dan Risma makan siang di foodcourt. Setelah
makan siang, mereka pergi ke perpustakaan. Dalam perjalanan menuju
perpustakaan, seperti biasa Oktia curhat tentang masalahnya dengan Dayat di
hari Senin kemarin. Tiba-tiba Risma menyuruh Oktia diam.
“Ada anak kelas lain
Ti. Lewat sana aja.” saran Risma sambil menarik tangan Oktia.
“Mereka tadi nggak
denger apa-apa kan Ris? Masalahnya ada sepupu Dayat juga.” kata Oktia sambil
menoleh ke arah gerombolan yang ditunjuk Risma.
“Kalaupun denger
pasti mereka juga nggak ngerti.”
Oktia dan Risma
memasuki perpustakaan dan tiba di ruang penitipan tas.
“Mereka tadi jadi ke
perpus nggak Ris?” tanya Oktia sambil merapikan buku-buku yang akan dibawanya.
“Nggak tahu.” jawab Risma. Kemudian Oktia
melihat ke arah depan. Jedderrr.
Seketika pandangan Oktia menuju ke arah sepupu Dayat. “Untung aku tadi nggak
ngomong macem-macem lagi.” batin Oktia.
“Hehehe Riza... ke perpus juga ya?” basa-basi
Oktia.
“Iya, besok kamu ujian apa Ti?” tanya Riza.
“TRK.”
“Sama berarti.”
“Aku duluan ya Za.”
Oktia dan Risma menuju lantai dua di ruang
koleksi untuk belajar. Setelah mencari buku, mereka mencari tempat duduk. Oktia
belum sholat zuhur. Ia memutuskan untuk sholat di mushola perpustakaan. Setelah
selesai sholat, Oktia mengecek HP-nya apakah ada SMS atau tidak. Ternyata ada
SMS masuk dari Dayat setengah jam yang lalu.
“Okti, ke perpus yuh.” isi SMS Dayat.
“Aku udah di perpus lantai dua.” balas Oktia.
Ana datang. Ia juga akan belajar bersama di
perpustakaan. Jam menunjukkan pukul 14.00. Biasanya, Dayat ke perpus jam 14.00.
Namun, ia tak kunjung tiba. Oktia menengok ke arah jendela perpustakaan.
“Udah, nanti juga bakal dateng.” kata Risma.
Oktia
yang masih trauma dengan Dayat yang tak menepati janjinya setelah mengajak ke
perpuatakaan menengok ke arah jendela perpustakaan lagi. Oktia menegok ke
halaman perpustakaan lewat jendela perpustakaan. Ia melihat seorang berbaju
merah maron berhelm putih mengendarai motornya dari arah utara. “Dayat datang.”
batin Oktia. Ia masih mengawasinya dari jendela perpustakaan sampai Dayat
memarkirkan motornya.
“Dayat udah datang Ris.” Kata Oktia. Oktia
kembali duduk di kursinya sambil menunggu Dayat. Beberapa menit kemudian, Dayat
datang membawa buku-bukunya. Kemudian Oktia dan Dayat belajar bersama. Risma
dan Ana belajar sendiri. Sedari tadi Dayat menghela nafas. Dan memang semenjak
Oktia tahu perasaan Dayat. Tiap kali Dayat bersama Oktia, ia sering menghela
nafas. Hela nafasnya seperti menghela untuk melepaskan suatu beban perasaaan.
“Kamu kenapa Yat? Dari tadi menghela nafas.”
“Kurang olah raga.” kata Dayat sambil menepuk
dadanya.
“Kayak gitu kok kurang olah raga. Aku aja yang
nggak pernah olah raga nggak sampai segitunya.” batin Oktia.
“Kamu nanti di perpus sampai jam berapa Ti?”
“Paling jam empatan aku pulang. Emangnya
kenapa?”
“Mita SMS mau ke sini. Entar ndak kecilik.”
