Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 38


__ADS_3

Terimakasih Damar...


Damar, yang sudah


lama tidak datang ke kost Oktia, entah angin apa yang membisiki Damar. Tiba-tiba


ingin berkunjung ke kost Oktia.


“Oktia, besok aku


ke kosmu ya? Pengen tanya tugas.”


“Ok. Mar, dateng


aja. Jam berapa kamu mau dateng?”


“Habis kuliah aja


aku ke kosmu.”


Damar tiba di kost


Oktia. Oktia meyambut Damar yang memang sudah lama tidak datang berkunjung


semenjak Dayat datang ke dalam cerita Oktia dan Damar. Mereka mengerjakan tugas


yang diberikan dosen bersama. Setelah tugas hampir selesai, Damar memberi tahu


Oktia sesuatu.


“Oktia, pas aku


pinjem HP Puput, aku lihat inboxnya banyak SMS dari Dayat lho. Terus nama Dayat


di HP-nya Puput itu dinamai Dayat Elek. Kamu tahu maksudnya nggak sih Ti?”


“Ha? Maksudnya


gimana Mar?” tanya Oktia pura-pura tidak tahu.


“Mereka itu kayak


orang jadian. Puput suka sama Dayat.”


“Oh.” jawab Oktia


singkat. “Aku sebenarnya juga sudah tahu kedekatan mereka kok Mar. Aku sering


lihat mereka boncengan bersama sewaktu pulang kuliah. Itu sebabnya aku nggak


mau deket sama Dayat lagi. Terimakasih ya Mar. Setidaknya, terimakasih atas


kepedulian kamu. Apakah mungkin kamu masih ingin menjaga perasaanku agar tidak


terluka gara-gara Dayat? Agar aku jangan lagi mengharapkan Dayat? Mungkin


maksud kamu ke sini cuma mau ngasih tahu aku soal Dayat dan Puput. Sekarang aku


tahu aku harus bagaimana. Terimakasih sudah mengingatkanku. Sekarang aku nggak


berharap lagi sama Dayat. Aku baru mengerti, orang yang memang peduli sama aku,


itu kamu Mar. Aku memang tahu kalau dulu Dayat suka sama aku, tapi aku cuma


ngerasa kalau dia ingin aku jadi miliknya tanpa memperdulikan perasaanku.


Sekali lagi terimakasih Mar.” Batin Oktia pura-pura tegar.


Oktia memeriksa


identitas tugas Damar agar Damar tidak melakukan kesalahan ketika tugas sudah


dikirim via e-mail.


“NIM-nya salah deh


kayaknya. Harusnya kan 18. Eh, nggak ding bener NIM Damar belakangnya 28. Nomor


NIM yang belakangnya 18 itu punya Dayat.” batin Oktia yang masih kacau sewaktu


melihat tugas Damar yang akan dikirim via e-mail. Ada harap, orang yang ada di


sampingnya adalah orang yang memiliki NIM yang nomor belakangnya 18.


“Aku nitip ngirim


e-mail ya Mar.”


“Iya. Pake aja


laptopku.”


“kok nggak


terkirim-kirim sih?”


“Kalau belum


terkirim, bawa aja modemku habis kuisi kok.”


“Nggak usah


repot-repot Mar. Tunggu aja bentar.” jawab Oktia. “Kamu kok baik banget sih


sama aku?” batin Oktia terharu.


Oktia hampir tak


sanggup lagi menghadapi jalan takdinya. Ia bersimpuh menghadap Tuhannya meminta


petunjuk dengan shalat istikharah. Pikiran Oktia masih saja dipenuhi angan


tentang Dayat setelah shalat istikharah. Bunga tidurnya pun begitu. Dihiasi


bayang-bayang Dayat yang berkelebat tak meninggalkan makna ataupun petunjuk.


Oktia tak lagi


mengarapkan petunjuk itu. Beberapa hari kemudian, ia bermimpi bertemu Damar.


