
Terimakasih Damar...
Damar, yang sudah
lama tidak datang ke kost Oktia, entah angin apa yang membisiki Damar. Tiba-tiba
ingin berkunjung ke kost Oktia.
“Oktia, besok aku
ke kosmu ya? Pengen tanya tugas.”
“Ok. Mar, dateng
aja. Jam berapa kamu mau dateng?”
“Habis kuliah aja
aku ke kosmu.”
Damar tiba di kost
Oktia. Oktia meyambut Damar yang memang sudah lama tidak datang berkunjung
semenjak Dayat datang ke dalam cerita Oktia dan Damar. Mereka mengerjakan tugas
yang diberikan dosen bersama. Setelah tugas hampir selesai, Damar memberi tahu
Oktia sesuatu.
“Oktia, pas aku
pinjem HP Puput, aku lihat inboxnya banyak SMS dari Dayat lho. Terus nama Dayat
di HP-nya Puput itu dinamai Dayat Elek. Kamu tahu maksudnya nggak sih Ti?”
“Ha? Maksudnya
gimana Mar?” tanya Oktia pura-pura tidak tahu.
“Mereka itu kayak
orang jadian. Puput suka sama Dayat.”
“Oh.” jawab Oktia
singkat. “Aku sebenarnya juga sudah tahu kedekatan mereka kok Mar. Aku sering
lihat mereka boncengan bersama sewaktu pulang kuliah. Itu sebabnya aku nggak
mau deket sama Dayat lagi. Terimakasih ya Mar. Setidaknya, terimakasih atas
kepedulian kamu. Apakah mungkin kamu masih ingin menjaga perasaanku agar tidak
terluka gara-gara Dayat? Agar aku jangan lagi mengharapkan Dayat? Mungkin
maksud kamu ke sini cuma mau ngasih tahu aku soal Dayat dan Puput. Sekarang aku
tahu aku harus bagaimana. Terimakasih sudah mengingatkanku. Sekarang aku nggak
berharap lagi sama Dayat. Aku baru mengerti, orang yang memang peduli sama aku,
itu kamu Mar. Aku memang tahu kalau dulu Dayat suka sama aku, tapi aku cuma
ngerasa kalau dia ingin aku jadi miliknya tanpa memperdulikan perasaanku.
Sekali lagi terimakasih Mar.” Batin Oktia pura-pura tegar.
Oktia memeriksa
identitas tugas Damar agar Damar tidak melakukan kesalahan ketika tugas sudah
dikirim via e-mail.
“NIM-nya salah deh
kayaknya. Harusnya kan 18. Eh, nggak ding bener NIM Damar belakangnya 28. Nomor
NIM yang belakangnya 18 itu punya Dayat.” batin Oktia yang masih kacau sewaktu
melihat tugas Damar yang akan dikirim via e-mail. Ada harap, orang yang ada di
sampingnya adalah orang yang memiliki NIM yang nomor belakangnya 18.
“Aku nitip ngirim
e-mail ya Mar.”
“Iya. Pake aja
laptopku.”
“kok nggak
terkirim-kirim sih?”
“Kalau belum
terkirim, bawa aja modemku habis kuisi kok.”
“Nggak usah
repot-repot Mar. Tunggu aja bentar.” jawab Oktia. “Kamu kok baik banget sih
sama aku?” batin Oktia terharu.
Oktia hampir tak
sanggup lagi menghadapi jalan takdinya. Ia bersimpuh menghadap Tuhannya meminta
petunjuk dengan shalat istikharah. Pikiran Oktia masih saja dipenuhi angan
tentang Dayat setelah shalat istikharah. Bunga tidurnya pun begitu. Dihiasi
bayang-bayang Dayat yang berkelebat tak meninggalkan makna ataupun petunjuk.
Oktia tak lagi
mengarapkan petunjuk itu. Beberapa hari kemudian, ia bermimpi bertemu Damar.
