SAMPAI DISINI

SAMPAI DISINI
BAB 18


__ADS_3

Mata Jessica masih terpejam, dan mereka berdua masih di tempat tidur namun Daniel tidak lagi menindih tubuh Jessica sepenuhnya. Danie berbaring miring, lengannya memeluk pinggang Jessica dengan erat, dan kepalanya di sandarkan di dada Jessica.


Jessica tetap diam sembari mengamati sekeliling, Daniel tidak bergerak sama sekali tapi Jessica bisa merasakan napas Daniel yang begitu berat layaknya orang tidur. Hal terakhir yang Jessica ingat adalah ketika mulut Daniel berada di bibirnya.


Jessica berbaring diam selama beberapa menit lagi, rasa nyeri di kepalanya bertambah parah seiring kesadarannya yang semakin pulih. Ia mencoba menutup matanya.


Di mana tasku?


Di mana kunci mobilku?


Di mana handphoeku?


Butuh waktu lima menit penuh bagi Jessica, untuk menyelinap lepas dari bawah tubuh Daniel, ia terlalu takut untuk bergerak terlalu banyak sekaligus, jadi ia melakukannya sedikit demi sedikit sampai ia bisa berguling ke lantai.


Saat Jessica tak lagi merasakan dua tangan Daniel di tubuhnya, satu iskan mendadak muncul tak tertahankan dari dada Jessica. Ia langsung membekap mulutnya dengan kedua tangannya sembari bangkit berdiri dan keluar dari kamar tidur.


Jessica menemukan tas dan handphonenya, tapi ia sama sekali tak ingat di mana ia meletakan kunci mobilnya. Ia mencari-cari dengan panik di ruang tamu dan dapur, ia nyaris tak bisa melihat apa pun. Waktu Daniel menanduknya dengan kepalanya, kening Jessica sobek. Ada banyak darah di matanya yang membuat penglihatannya kabur.

__ADS_1


Jessica merosot ke lantai dekat pintu depan, kepalanya tambah pening, jemarinya gemetar begitu hebat, sampai ia harus mencoba tiga kali untuk membuka kata sandi kunci handphonenya dengan benar.


Saat layar handphonenya siap di pakai untuk menghubungi seseorang, Jessica terdiam sejenak. Pikiran pertamanya adalah menghubungi Claire dan Harry, tapi Jessica tidak bisa. Claire adalah adik kandung Daniel, jadi tentu saja mereka akan membela kakaknya seperti yang pernah Claire lakukan dulu saat dirinya didorong Daniel hingga jatuh dari tangga.


Pikiran kedua yang muncul adalah menghubungi polisi, tapi batin Jessica tidak sanggup membayangkan apa yang terjadi setelah ia menghubungi Polisi. Dia akan di tanya-tanya, kemudian bagaimana nantinya dengan karier Daniel, hubungannya dengan ibu mertua serta Claire? Tentu akan rumit, belum lagi di tambah dengan anak yang di kandungnya, tentu nanti anaknya akan memiliki ayah mantan nara pidana. Jessica tidak sepenuhnya mencoret ide untuk melapor ke polisi hanya saja bukan sekarang waktunya ia hutuh berpikir ulang untuk melakukan hal itu.


Jessica merem*s handphonenya dan mencoba berpikir lagi. Bunda. Ia mulai menekan nomor bunda, tapi pada deringan ke dua ia mematikan kembali. Jessica membayangkan bagaimana perasaan bunda saat mengetahui kejadian yang menimpanya, Jessica tidak ingin menambah beban ibundanya terlebih bunda baru saja pulih dari penyakit tekanan darah tingginya. Lagi pula jika ia pulang ke rumah ibundanya maka Daniel akan mencarinya, begitu pula orang-orang yang mereka kenal termasuk pegawai butik, sahabat mau pun saudara-saudara mereka, Jessica tak ingin bertemu dengan Daniel untuk sementara waktu ini.


Jessica mengusap air mata, kemudian menekan nomor telepon Rey, ia benci dirinya sendiri saat ini, lebih dari yang pernah ia rasakan seumur hidup. Benci diri sendiri karena pada hari di mana Rey memberikan kartu namanya, ia membaca dan dengan sengaja memasukannya ke tasnya, bahkan ia menghafalkan nomor Rey, karena entah mengapa batinnya mengatakan jika suatu hari ia akan membutuhkannya.