Damar menunggu Oktia selesai kuliah, mengajak Oktia pulang bersama. Oktia yang


masih bersama teman-temannya memilih pulang bersama Damar. Pada suatu tempat


mereka berhenti. Damar menggenggam tangan dan menatap mata Oktia tanpa sepatah


katapun. Pada mimpi itu, yang Oktia tahu adalah Damar mencintai Oktia. Namun,


tak terucap.


“Aku mikirnya


Dayat. Tapi, kok yang aku mimpiin dengan jelas malah Damar ya? Petunjuk apa ini


Yaa Allah?” batin Oktia kebingungan.


Sewaktu hari libur,


Oktia diajak ayahnya pergi ke Boyolali. Mungkin ayah Oktia sebenarnya tahu apa


yang menjadi beban Oktia. Ia sangat paham putri satu-satunya itu tak mudah


menceritakan penderitaannya pada orang lain. Pergi ke suatu tempat lalu diajak


bicara dari hati ke hati adalah metode yang digunakan ayah Oktia tiap kali


putrinya itu menampakkan raut muka yang tak bahagia. Sewaktu perjalanan, ayah


Oktia memberi nasehat pada Oktia.


“Nduk, hati-hati


kalau deket sama cowok ganteng tapi suka bohong.”


“Iya Ayah.” jawab


Oktia. “Kok Ayah bisa bilang gitu sih? Aku kan nggak cerita apa-apa mengenai


Dayat yang kadang bohongin aku. Petunjuk apa ini Yaa Allah? Mungkinkah Dayat


itu tak baik untukku?” batin Oktia.


Sekembalinya Oktia


ke kampus, Oktia mengantar Risma ke halte sepulang kuliah. Setelah keluar


parkiran, mereka haru menyeberangi perempatan jalan di kampus. Sewaktu


menyeberang Oktia dan Risma bertemu Dayat yang juga sedang menyeberang jalan.


Oktia memang tak mahir dalam urusan menyeberang.


“Aaa......” teriak


Oktia dan Risma sewaktu menyeberang yang hampir saja tertabrak.


“Opolah!” kata


Dayat.


“Ris, Dayat jahat


banget sih. Tau orang nggak bisa nyebrang malah dikatain opolah. Mbok yao


ditolong kek!”


“Nggak tahu tuh


orang!”


Sesampainya di


taman rektorat, Oktia dan Risma berhenti dan mememarkirkan motornya. Banyak hal


yang mereka bicarakan.


            “Aku


tadi siang cerita-cerita sama mbak Okti. Tentang masalah kamu dan Dayat.”


“Kerja kamu bagus

__ADS_1


Ris. Hahaha. Terus bagaimana tanggapannya?”


“Kalau menurut mbak


Okti sih Dayat itu kan orangnya templak-templok kalau sama cewek. Kasihan


kamunya. Ya iya lah Ti. Kamu itu belum pernah pacaran kalau kamu punya cowok


kayak Dayat kamu tiap hari bakal sakit hati. Sifat kamu juga posesif. Dayat itu


orangnya over protektif, yang ada tiap malem bakal ribut sama Dayat. Menurut


mbak Okti juga, yang katanya beneran suka sama kamu itu Damar. Damar itu kalau


sama kamu beda. Damar itu orangnya care banget sama kamu.”


“Iya sih Ris. Aku


kemarin juga dibilangin sama bapak aku. Padahal aku nggak cerita apa-apa lho.


Kemarin bapak aku minta aku suruh hati-hati kalau deket sama cowok ganteng tapi


suka bohong. Dayat pernah bohongin aku Ris, kamu tahu sendiri kan? Udah berapa


kali aku dibohongin? Mungkin ini jawaban dari Allah. Soalnya aku kemarin habis


sholat istikharah.”