Damar menunggu Oktia selesai kuliah, mengajak Oktia pulang bersama. Oktia yang
masih bersama teman-temannya memilih pulang bersama Damar. Pada suatu tempat
mereka berhenti. Damar menggenggam tangan dan menatap mata Oktia tanpa sepatah
katapun. Pada mimpi itu, yang Oktia tahu adalah Damar mencintai Oktia. Namun,
tak terucap.
“Aku mikirnya
Dayat. Tapi, kok yang aku mimpiin dengan jelas malah Damar ya? Petunjuk apa ini
Yaa Allah?” batin Oktia kebingungan.
Sewaktu hari libur,
Oktia diajak ayahnya pergi ke Boyolali. Mungkin ayah Oktia sebenarnya tahu apa
yang menjadi beban Oktia. Ia sangat paham putri satu-satunya itu tak mudah
menceritakan penderitaannya pada orang lain. Pergi ke suatu tempat lalu diajak
bicara dari hati ke hati adalah metode yang digunakan ayah Oktia tiap kali
putrinya itu menampakkan raut muka yang tak bahagia. Sewaktu perjalanan, ayah
Oktia memberi nasehat pada Oktia.
“Nduk, hati-hati
kalau deket sama cowok ganteng tapi suka bohong.”
“Iya Ayah.” jawab
Oktia. “Kok Ayah bisa bilang gitu sih? Aku kan nggak cerita apa-apa mengenai
Dayat yang kadang bohongin aku. Petunjuk apa ini Yaa Allah? Mungkinkah Dayat
itu tak baik untukku?” batin Oktia.
Sekembalinya Oktia
ke kampus, Oktia mengantar Risma ke halte sepulang kuliah. Setelah keluar
parkiran, mereka haru menyeberangi perempatan jalan di kampus. Sewaktu
menyeberang Oktia dan Risma bertemu Dayat yang juga sedang menyeberang jalan.
Oktia memang tak mahir dalam urusan menyeberang.
“Aaa......” teriak
Oktia dan Risma sewaktu menyeberang yang hampir saja tertabrak.
“Opolah!” kata
Dayat.
“Ris, Dayat jahat
banget sih. Tau orang nggak bisa nyebrang malah dikatain opolah. Mbok yao
ditolong kek!”
“Nggak tahu tuh
orang!”
Sesampainya di
taman rektorat, Oktia dan Risma berhenti dan mememarkirkan motornya. Banyak hal
yang mereka bicarakan.
“Aku
tadi siang cerita-cerita sama mbak Okti. Tentang masalah kamu dan Dayat.”
“Kerja kamu bagus
__ADS_1
Ris. Hahaha. Terus bagaimana tanggapannya?”
“Kalau menurut mbak
Okti sih Dayat itu kan orangnya templak-templok kalau sama cewek. Kasihan
kamunya. Ya iya lah Ti. Kamu itu belum pernah pacaran kalau kamu punya cowok
kayak Dayat kamu tiap hari bakal sakit hati. Sifat kamu juga posesif. Dayat itu
orangnya over protektif, yang ada tiap malem bakal ribut sama Dayat. Menurut
mbak Okti juga, yang katanya beneran suka sama kamu itu Damar. Damar itu kalau
sama kamu beda. Damar itu orangnya care banget sama kamu.”
“Iya sih Ris. Aku
kemarin juga dibilangin sama bapak aku. Padahal aku nggak cerita apa-apa lho.
Kemarin bapak aku minta aku suruh hati-hati kalau deket sama cowok ganteng tapi
suka bohong. Dayat pernah bohongin aku Ris, kamu tahu sendiri kan? Udah berapa
kali aku dibohongin? Mungkin ini jawaban dari Allah. Soalnya aku kemarin habis
sholat istikharah.”
