
15. Kaget
Rabu pagi.
Kuliah dimulai pukul 7.00. Mata Oktia yang sudah rabun -0,75 dioptri membuatnya
tak jelas melihat kejauhan ketika sedang tidak menggunakan kaca mata. Ia
melihat sepertinya ada teman-teman sekelas. Pengelihatan Oktia yang agak kabur
melihat kejauhan membuatnya urung menyapa mereka. Takut salah orang. Namun,
telingnya dengan jelas mendengar suara Okti, Hadi, Dayat, Gita. Gedung kuliah
memang belum dibuka. Sehingga, mereka muter-muter mencari pintu gedung yang sudah terbuka.
Ternyata, pintu yang mereka tuju juga masih tertutup. Mereka beristirahat
sebentar. Oktia berdiri di depan Dayat. Ingin melihat reaksinya dengan kejadian
kemarin. Dia berdiri di depan Oktia namun tak melihat Oktia sama sekali.
“Cuek banget ini orang. Pura-pura nggak ngelihat
aku. Udah ketahuan eh.. pura-pura cuek.” pikir oktia.
Kemudian Oktia ikut rombongan teman-temannya
mencari pintu gedung yang sudah terbuka. Sesampainya di depan kelas sudah ada
Damar yang menunggu pintu kelas dibuka oleh penjaga kampus. Setelah pintu kelas
dibuka dan Oktia beserta teman-temannya masuk kelas. Oktia duduk di sebelah
Damar di barisan terdepan. Mereka mulai belajar meski dosen belum tiba. Dayat
duduk di barisan kedua bersebelahan dengan Gita. Dayat sering menanyakan materi
kuliah pada Damar. Hal ini membuat Oktia merasa dikacangin oleh Damar.
Gara-gara Damar sibuk meladeni Dayat.
Risma datang duduk di belakang Oktia menayakan
pada Oktia apakah nanti jadi ke perpus.
“Ti, nanti jadi belajar bareng di perpus nggak?”
__ADS_1
“Nggak tahu. Tanya Dayat aja.”
“Yat, nanti jadi belajar bareng di perpus
nggak?”
“Iya. Insya Allah jadi.”
Kuliah kedua berlangsung. Di kuliah kedua ini
Oktia masih duduk di samping Damar. Waktu itu, dosen memberikan kertas berisi
materi kuliah pada Damar. Sedangkan Oktia tidak karena kertasnya terbatas dan
satu kertas dipakai untuk dua orang.
“Nanti
tak copy-in.” kata Damar.
“Apanya yang mau di-copy?” tanya Oktia penasaran.
“Materi ini. La kamu mau nggak?”
“Oh ya boleh. Makasih ya.”
Berhubung kuliah sudah usai, dan masih siang
belum mau pulang ke kost. Oktia, Ana, Okti, dan Risma memutuskan untuk ke
perpus. Sudah hampir setengah jam mereka di perpustakaan. Dalam hati Oktia
bertanya-tanya, “Katanya Dayat mau ke perpus buat belajar bareng. Kok nggak
dateng-dateng?” Berhubung masing-masing ada keperluan Okti meninggalkan perpus,
lalu Ana, dan terakhir Risma. Oktia masih betah di perpustakaan. Sekitar
seperempat jam Oktia sendirian di perpus. Sekitar pukul 14.00 tiba-tiba Dayat
datang. Oktia benar-benar kaget.
“Loh, kok Dayat tahu kalau aku ada di perpus.
Jangan-jangan Risma ngasih tahu kalau aku di perpus. Akupun ditinggal sendirian
oleh mereka. Mereka pergi berurutan satu per satu. Apakah ini sudah
__ADS_1
direkayasa?” batin Oktia bertanya-tanya.
“Hey!” sapa Dayat.
“Eh...Iya.” sapa Oktia balik.
“Masih betah di perpus.”
“Iya, bosan di kost.”
“Aku juga bosan di kost jadinya ke perpus.” kata
Dayat yang masih berdiri sambil mengeluarkan semua isi di sakunya.
Pada akhirnya mereka belajar bersama di
perpustakaan dan cuma berdua. Oktia yang teringat kejadian kemarin dan
menghubung-hubungkan kejadian hari ini benar-benar bingung dengan apa maunya
Dayat. Berhubung Dayat itu lebih pintar, jadinya dia yang mengajari Oktia. Dia
mengajari berbagai hal namun materi yang dia ajarkan hanya masuk di telinga
kiri keluar dari telinga kanan Oktia. Pikiran Oktia masih kacau. Oktia yang
dites dengan soal penjumlahanpun merasa kesulitan untuk menjawabnya. Kali ini
konsentrasi Oktia benar-benar pecah. Berhubung Oktia nggak mau merasa bodoh di
hadapannya, Oktia mengalihkan pembicaraan ke hal yang ringan. Dalam pembicaraan
itu, Oktia gunakan untuk mengatur suasana hati. Namun, Dayat mengajak untuk
belajar lagi. Sudah hampir satu jam mereka belajar bersama. Sebelum Dayat
datang Oktia merencanakan untuk pulang ke kost jam 15.00.
“Sudah sore nih. Pulang yuk!” ajak Dayat.
“Ini anak kok juga tahu sih kalau aku mau pulang
jam 15.00.” batin Oktia.
“Ayo.”
jawab Oktia.
__ADS_1