“Kamu juga sih Ti,


kenapa juga ngejauhin Damar. Ya emang sih Dayat itu lebih ganteng dan lebih


pinter dari Damar. Masak cuma gara-gara Dayat kamu njauhin Damar.”


“Kamu nggak tahu


alasan sebenarnya Ris. Dayat itu orang yang aku suka pertama kali sewaktu di


UNY. Hati aku ikut sakit jika lihat Dayat sakit hati gara-gara aku deket sama


Damar. Sisi lain, Damar bisa buat aku nyaman. Aku bingung harus gimana. Kalau


aku deket Damar, Damar pasti berurusan sama Dayat. Aku takut Damar diapa-apain


sama Dayat gara-gara aku. Aku rela menjauhi Damar asalkan Damar nggak


diapa-apain Dayat dan temen-temennya kayak kejadian dulu.” batin Oktia. “Udah


Sore Ris. Entar kamu kemaleman pulangnya. Makasih banyak ya Ris. Aku jadi


berhutang budi banyak sama kamu.”


Penghujung semester


lima. Kelas oktia mengadakan makrab. Kegiatan yang akan dilakukan teman-teman


sekelas Oktia di pantai selatan Yogyakarta. Sepertinya Oktia masih saja


dianggap aktris drama percintaan di kelasnya. Ada pentas seni dalam salah satu acara


makrab. Pentas seni yang akan dilakukan kelompok Oktia sepertinya sudah di-setting entah oleh siapa untuk menyindir


Oktia. Namun, Oktia tidak terlalu memikirkan hal itu. Tekanan yang ia terima


menghadapi kenyataan bahwa Dayat jadian dengan Puput saja pernah membuat siklus


menstruasinya tidak normal selama dua bulan. Ia lebih memilih menikmati alam


daripada menghadapi suasana kelas yang tak membuatnya nyaman.


Suasana acara


pentas seni cukup menyenangkan. Oktia tidak mempedulikan pentas seni


kelompoknya. Oktia lebih peduli pada kelompok Damar.


“Nanti punyamu mau


nampilin apa Ris?”


“Mau nyanyi lagunya


D’Cinnamon Selamanya Cinta, Sheila On 7 Hari Bersamanya. Semuanya yang nyiapin


Damar lho Ti. Kelompokku tinggal terima jadi. Cie.... Oktia. Mungkin lagu itu


buat kamu Ti.” goda Risma.


“Kamu ini bisa saja


Ris.” jawab Oktia. Oktia membaca teks yang berisi lirik lagu yang akan


dinyanyikan oleh kelompok Damar. Pada kelompoknya Damar, semua kelompoknya


menyanyi diiringi oleh petikan gitar Damar. Lagu pertama adalah lagu dari


D’Cinnamon selamanya cinta.


Dikala hati resah


Seribu ragu datang memaksaku


Rindu semakin menyerang


Dengan sayap pengharapanku ingin terbang jauh


Biar awanpun gelisah


Daun-daun jatuh berguguran


Namun cintamu kasih


Terbit laksana bintang yang bersinar cerah menerangi jiwaku


Andaikan kudapat mengungkapkan perasaanku


Hinga membuat kau percaya


Akan kuberikan seutuhnya rasa cintaku selamanya


Selamanya


Biar awanpun gelisah daun-daun jatuh berguguran


Namun cintamu kasih terbit laksana binatang


Yang bersinar cerah menerangi jiwaku


Andaikan kudapat mengungkapkan perasanku


Hingga membuat kau percaya akan kuberikan seutuhnya


Rasa cintaku


Rasa cinta yang tulus dari dasar lubuk hatiku


Tuhan jalinkanlah cinta bersama selamanya


Andaikan kudapat mengungkapkan perasaanku


Hingga membuat kau percaya


Akan kuberikan seutuhnya


Rasa cintaku selamanya


Selamanya


Selamanya


Lagu kedua adalah lagu dari Sheila On 7


yang berjudul Hari Bersamanya. Masih tetap diiringi petikan gitar Damar.


