SAMPAI DISINI

SAMPAI DISINI
BAB 44


__ADS_3

"Dia mengira aku putramu," ucap anak itu.


"Kau membuatnya ketakutan." Rey segera mengarahkan handphonenua kembali ke wajahnya sendiri. “Dia bukan anakku. Dia saudaraku.”


Saudara laki-laki?


Rey memindahkan handphonenya sehingga Jessica melihat bocah itu lagi. "Ayo sapa, Jessie!"


"TIDAK."


Rey memutar matanya dan menatapku dengan tatapan minta maaf. "Dia agak brengsek." Rey mengatakan itu tepat di depan adik laki-lakinya.


"Rey!" bisik Jessica.


"Tidak apa-apa, dia tahu dia brengsek."


Jessica melihat anak itu tertawa di belakang tubuh Rey. "Aku tidak tahu kau punya adik laki-laki, seingatku kau hanya punya Jenny yang dulu pernah kau pesankan gaun pengantin."


“Aku juga tidak tahu. Aku baru bertemu dengannya tadi malam setelah kita kencan.”

__ADS_1


Sepanjang kencan, Jessica tidur di mobil Rey sehingga ia tidak tahu apa yang terjadi dengan Rey, tapi yang jelas saat ini Rey terlihat sibuk karena adiknya. "Sepertinya banyak hal yang harus kamu kerjakan hari ini."


"Tunggu, jangan ditutup dulu!" cegah Rey, ia berjalan keluar dari dapur dan ke ruangan lain untuk menepi dari adiknya. Rey menutup pintu dan duduk di kursi samping jendela yang menghadap pantai. Membuat Jessica rindu dengan kediaman Rey yang begitu indah. "Boluku masih sekitar sepuluh menit lagi baru matang, kita bisa mengobrol."


"Wow bolu. Dia anak yang beruntung bisa menikmati bolu buatanmu. Aku hanya minum kopi hitam untuk sarapan.” Jessica masih ingat betul bagaimana rasa bolu buatan Rey, dia pria yang bukan hanya lembut tapi pandai memasak dan membuat kue, sehingga wajar jika selain syuting dia memiliki bisnis restoran.


Rey tersenyum. "Di mana Estelle?" tanyanya.


"Hari ini Estelle milik bunda. Apa kau mau cerita tentang adikmu?" Jessica melihat sepertinya ada hal yang ingin Rey ceritakan.


Rey menyusupkan jemarinya ke rambutnya sembari mendesah. "Tadi malam setelah mengantarmu pulang, pegawai restoranku menghubungiku, mereka bilang ada seorang wanita paruh baya dan seorang anak mencariku. Dua orang itu mengatakan, mereka adalah keluargaku."


Sembari mendengarkan Rey bercerita, Jessica berjalan ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa ia makan, mendengar Rey membuat bolu membuatnya lapar.


Jessica mengerutkan keningnya saat ia menuang sereal ke mangkuknya. "Keluarga? bukankah kau merasa jika satu-satunya keluarga yang kau punya hanya Jenny?" ia tak menyangka jika Rey bisa semudah itu menganggap orang yang baru bertemu dengannya sebagai keluarga, ja berpikir bagaimana jika Jordy seorang penipu.


"Ibunya adalah wanita simpanan ayahku, saat ayahku meninggal. Ibunya sedang mengandung Jordy."


Jessica menjatuhkan sendok ke mangkuknya, ia membekap mulutnya dengan kedua tangannya. "Kau yakin itu, Rey?"

__ADS_1


"Wanita itu memperlihatkan foto-foto kebersamaan ayahku dengan ibunya Jordy," Rey memegang keningnya, terlihat sekali jika dia begitu pusing dan bingung. "Aku tak punya pilihan lain selain membawanya ke rumah, meski aku belum bisa menerima jika aku memiliki saudara laki-laki, karena dia tetap bagian dari ayahku."


"Apa Jenny sudah tahu?"


Rey mengangguk. "Tadi malam aku sudah menghubunginya," jawab Rey. "Dia menolak mentah-mentah kehadiran Jordy, dan dia melarangku membawanya ke rumahnya. Aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya mengasuh bocah berusia dua belas tahun." Rey menghembuskan napas beratnya. “Maafkan aku Jessie, aku harus kembali ke dapur untuk melihat bolu dan memastikan dia tidak merampokku. Aku akan meneleponmu lagi agak siang atau sore nanti, oke?” Rey mengatakan hal tersebut sebab tadi malam secara tak sengaja anak itu memegang-megang pajangan di rumahnya dan memasukan bola emas senilai dua puluh juta ke sakunya.


"Oke. Semoga beruntung."


Cara Rey mengucapkan kata selamat tinggal terlihat sangat seksi, Jessica menutup sambungan video callnya kemudian menghabiskan sisa sereal yang masih tersisa di mangkuknya.


Jessica senang bisa berbincang dengan Rey. Masalah hidup Rey membuatnya pusing, bersemangat, bahagia, dan semrawutnya.


Jessica berharap bisasegera bertemu dengannya untuk memberinya pelukan seperti yang Rey berikan padanya tadi malam. Jesaica benci Rey memiliki masalah, tapi di saat yang bersamaan dia juga senang bisa menjadi tempat Rey bercerita menumpahkan keluh kesahnya, sebab setelah Jenny menikah dan tinggal di Surabaya Rey seperti tidak punya siapa-siapa.


Handphone Jessica kembali berbunyi, ada satu chat masuk dari Rey untuknya. Jessica tersenyum lebar ketika membukadan membaca pesan tersebut


Rey:


Terima kasih telah menjadi bagian paling menghibur dalam hidupku saat ini. Terima kasih karena selalu menjadi mercusuar yang aku butuhkan setiap kali aku merasa tersesat, kau sungguh menyinari hidupku, Jessie. *Aku berterima kasih kepadamu.

__ADS_1


Aku merindukanmu


Jessica menutup mulutku dengan tangan saat selesai membaca pesan tersebut, ia dipenuhi dengan begitu banyak emosi kebahagiaan. Dalam beberapa detik, Rey mengirimkan pesan lagi berupa emooticon hati. Kemudian Jessica mengirim hal yang sama.


__ADS_2