
Dari semua hal yang terjadi dalam hidupnya selama beberapa bulan belakangan ini, hal yang yang paling menyedihkan bagi Jessica adalah dia tidak bisa menceritakan kejadian itu kepada ibundanya.
Entah nanti bagaimana bundanya akan menerima cerita yang akan di sampaikannya, tapi yang pasti beliau akan gembira dengan kehamilan putri semata wayangnya. Namun Jessica tidak tahu bagaimana perasaannya jika tahu, Daniel telah menganiyaya dirinya.
Bundanya sangat meyayangi Daniel, dan sepanjang sejarah Jessica menceritakan tentang masalah rumah tangganya, bundanya dengan mudah memaklumi dan membujuk Jessica untuk berbaikan dengan Daniel. Dan inilah salah satu alasan Jessica mengulur-ulur waktu, ia tak ingin di bujuk oleh bundanya.
Hampir setiap hari Jessica merasa marah kepada Daniel, sampai-sampai bayangan tentang memaafkan pria itu terasa sangat konyol dan mustahil. Tapi ada pula hari-hari di mana Jessica merindukan Daniel, hingga ia sulit bernapas. Jessica rindu kehangatan dan kegembiraan bersama Daniel.
Dulu, Daniel bisa bekerja selama dua puluh empat jam terikat di meja kerjanya, saat dia pulang, Jessica berlari menyebrangi ruangan dan melompat ke pelukannya. Daniel menggendong dan mencumbunya, kebiasaan itu juga yang Jessica rindukan.
Dan ada pula hari-hari di mana Jessica tidak kuat menahan ini semua, ia ingin mengunjungi ibundanya, meringkuk di tempat tidurnya yang nyaman dan bunda mengelus punggungnya dengan lembut sembari berkata semua akan baik-baik saja. Terkadang wanita dewasa pun butuh belaian seorang ibu agar bisa istirahat sejenak dari keharusan bersikap kuat sepanjang waktu.
Jessica duduk di mobil, ia parkir di depan kediaman ibundanya. Lima menit sudah ia di sana, mengumpulkan segenap kekuatannya untuk masuk dan bertemu ibundanya. Jessica benci dengan situasi ini, karena ia tahu hal ini akan melukainya. Bagaimana reaksi ibundanya jika tahu dia menikahi pria yang prilakunya mirip dengan ayahnya.
Akhirnya Jessica masuk melewati pintu depan, ia melihat ibundanya sedang berada di dapur mengaduk-aduk sop iga pesanannya kemarin. Jessica sengaja tak mencopot jaketnya, ia juga tak mengenakan pakaian hamilnya, tapi meski demikian Jessica tetap yakin ibundanya akan tetap mengetahui jika putri semata wayangnya tengah mengandung sebab dia adalah seorang ibu.
"Hi, sayang!" sapa Alice.
__ADS_1
Jessica mendekat, lalu memeluk ibundanya dari samping, sementara ibundanya membubuhkan daun bawang ke dalam wajan sopnya. Begitu sop buatannya matangnya, mereka duduk di meja makan sembari menikmati sop dan segelas teh hangat.
Alice tersenyum, hal itu justru membuat Jessica terlihat gusar karena bundanya terlihat sangat bahagia.
"Jessica," ujar Alice. "Ada sesuatu yang ingin Bunda sampaikan padmu."
"Apa, bun?" tanyanya dengan enggan, sebab ia datang untuk bercerita bukan menerima informasi.
Alice menyeruput sopnya. "Bunda berniat mengadopsi seorang anak perempuan."
Mulut Jessica menganga. "Benarkah?" tanyanya sembari menggeleng. "Maksudku..." ia nyaris mengatakan bagus, tapi kata itu tertahan di tenggorokannya.Alice meraih tangan Jessica dan menggemggamnya. "Baru rencana, bunda masih meyakinkan diri apakah bunda hanya kesepian atau memang ingin berbagi kasih sayang kepada seorang anak kecil. Karena mengurus seorang anak tidak hanya memberinya makan tapi juga cinta."
Alice menggeleng. "Tidak. Dia salah satu anak yang di urus di panti di Bali."