Hari telah berganti


Tak bisa kuhindari


Tibalah saat ini bertemu dengannya


Jantungku berdegup cepat


Kaki bergetar hebat


Akankah aku ulangi merusak harinya


Mohon Tuhan untuk kali ini saja


Beri aku kekuatan


Tuk menatap matanya


Mohon Tuhan untuk kali ini saja


Lancarkanlah hariku


Hariku bersamanya


Hariku bersamanya


Kau tahu betapa aku lemah di hadapannya


Kau taku berapa lama aku mendambanya


Mohon Tuhan untuk kali ini saja


Beri aku kekuatan tuk menatap matanya


Mohon Tuhan untuk kali ini saja


Lancarkanlah hariku


Hariku bersamanya


Hariku bersamanya.


Tuhan tolonglah


Tuhan tolonglah


Mohon Tuhan untuk kali ini saja

__ADS_1


Beri aku kekuatan tuk menatap matanya


Mohon Tuhan untuk kali ini saja


Lancarkanlah hariku


Hariku bersamanya


Hariku bersamanya


Tuhan tolonglah


Tuhan tolonglah


Setelah acara pentas seni selesai, mereka tidur di kamar


masing-masing. Ada yang masih berkumpul untuk berbincang. Paginya mereka


mengadakan game di pantai. Setelah game selesai, mereka makan pagi. Oktia


memilih makan di dekat Damar. Dekat Damar ada Risma dan Rina. Ada kesempatan


bagi Risma untuk memberi tahu Oktia sesuatu.


“Damar tuh ngapain juga ngejauhin kamu Ti. Orang jelas-jelas


pas makrab kemarin aku lihat dia ngelihat ke kamu tatapannya tajem kok Ti.”


“Berarti emang


bukan mbak Sina aja dong yang pernah lihat tatapan tajamnya Damar ke aku?”


Ujian semester


telah usai. Saat liburan semesteran Oktia dan teman-temannya sudah mulai


disibukkan dengan kolokium. Waktu liburan, ia gunakan untuk mengambil data


kolokium. Saat mengambil data kolokium, Oktia menanyakan satu hal yang membuat


Oktia penasaran.


            “Zahro,


bukannya kamu dulu tanya nomor pak Brams ke Damar ya?”


            “Iya


Ti. Kenapa?”


            “Ini.


Damar kemarin SMS aku tanya nomor pak Brams. Perasaan kemarin kamu minta nomor


Pak Brams ke Damar? Kok dia tanya ke aku?”


            Oktia


tidak tahan dengan makanan pedas. Pagi-pagi dia ke kamar mandi lama sekali


karena perutnya sakit. Setelah keluar dari kamar mandi dia menemui hal yang


janggal pada HP-nya.


            “Lhoh!


Yang buka inbox-ku siapa? Perasaan sebelum ke kamar mandi aku nggak buka inbox.


Wah ada yang ngepoin aku nih? Siapa ya? Risma nggak mungkin. Ngapain dia


ngepoin inbox-ku tanpa izin. Okti, mana berani dia. Zahro, buat apa dia kepo?


Wulan. Aku curiga sama dia. Nggak sopan banget sih buka inbox orang tanpa


izin.”


“Kalau petani tuh


untungnya besar lho.” cerita Wulan.


            “Kamu


tuh mau ngajarin aku atau gimana? Lucu deh orang cucunya petani kok dikasih


tahu untungnya petani gimana. Ya udah tahu dari dulu lah. Pagi-pagi udah


ngelucu.”


“Mbak Okti!”


panggil Wulan pada Okti.


            “Kenapa


Wul?”


“Tau nggak temen


kita pas SMP Anik? Udah ganti pacar lho! Pacarnya yang lama itu ditinggalin


gara-gara dideketin sama cowok yang lebih kaya. Untungnya cowoknya yang dulu


udah punya pacar lagi. Malah lebih cantik daripada Anik. Anik kan orangnya


matre.” Sindir Wulan.


