Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 29


__ADS_3

Sekolah


Kejantanan


Hari Senin. Hari yang membuat Oktia harus bersemangat untuk kuliah.


Meski berat meninggalkan rumah. Dua hari di rumah cukup untuk membuat Oktia


merasa nyaman. Dua hari itu pula pikiran Oktia agak tenang. Biasanya Oktia agak


uring-uringan, sentimen. Hal itu masih dikarenakan masih terbawa emosi oleh


tingkah Dayat yang membuatnya bingung apa sebenarnya mau dia. Oktia bangkit.


“Sikap seperti ini tak baik untuk diteruskan.” batin Oktia. Dulu Oktia yang


selalu menjaga emosinya agar selalu terkontrol, tenang, tidak kasar. “Aku harus


seperti dulu. Masalah ini harus membuatku lebih dewasa. Tidak seperti anak


kecil yang ngambekan dan uring-uringan. Aku harus selalu eling


lan waspada.”


Oktia sengaja


berangkat lebih pagi. Satu harapannya. Menikmati suasana pagi di kelas tanpa


kehadiran Dayat dan kawan-kawan. Sayang seribu sayang. Nudi berangkat lebih


awal dari Oktia. Motor Nudi sudah terparkir di parkiran motor fakultas.


Biasanya Nudi berangkat agak siang. Entah kenapa, sekarang Nudi adalah seorang


mata-mata yang selalu mengawasi Oktia. Dengan sorot matanya yang tajam semua


orang pasti akan sadar bila diawasi Nudi. Kadang Oktia takut dengan tatapan


matanya. Ia bagaikan satpam yang akan mengawasi dan akan menjauhkan Oktia


dengan Damar bila Oktia sudah agak dekat dengan Damar.


“Jadi kacung kok setia


banget sih!” gumam Oktia yang merasa kesal dengan tingkah Nudi yang sangat


setia kawan dengan Dayat.


Pagi ini, penjaga kampus


nampaknya kesiangan. Di kampus, belakang mushola sudah ada teman-teman. Nudi


sedang membicarakan tugas dengan teman yang lain, Okti duduk di sebelah Damar,


dan di sebelah Damar entah siapa Oktia tak begitu memperhatikan. Oktia memilih


untuk duduk di sebelah Okti. Oktia merasa beruntung, kali ini Damar tidak


terlalu menjaga jarak dengannya. Damar masih mau berbicara dengan Oktia. Tapi,


pembicaraan Oktia dengan Damar masih dalam pengawasan Nudi.


Penjaga kampus mulai


membuka gerbang gedung kuliah. Damar berjalan menuju gedung kampus tempat pagi


ini kuliah diadakan. Oktia memilih untuk mengikuti Damar sambil menggeret Okti


supaya Oktia ada temannya. Gedung kuliah memang sudah terbuka. Namun, ruang


kelas masih terkunci rapat oleh pintu yang dilapisi tralis. Di depan kelas


Oktia bertemu Wulan.


“Cie... Okti sekarang


jerawatan. Okti udah gede.” kata Wulan.


Oktia yang merasa


malu, memilih untuk merespon sapaannya dengan senyuman dan menutupi wajahnya


dengan kerudung ungu yang dikenakannya. Oktia menengok sebelah kiri. Ternyata


Dayat sudah datang. Oktia memilih untuk tidak terlalu memperhatikannya. Lagi


pula, pintu kelas sudah terbuka. Oktia duduk di barisan paling depan. Di


sebelah kanan Wulan, di sebelah kiri Okti. Di sebelah kiri Wulan ada Damar. Di


sebelah kanan Okti ada Rina.


