
Demi membuat Jessica bahagia, Claire dan Harry membuatkan pesta baby shower yang sangat meriah di hotel berbintang lima. Sayangnya acara tersebut tak di hadiri oleh Alice, sang ibunda Jessica karena beliau masih berada di Bali bersama teman-teman komunitas peduli kanker anak Indonesia.
Jessica melarang Claire untuk mengatakan acara ini adalah acara baby shower pasalnya, ibundanya akan langsung pulang jika mengetahui Jessica hamil. Jessica tak ingin mengganggu acara sosial ibundanya dan ia pun ingin memberi tahu tentang kehamilannya secara langsung.
Sudah sekitar enam bulan ini, Alice tergabung dalam komunitas sosial itu. Berkeliling daerah dan membantu banyak anak-anak yang terkena kanker, membuatnya lebih bahagia dan sehat. Putri semata wayangnya sudah dewasa dan bahagia dengan kehidupannya sendiri, itulah alasan kuat Alice memilih ikut dalam komunitas itu.
Acara baby shower berlangsung sangat meriah meski hanya di hadiri oleh teman-teman terdekat Jessica. Tema yang Claire pilih jungle, tema yang cukup netral sebab Jessica masih enggan untuk mengetahui jenis kelamin bayi yang di kandungnya.
Selesai acara ketika teman-temannya satu persatu telah pergi meninggalkan venue, Jessica di kejutkan dengan kedatangan orang yang tak ia sangka-sangka. Padahal sepengetahuannya Daniel akan pulang dua minggu lagi, dan sebelum Daniel pulang Jessica berniat terbang ke Bali menemui ibundanya. Ia ingin mempersiapkan hatinya untuk bisa bertemu dengan Daniel.
Tapi sekarang Daniel sudah berada di sini, dengan tatapanmya yang langsung tertuju pada perut Jessica. Jangung Jessica berdebar kencang menghantam tubuhnya. Ia merasakan gatal pada dadanya, sehingga ia mengangkat tangannya dan meletakannya di sana, merasakan debar jantungnya di telapak tangannya.
Jantung Jessica berdebar karena takut pada Daniel.
Jantung Jessica berdebar karena membencinya.
Jantung Jessica berdebar karena merindukan Daniel.
Jessica terpaku ketika Daniel perlahan mendekat ke arahnya. Satu tangan Jessica yang lainnya ia letakan di perut seolah melindungi kandungannya dan tangan lainnya masih melekat di dada. Ia terlalu takut untuk bergerak dan mengatakan sesuatu saat Daniel benar-benar berada di hadapannya.
Daniel mengacungkan tangan untuk menenagkannya. "Aku tidak akan menyakitimu, Jess. Aku hanya ingin bicara denganmu, ayo kita pulang!" ajaknya, kemudian Daniel melangkahke samping dan mata Jessica tertumbuk pada Harry yang berada di belakangnya.
__ADS_1
'Oh jadi dia yang meneritahu mengenai acara ini,' batin Jessica yang sedari tadi penasaran mengapa Daniel bisa berada di sini, kalau pun Daniel memang mempercepat kepulangannya tentu dia akan menunggu di apartement.
"Harry?"
Harry langsung mengangkat kedua tangannya untuk membela diri. "Setiap hari Daniel menerorku untuk mengetahui kondisimu, jadi aku suruh saja dia kemari untuk melihatmu secara langsung," tatapan Harry beralih ke istrinya yang tepat berada di samping Jessica. "Claire sayang, tolong jangan ceraikan aku karena hal ini," pintanya memelas.
Jessica memegang lengan Claire sembari menggelengkan kepalanya, hal itu cukup membuat Claire tak jadi memarahinya dan Harry bernapas lega.
"Pulang-lah Jess," ulang Daniel.
"Kami akan ikut, untuk memastikan kau baik-baik saja," sahut Claire, ia benar-benar tak ingin kakaknya menyakiti Jessica lagi.
Sebetulnya Jessica masih sangat takut dengan Daniel, tapi dengan perutnya yang buncit dan dia tahu bahwa saat ini ia mengandung anaknya tentu Daniel tak akan berani menyakitinya. "Terima kasih, Claire. Tapi kami butuh privasi untuk bicara."
