
Daniel:
Kau mengecewakanku, Jess.
Daniel
Apakah ini lelucon? Kau memperlakukanku seperti monster yang menakutkan dan sebagai ayah sialannya.
Daniel:
Seleramu sungguh payah, kau bercinta dengan artis murahan.
Pukul lima pagi, Jessica terbangun untuk ke kamar mandi, dan tentu saja ia melirik handphonenya sebelum kembali tidur sebab alarm baru akan berbunyi pukul enam. Ia terkejut ketika membaca semua pesan yang Daniel kirim untuknya, bukan permintaan maaf yang ia dapatkan karena pria itu hampir menyerangnya melainkan cacian.
Jessica menjatuhkan handphonenya ke tempat tidur, tangannya gemetar. Ia tidak percaya Daniel mengirimkan pesan itu untuknya, padahal ia berharap setelah kejadian kemarin Daniel lebih tenang, namun malah semakin buruk.
Jessica mencoba untuk kembali tidur, tetapi tidak bisa. Akhirnya ia bangun dan membuat secangkir kopi sembari mengulangi membaca chat itu berulang kali, hingga Estelle bangun dan ia memulai rutinitas paginya.
Setelah mengantar Estelle ke sekolah, ia bergegas ke butik. Jessica tak menunggu putrinya bersekolah sebab Alice datang, dan berencana mengajak cucunya mengunjungi acara ulang tahun salah satu panti asuhan di Jakarta Utara.
Sepanjang hari Jessica bekerja dengan suasana hati yang tak nyaman karena chat itu, di tambah Claire tak datang karena ada acara dengan suaminya. Ia tak mencoba untuk bercerita kepada Rey saat siang hari Rey menyambanginya untuk mengantar makan siang, ia tak ingin Rey marah karena merasa terhina dan membuat suasana semakin rumit.
Menjelang pukul lima sore, Jessica bersiap untuk menjemput Estelle di rumah bunda. Ia terkejut dengan kedatangan Daniel yang langsung masuk ke ruang kerjanya tanpa mengetuk pintu ruang kerjanya. "Bisakah kita bicara?"
"Aku harus menjemput Estelle." Kata-kata Jessica keluar dengan cepat dan tegas.
Tangan kiri Daniel mencengkeram ujung meja, ia meremasnya hingga otot-otot di lengannya terlihat. "Aku hanya ingin minta maaf," ia mengusap rambutnya dan mengernyit. “Aku terlalu banyak minum di sebuah acara tadi malam, aku bahkan tidak ingat mengirim chat itu, Jess."
Jessica diam tidak mengatakan apa-apa, ia mulai gelisah, semakin tidak nyaman dalam kemarahan diamnya. Daniel menyelipkan tangannya ke dalam saku dan menatapnya. "Apakah kamu memberi tahu Claire?"
"Tidak, tapi aku memberi tahu pengacara." Jessica bohong, tapi itu akan menjadi kenyataan begitu dia meninggalkan butiknya karena mulai saat ini, Jessica akan mendokumentasikan semua yang Daniel lakukan kepadanya. Rey benar, daniel terlihat sempurna di atas kertas, sehingga ia harus menjalankan sedikit taktik untuk melindungi diri dan putrinya.
Mata Daniel perlahan mengarah ke mata Jessica. "Kenapa kamu melakukan itu?"
"Kau membenturkan tubuhku ke dinding dan kemudian kau mengirimi pesan berisi penghinaan di tengah malam. Aku tidak mau kau terus menerus berlaku seenaknya kepadaku!"
Daniel menarik tangannya dari sakunya dan meremas bagian belakang lehernya saat dia berputar menghadap ke arah lain. “Kamu tidak melihat alasan aku melakukan itu?" ia menatap ke arah Jessica. “Kita baik-baik saja selama setahun, Jess. Kita tidak memiliki satu masalah pun sampai dia muncul kembali. Sekarang kita bertengkar sepanjang waktu, dan kau melibatkan pengacara?”
__ADS_1
“Berhentilah menyalahkan perilakumu pada orang lain, Daniel!”
