
Hari demi hari mereka lalui sudah hampir 2 pekan mereka di rumah sakit nun belum ada perkembangan yang bagus buat putranya. Aisyah masih tetap mensuggest pada dirinya sendiri bahwa putranya akan segera sembuh dan Dia bisa menggendongnya. Dia masih ingat dengan seorang bayi yang lahir dan umurnya sama persis dengan putranya. Dihari dimana Aisyah pertama kali melihat putranya, dihari itu juga seorang ibu kehilangan putranya. Aisyah semakin menangis pilu, menyesali apa yang ia lakukan, menyesali karena tidak mendengarkan apa yang di katakan suaminya.
Hari demi hari Aisyah lakukan dengan semangat memompa ASInya yang kini sudah lancar, selain bantuan dari suaminya Dia juga rutin di bantu oleh pemompa ASI electric yang di belikan oleh suaminya. Setiap memompa ASI tidak pernah sedetikpun terlewat dari berdzikir kepadaNya demi kesembuhan putranya. Sejak hati itu Aisyah belum bisa melihat putranya, yang di lakukan hanya menunggu sambil semangat untuk menyetor ASI.
Ada yang beda pada hari ini, belum ada 3 jam, ada panggilan ASI putraku sudah habis. Hingga Aisyah harus segera memompa kembali ASInya dengan segera. Tak berapa lama Aisyah sudah berhasil memompa sebanyak 120 ml, segera Dia setorkan agar putranya
"Permisi suster mau setor ASI atas nama bayi Razka."
"Oh iya, terima kasih bu. Usahakan sebelum 2 jam sudah setor lagi ya bu. Alhamdulillaah terhitung tadi pagi subuh adek sudah lepas ventilator. Sudah mulai meminum langsung dari dot, semoga perkembangannya semakin bagus ya bu."
"Maa sya Allaah..... Allaahu Akbar.... Alhamdulillaahiladzi bini'matihi tathimusholihat.... Aamiin terima kasih suster, in sya Allaah saya usahakan segera setor ASI lagi."
Alceo belum tahu kabar ini, karena Dia sedang izin pergi untuk meeting sebentar di kantor yang tidak bisa di wakilkan kepada orang lain. Setelah kembalinya ke rumah sakit melihat sang istri yang dengan semangat sedang memompa ASI nya ikut bahagia melihat mimik wajah istrinya. Wajah yang teduh, yang penuh kesabaran. tiada henti-hentinya bibir yang kini sudah menjadi candunya berhenti berdzikir dan berdoa.
"Assalamu'alaykum sayang...." ucap lirih Alceo di telinga sang istri, karena sedang konsentrasi memompa ASI sehingga Dia tidak perhatian dan tidak mendengar jika suaminya sudah kembali.
"Maa sya Allaah mas.... Kaget ihh!"
"Habisnya Kamu konsentrasi banget sih yank!"
"Iya mas, Aku harus segera memompa ASI buat Razka. Aku bahagia banget mas!" Aisyah meletakkan botol ASI yang kini sudah penuh dan siap di setorkan. Dia memeluk erat suaminya sambil terisak penuh rasa syukur.
"Hei.... Sayang kenapa menangis?"
"Doa kita di kabulkan Allaah mas!" Lirih Aisyah
"Jangan setengah-setengah sayang mas ga ngerti."
"Alhamdulillaah perkembangan adek sangat bagus mas, tadi suster bilang terhitung sejak subuh tadi putra kita sudah lepas dari alat bantu pernafasannya atau apa ya tadi.... emm oh iya ventilator dan adek sudah bisa ***** langsung dari dot mas. Semoga semakin membaik ya mas Ai ga sabar oengen gending adek mas!"
"Alhamdulillaah...... Kita harus tetep sabar, dan terus bersyukur. Jangan lupa selalu bersemangat, dengan perkembangan adek yang cukup pesat itu tandanya adek juga merasakan semangat kita jadi adek ikut semangat untuk sembuh."
"Terima kasih mas, selalu ada buat Ai, selalu ada disamping Ai, selalu menguattkan Ai."
"Sstttty..... itu sudah kewajiban mas sayang."
"Mas bantu aetirkan ASI mya ya mas Ai laper, hamis mompa dua kali."
"Ya sudah Kamu makan dulu ya sayang.... Mas setorkan ASI nya."
Aisyah mengangguk, dan Alxeo aegera keluar menuju ruang NICU. Setelah menyetorkan ASI milik putranya, Dia lantas berlalu hendak kembali ke ruangan sang istri, namun di tengah jalan dia melihat asa kantin. Dia berlalu ke kantin untuk membeli makanan, minuman serta camilan untuk istrinya. Kini sudah ada 1 kantong besar dan juga segelas kopi susu di tanggannya.
CEKLEK
Alceo masuk ke dalam tuang tawat inap milik istrinya. Dia melihat istrinya yang sudah terlelap.
"Kasihannya kamu sayang, terlihat sekali lelahmu. Semoga lelahmu menjadi lilah."
Alceo mengusap pelan wajah istrinya yang sudah terlelap. Rasa cintanya semakin besar saja kepada istrinya. Benar memang Allaah Maha membolak-balikkan balikkan hati, hingga kini hatiku sudah condong kepada wanita yang sedang di tatapnya kini. Bahkan tidak disangka-sangkanya juka hidupnya berubah 100° setelah menikah dengan wanita yang sekarang sedang dalam dekapannya.