“Kamu juga sih Ti,
kenapa juga ngejauhin Damar. Ya emang sih Dayat itu lebih ganteng dan lebih
pinter dari Damar. Masak cuma gara-gara Dayat kamu njauhin Damar.”
“Kamu nggak tahu
alasan sebenarnya Ris. Dayat itu orang yang aku suka pertama kali sewaktu di
UNY. Hati aku ikut sakit jika lihat Dayat sakit hati gara-gara aku deket sama
Damar. Sisi lain, Damar bisa buat aku nyaman. Aku bingung harus gimana. Kalau
aku deket Damar, Damar pasti berurusan sama Dayat. Aku takut Damar diapa-apain
sama Dayat gara-gara aku. Aku rela menjauhi Damar asalkan Damar nggak
diapa-apain Dayat dan temen-temennya kayak kejadian dulu.” batin Oktia. “Udah
Sore Ris. Entar kamu kemaleman pulangnya. Makasih banyak ya Ris. Aku jadi
berhutang budi banyak sama kamu.”
Penghujung semester
lima. Kelas oktia mengadakan makrab. Kegiatan yang akan dilakukan teman-teman
sekelas Oktia di pantai selatan Yogyakarta. Sepertinya Oktia masih saja
dianggap aktris drama percintaan di kelasnya. Ada pentas seni dalam salah satu acara
makrab. Pentas seni yang akan dilakukan kelompok Oktia sepertinya sudah di-setting entah oleh siapa untuk menyindir
Oktia. Namun, Oktia tidak terlalu memikirkan hal itu. Tekanan yang ia terima
menghadapi kenyataan bahwa Dayat jadian dengan Puput saja pernah membuat siklus
menstruasinya tidak normal selama dua bulan. Ia lebih memilih menikmati alam
daripada menghadapi suasana kelas yang tak membuatnya nyaman.
Suasana acara
pentas seni cukup menyenangkan. Oktia tidak mempedulikan pentas seni
kelompoknya. Oktia lebih peduli pada kelompok Damar.
“Nanti punyamu mau
nampilin apa Ris?”
“Mau nyanyi lagunya
D’Cinnamon Selamanya Cinta, Sheila On 7 Hari Bersamanya. Semuanya yang nyiapin
Damar lho Ti. Kelompokku tinggal terima jadi. Cie.... Oktia. Mungkin lagu itu
buat kamu Ti.” goda Risma.
“Kamu ini bisa saja
Ris.” jawab Oktia. Oktia membaca teks yang berisi lirik lagu yang akan
dinyanyikan oleh kelompok Damar. Pada kelompoknya Damar, semua kelompoknya
menyanyi diiringi oleh petikan gitar Damar. Lagu pertama adalah lagu dari
D’Cinnamon selamanya cinta.
Dikala hati resah
Seribu ragu datang memaksaku
Rindu semakin menyerang
Dengan sayap pengharapanku ingin terbang jauh
Biar awanpun gelisah
Daun-daun jatuh berguguran
Namun cintamu kasih
Terbit laksana bintang yang bersinar cerah menerangi jiwaku
Andaikan kudapat mengungkapkan perasaanku
Hinga membuat kau percaya
Akan kuberikan seutuhnya rasa cintaku selamanya
Selamanya
Biar awanpun gelisah daun-daun jatuh berguguran
Namun cintamu kasih terbit laksana binatang
Yang bersinar cerah menerangi jiwaku
Andaikan kudapat mengungkapkan perasanku
Hingga membuat kau percaya akan kuberikan seutuhnya
Rasa cintaku
Rasa cinta yang tulus dari dasar lubuk hatiku
Tuhan jalinkanlah cinta bersama selamanya
Andaikan kudapat mengungkapkan perasaanku
Hingga membuat kau percaya
Akan kuberikan seutuhnya
Rasa cintaku selamanya
Selamanya
Selamanya
Lagu kedua adalah lagu dari Sheila On 7
yang berjudul Hari Bersamanya. Masih tetap diiringi petikan gitar Damar.
