
Stalker
Hari
jumat memang tidak ada kuliah. Namun, masih ada praktikum. Oktia berangkat
menggunakan motor. Sesampinya di kawasan laboratorium, Oktia mengegas motornya
dengan sedikit pelan. Ia menengok ke belakang melalui kaca spion motornya. Ia
melihat seseorang mengendarai motor berwarna merah mengenakan baju koko warna
biru. Ia mengenali orang itu. Nudi. Orang itu adalah Nudi. Nudi mengikuti
langkah Oktia meskipun Oktia mengendarai motornya dengan pelan. Oktia
memarkirkan motornya. Nudi pun memarkirkan motornya di depan Oktia memarkirkan
motornya meskipun tidak di depannya tepat.
“Ke labnya entar aja
deh. Nudi biar duluan. Dari tadi kayak diikutin Nudi.” batin Oktia.
Nudi
memainkan HP di atas motornya. Nudi tak kunjung jalan ke laboratorium. Oktia
mulai lelah menunggu Nudi duluan ke laboratorium. Ia menyerah. Ia melangkahkan
kakinya ke laboratorium melewati Nudi. Nudi ikut melangkah menuju laboratorium.
Pada akhirnya, Oktia dan Nudi berjalan bersama berdampingan menuju laboratorium
Elektronika dan Instrumentasi melewati ruang lobi, anak tangga menuju lantai
dua. Sesampainya di lorong lantai dua yang ada washtafel-nya, Nudi cuci tangan. Oktia berfikir dia tidak diikuti
lagi. Namun ternyata, setelah di lantai tigapun, Oktia masih diikuti. Di depan
laboratorium fotografi, Nudi tidak lagi berjalan bersama Oktia.
“Tugasmu sudah selesai ya Nud? Aku sudah sampai
dengan selamat tanpa lecet sedikitpun kok Nud.” batin Oktia.
Sampai di depan laboratorium Elektronika dan
Instrumentasi, Oktia tidak langsung masuk lab. Ia pergi ke kamar mandi untuk
cuci tangan. Setelahnya, Oktia masuk ke lab. Belum banyak orang yang datang.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Dayat datang, duduk di pojok depan lab.
“Aku tadi malem mimpi apa ya kok lupa?” kata
Dayat.
“Emang kamu tadi malem tidur Yat?” tanya Nudi.
“Eh, iya ding. Semalem aku nggak tidur.” kata
Dayat. “SIPO, PIPO, KEPO.” “Cinderella.”
“KEPO? Aduh, dia tahu nggak ya kalau kemarin aku
ngepo dia? Dia juga bilang Cinderella juga.” batin Oktia.
Waktu terus berjalan. Risma datang lalu mencolek
tengkuk Oktia.
“Kacang!” kata Risma sambil mencolek tengkuk
Oktia.
“Au!!” teriak Oktia yang kaget. Heni yang latah
mengikuti jeritan Oktia. Semua orang menoleh ke arah Oktia.
Risma sampai tertawa cekikikan hingga terduduk
di pojok belakang lab. Oktiapun ikut cekikikan bersama Risma terlebih setelah
mendengar kata ‘kacang’ terucap dari mulut Risma.
“Risma itu kenapa?” tanya Wulan penasaran.
“Nggak apa-apa kok.” Kata Oktia menjawabkan
pertanyaan Wulan pada Risma.
“Ris, udah ketawanya. Entar yang lain pada
curiga.” saran Oktia.
“Habisnya aku geli lihat Dayat. Jadi keinget ‘kacang’.”
bela Risma.
Ketika praktikum masih berlangsung, Dayat menyanyikan sebuah lagu
yang dipopulerkan Michel Telo yang berjudul Ai
__ADS_1
Se Eu Te Pego.
“Nossa, nossa Assim você me mata Ai, se eu te pego, Ai, ai, se eu te pego.” nyanyi Dayat.
“Ehem ehem.” dehem Wulan.
“Pit, cintaku bertepuk sebelah tangan.” kata
Dayat pada Pita.
“Siapa? Tita?” tanya Pita.
Setelah praktikum selesai mereka berfoto-foto di
dalam laboratorium. Setelah selesai praktikum, mereka pulang melewati ruang
lobi yang sedang digunakan untuk pameran. Melihat teman-teman yang lain
mengunjungi pameran, Oktia mampir sebentar. Setelah selesai mengunjungi
pameran, Oktia dan Risma pulang bersama.
“Ti, kayaknya Nudi tadi ngawasin kamu lho.”
“Nudi ngawasin aku? Kalau Dayat?”
“Nggak tahu. Tapi yang kelihatan ngawasin kamu
itu Nudi.”
“Aku jadi bingung Ris. Yang suka denganku itu
Dayat atau Nudi. Kok Nudi malah ngawasin aku.”
“Nggak tahulah. Aku juga bingung dengan sikap
mereka.”
“Akhir-akhir ini Nudi jadi sering berangkat pagi
terus duduk di sebelahnya Damar. Dia itu pengen misahin aku dengan Damar atau
biar Puput nggak duduk di deket Damar?”
“Tapi, kalau dia mau misahin Damar dengan Puput,
kenapa Puputnya juga masih duduk di depan?”
“Nggak
tahu ah! Aku bingung.”
__ADS_1