Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 15


__ADS_3

15. Kaget


Rabu pagi.


Kuliah dimulai pukul 7.00. Mata Oktia yang sudah rabun -0,75 dioptri membuatnya


tak jelas melihat kejauhan ketika sedang tidak menggunakan kaca mata. Ia


melihat sepertinya ada teman-teman sekelas. Pengelihatan Oktia yang agak kabur


melihat kejauhan membuatnya urung menyapa mereka. Takut salah orang. Namun,


telingnya dengan jelas mendengar suara Okti, Hadi, Dayat, Gita. Gedung kuliah


memang belum dibuka. Sehingga, mereka muter-muter  mencari pintu gedung yang sudah terbuka.


Ternyata, pintu yang mereka tuju juga masih tertutup. Mereka beristirahat


sebentar. Oktia berdiri di depan Dayat. Ingin melihat reaksinya dengan kejadian


kemarin. Dia berdiri di depan Oktia namun tak melihat Oktia sama sekali.


“Cuek banget ini orang. Pura-pura nggak ngelihat


aku. Udah ketahuan eh.. pura-pura cuek.” pikir oktia.


Kemudian Oktia ikut rombongan teman-temannya


mencari pintu gedung yang sudah terbuka. Sesampainya di depan kelas sudah ada


Damar yang menunggu pintu kelas dibuka oleh penjaga kampus. Setelah pintu kelas


dibuka dan Oktia beserta teman-temannya masuk kelas. Oktia duduk di sebelah


Damar di barisan terdepan. Mereka mulai belajar meski dosen belum tiba. Dayat


duduk di barisan kedua bersebelahan dengan Gita. Dayat sering menanyakan materi


kuliah pada Damar. Hal ini membuat Oktia merasa dikacangin oleh Damar.


Gara-gara Damar sibuk meladeni Dayat.


Risma datang duduk di belakang Oktia menayakan


pada Oktia apakah nanti jadi ke perpus.


“Ti, nanti jadi belajar bareng di perpus nggak?”

__ADS_1


“Nggak tahu. Tanya Dayat aja.”


“Yat, nanti jadi belajar bareng di perpus


nggak?”


“Iya. Insya Allah jadi.”


Kuliah kedua berlangsung. Di kuliah kedua ini


Oktia masih duduk di samping Damar. Waktu itu, dosen memberikan kertas berisi


materi kuliah pada Damar. Sedangkan Oktia tidak karena kertasnya terbatas dan


satu kertas dipakai untuk dua orang.


 “Nanti


tak copy-in.” kata Damar.


“Apanya yang mau di-copy?” tanya Oktia penasaran.


“Materi ini. La kamu mau nggak?”


“Oh ya boleh. Makasih ya.”


Berhubung kuliah sudah usai, dan masih siang


belum mau pulang ke kost. Oktia, Ana, Okti, dan Risma memutuskan untuk ke


perpus. Sudah hampir setengah jam mereka di perpustakaan. Dalam hati Oktia


bertanya-tanya, “Katanya Dayat mau ke perpus buat belajar bareng. Kok nggak


dateng-dateng?” Berhubung masing-masing ada keperluan Okti meninggalkan perpus,


lalu Ana, dan terakhir Risma. Oktia masih betah di perpustakaan. Sekitar


seperempat jam Oktia sendirian di perpus. Sekitar pukul 14.00 tiba-tiba Dayat


datang. Oktia benar-benar kaget.


“Loh, kok Dayat tahu kalau aku ada di perpus.


Jangan-jangan Risma ngasih tahu kalau aku di perpus. Akupun ditinggal sendirian


oleh mereka. Mereka pergi berurutan satu per satu. Apakah ini sudah

__ADS_1


direkayasa?” batin Oktia bertanya-tanya.


“Hey!” sapa Dayat.


“Eh...Iya.” sapa Oktia balik.


“Masih betah di perpus.”


“Iya, bosan di kost.”


“Aku juga bosan di kost jadinya ke perpus.” kata


Dayat yang masih berdiri sambil mengeluarkan semua isi di sakunya.


Pada akhirnya mereka belajar bersama di


perpustakaan dan cuma berdua. Oktia yang teringat kejadian kemarin dan


menghubung-hubungkan kejadian hari ini benar-benar bingung dengan apa maunya


Dayat. Berhubung Dayat itu lebih pintar, jadinya dia yang mengajari Oktia. Dia


mengajari berbagai hal namun materi yang dia ajarkan hanya masuk di telinga


kiri keluar dari telinga kanan Oktia. Pikiran Oktia masih kacau. Oktia yang


dites dengan soal penjumlahanpun merasa kesulitan untuk menjawabnya. Kali ini


konsentrasi Oktia benar-benar pecah. Berhubung Oktia nggak mau merasa bodoh di


hadapannya, Oktia mengalihkan pembicaraan ke hal yang ringan. Dalam pembicaraan


itu, Oktia gunakan untuk mengatur suasana hati. Namun, Dayat mengajak untuk


belajar lagi. Sudah hampir satu jam mereka belajar bersama. Sebelum Dayat


datang Oktia merencanakan untuk pulang ke kost jam 15.00.


“Sudah sore nih. Pulang yuk!” ajak Dayat.


“Ini anak kok juga tahu sih kalau aku mau pulang


jam 15.00.” batin Oktia.


“Ayo.”


jawab Oktia.

__ADS_1


__ADS_2