Hari telah berganti
Tak bisa kuhindari
Tibalah saat ini bertemu dengannya
Jantungku berdegup cepat
Kaki bergetar hebat
Akankah aku ulangi merusak harinya
Mohon Tuhan untuk kali ini saja
Beri aku kekuatan
Tuk menatap matanya
Mohon Tuhan untuk kali ini saja
Lancarkanlah hariku
Hariku bersamanya
Hariku bersamanya
Kau tahu betapa aku lemah di hadapannya
Kau taku berapa lama aku mendambanya
Mohon Tuhan untuk kali ini saja
Beri aku kekuatan tuk menatap matanya
Mohon Tuhan untuk kali ini saja
Lancarkanlah hariku
Hariku bersamanya
Hariku bersamanya.
Tuhan tolonglah
Tuhan tolonglah
Mohon Tuhan untuk kali ini saja
__ADS_1
Beri aku kekuatan tuk menatap matanya
Mohon Tuhan untuk kali ini saja
Lancarkanlah hariku
Hariku bersamanya
Hariku bersamanya
Tuhan tolonglah
Tuhan tolonglah
Setelah acara pentas seni selesai, mereka tidur di kamar
masing-masing. Ada yang masih berkumpul untuk berbincang. Paginya mereka
mengadakan game di pantai. Setelah game selesai, mereka makan pagi. Oktia
memilih makan di dekat Damar. Dekat Damar ada Risma dan Rina. Ada kesempatan
bagi Risma untuk memberi tahu Oktia sesuatu.
“Damar tuh ngapain juga ngejauhin kamu Ti. Orang jelas-jelas
pas makrab kemarin aku lihat dia ngelihat ke kamu tatapannya tajem kok Ti.”
“Berarti emang
bukan mbak Sina aja dong yang pernah lihat tatapan tajamnya Damar ke aku?”
Ujian semester
telah usai. Saat liburan semesteran Oktia dan teman-temannya sudah mulai
disibukkan dengan kolokium. Waktu liburan, ia gunakan untuk mengambil data
kolokium. Saat mengambil data kolokium, Oktia menanyakan satu hal yang membuat
Oktia penasaran.
“Zahro,
bukannya kamu dulu tanya nomor pak Brams ke Damar ya?”
“Iya
Ti. Kenapa?”
“Ini.
Damar kemarin SMS aku tanya nomor pak Brams. Perasaan kemarin kamu minta nomor
Pak Brams ke Damar? Kok dia tanya ke aku?”
Oktia
tidak tahan dengan makanan pedas. Pagi-pagi dia ke kamar mandi lama sekali
karena perutnya sakit. Setelah keluar dari kamar mandi dia menemui hal yang
janggal pada HP-nya.
“Lhoh!
Yang buka inbox-ku siapa? Perasaan sebelum ke kamar mandi aku nggak buka inbox.
Wah ada yang ngepoin aku nih? Siapa ya? Risma nggak mungkin. Ngapain dia
ngepoin inbox-ku tanpa izin. Okti, mana berani dia. Zahro, buat apa dia kepo?
Wulan. Aku curiga sama dia. Nggak sopan banget sih buka inbox orang tanpa
izin.”
“Kalau petani tuh
untungnya besar lho.” cerita Wulan.
“Kamu
tuh mau ngajarin aku atau gimana? Lucu deh orang cucunya petani kok dikasih
tahu untungnya petani gimana. Ya udah tahu dari dulu lah. Pagi-pagi udah
ngelucu.”
“Mbak Okti!”
panggil Wulan pada Okti.
“Kenapa
Wul?”
“Tau nggak temen
kita pas SMP Anik? Udah ganti pacar lho! Pacarnya yang lama itu ditinggalin
gara-gara dideketin sama cowok yang lebih kaya. Untungnya cowoknya yang dulu
udah punya pacar lagi. Malah lebih cantik daripada Anik. Anik kan orangnya
matre.” Sindir Wulan.