Jam sudah menunjukkan


pukul 7.10. dosenpun datang memberi materi bla-bla-bla. Tiba waktunya untuk


mahasiswa maju ke depan untuk mendapat nilai tambahan. Ternyata yang maju ke


depan adalah Dayat dan Anti. Berhubung papan tulis masih tertutup oleh layar,


Dayat dengan gaya gagah beraninya menggulung layar dengan cara menariknya


sedikit dan layarpun akan tergulung otomatis. Ternyata eh ternyata berkali-kali


dicobanya layar tak kunjung tergulung. Datanglah Damar sang pawang. Baru saja


Damar tiba di depan layar, ternyata Anti berhasil menggulungnya. Damar langsung

__ADS_1


mundur untuk duduk kembali di kursinya. Dosen yang melihat peristiwa unik ini


menyindir Dayat.


“Apa perlu sekolah


kejantanan terlebih dulu?” sindir sang dosen yang bila sekalinya nyindir,


langsung kena dan mak jlep.


Mendengar perkataan


sang dosen seperti itu Rina langsung menengok ke arah Wulan.


“Iya Wul, dia memang


harus sekolah kejantanan.” kata Rina dari jarak agak jauh.


“Iya, bener, bener.”


respon Wulan sambil sedikit tertawa.


Wulan dan Rina


termasuk salah satu komplotan Dayat dalam masalah ini. Mereka pasti tahu betul


tentang masalah Oktia dengan Dayat. Oktia kadang melihat Dayat curhat pada


Wulan atau Rina tentang masalah perasaannya terhadap “seseorang” yang


disukainya.


“Hahaha...” Oktia


tertawa dengan nada agak sinis mendengar Dayat disindir dengan tentang


kejantanan. Terlebih lagi mendengar pembicaraan Rina dengan Wulan tadi.


Akhirnya, ada juga yang menyindir Dayat. Di depan kelas, yang nyindir dosen


pula. Oktia memang nggak bisa nyindir Dayat untuk masalah ini. Tapi, orang lain


yang akan nyindir Dayat tentang masalah ini. Sedikit terobati rasa sesak di


dada dan pernah hampir mengangis di tempat saat Dayat nyindir Oktia tentang hal


yang aneh-aneh.


“Emangnya kenapa sih


kok dia harus sekolah kejantanan?” tanya Oktia seolah Oktia masih polos.


Padahal Oktia tahu maksud pembicaraan Wulan dan Rina tadi.


“Ya, biasalah


Waktupun berjalan


melambat seolah detak jarum jam berhenti dan tak mau berputar. Namun, kuliah


kali ini diselingi canda-tawa. Jadi, tidak terlalu membosankan. Hingga waktupun


memisahkan pertemuan mahasiswa dengan sang dosen.


Berhubung masih ada


praktikum dan laporan praktikum Oktia belum selesai, Oktia memilih untuk menyelesaikannya


terlebih dahulu dengan teman-teman. Sekiranya laporan praktikumnya sudah


selesai, Oktia mulai beranjak dari tempat Oktia mengerjakan laporan. Dayat,


Nudi, Puput, Mita keluar dari gedung kuliah. Terkadang Oktia benci melihat


Dayat berjalan bersama Puput ataupun Mita meskipun di sana ada Nudi. Bukannya


Oktia cemburu. Tapi, bagi Oktia hal ini tidak adil. Mereka, Dayat dan Nudi


seolah selalu berusaha memisahkan Oktia dengan Damar dan dengan cara yang halus


tapi kejam. Padahal, teman cowok yang dekat dengan Oktia cuma Damar. Bahkan


Oktia berprasangka bahwa dia nggak boleh deket dengan cowok selain Dayat.


Padahal, Dayat sendiri kalau dengan Oktia, Oktianya kadang dikacangin. Tapi,


kalau sama teman cewek, seenaknya sendiri. Meskipun status Oktia masih teman,


menurutnya ini sungguh tidak adil. Dayat berdiri tepat di belakang Oktia. Entah


sebenarnya modus atau bukan. Di belakang Oktia dia membuka-buka laporan Puput.


Kemudian mereka berjalan ke laboratorium bersama. Dayat dan Nudi berjalan di


depan Oktia, Oktia berjalan bersebelahan dengan Okti. Dalam perjalanan menuju


laboratorium, Dayat mendendangkan sebuah lagu.