Jessicaa meraih tangan Claire dan menggenggamnya. "Aku akan baik-baik saja. Percaya-lah!!"
Dengan terpaksa Claire pun melepaskan tangan Jessica. "Kabari aku jika ada apa-apa, aku pasti akan segera ke apartementmu begitu kau menghubungiku."
Jessica tersenyum simpul kemudian mengangguk, ia berjalan mendahului Daniel. Tiba di lobby hotel Jessica meminta Daniel untuk memesan taxi karena ia tak ingin satu mobil dengan suaminya. "Aku ingin nyetir sendiri," ucapnya sebelum masuk ke mobil, ia melajukan kendaraanya menuju apartementnya tanpa menunggu Daniel mendapatkan taxi.
...****************...
__ADS_1
Daniel tiba lima belas menit setelah Jessica tiba, ia menutup pintu apartement. Jessica memperhatikan Daniel yang terlihat lebih tua dari yang ia lihat sebelumnya, kantong matanya berwarna gelap, keningnya berkerut dan postur tubuhnya terlihat layu.
Matanya jatuh laginke perut Jessica, dan perlahan ia maju mendekati Jessica yang duduk di sofa ruang tamu. Daniel mengulurkan satu tangan dengan ragu, ia meminta izin untuk menyentuh perut istrinya.
Jessica mengangguk kecil. Daniel langsung mencondongkan tubuhnya dan meletakan tangannya di perut Jessica. Jessica merasakan kehangatan tangan Daniel menembus dress yang ia kenakan. Jessica memejamkan matanya, meskipun kebencian menggunung di hatinya, bukan berarti rasa cintanya terhadap Daniel hilang seluruhnya.
Perlahan Danie melepaskan tangannya dan Jessica membuka matanya. Daniel jatuh berlutut di hadapan Jessica, dua lengannya merangkul pinggang Jessica, kemudian mencaratkan bibirnya di perut Jessica. "Ini bayi kita, yang kita nantikan kehadirannya..." ucapnya lirih.
Sulit menggambarkan apa yang Jessica rasakan saat ini, seperti yang di inginkan ibu mana pun untuk anaknya, terlebih ia berusaha keras untuk mendapatkan anak. Sungguh indah melihat kasih sayang Daniel yang di curahkan untuk buah cinta mereka. Sebesar apa pun kebencian yang ia pendam untuk Daniel, Jessica tetap mengulurkan tangannya ke rambut Daniel, sementara Daniel terus memeluknya.
Sebagian dari diri Jessica ingin menjerit kepada Daniel dan menelepon polisi untuk melaporkan kejadian beberapa waktu lalu menimpanya, tapi sebagian lagi ia iba. Separuh dari diri Jessica berharap andai ia tidak akan bertemu lagi dengan Daniel, tapi separuh lagi berharap andai ia bisa memaafkan suaminya.
Daniel melepas tangan dari pinggang Jessica, ia meraih pinggiran sofa dan duduk di smping istrinya. Dua sikunya bertumpu pada pahanya, dan dua tangannya membekap mulut. "Kau mau membicarakannya?"
Daniel mengangguk. "Tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana, Jess." ia menggosok-gosokan jawah dengan kedua tangannya.
"Bagaimana kalau kau mulai dengan 'Aku meminta maaf karena telah menyerang dan mempekosamu.'"
Seketika Daniel menoleh ke arah Jessica, matanya mebelalak menatap Jessica tajam. "Jessica kau tidak tahu apa yang aku rasakan selama ini, aku benar-benar tersiksa setiap kali aku mengingat apa yang aku perbuat kepadamu."
Jessica menggertakan gigi, ia meremas pinggiran sofa dengan kencang. Aku tak bisa membayangkan apa yang Daniel rasakan selama ini setelah kejadian itu.
__ADS_1
Jessica menggeleng perlahan. "Kau yang tak bisa membayangkan apa yang aku rasakan setelah kejadian malam itu, Daniel!!" kemarahan dan kebencian meluap dalam dirinya.