“Kamu itu
sebenarnya nyindir aku atau gimana? Terserah kalau nyindir aku cewek matre.
Tapi yang jelas, aku mulai menjauh sama Dayat bukan karena Damar lebih kaya
daripada Dayat. Alasan sebenarnya adalah mata kelapa aku sering lihat kalau
Dayat sering jalan sama Puput. Ditambah lagi cerita Damar ke aku kalau Dayat
sama Puput kayak orang jadian.” Batin Oktia.
Dayat dan Puput memang sudah lama
jadian. Oktia baru bisa mengikhlaskan hubungan mereka dan menerima nasib
dirinya yang dulu didekati Dayat, namun Dayat malah jadian dengan Puput.
“Selamat
ya Yat, kamu udah jadian sama Puput. Semoga bahagia. Maaf jika udah lama kalian
jadian aku baru bisa ngucapin selamat dengan penuh keikhlasan meskipun cuma
dalam hati. Sekali lagi selamat ya.” batin Oktia. Dadanya tak lagi sesak
melihat Dayat dan Puput jadian. Ia sudah ikhlas.
Selang beberapa
hari sewaktu kuliah Fisika Inti. Dayat duduk di belakang Oktia. Dosen
menjelaskan bahwa dalam reaksi inti, proton akan menembak neutron dan menggantikan
posisinya. Mendengar penjelasan dari dosen, Dayat menghubung-hubungkan
penjelasan dosen untuk menyindir Oktia.
“Proton aja nembak neutron masak kamu enggak?”
kata Dayat pada Kanti yang duduk di sampingnya.
“Hahahha....” Dayat dan Kanti tertawa bersama.
“Dan kamu
hanya perlu terima/ dan tak harus memahami/ dan tak harus berfikir/ hanya perlu
mengerti aku/ aku bernafas untukmu/ apapun itu asal kau mencoba menerimaku/”
nyanyi Dayat menyanyikan sepotong larik lagu dari sebuah group band yang cukup
tenar. Peterpan. Group band kesayangannya.
“Mau kamu apa sih
Yat. Masih kurang kamu lihat aku sakit hati gara-gara lihat kamu jadian sama
Puput? Masih kurang hingga sampai sekarang kamu sindir terus? Mau kamu apa Yat?
Kamu nyanyi lagu itu juga buat apa? Apa hanya perasaanku aja yang masih
mengharapkanmu? Kalaupun iya, kenapa kamu buat pagar pembatas dengan cara kamu
jadian sama Puput? Eh, mungkin hanya perasaanku aja.” batin Oktia. Hatinya
semakin perih. kuliah hampir satu setengah jam lamanya duduk di depan Dayat dan
sering disindirnya. Sesak. Ia sudah tidak fokus lagi dengan penjelasan dosen.
Bumi masih setia berotasi yang menandakan hari
terus berganti. Kali ini giliran Oktia presentasi di depan kelas menjelaskan
kuliah fisika zat padat. Sang dosen pengampu mata kuliah berhalangan hadir
menyebabkan Oktia harus presentasi tanpa dinilai dosen. Dayat duduk di barisan
paling depan bersebelahan dengan Hadi. Kesempatan itu Dayat pergunakan untuk
menyindir Oktia.
“Proton aja nembak neutron masak kamu enggak?
Proton aja berikatan masak kamu enggak? Hahahaha...” sindir Dayat sambil
tertawa bersama Hadi.
“Yaa
Allah. Sedari kemarin disindir Dayat terus.” Batin Oktia. Hatinya sakit lagi.
Ia mulai tak konsentrasi untuk presentasi. Banyak hal yang ingin ia jelaskan di
depan kelas. Namun, setelah mendengar sindiran Dayat, Oktia enggan menjelaskan
__ADS_1
materi panjang lebar.