
Proses perpindahan berlangsung lancar, mereka langsung menempati rumah baru mereka dengan penuh cinta dan kegembiraan, meski faktanya tak 100% seperti itu. Namun paling tidak selama tiga bulan tinggal di rumah baru, mereka mampu mengatasi masalah yang terjadi.
Seperti bulan lalu, saat Jessica secara mendadak membatalkan rencana liburan yang telah mereka susun dengan matang. Jessica terpaksa membatalkannya lantaran ia mendapatkan orderan kebaya dari Menteri Pariwisata, yang akan ikut menyambut kedatangan pemerintah Korea Selatan dalam kunjungan kenegaraan.
Bukan Daniel tidak mendukung atau tidak bangga pada pencapaian istrinya, hanya saja rencana liburan itu sudah di susun sejak jauh-jauh hari. Daniel tidak akan punya waktu libur lagi, dia harus fokus pada persiapan projectnya di Jepang.
Daniel kecewa, marah dan emosi, namun ia meluapkan itu semua dengan berolahraga. Nyatanya ruang olahraga yang Jessica buat, cukup efektif untuk meluapkan emosi Daniel ketika tengah memuncak.
Selama hampir dua jam Daniel melakukan olahraga boxing, ia meninju samsak dengan sekuat tenaganya secara bertubi-tubi. Jessica menyaksikan Daniel meluapkan kemarahannya dari jauh, ia tak berani mendekat.
Setelah dua jam olahraga tanpa henti, akhirnya Daniel jatuh terkapar dan tidak berdaya, di situ Jessica baru berani mendekat ke arahnya dengan membawakan sebotol air mineral dan handuk untuk mengelap keringat suaminya. Dalam kondisi seperti itu Daniel tidak akan mungkin menyakitinya, dia sudah tidak punya tenaga lagi, bahkan untuk berdiri.
"Aku sungguh menyesal karena harus membatalkan rencana liburan kita," ucap Jessica sembari mengulurkan sebotol air mineral. "Tapi aku tak bisa menolak pesanan ini, Bu Ajeng sendiri yang memintaku untuk membuat kebaya yang akan di kenakannya," ia mengelap keringat Daniel yang membasahi keningnya.
"Aku hanya mau kamu, Jess," Daniel merengkuh Jessica dalam pelukannya, ia menempelkan bibirnya ke bibir Jessica, kemudian melum*tnya secara lembut dan perlahan.
Jessica membalas ciuman hangat itu lebih dalam, lalu berbisik. "Maafkan aku, Daniel. Aku sudah mengecewakanmu."
Daniel melepaskan ciumannya sembari menggeleng. "Tidak Jess, aku yang salah. Seharusnya aku mendukung karirmu seperti kau mendukung karirku." ia menjatuhkan keningnya di bahu telanjang Jessica. Aroma tubuh Jessica yang begitu harum. Daniel menggeram dengan energi yang mendadak pulih kembali dan melepas pakaian Jessica.
__ADS_1
Selanjutnya yang terjadi adalah perpaduan antara tangan, erangan, lidah dan keringat. Daniel menghujam keras dan cepat hingga Jessica tersingkap, membuat setiap otot tubuh Jessica mengejang.
Mulut daniel garang dan menuntut, menciumi Jessica di semua tempat yang bisa diraihnya. Kepala Jessica pening, tak ada yang bisa ia lakukan kecuali pasrah. Daniel bercinta dengan istrinya tanpa belas kasihan sama sekali, ia mendesak lebih keras dan semakin keras.
Kuku-kuku jemari Jessica menghujam kulit punggung Daniel, ketika Daniel membenamkan wajahnya di leher Jessica.
"Daniel..." pekiknya, kemudian ia Jessica menggigit pundak Daniel untuk meredam suara yang muncul ketika keduanya melakukan pelepasan, dan kepala Jessica terkulai lemah di lantai.
Perlu satu menit penuh, sebelum mereka sanggup bergerak lagi, dan bahkan mereka memilih untuk diam saja. Daniel masih di atas tubuh Jessica, ia membenamkan wajahnya di bahu Jessica dan mendesah panjang. "Tubuhmu benar-benar bagai candu, Jessica." ia mengangkat kepalanya dan menatap Jessica dalam-dalam. "Bagaimana jika selama kau mengerjakan pekerjaanmu, aku menemanimu di butik? Kamu tidak keberatan?"