Aduh simbok penting kawinan


Aku iki wis mendem wedokan


Aduh simbok ora bisa turu


Awan bengi, pengen pengen pengen ketemu


Sebuah lagu yang

__ADS_1


menurut Oktia aneh, kosa kata yang digunakan menurutnya agak kasar meskipun


isinya langsung mengena.


Praktikum berjalan


dengan cukup menyenangkan. Terlebi lagi mood  Oktia tidak terganggu dengan polah


Dayat. Kali ini Dayat cukup anteng.


Tapi hal yang menurut Oktia cukup aneh adalah Nudi sering melihat Oktia.


Mengawasinya mungkin.


Waktu praktikum telah


usai. Oktia berjalan menuju parkiran untuk mengambil motor. Dalam perjalanan ia


lihat komplotan Dayat berada di dekat gerbang tempat parkir. Entah mengapa


mereka tak juga bubar jalan. Sekiranya Oktia udah tepat di gerbang tempat


parkir, mereka langsung membubarkan diri. Kadang Oktia curiga dengan masalah


ini. Atau mungkin terlalu paranoid dengan Dayat sampai-sampai melihat


temannyapun Oktia berfikiran yang enggak-enggak. Bahkan, Oktia berfikir, ia


seperti ada masalah dengan preman kelas yang membuatnya tak bisa bernafas


bebas.


Di perpustakaan Oktia


cerita masalah semenjak tiba di kampus hingga peristiwa di parkiran dengan


Risma. Lagi-lagi Risma menyindir Oktia dengan sebuah lagu.


Sadarkah kau


Ku adalah wanita


Tak mungkin ku memulai


Sadarkah kau


Kau menggantung diriku


Tak tahu sampai kapankah


Harus sampai kapan


Harus sampai kapan


Berada di kostpun, teman Oktia yang baru saja datang, bahkan belum


membuka kamar kost-pun seolah menyindir masalah Oktia dengan sebuah lagu.


Mau di bawa kemana hubungan kita


Jika kau terus menunda-nunda


Dan tak pernah nyatakan cinta


Kadang Oktia berfikir, seindah apapun cerita cinta yang kau jalani,


seseru apapun pendekatan yang terjadi, bahkan kau merasa kau ini adalah tokoh


utama sebuah drama ataupun dongeng putri raja, semua itu biasa saja bila


dibandingkan kau bertemu dan bisa saling memiliki “mataharimu”. “Matahari”,


seorang sosok yang menjadi teman hidupmu baik suka maupun duka, sosok yang akan


melindungimu, sosok yang mendidikmu dalam urusan dunia akhirat, sosok yang


mencintai dan menyayangimu, sosok yang jika kau berada di sampingnya kau akan


merasa damai dan tentram, sosok yang berusaha membuatmu bahagia, sosok yang


selalu ada buatmu, dan kau bisa membalas semua cinta dan kasihnya lebih besar


dari cinta dan kasih yang dia berikan padamu. “Matahari” dan kau saling setia


hingga maut yang akan memisahkan. Allah sang Maha Cinta akan mempertemukan


Oktia dengan mataharinya di waktu yang tepat. Matahari yang tidak akan terbit


lebih cepat ketika takut dengan gelapnya malam. Matahari yang tidak akan terbit


terlambat ketika ingin melihat bintang kejora lebih lama.


Alam seolah menyindir


Oktia malam ini. Lagu itu terdendangkan lagi, dan lagi entah disengaja atau


tidak. Yang Oktia tahu, ia tak pernah bercerita tentang masalah ini pada


temannya yang mendendangkan lagu itu.


Mau di bawa kemana hubungan kita


Jika kau terus menunda-nunda


Dan tak pernah nyatakan cinta


Ku tak akan terus jalani tanpa ada ikatan pasti

__ADS_1


Antara kau dan aku


__ADS_2