
Responsi praktikum yang cukup rumit, membuat teman-taman sekelas Oktia meminta pada petugas laboratorium untuk mengizinkan mereka satu kelas untuk belajar merangkai berbagai rangkaian yang telah diajarkan di laboratorium saat labolatorium sedang tidak dipakai. Oktia memilih meja praktikum di depan meja praktikumnya Damar. Damar sendirian waktu itu. Mungkin dia agak kebingungan tentang praktikum yang ia kerjakan lalu bertanya pada Oktia.
“Ini sebenarnya gimana sih?” tanya Damar.
Oktia yang belum sempat menjawab pertanyaan Damar, tiba-tiba saja Dayat datang dan menjawab pertanyaan Damar. Berhubung Dayat lebih paham dengan praktikum yang akan diujikan, Oktia memintanya untuk mengajarinya. Lalu, Dayat mengajari Oktia dan teman-teman yang lain di meja terdepan. Oktia duduk di dekat Dayat. Damar asyik sendiri dengan praktikumnya di meja paling belakang. Sedangkan Nudi bersama Puput hanya berdua belajar merangkai rangkaian yang akan diujikan di meja paling belakang bersebelahan dengan meja Damar. Tangan Dayat asyik merangkai rangkaian sambil menerangkan sesuatu. Sesekali mereka bercanda.
“Sebagai mahasiswa kita harus memiliki sesuatu agar kita paham dengan materi yang kita pelajari.” ceramah Dayat.
“Contohnya gimana?” tanya Oktia yang mulai penasaran.
“Contohnya, kalau mahasiswa kedokteran ya harus memiliki stetoskop.” jawabnya singkat.
__ADS_1
“Kalau kita sebagai mahasiswa pendidikan harus memiliki apa?” tanya Oktia yang masih penasaran.
“Memilikimu.” jawab Dayat.
“Kok kambuh lagi sih penyakit gombalnya.” pikir Oktia polos.
Suatu ketika, hari di mana ujian semester ketiga hampir tiba. Dayat mengajak Oktia untuk belajar bersama di perpus. Berhubung Oktia ada perlu di kost, Oktia memilih pulang ke kost terlebih dulu. Waktu di kost dia habiskan cukup lama. Masih ada pekerjaan anak kost. Ndrett-ndreet. HP Oktia bergetar. Ada SMS dari Dayat.
“Sudah sampai di perpus?”
Sesampainya di perpus, Oktia mendapati Risma dan Okti sedang berdua membicarakan sesuatu. Oktia menanyakan pada mereka apakah mereka juga di-SMS Dayat. Mereka mengaku tidak di SMS. Oktia jadi teringat postingan Dayat yang ada di blognya. Dalam blognya, dia menceritakan bahwa Bowo dulu PDKT sama Rensa dengan cara Bowo sering menanyakan tugas pada Rensa lewat SMS. Yang di SMS Bowo cuma Rensa.
__ADS_1
Padahal Rensa dan Tira satu kost. Rensa tanya ke Tira apakah Tira juga di SMS Bowo. Namun, ternyata yang di SMS cuma Rensa saja. Tira tidak. Dari situlah Rensa tahu bahwa Bowo sedang PDKT ke Rensa. Menghubungkan SMS dari Dayat dan isi postingan Dayat di blognya. Oktia tak berkesimpulan jika Dayat sedang PDKT.
Karena dia berpikir, bahwa mungkin saja Dayat menyimpulkan kalau Oktia ke perpus Risma dan Sari ikut ke perpus. Jadi, yang di SMS cuma Oktia yang lain pasti ikut. Tapi mungkin tidak bagi Risma. Sewaktu Oktia, Dayat, Risma, dan Okti belajar bareng. Oktia melihat Risma dan Okti sudah tidak fokus dan duduk agak jauh dari Dayat dan Oktia. Oktia masih tetap memperhatikan Dayat yang sedang menjelaskan materi. Di saat Oktia masih memperhatikan penjelasan Dayat, Oktia mendengar sepotong pembicaraan Risma dan Okti yang sedang bisik-bisik.
“Kita tuh cuma nemenin orang PDKT.” bisik Risma pada Okti.
“Hehehe... Iya.” bisik Okti.
“Kalian tadi ngomong apa?” tanya Oktia mulai curiga.
“Eh..enggak. enggak apa-apa.” jawab Risma sambil tertawa.
__ADS_1
“Hah? PDKT? Yang PDKT siapa?” batin Oktia mulai bertanya-tanya.
“Jangan-jangan aku sama Dayat. Kok bisa sih? Aku sebenarnya masih takut dengan yang namanya PDKT rasanya bakalan ribet ya kalau berurusan sama Dayat.” intuisi Oktia mulai bekerja.