"Berhentilah mengabaikan sumber masalah kita, Jess! Biarkan aku menebak ide siapa itu?" Daniel berjalan menuju pintu, saat ia mencapai pintu ruang kerja Jessica, Daniel berputar dan menusuk Jessica dengan tatapan tajam. “Ingat, Jess. Kalau kau mencoba-coba merusak karirku, dampaknya akan terkena pada Estelle!" Ancamannya diselingi dengan tangannya yang membanting pintu.
Evelin yang mendengar pertengkaran itu bergegas ke ruang kerja Jessica begitu Daniel pergi, ia menarik Jessica dalam pelukannya. Jessica menyadari bahwa saat ini adalah bagian tersulit dalam mengakhiri hubungan yang penuh kekerasan.
Dalam pernikahan mereka, beberapa kejadian menakutkan diselimuti oleh begitu banyak kejadian yang menyenangkan, tetapi sekarang setelah pernikahan mereka berakhir, selimut itu telah terangkat dan yang tersisa hanyalah bagian terburuk dari dirinya. Di mana pernikahan merek dulunya penuh dengan hati dan daging yang menjadi bantalan kerangka, kini yang tersisa hanyalah kerangka sekarang. Tajam, tepi bertulangnya mengiris, menembus tubuh Jessica.
"Bu Jess, baik-baik saja?" Tanya Evelin.
Jessica mengangguk. “Ya, tapi… apakah sepertinya Daniel pergi dari sini dengan suatu tujuan? Seperti dia pergi ke tempat lain?”
...****************...
Saat dalam perjalanan menuju rumah Bunda, Jessica menghubungi Rey yang kebetulan sedang berada di restoran. Jessica memperingatkan Rey jika kemungkinan Daniel datang, namun Rey tak begitu menghiraukan peringatan Jessica, ia justru mengkhawatirkan Jessica dan Estelle. "Kabari aku jika kau sudah sampai di rumah Bunda, dan kabari lagi jika kau pulang ke apartemen," Rey mengakhiri panggilannya.
Belum sempat ia menaruh handphone di sakunya, Daniel menerobos masuk ke dapur restorannya. Ia cukup membuat keributan sehingga semua orang memperhatikan dan menghentikan apa yang mereka lakukan.
"Aku akan mengusirnya," salah seorang pelayannya berusaha mengusir Daniel dari restoran.
"Tidak perlu," cegah Rey, sudah lama ia ingin menghadapi Daniel, dan inilah waktunya.
"Sudah selesai?" tanya Rey.
Daniel tidak menanggapi, tapi dia juga tidak menyerang lagi. "Aku lebih suka saat kau melawan, sewaktu di rumah sakit."
"Aku tidak punya keinginan untuk melawanmu," ucap Rey. "Katakan saja apa yang ingin kau katakan di sini."
Rey melihat Daniel menyeka darah dari buku-buku jarinya dengan bajunya, tangannya terlihat bengkak. Sepertinya dia meninju sesuatu sebelum dia datang ke restoran.
"Kau pikir aku tidak tahu pengacara adalah idemu?" ucap Daniel.
Rey mencoba menyembunyikan keterkejutannya, tapi ia masih belum paham dengan apa yang dia bicarakan Daniel. Wajah Danie terlihat semakin marah. “Dalam pernikahan, pertengkaran adalah hal yang biasa terjadi, karena pernikahan bukanlah pelangi sepanjang waktu, jadi jangan coba-coba membodohinya."
"Aku bisa memiliki sejuta pertengkaran dengannya, tapi aku bisa berjanji padamu bahwa itu tidak akan pernah berakhir di rumah sakit."
Daniel tertawa sinis. "Kam tidak tahu apa yang Jessica dan aku lalui," ucapnya. "Kau tidak tahu apa yang telah kualami."
__ADS_1
"Kamu benar, Daniel." Rey mengangguk pelan. "Kamu benar, aku tidak tahu apa yang telah kau alami.” Rey menarik kursi di dekat westafel dan ia duduk dengan tenang. “Apa pun yang terjadi di masa lalumu tak seharusnya menjadikanmu suami yang menyebalkaan."
Daniel memutar bola matanya karena kesal dengan ucapan Rey.
“Bangunlah, bung. Kau adalah suami yang mengerikan.”
Daniel menatap Rey sebentar, lalu berkata, "Apa yang membuatmu yakin, bahwa kau akan lebih baik dariku?"