Jessica menggelengkan kepalanya. "Tentu tidak, sayang. Aku senang jika kau mau menemaniku bekerja."
...****************...
Dua minggu menjelang keberangkatan Daniel ke Osaka, Daniel sibuk dengan dengan serangkaian berkas yang harus yang ia persiapkan, sementara Jessica membantu mengemasi barang-barang suaminya.
Secara khusus Jessica membuatkan pakaian hangat untuk suaminya, sebab ia tahu cuaca di Osaka saat ini sedang winter atau musim dingin, Jessica membuat lengkap dengan sarung tangan agar Daniel tak merasa ke dinginan.
Jessica membawa baju-baju buatannya ke ruang kerja Daniel untuk dicobakan ke tubuh suaminya, ia ingin semuanya pas dan sempurna sembelum ia memasukannya ke koper. "Bagaimana? Nyaman tidak?" Jessica meminta Daniel berputar sedikit agar ia bisa melihat detailnya.
__ADS_1
"Baju-baju buatanmu bukan hanya trandy, tapi juga nyaman digunakan, karena kau selalu menggunakan bahan yang berkualitas, aku tahu itu." Daniel melepas pakaian hangat buatan istrinya, ia memberikannya kembali sembari menatapnya lekat-lekat. "Sayang, antar aku sampai Osaka ya. Kau menginap satu atau dua minggu di sana, menemaniku," pinta Daniel dengan penuh harap.
Sebetulnya Jessica ingin sekali memenuhi permintaannya kali ini, tapi sayangnya ia sudah terlebih dahulu menandatangani kontrak kerja sama dalam acara Jakarta Fashion Week atau JFW. "Sayang sekali, Daniel. Aku tidak bisa, aku sudah terlanjur mendandatangani kontrak untuk tampil di JFW."
"Please Jess, kali ini saja. Sejak kita menikah, kita tidak pernah keluar negeri menikmati musim dingin bersama," bujuk Daniel. "Lagi pula JFW ada tiap tahunnya."
"Ini berbeda Daniel," sanggah Jessica. "Kali ini, aku bukan hanya menampilkan baju-baju rancanganku tapi juga aku di undang talk show sebagai designer termuda yang telah merancang banyak artis dalam dan luar negeri." ia juga membalas tatapan Daniel dengan serius. "Kamu tahu sendiri kan, Claire sudah ambil cuti dari tiga minggu yang lalu? Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan butikku."
Daniel mengusap wajahnya dengan kasar, ia berharap ada keajaiban untuk dirinya bisa sebentar saja melewati masa berdua sebelum ia fokus dengan pekerjaannya di Osaka. "Kau selalu mengatakan butikmu sangat penting. Lalu aku apa? Kita akan LDM (Long Distance Marriage) untuk waktu yang cukup lama Jess... Aku punya waktu sehari dua hari untuk berkeliling Jepang dan aku ingin menikmatinya bersamamu," ia terlihat begitu ngotot dan memaksa.
"Tolong jangan paksa aku Daniel, jangan membuatku memilih antara karir atau keluarga. Kontrak ini sudah aku tanda tangani jauh-jauh hari, jadi aku mohon jangan membuatku terlihat seolah tak profesional."
Daniel tersenyum sinis. "Orang lain justru akan bangga jika tahu kau lebih memilih keluarga di banding karirmu yang tidak akan pernah ada habisnya," suara Daniel mulai meninggi.
"Karirmu juga tidak ada habisnya, tapi aku tidak pernah protes.."
"Itu karena di tengah kesibukanku aku masih memikirkan rencan quality time kita." Daniel memotong kalimat Jessica.
Di tengah perdebatan panasnya bersama suaminya, tiba-tiba saja handphone Daniel bergetar, ada satu panggilan masuk dari Harry. Harry mengabarkan jika ia dan istrinya tengah di perjalanan menuju rumah sakit. Claire akan segera melahirkan.
__ADS_1
"Benarkah? Adikku akan segera melahirkan?" berita itu langsung melunturkan ketegangan di antara mereka, ketengangan itu berganti menjadi rasa bahagia karena calon anggota keluarga baru siap hadir.