Jessica benci pada dirinya sendiri, karena diam-diam ia menyesali atas pengakuan Rey jika semua wanita yang dekat dengannya adalah settingan manajementnya. Jessica benci karena sebetulnya ia tahu dan membiarkan Rey mengelus kepalanya saat di pesawat. Ya, masih ada Rey jauh di dalam lubuk hatinya meski kini ia sudah menikah dan tengah mengandung anak Daniel.


Suara Rey menyiratkan tanya, sebab dia tak mengetahui jika itu adalah nomor telepon Jessica. Jessica langsung menangis sewaktu bicara dengan Rey. "Halo, hiks..." ia menutup mulut dan berusaha menenagkan diri sendiri.


"Jessica..." Suara Rey terdengar kencang dan panik. "Di mana kau, Jessie?"


"R-rey... " Jessica berbisik. "Aku perlu bantuanmu."

__ADS_1


"Kau di mana Jessie? Apa yang terjadi padamu?" Rey terdengar panik. Jessica bisa mendengar Rey membanting pintu dan berjalan. "Katakan apa yang terjadi padamu sayang?" Kemudian Rey masuk ke mobil dan menyalakan mesin mobilnya.


"Aku akan share location," bisik Jessica, ia terlalu takut untuk terus bicara, ia tak ingin Daniel terbangun. Jessica menutup telepon dan entah bagaimana caranya, ia menemukan kekuatan untuk membuat tangannya tetap tenang sementara ia mengirim lokasi dan pesan yang berbunyi:


Jessica:


Jika kau sampai di depan rumahku, tolong jangan membunyikan klakson atau pun turun. Tunggu-lah, biar aku yang akan keluar begitu mobilmu di depan.


Jessica bergegas ke dapur dan menemukan celana panjangnya, dengan susah payah ia memkainya. Kemudian ia menemukan kemejanya di bawah mini bar, setelah berpakaian ia menuju ruang tamu kembali. Jessica mengintip dari jendela ternyata sudah ada sebuah mobil terparkir di depan rumahnya, ia meyakini bahwa mobil tersebut merupakan mobil Rey.


Dengan kening yang masih bercucuran darah, Jessica mengendap-endap keluar dan begitu berhasil keluar ia langsung masuk ke mobil Rey. Dua lengan langsung menyambut Jessica, dan wajah Jessica menempel di dada Rey yang begitu hangat. Jessica mulai menangis dan gemetar dengan begitu hebatnya dalam pelukan Rey.


"Jessie," bisiknya dengan begitu sedih. Rey merangkum wajah Jessica sampai Jessica mendongak. Mata bening Rey menyapu sekujur wajah Jessica, dan Jessica melihat perubahan raut wajah Rey berubah menjadi murka. "Apa dia masih ada di dalam rumah?" ia berbalik dan hendak membuka pintu mobil, namun dengan Cepat Jessica menyambar tangan Rey. "Jangan! Aku mohon, Rey. Aku hanya ingin pergi, bawa aku pergi Rey sekarang juga."


Jessica melihat raut kepedihan di wajah di Rey, ketika Rey terdiam untuk beberapa detik. Jessica berpikir apakah Rey akan menuruti permintaannya atau tetap keluar dari mobilnya dan menghampiri daniel. Ternyata Rey berbalik dan menyalakan mesin mobil, ia melajukan kendaraannya keluar dari komplek perumahan Jessica.


Dalam perjalanan kepala Jessica terasa sangat pusing, namun ia menolak untuk di bawa ke rumah sakit ketika Rey menepikan kendaraannya di depan rumah sakit. "Tapi keningmu masih berdarah, Jessie."

__ADS_1


Jessica menggeleng. "Tolong aku tidak ingin ke rumah sakit," pintanya dengan mengiba.


Rey menghembuskn napas beratnya, dengan terpaksa ia kembali melajukan kendaraannya menuju kediamannya. Sepanjang perjalanan menuju kediaman Rey, Jessica tertidur, ia sama sekali tidak tahu jika ternyata kediaman rahasia Rey berada di pinggir pantai utara Jakarta.


__ADS_2