“Aku memperlakukan Jessie sebaik aku memperlakukan diriku sendiri, aku pikir kau seharusnya lega dia bersama seseorang yang tepat."
Daniel tertawa. "Lega? Aku harus lega?" ia mengambil beberapa langkah ke arah Rey, amarahnya naik lagi. "Kau adalah alasan kita bercerai!"
Rey masih tetap tenang menghadapi Daniel. "Dirimu adalah alasan mengapa kau bercerai. Kemarahan dan kepalan tanganmu yang membawa pernikahanmu pada perceraian, jadi berhentilah menyalahkanku, menyalahkan Jessie, dan semua orang atas tindakanmu.” Rey berdiri, tapi tidak untuk memukulnya, ia justru memberi Daniel sekaleng minuman soda.
“Inilah hidup kita sekarang. Milikmu, milikku, milik Jessie, dan milik putrimu. Kita harus menghadapi ini. Selamanya. Liburan, ulang tahun, wisuda, pernikahan Estelle. Aku tahu ini semua tidak mudah bagimu, tetapi kau adalah satu-satunya yang dapat memastikan hal ini mudah bagi kita semua karena tidak ada dari kami yang berutang kebahagiaan padamu. Terutama Jessie.”
Daniel menyesap minuman sodanya sembari menggelengkan kepalanya “Kau mengharapkanku untuk mendukung kalian berdua? Mendoakanmu kalian? dan mendorongmu menjadi ayah yang baik bagi anak perempuanku?” ia menertawakan ide gila itu.
"Ya, kurang lebih seperti itu," ucap Rey dengan wajah datar. “Sebesar apa pun kebahagiaan yang aku buat untuk Jessie, dia tidak akan pernah sepenuhnya bahagia sampai dia bisa bekerja sama denganmu dengan baik. Jika kamu ingin putrimu tumbuh dengan versi terbaiknya, mari kita bekerja sama."
"Apa kita sekarang adalah tim?"
"Menjadi sebuah tim adalah satu-satunya cara untuk menjadika putrimu hebat di masa depan."
Daniel berbalik, ia membantin pintu dan pergi dari restoran Rey, namun kali ini ia tidak lewat dari depan melainkan dari pintu belakang sebab di depan sudah ramai dengan para wartawan.
Rey keluar dari dapur untuk menenangkan situasi, sembari tersenyum ke arah kamera yang menyorot dirinya Rey mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja dan bukan masalah yang serius, ia juga mengatakan bahwa sudah menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan dan tidak akan melanjutkan ke ranah hukum. "Terima kasih atas perhatian kalian semua," ia melambaikan tangannya kemudian keluar dari restorannya.
...****************...
Tiga puluh menit kemudian ia sudah tiba di apartement Jessie, jika tadi di depan wartawan Rey mengatakan baik-baik saja, di depan Jessica ia terlihat seperti merintih tapi ia tak bermaksud membuat Jessica khawatir, ia hanya mengginkan sentuhan lembut dari kekasihnya dan tawa riang dari Estelle.
"Ceritakan padaku apa yang terjadi!" dengan telaten Jessica mengobati luka pada wajah Rey sementara Rey memangku Estelle.
Rey hanya menceritakan poin penting kedatangan Daniel ke restorannya, saat ia bercerita Jessica menatap Rey dengan tatapan yang begitu manis hingga hatinya meleleh. "Aku yakin kau adalah satu-satunya orang di planet ini yang habis dimpukul menawarkan kerja sama."
Rey mengulurkan tangannya, membelai lembut wajah Jessica. "Jangan khawatir, menurutku itu jauh lebih baik daripada aku melawannya yang ada kita tidak bisa berdiskusi." ia menarik Jessica ke pelukannya kemudian mengecup kepalanya. "Aku baik-baik saja Jessie," bisiknya, ia juga mengecup kepala Estelle.
__ADS_1
Setelah Jessica selesai membersihkan lukanya, Rey pamit. "Maaf aku tidak bisa berlama-lama, tidak ada yang mengawasi Jordy belajar, dia harus mengejar ketertinggalannya," rey menyerahkan Estelle pada Jessica kemudian ia beranjak dari tempat duduknya.