SAMPAI DISINI

SAMPAI DISINI
BAB 25


__ADS_3

Sesaat sebelum masuk mobil, Jessica memandangi rumah Rey yang begitu menakjubkan baginya. Rumah itu begitu indah dan nyaman, namun ia tidak bisa tinggal di situ lebih lama lagi. Dua hari yang sangat indah baginya, yang tak akan pernah ia lupakan.


Mereka sama-sama berdiam diri di sepanjang perjalanan menuju kediaman Jessica, hingga Rey menepikan kendaraannya di depan kediaman Jessica. "Aku akan lebih tenang jika kau mengizinkanku mengantarmu sampai dalam." Rey ikut turun saat Jessica keluar mobil.


Jessica membiarkannya mengikutinya, sementara dia mengaduk-aduk isi tasnya untuk menemukan kunci gerbang dan pitu depan.


"Apa kau ingin aku memastikan bahwa dia tidak ada di rumah?" tanya Rey ketika Jessica berhasil membuka pintu depan.


Jessica mengangguk, ia tahu Daniel tidak ada di kediamannya, dia sudah pergi ke Osaka, tapi Jessica masih takut untuk masuk ke rumahnya sendiri. Rey berjalan di depan Jessica, menyalakan lampu ruangan dan memeriksa semua ruangan.


Ketika kembali ke ruang tamu, Jessica berkata. "Ada banyak hal yang ingin aku lakukan, Rey." Ia menatap Rey. "Semoga kau tidak tersinggung dan mengira aku mengusirmu."


Rey tercengung memandang Jessica tanpa suara selama sesaat, ia sama sekali tidak terkejut dengan apa yang Jessica katakan. Tapi dari raut wajahnya terlihat jelas jika banyak hal yang ingin Rey bicarakan, terutama bagaimana mereka selanjutnya, dan itu pula yang di rasakan oleh Jessica, namun Jessica merasa untuk saat ini rasanya tidak pantas jika membahas soal mereka sebab Jessica masih berstatus istri Daniel dan tengah mengandung anaknya.


Rey menatap pintu, rahangnya berkedut tepat sebelum matanya bertaut dengan tatapan Jessica. "Kalau suatu saat kau membutuhkan aku, silahkan hubungiku lagi," ujarnya. "Tapi jika situasinya benar-benar gawat, sebab aku tidak bisa bersikap seperti teman biasa kepadamu, Jessie."


Jessica terhenyak mendengar kata-kata Rey, tapi yang di katan Rey ada benarnya. Hubungan pertemanan bagi mereka tidak akan berhasil. Rey masih jelas-jelas mencintai Jessica, begitu pula dengan Jessica masih menyimpan nama Rey jauh di lubuh hatinya, jadi rasanya terlalu sulit jika untuk berteman, pilihan yang ada hanyalah tidak sama sekali.


"Selammat tinggal, Rey." mengucapkan kalimat itu membuat Jessica berkaca-kaca, ia teringat ketika dirinya hendak meninggalkan Indonesia untuk menempuh pendidikannya di Amerika.

__ADS_1


Rey meringis kemudian berbalik dan berjalan ke pintu, seolah tak sabar untuk pergi dari kediaman Jessica. Ketika pintu di tutup, Jessica melangkah ke sana dan menguncinya, kemudian menyandarkan kepalanya.


Dua hari yang lalu, Jessica bertanya kepada dirinya sendiri bagaimana hidupnya bisa sesempurna ini? Program kehamilan yang ia jalani berhasil dengan baik, ia akan pindah ke Osaka menemani Daniel kerja, tapi sekarang semua itu hancur, ia bertanya pada dirinya sendiri mengapa hidupnya seburuk ini?


Jessica terlompat ke belakang saat secara tiba-tiba ia mendengar ketukan pintu, setelah beberapa detik lalu Rey pergi, jadi Jessica tahu bahwa yang mengetuk itu adalah Rey, sebab ia juga belum mendengar suara mesin mobil Rey.


Jessica membuka kunci dan pintu, lalu seketika Jessica di impit olleh sesuatu yang lembut. Rey mmemeluknya dengan erat, bibirnya di letakan di samping kepala Jessica.


Jessica memejamkan matanya rapat-rapat membiarkan air matanya mengalir deras di pipinya. Dia hari kemarin ia terus menangisi Daniel, tapi sekarang ia menangis untuk Rey.