__ADS_1
"Sayang... Aku akan selalu menjagamu dan juga putra kita."
🍀🌹🍀
Hari ini tepat hari ke 7 Razka putra Alceo lepas dari alat-alat yang sebelumnya dipasang untuk menunjang kehidupannya. Siang ini tampak beda, dokter bahkan suster tak ada yang memberitahu jika putranya sudah lepas semua alat-alat yang menempel di badannya. Hanya tetiba Aisyah dan Qlceo di panggil ke ruang NICU untuk di ajak ke ruang usg khusus jantung.
"Panggilan kepada orangtua anak Razka harap segera menuju ke ruang NICU, sekali kepada orangtua anak Razka harap segera menuju ke ruang NICU terima kasih."
"Mas.... Sepertinya kita yang dipanggil mas, Ayo mas cepet mas.."
"Pelan-pelan sayang, jahitan di perutmu belum kering."
"Iya mas... Tapi ayo cepet..."
"Sudah kamu jalan pelan-pelan saja biar mas yang lebih dahulu ke ruang NICU kamu nyusul pelan-pelan ya."
"Al.... Mau kemana?"
"Ah mama.... Kami di panggil ke ruang NICU ma."
"Sudah pelan-pelan ada papa disana, Kamu saja yang buruan ke sana Al, biar Aisyah sama mama jalan pelan-pelan."
"Iya ma....."jawab Alceo, "Sayang kamu sama mama ga pa-pa kan, mas jalan duluan ya...." Dijawab dengan anggukan kepalanya saja.
Alceo segera berlari menuju ruangan NICU tempat putranya di rawat.
"Suster.... saya orang tua dari Razka."
"Ini suster....."Papa Daniel menyerahkan barang yang di minta oleh suster.
"Makasih pa..."
"Sama-sama Al, sabar semoga ada kabar baik."
"Aamiin..."
"Baik setelah ini siap-diap ikut kami ya pak, adek bayi sedang disiapkan."
"Baik suster, Kami menunggu disini saja."
Tak berapa lama sebuah inkubator keluar dari ruangan NICU tertutup kain agar bayi tidak silau.
"Assalamu'alaykum nak, ini mama sama papa sayang...."
"Mari bu...."
Alceo dan Aisyah mengikuti kedua perawat yang kini sedang membawa putra menuju satu ruangan.
"Berdoa ya sayang, semoga baik-baik saja, dan segera ada kabar baik untuk adek."
__ADS_1
"Aamiin iya mas..... Semoga kondisi semakin bagus."
"Oh iya bu, nanti setelah USG ibu bisa menyusui adek langsung ya. Dan sekalian minta baju buat dedeknya sekalian di siapkan."
"Ma....maksudnya sus?"
"Ibu sudah bisa menyusui langsung adek, belajar pelan-pelan ya bu...."
"Baik sus, terima kasih..... Alhamdulillaah ya Allaah!"
"Mas, adek sudah bisa ***** langsung sama Aku mas...."
"Bersyukurlah sayang...."
GREDEK....
"Dokter atas nama anak Razka..."
"Oke sus, bisa di angkat dan di tidurkan di brankar..." Kedua suster itupun saling bekerja sama untuk menyiapkan Razka.
"Silakan di lihat ya pak bu, ini adalah jantungnya, sudah terbentuk sempurna tidak ada cacat ya normal semuanya. Selanjutnya kita lihat paru-parunya ya pak bu, nahhh.... alhamdulillaah clear semua..."
Senyum lebar di wajah Alceo dan Aisyah, bersyukur sekali dengan kondisi putra mereka.
"Setelah ini ibu bisa mulai menyusui langsung ya bu, Sudah selesai sus. Dan ini hasil USG nya tadi ya pak bu, semua sudah normal dan sehat in sya Allah. Nanti akan saya berikan surat kontrol."
"Maksudnya dokter?"
"Putra anda sudah sehat dan sudah bisa dibawa pulang hari ini."
"Maa sya Allaah alhamdulillaah Allahu Kabar....."
"Kabar yang bagus sayang, kabar yang kita nanti-nantikan akhirnya sayang...."
"Iya mas Alhamdulillaah."
Mereka kembali menuju ruang NICU, dan melakukan sesuai instruksi suster. Aisyah menyusui langsung Baby Razka sedangkan Alceo mengambil baju ganti untuk Razka. Alceo samgat bahagia, wajahnya seketika sumringah.
"Gimana Al?"
"Baby Razka sudah boleh pulang ma!"
"Alhamdulillaah mama sama papa ikutan seneng sayang, oh iya sementara kalian pulang ke mansion saja Al. Banyak yang bantu Aisyah nanti di mansion. Bahagiakan istrimu apalagi sedang masa nifas masa rawan dari baby blues jika dia mengalami stres Al."
"Iya ma, kita memang niatnya pulang ke mansion."
Mereka semua bersuka cita, tak ada henti-hentinya rasa syukur mereka ucapkan. Terlebih Aisyah, sudah tak kuasa menahan lelehan air matanya. Dilihatnya putranya begitu lahap dan sangat pintar.
"Baarakallahu fiyk sayangnya mama..."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Kesabaran itu di ujian ketika diawal musibah sedang terjadi....