
Sekolah
Kejantanan
Hari Senin. Hari yang membuat Oktia harus bersemangat untuk kuliah.
Meski berat meninggalkan rumah. Dua hari di rumah cukup untuk membuat Oktia
merasa nyaman. Dua hari itu pula pikiran Oktia agak tenang. Biasanya Oktia agak
uring-uringan, sentimen. Hal itu masih dikarenakan masih terbawa emosi oleh
tingkah Dayat yang membuatnya bingung apa sebenarnya mau dia. Oktia bangkit.
“Sikap seperti ini tak baik untuk diteruskan.” batin Oktia. Dulu Oktia yang
selalu menjaga emosinya agar selalu terkontrol, tenang, tidak kasar. “Aku harus
seperti dulu. Masalah ini harus membuatku lebih dewasa. Tidak seperti anak
kecil yang ngambekan dan uring-uringan. Aku harus selalu eling
lan waspada.”
Oktia sengaja
berangkat lebih pagi. Satu harapannya. Menikmati suasana pagi di kelas tanpa
kehadiran Dayat dan kawan-kawan. Sayang seribu sayang. Nudi berangkat lebih
awal dari Oktia. Motor Nudi sudah terparkir di parkiran motor fakultas.
Biasanya Nudi berangkat agak siang. Entah kenapa, sekarang Nudi adalah seorang
mata-mata yang selalu mengawasi Oktia. Dengan sorot matanya yang tajam semua
orang pasti akan sadar bila diawasi Nudi. Kadang Oktia takut dengan tatapan
matanya. Ia bagaikan satpam yang akan mengawasi dan akan menjauhkan Oktia
dengan Damar bila Oktia sudah agak dekat dengan Damar.
“Jadi kacung kok setia
banget sih!” gumam Oktia yang merasa kesal dengan tingkah Nudi yang sangat
setia kawan dengan Dayat.
Pagi ini, penjaga kampus
nampaknya kesiangan. Di kampus, belakang mushola sudah ada teman-teman. Nudi
sedang membicarakan tugas dengan teman yang lain, Okti duduk di sebelah Damar,
dan di sebelah Damar entah siapa Oktia tak begitu memperhatikan. Oktia memilih
untuk duduk di sebelah Okti. Oktia merasa beruntung, kali ini Damar tidak
terlalu menjaga jarak dengannya. Damar masih mau berbicara dengan Oktia. Tapi,
pembicaraan Oktia dengan Damar masih dalam pengawasan Nudi.
Penjaga kampus mulai
membuka gerbang gedung kuliah. Damar berjalan menuju gedung kampus tempat pagi
ini kuliah diadakan. Oktia memilih untuk mengikuti Damar sambil menggeret Okti
supaya Oktia ada temannya. Gedung kuliah memang sudah terbuka. Namun, ruang
kelas masih terkunci rapat oleh pintu yang dilapisi tralis. Di depan kelas
Oktia bertemu Wulan.
“Cie... Okti sekarang
jerawatan. Okti udah gede.” kata Wulan.
Oktia yang merasa
malu, memilih untuk merespon sapaannya dengan senyuman dan menutupi wajahnya
dengan kerudung ungu yang dikenakannya. Oktia menengok sebelah kiri. Ternyata
Dayat sudah datang. Oktia memilih untuk tidak terlalu memperhatikannya. Lagi
pula, pintu kelas sudah terbuka. Oktia duduk di barisan paling depan. Di
sebelah kanan Wulan, di sebelah kiri Okti. Di sebelah kiri Wulan ada Damar. Di
sebelah kanan Okti ada Rina.