Oktia masih berbincang dengan Dayat. Ada seorang
laki-laki yang lewat di depan Oktia hendak menuju rak buku di dekat Oktia dan
Dayat duduk. Seorang laki-laki yang tak dikenalnya berbadan tinggi besar sambil
membawa laptop. Perhatian Oktia sempat beralih pada laki-laki yang lewat
tersebut ketika berbicara dengan Dayat. Dayat yang mungkin menyadari hal itu
melihati laki-laki yang lewat tadi. Semula Dayat berbincang dengan Oktia.
Namun, setelah laki-laki tadi ada tepat di depan Dayat, Dayat melihati
laki-laki tersebut.
“Dayat kok ngelihatinnya sampai segitu sih.”
batin Oktia yang melihat Dayat melihati laki-laki tadi.
Azan berkumandang.
“Aku sholat dulu.”
“Sholat di mana Yat?”
“Mushola perpus.”
“Aku ikut sekalian dong.”
Sebelum menuju mushola, mereka melihat-lihat rak
buku bagian novel.
“Ada novel yang baru nggak?” tanya Dayat.
“Banyak kok. Novel itu minimal berapa halaman
__ADS_1
sih Yat?”
“Segini ini lho.” Kata Dayat sambil
memperlihatkan sebuah novel.
“Aku buat novel sudah hampir delapan puluh
halaman.”
Kemudian mereka menuju mushola perpustakaan.
Mushola perpustakaan cukup ramai. Tempat wudhu laki-laki dan perempuan tidak
dipisah. Oktia memilih menunggu lebih lama supaya tidak bercampur di tempat
wudhu. Setelah sholat, Dayat langsung pulang.
Hari berganti. Ada ujian jam 7.30. sudah banyak
teman-teman Oktia yang ada di depan kelas, termasuk pion-pion Dayat. Setibanya
di depan kelas yang sudah ditentukan sebagai ruang ujian, langkah Oktia
terhenti.
“Kok pada nggak masuk ada apa?” tanya Oktia pada
Okti.
“Ruang ujiannya ganti.” Kata Okti.
Oktia yang belum paham dengan satu soal
kisi-kisi yang telah diberikan dosen, menanyakannya pada Damar yag sudah tiba
sedari tadi. Oktia dan Damar berjalan berdampingan membicarakan soal yang Oktia tanyakan, menuju lantai dua di belakang
pion-pion Dayat. Pion-pion Dayat yang sudah tiba ada Nudi dan Bowo. Hampir
melangkah ke anak-anak tangga gedung kuliah, Dayat tiba-tiba datang. Masih
dengan langkah yang seperti tadi, Oktia dan Damar melanjutkan pembicaraan
mereka. Setibanya di lantai dua, kelas ruang pengganti ujian belum dibuka.
Oktia menunggu di teras depan kelas. Oktia masih menanyakan kisi-kisi pada
Damar. Dayat datang menghampiri Oktia lalu berdiri di samping kanan Oktia
sambil membicarakan kisi-kisi ujian. Setelah Dayat berdiri di samping kanan
Oktia, Damar masuk kelas yang kebetulan ruang kelas telah dibuka. Setelah masuk
kelas, teman-teman masih sibuk dengan kisi-kisinya.
“Katanya mau njejeri Yat?” tanya salah satu teman Dayat.
“La udah penuh.” kata Dayat.
Kemudian Dayat menghampiri Oktia untuk
menuliskan beberapa rumus yang akan dipakai dalam ujian. Wulan datang,
menanyakan sesuatu pada Dayat. “Yess!” kata Dayat bersemangat sambil
mengepalkan tangannya. Sekiranya Dayat sudah selesai menuliskan rumus yang akan
dipakai ujian, ia pindah ke kursi belakang Oktia.
“Duh
Gusti, paringana bojo sing ayu.” doa Dayat.
Dosen datang menandakan ujian akan segera
dimulai. Setelah soal dibagikan, Oktia membaca soal itu satu persatu. Ada salah
satu soal bertuliskan. “Sebuah pion”. Membaca soal yang ada kata ‘pion’-nya,
Oktia menengak-nengok mencari Risma. Ujian telah usai. Oktia keluar ruang
“Ti, soal yang nomor tiga tadi gimana?”