"Jessie," bisiknya masih terus mendekap erat tubuh Jessica. "Aku ingin mengatakan sesuatu sebelum aku benar-benar pergi dari hidupmu," ia melepaskan pelukannya dan menatap Jessica dalam-dalam. "Pada masa depan... Jika ada keajaiban yang membuatmu berada di posisi ingin jatuh cinta lagi. Aku mohon jatuh cintalah padaku," Rey mengecup kening Jessica dengan lembut. "Kau masih akan tetap jadi wanita favoritku, selamanya. Aku tidak akan mencintai wanita lain selain dirimu." Rey melepaskan Jessica dan pergi tanpa menunggu jawaban dari Jessica.


...****************...


Claire memeluk Jessica dengan erat ketika Jessica berkunjung ke kediamannya. "Aku kerindukanmu, Jessica. Seandainya Dania sedang tidak flu akibat kunjungan kami ke rumah Mommy, sudah pasti aku akan langsung ke butik."


Jessica tergelak. "Kita tak jumpa hanya beberapa hari, kenapa kau merindukanku?"


"Baiklah, mungkin aku merindukan bekerja. Karena beberapa hari ini aku tidak ke butik." Claire melepaskan pelukannya dan memandangi Jessica.

__ADS_1


"Lebih baik kau di rumah saja dulu sampai Dania sembuh, aku tidak mengizinkanmu ke butik dengan membawa Dania dalam keadaan flu."


Harry yang hendak lewat dari pintu, mendadak berhanti dan melongok ke kamarnya. "Ssst... Jangan bicara tentang pekerjaan di depan gadis kaya," pandangannya tertuju pada putrinya yang entah mengapa Dania seolah menanggapi ucapan ayahnya dengan tertawa sembari mengangkat kaki dan tangannya.


Jessica semakin tergelak, terkadang Harry selalu membuat suasana ceria. Tapi entah mengapa Claire tidak sama sekali tertawa, padahal biasanya dia yang paling kencang tertawa ketika Harry melontarkan lelucon. Claire terus memandangi tubuh Jessica. "Ya Tuhan. Aku ini sahabatmu, aku bisa melihat ada sesuatu yang berbeda pada dirimu."


Jessica mengira jika Claire akan menanyaka luka di keningnya tapi ternyata dia menayakan mengenai bobot tubuhnya yang terlihat membesar. "Tunggu sebentar, jangan kau jawab," ia mengambil Dania yang berada di tempat tidurnya, kemudian menyerahkannya kepada Harry. "Tolong gantikan popoknya!"


Harry mengangkat purtinya dan mengendus bokongnya. "Bukankah dia baru saja ganti popok?" tanyanya bingung sebab tak mencium bau kotoran di bokong anaknya.


"Sudah sana ganti sama." Claire memutar tubuh Harry dan mendorongnya keluar kamar sebelum akhirnya dia menutup pintu, lalu kembali menatap Jessica. "Ada sesuatu yang terjadi padamu?" tanyanya dengan serius.


Jessica menghela napasnya, ia tak mungkin bisa menutupi kehamilannya sebab semakin lama perutnya akan terus membesar, terlebih selera makannya begitu tinggi akhir-akhir ini. Jessica pun mengakui jika dirinya tengah berbadan dua, tapi dia meminta Claire untuk merahasiakan ini dari Daniel.


Claire mengerutkan keningnya. "Jadi kakakku belum tahu?" ia terkejut sebab seharusnya Daniel sudah tahu kemarin ketika dia pulang ke Jakarta. "Kau ada masalah dengannya?" desak Claire.


Jessica mengangguk pelan. "Hanya masalah kecil," ia tak ingin Claire mencemaskan rumah tangganya. "Aku janji akan memberi tahunya setelah dia pulang ke Indonesia, aku bisa menyelesaikan masalah rumah tanggaku."


Claire menatap Jessica dengan sedih pandangannya tertuju pada kening Jessica, kemudian ia kembali memeluk Jessica dengan erat seolah ia mengetahui permasalahan yang menimpa Jessica. "Aku tidak akan memberitahunya," bisik Claire.

__ADS_1


Claire melepaskan pelukannya dan menghapus air mata yang menggenang di pelupuk matanya. "Selamat atas kehamilanmu, mari nikmati masa kehamilanmu dengan bahagia," ucapnya sembari tersenyum lebar.


__ADS_2