Jam sudah menunjukkan
pukul 7.10. dosenpun datang memberi materi bla-bla-bla. Tiba waktunya untuk
mahasiswa maju ke depan untuk mendapat nilai tambahan. Ternyata yang maju ke
depan adalah Dayat dan Anti. Berhubung papan tulis masih tertutup oleh layar,
Dayat dengan gaya gagah beraninya menggulung layar dengan cara menariknya
sedikit dan layarpun akan tergulung otomatis. Ternyata eh ternyata berkali-kali
dicobanya layar tak kunjung tergulung. Datanglah Damar sang pawang. Baru saja
Damar tiba di depan layar, ternyata Anti berhasil menggulungnya. Damar langsung
__ADS_1
mundur untuk duduk kembali di kursinya. Dosen yang melihat peristiwa unik ini
menyindir Dayat.
“Apa perlu sekolah
kejantanan terlebih dulu?” sindir sang dosen yang bila sekalinya nyindir,
langsung kena dan mak jlep.
Mendengar perkataan
sang dosen seperti itu Rina langsung menengok ke arah Wulan.
“Iya Wul, dia memang
harus sekolah kejantanan.” kata Rina dari jarak agak jauh.
“Iya, bener, bener.”
respon Wulan sambil sedikit tertawa.
Wulan dan Rina
termasuk salah satu komplotan Dayat dalam masalah ini. Mereka pasti tahu betul
tentang masalah Oktia dengan Dayat. Oktia kadang melihat Dayat curhat pada
Wulan atau Rina tentang masalah perasaannya terhadap “seseorang” yang
disukainya.
“Hahaha...” Oktia
tertawa dengan nada agak sinis mendengar Dayat disindir dengan tentang
kejantanan. Terlebih lagi mendengar pembicaraan Rina dengan Wulan tadi.
Akhirnya, ada juga yang menyindir Dayat. Di depan kelas, yang nyindir dosen
pula. Oktia memang nggak bisa nyindir Dayat untuk masalah ini. Tapi, orang lain
yang akan nyindir Dayat tentang masalah ini. Sedikit terobati rasa sesak di
dada dan pernah hampir mengangis di tempat saat Dayat nyindir Oktia tentang hal
yang aneh-aneh.
“Emangnya kenapa sih
kok dia harus sekolah kejantanan?” tanya Oktia seolah Oktia masih polos.
Padahal Oktia tahu maksud pembicaraan Wulan dan Rina tadi.
“Ya, biasalah
Waktupun berjalan
melambat seolah detak jarum jam berhenti dan tak mau berputar. Namun, kuliah
kali ini diselingi canda-tawa. Jadi, tidak terlalu membosankan. Hingga waktupun
memisahkan pertemuan mahasiswa dengan sang dosen.
Berhubung masih ada
praktikum dan laporan praktikum Oktia belum selesai, Oktia memilih untuk menyelesaikannya
terlebih dahulu dengan teman-teman. Sekiranya laporan praktikumnya sudah
selesai, Oktia mulai beranjak dari tempat Oktia mengerjakan laporan. Dayat,
Nudi, Puput, Mita keluar dari gedung kuliah. Terkadang Oktia benci melihat
Dayat berjalan bersama Puput ataupun Mita meskipun di sana ada Nudi. Bukannya
Oktia cemburu. Tapi, bagi Oktia hal ini tidak adil. Mereka, Dayat dan Nudi
seolah selalu berusaha memisahkan Oktia dengan Damar dan dengan cara yang halus
tapi kejam. Padahal, teman cowok yang dekat dengan Oktia cuma Damar. Bahkan
Oktia berprasangka bahwa dia nggak boleh deket dengan cowok selain Dayat.
Padahal, Dayat sendiri kalau dengan Oktia, Oktianya kadang dikacangin. Tapi,
kalau sama teman cewek, seenaknya sendiri. Meskipun status Oktia masih teman,
menurutnya ini sungguh tidak adil. Dayat berdiri tepat di belakang Oktia. Entah
sebenarnya modus atau bukan. Di belakang Oktia dia membuka-buka laporan Puput.
Kemudian mereka berjalan ke laboratorium bersama. Dayat dan Nudi berjalan di
depan Oktia, Oktia berjalan bersebelahan dengan Okti. Dalam perjalanan menuju
laboratorium, Dayat mendendangkan sebuah lagu.