“Yang itu Mar? Aku nggak bisa ngerjain. Yang
soalnya ‘sebuah pion’ kan?”
Dalam pembicaraan tersebut, ada pion-pion Dayat
yaitu Bowo dan Nudi. Kemudian, Oktia dan Damar membicarakan penyelesaian soal
‘sebuah pion’. Setelah selesai membahas penyelesaian soal. Oktia yang ditemani
Risma turun ke lantai satu. Melewati anak tangga, Oktia melihat Dayat menunggu
seseorang di depan gedung kampus meskipun Dayat keluar ruang ujian lebih awal
dibanding teman-teman yang lain. Kemudian Oktia dan Risma mampir ke kamar
mandi. Oktia dan Risma ke kamar mandi cukup lama. Setelah keluar dari kamar
mandi, Oktia melihat Dayat masih menunggu seseorang ditemani Mita meskipun
sudah sepi.
“Okti, ke perpus yuh.” Ajak Dayat pada Oktia
seketika Oktia berjalan keluar gedung kampus.
“Iya, tapi aku makan dulu ya Yat.” kata Oktia.
Oktia dan Risma menuju foodcourt bersama Ana dan Wati. Mereka makan bersama. Makanan yang
dipesan tak kunjung datang. Oktia mulai kesal. Ia tidak enak pada Dayat yang
harus menunggu lama. Terlebih Dayat tadi rela menunggu cukup lama hanya demi
akan mengajak Oktia ke perpustakaan.
“Ayo agak cepet Ris, aku nggak enak sama Dayat.”
kata Oktia pada Risma setelah mereka selesai makan.
“Iya, iya sabar. Aku tahu kamu pengen cepet
ketemu.” kata Risma.
Sesampainya di perpustakaan lantai dua, sudah
ada Dayat dan Mita sedang belajar. Oktia duduk di meja yang bisa dipakai untuk
diskusi. Dayat terlalu sibuk mengajari Mita. Oktia menengok jam di dinding
perpustakaan. Masih jam 10.30. Oktia pergi ke mushola perpustakaan untuk sholat
Dhuha. Ia di mushola perpustakaan hampir setengah jam. Sesampainya di lantai
dua lagi, Mita masih belajar diajari Risma. Sedangkan Dayat berbincang dengan
Rina.
“Kamu tadi ke mana Ti?” tanya Ana.
“Aku sholat An.” jawab Oktia.
Dayat kembali ke tempat duduknya setelah
berbincang dengan Rina.
“Itu demi kebaikan kalian lho.” kata Rina.
“Pas itu tu aku udah berusaha tapi Anti malah
yang bisa Rin.” kata Dayat.
“Pasti lagi ngomongin kejantanan lagi.” batin
__ADS_1
Oktia.
Kacamata Oktia diletakkan di meja. Tak sengaja
Dayat menjatuhkan tangannya ke kacamata Oktia.
“Hati-hati, entar pecah.” kata Oktia.
“Aku kalau lihat pake kacamata ini kok jadi
kelihatan lebih kecil ya? Kalau kamu gimana?” tanya Dayat sambil melihat dari
lensa kacamata Oktia.
“Ya tetep kelihatan agak kecil. Lensanya itu
fungsinya untuk mendekatkan yang jauh.”
“Mendekatkan yang jauh. Mendekatkan yang jauh.”
Waktu sudah hampir mendekati zuhur. Dayat, Rina,
dan Mita ke kost masing-masing. Sedangkan Oktia dan Wati sholat di mushola
perpustakaan.
“Untung ada Wati, kalau nggak kamu pasti sholat
sendiri.”
“Bukannya kemarin aku juga sholat sendiri ya?”
“Nggak, kemarin kamu sholat bareng Dayat.”
“Eh, iya ding.”
“Ris, titip barang-barang ya?”
“Bayar!”
“Masak cuma titip sebentar disuruh bayar.”
“Ya udah isi dompetmu aja tak ambil buat bayar.
Eh nggak berani ding, ada foto bapakmu. Aku takut sama bapakmu.”