"Lebih baik Bunda pikirkan saja dulu matang-matang." Jessica menautkan jari jemarinya sembari meremasnya, melihat hal itu Alice langsung tahu jika ada hal yang ingin Jessica sampaikan.
Jessica beranjak dari tempat duduknya, ia mencopot jaketnya di hadapan ibundanya. Jessica meraih tangan Alice dan meletakannya di perut. "Bunda akan jadi nenek."
__ADS_1
Alice tertegun berberapa saat, tapi air matanya menggenang di pelupuk matanya. Wanita itu berdiri dan menarik putrinya ke dalam pelukannya. "Jessica!" serunya. "Ya Tuhan," ia melepaskan pelukannya untuk mentap putrinya, dan tersenyum. "Program kehamilanmu ternyata berjalan lancar," ia memeluk Jessica sekali lagi sebelum akhirnya mereka berdua kembali duduk.
Jessica berusaha untuk tersenyum, tapi senyumannya yang terpancar bukan seperti ibu hamil yang penuh suka cita menyambut bayi yang di nantinya. Bunda langsung menyadari hal itu, ia membekap mulutnya dengan kedua tangannya. "Sayang!" ujarnya. "Apa yang terjadi? Apa terjadi masalah dengan kandunganmu?"
Jessica maih berjuang untuk kuat, ia tak ingin terlihat mengasihani dirinya sendiri di depan orang lain, bahkan itu ibundanya sendiri. Tapi ia tidak bisa, ia terlalu rapuh untuk melakukan hal itu. Jessica tak kuasa menahan air mata untuk tidak mengalir deras di wajahnya, ja menangis di pelukan bundanya, ia berhenti berjuang untuk terlihat kuat.
Setelah lima belas menit menangis, ia menghapus air matanya dan mulai bercerita. Jessica , tapi tak semua hal ia ceritakan. Hanya bagian-bagian penting seperti Daniel menyakitinya lebih dari satu kali dan ia tak tahu harus berbuat apa.
Jessica mengataka bahwa ia takut membesarkan anaknya sendirian, ia takut salah dalam mengambil keputusan, ia takut di nilai terlalu lemah, karena sudah beberapa bulan yang lalu sejak kejadian itu ia sudah melaporkan Daniel ke polisi. Intinya ia menceritakan pada bundanya semua yang tak berani ia akui pada dirinya sendiri.
Alice beranjak ke dapur untuk mengambil tisu dan kembali lagi ke meja makan, mereka berdua menangis hampir satu jam. Setelah air mata mereka mengering, Alis *******-***** tisu tersebut, memuntir-muntirnya seraya memandangi putri semata wayangnya.
"Apa kau mau menerima Daniel kembali?" tanya Alice.
Jessica terdiam, ia tak tahu jawabannya sebab ia sendiri bingung. Tapi ia berusaha untuk jujur, ia ingin jujur kepada dirinya sendiri dan juga kepada bundanya. Karena hanya bunda, satu-satunya orang yang memahami dasyatnya perasaan bimbang yang ia alami saat ini.
Perlahan Jesscia menggeleng, tapi kemudian ia menganggkat bahu. "Sebagian dari diriku merasa tidak akan pernah bisa lagi percaya dengannya, tapi sebagian lagi aku sedih karena tak bisa bersama dengannya saat ini, terlebih aku sedang mengandung anak yang kita usahakan dan nanti bersama, bund. Hiks..." Jessica kembali menangis, Alice memberi kesempatan kepada putrinya untuk kembali menangis, dengan lembut dan penuh kasih ia mengelus punggung putrinya.
__ADS_1
"Saat-saat yang aku habiskan bersamanya adalah saat-saat yang paling membahagiakan dalam hidupku, aku terkadang merasa enggan untuk melepaskan semua itu, Daniel begitu mencintaiku," Jessica tisu di mata bagian bawahnya. "Aku terkadang merindukan semua moment kebersamaan bersamanya. Aku bilang pada diriku sendiri bahwa kejadian ini sebenarnya tak seburuk itu aku bisa memaklumi perbuatannya kemarin karena dia cemburu, agar aku bisa selalu mengingat semua kenangan manis dan menerimanya kembali," ucap Jeesica.