Aduh simbok penting kawinan
Aku iki wis mendem wedokan
Aduh simbok ora bisa turu
Awan bengi, pengen pengen pengen ketemu
Sebuah lagu yang
__ADS_1
menurut Oktia aneh, kosa kata yang digunakan menurutnya agak kasar meskipun
isinya langsung mengena.
Praktikum berjalan
dengan cukup menyenangkan. Terlebi lagi mood Oktia tidak terganggu dengan polah
Dayat. Kali ini Dayat cukup anteng.
Tapi hal yang menurut Oktia cukup aneh adalah Nudi sering melihat Oktia.
Mengawasinya mungkin.
Waktu praktikum telah
usai. Oktia berjalan menuju parkiran untuk mengambil motor. Dalam perjalanan ia
lihat komplotan Dayat berada di dekat gerbang tempat parkir. Entah mengapa
mereka tak juga bubar jalan. Sekiranya Oktia udah tepat di gerbang tempat
parkir, mereka langsung membubarkan diri. Kadang Oktia curiga dengan masalah
ini. Atau mungkin terlalu paranoid dengan Dayat sampai-sampai melihat
temannyapun Oktia berfikiran yang enggak-enggak. Bahkan, Oktia berfikir, ia
seperti ada masalah dengan preman kelas yang membuatnya tak bisa bernafas
bebas.
Di perpustakaan Oktia
cerita masalah semenjak tiba di kampus hingga peristiwa di parkiran dengan
Risma. Lagi-lagi Risma menyindir Oktia dengan sebuah lagu.
Sadarkah kau
Ku adalah wanita
Tak mungkin ku memulai
Sadarkah kau
Kau menggantung diriku
Tak tahu sampai kapankah
Harus sampai kapan
Harus sampai kapan
Berada di kostpun, teman Oktia yang baru saja datang, bahkan belum
membuka kamar kost-pun seolah menyindir masalah Oktia dengan sebuah lagu.
Mau di bawa kemana hubungan kita
Jika kau terus menunda-nunda
Dan tak pernah nyatakan cinta
Kadang Oktia berfikir, seindah apapun cerita cinta yang kau jalani,
seseru apapun pendekatan yang terjadi, bahkan kau merasa kau ini adalah tokoh
utama sebuah drama ataupun dongeng putri raja, semua itu biasa saja bila
dibandingkan kau bertemu dan bisa saling memiliki “mataharimu”. “Matahari”,
seorang sosok yang menjadi teman hidupmu baik suka maupun duka, sosok yang akan
melindungimu, sosok yang mendidikmu dalam urusan dunia akhirat, sosok yang
mencintai dan menyayangimu, sosok yang jika kau berada di sampingnya kau akan
merasa damai dan tentram, sosok yang berusaha membuatmu bahagia, sosok yang
selalu ada buatmu, dan kau bisa membalas semua cinta dan kasihnya lebih besar
dari cinta dan kasih yang dia berikan padamu. “Matahari” dan kau saling setia
hingga maut yang akan memisahkan. Allah sang Maha Cinta akan mempertemukan
Oktia dengan mataharinya di waktu yang tepat. Matahari yang tidak akan terbit
lebih cepat ketika takut dengan gelapnya malam. Matahari yang tidak akan terbit
terlambat ketika ingin melihat bintang kejora lebih lama.
Alam seolah menyindir
Oktia malam ini. Lagu itu terdendangkan lagi, dan lagi entah disengaja atau
tidak. Yang Oktia tahu, ia tak pernah bercerita tentang masalah ini pada
temannya yang mendendangkan lagu itu.
Mau di bawa kemana hubungan kita
Jika kau terus menunda-nunda
Dan tak pernah nyatakan cinta
Ku tak akan terus jalani tanpa ada ikatan pasti
__ADS_1
Antara kau dan aku