“Makanya jangan macam-macam sama anaknya
bapakku. J a n g a n macam-macam.” canda Oktia yang sebenarnya menyindir Dayat
namun Dayatnya sudah pergi.
Setelah selesai sholat. Mereka ke kampus untuk
mengikuti ujian. Dalam perjalanan ke kampus.
“Ris, aku butuh pelampiasan buat ngelepasin uneg-uneg.”
“Kamu butuh pelampiasan? Tuh ada pot bunga.”
kata Risma sambil menunjuk pot bunga sebesar ember di pinggir tempat wudhu
kampus.
“Ku ingin
marah, melampiaskan, tapi ku hanyalah, sendiri di sini, ingin kutunjukkan, pada
siapa saja yang ada bahwa hatiku kecewa.” nyanyi Oktia ketika menaiki
tangga kampus.
Ujian hari ini selesai. Mereka yang lelah ujian
semenjak jam 7.30 sampai jam 15.00 pulang ke kost masing-masing.
Hari telah berganti. Masih ada ujian. Oktia
sudah sampai di ruang ujian lalu meletakkan tasnya. Kemudian Oktia belajar
bersama Okti, Risma, dan Wulan. Dayat datang. Dia melewati kursi Oktia. Kakinya
menendang kursi Oktia. “Biasa aja dong.” batin Oktia.
“Sini sudah ditempati belum? Aku sini aja.” kata
Dayat sambil menunjuk kursi di belakang diagonal dengan kursi Oktia.
Beberapa waktu kemudian, Dayat geser ke kursi di
samping kursi yang ditunjuknya tadi. Nudi datang. Nampaknya Nudi ingin duduk di
kursi yang ditunjuk Dayat tadi.
“Woy, woy, woy.” cegah Dayat.
Oktia kembali duduk di kursinya. Gita datang.
“Cie.. couple-an.”
kata Dayat pada Gita yang baru saja datang.
“Itu couple-annya
11 203 Yat.” komentar Nudi yang maksudnya nggak nyambung banget. Warna baju
Dayat dan Gita jauh berbeda.
“Aku couple-an sama Okti.” Kata Dayat.
“Okti aku, atau Okti, Okti?” batin Oktia
bertanya-tanya yang kebetulan warna baju Okti senada dengan warna baju Dayat.
“Rizki, Rizki.” kata Dayat lagi.
Pengawas ujian datang membagikan soal dan lembar
jawab. Ujianpun dimulai. dalam suasana hening itu, sinyal radar pendengaran
Oktia meninggi. Ia mendengar lagu Jambu Alas yang dinyanyikan Didi Kempot dari
arah bawah gedung kampus. Nampaknya ada tukang yang sedang memperbaiki sesuatu
di bawah lalu memutar lagu Jambu Alas. Mendengar lagu itu batin Oktia
tersentak. Ia akan ingat Damar dan Dayat begitu mendengar lagu Jambu Alas. Ia ingat
kejadian beberapa waktu lalu ketika Dayat menyanyikan lagu Jambu Alas untuk
Damar yang sedang duduk di samping Oktia. Damar duduk di depan Oktia jarak
beberapa baris segaris dengan Dayat bila dilihat dari depan.
“Wah, di depan ada Damar, di belakang ada
Dayat.” batin Oktia. Lagu Jambu Alas masih terputar.
Kelingan manis eseme terus kelingan ramah gemuyune
Tresna lan kasih kasih sayange karep atiku kelakon dadi bojone
Sayange wis duwe bojo nanging aku, aku wis kadung tresna
Nelangsa rasaning ati yen aku ora kelakon melu duweni
Jambu alas kulite ijo sing digagas uwis duwe bojo
Ada gula ada semut durung randa aja direbut
Sumpah ning batin yen kula jadi kawin
E kade ngerti ora bakal luru ganti
Sumpah wis janji arep sehidup semati
Seneng lan sedih bareng-bareng dilakoni
__ADS_1
Jambu alas nduk manis rasane
Senajan tilas tak enteni randane