“Kamu itu


sebenarnya nyindir aku atau gimana? Terserah kalau nyindir aku cewek matre.


Tapi yang jelas, aku mulai menjauh sama Dayat bukan karena Damar lebih kaya


daripada Dayat. Alasan sebenarnya adalah mata kelapa aku sering lihat kalau


Dayat sering jalan sama Puput. Ditambah lagi cerita Damar ke aku kalau Dayat


sama Puput kayak orang jadian.” Batin Oktia.


            Dayat dan Puput memang sudah lama


jadian. Oktia baru bisa mengikhlaskan hubungan mereka dan menerima nasib


dirinya yang dulu didekati Dayat, namun Dayat malah jadian dengan Puput.


            “Selamat


ya Yat, kamu udah jadian sama Puput. Semoga bahagia. Maaf jika udah lama kalian


jadian aku baru bisa ngucapin selamat dengan penuh keikhlasan meskipun cuma


dalam hati. Sekali lagi selamat ya.” batin Oktia. Dadanya tak lagi sesak


melihat Dayat dan Puput jadian. Ia sudah ikhlas.


Selang beberapa


hari sewaktu kuliah Fisika Inti. Dayat duduk di belakang Oktia. Dosen


menjelaskan bahwa dalam reaksi inti, proton akan menembak neutron dan menggantikan


posisinya. Mendengar penjelasan dari dosen, Dayat menghubung-hubungkan


penjelasan dosen untuk menyindir Oktia.


“Proton aja nembak neutron masak kamu enggak?”


kata Dayat pada Kanti yang duduk di sampingnya.


“Hahahha....” Dayat dan Kanti tertawa bersama.


“Dan kamu


hanya perlu terima/ dan tak harus memahami/ dan tak harus berfikir/ hanya perlu


mengerti aku/ aku bernafas untukmu/ apapun itu asal kau mencoba menerimaku/”


nyanyi Dayat menyanyikan sepotong larik lagu dari sebuah group band yang cukup


tenar. Peterpan. Group band kesayangannya.


            “Mau kamu apa sih


Yat. Masih kurang kamu lihat aku sakit hati gara-gara lihat kamu jadian sama


Puput? Masih kurang hingga sampai sekarang kamu sindir terus? Mau kamu apa Yat?


Kamu nyanyi lagu itu juga buat apa? Apa hanya perasaanku aja yang masih


mengharapkanmu? Kalaupun iya, kenapa kamu buat pagar pembatas dengan cara kamu


jadian sama Puput? Eh, mungkin hanya perasaanku aja.” batin Oktia. Hatinya


semakin perih. kuliah hampir satu setengah jam lamanya duduk di depan Dayat dan


sering disindirnya. Sesak. Ia sudah tidak fokus lagi dengan penjelasan dosen.


Bumi masih setia berotasi yang menandakan hari


terus berganti. Kali ini giliran Oktia presentasi di depan kelas menjelaskan


kuliah fisika zat padat. Sang dosen pengampu mata kuliah berhalangan hadir


menyebabkan Oktia harus presentasi tanpa dinilai dosen. Dayat duduk di barisan


paling depan bersebelahan dengan Hadi. Kesempatan itu Dayat pergunakan untuk


menyindir Oktia.


“Proton aja nembak neutron masak kamu enggak?


Proton aja berikatan masak kamu enggak? Hahahaha...” sindir Dayat sambil


tertawa bersama Hadi.


“Yaa


Allah. Sedari kemarin disindir Dayat terus.” Batin Oktia. Hatinya sakit lagi.


Ia mulai tak konsentrasi untuk presentasi. Banyak hal yang ingin ia jelaskan di


depan kelas. Namun, setelah mendengar sindiran Dayat, Oktia enggan menjelaskan

__ADS_1


materi panjang lebar.


__ADS_2