
Satu bulan setelah mereka mengikat janji suci, Jessica dan Rey belum juga memiliki waktu untuk bulan madu. Mereka berdua masih sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, Jessica di kejar deadline pengerjaan batik untuk acara fashion show, sementara Rey masih memiliki jadwal syuting yang harus ia selesaikan.
Rencannya mereka baru akan mengkosongkan jadwal pada akhir tahun, saat Estelle dan Jordy liburan sekolah. Keduanya sama-sama tak keberatan jika Estelle dan Jordy ikut dalam tour liburan mereka.
Jessica hilir mudik memeriksa semua pakaian yang telah di kenakan oleh para modelnya, ia hampir saja melupakan Rey. Jessica pikir semalam ia sudah memeriksa pakaian Rey sehingga ia tak perlu lagi memeriksanya, namun ternyata ia lupa bahwa ia memiliki suami yang sangat manja, yang selalu ingin di perhatikan. "Evelin, coba kau periksa sisanya. Aku mau ke Rey dulu," Jessica berbalik menuju backstage tempat Rey.
Mendadak langkah Jessica terhenti, ia merasakan pusing di kepalanya. "Kau baik-baik saja sayang?" Rey yang kebetulan melihatnya, langsung menangkap tubuh istrinya.
Jessica mengangguk. "Hanya pusing sedikit, mungkin karena kelelahan," ia mencoba tersenyum karena tak ingin membuat Rey khawatir. "Wah kamu tampan sekali, mengenakan pakaian buatanku," ia nampak begitu mengagumi suaminya.
"Sudah sebulan ini kita tidur bersama setiap malam, kau baru menyadari kalau suamimu tampan?"
Jessica tergelak, ia selalu gemas setiap kali Rey cemberut. Ia merapihkan pakaina Rey, dan memeriksanya sekali lagi untuk memastikan penampilannya sempurna. "Sepuluh menit lagi, acara di mulai kau bersiaplah, aku mau memeriksa Estelle dan Jordy."
__ADS_1
Tak hanya Rey yang tampil dalam peragaan busana tersebut, Jordy yang mulai tertarik dalam industri hiburan pun ingin mencoba tampil. Jessica memberikannya kesempatan, sebab Jordy bukan hanya memiliki wajah yang mirip dengan Rey namun talenta yang sama dengan Rey. Sementara Estelle sendiri, ia selalu meniru apa yang di lakukan Jordy, setiap kali Jordy latihan Estelle selalu merengek minta ikut latihannya dengannya, untuk itu Jessica dan Rey pun memberikan bocah kecil yang baru bisa berjalan itu kesempatan untuk tampil.
Sayang, undangan yang hadir dalam acara tersebut di tentukan oleh pihak penyelenggara, dalam hal ini pihak Istana Negara sehingga Jessica tidak bisa mengundang Bunda maupun keluarga Claire, bahkan Harry pun tak bisa datang karena tak memiliki undangan.
Namun mereka semua bisa menonton secara langsung di akun media sosial pemerintah. Meski hanya di temani oleh kucing peliharaannya, Alice sanggat antusias menonton di kediamannya. "Hei Bruno, cucuku akan tampil di depan presiden," ucap Alice sembari mengelus bulu lebatnya, Brono sepertinya ikut bersemangat, ia terus menggerak-gerakan ekornya.
Di tengah keseriusannya menonton, tiba-tiba saja bel rumahnya berbunyi. Dengan rasa enggan Alice membukanya, namun senyumnya merekah ketika ia melihat Jenny dan putranya yang datang. "Boleh kami ikut menonton? Marco sedang bekerja, dan kami kesepian."
"Tentu saja," Alice menarik Jenny dan putranya masuk. "Mereka belum tampil, " ucap Alice sembari menyiapkan minuman dan cemilan untuk mereka berdua. Jenny begitu dekat dengan Alice, sebab sudah lama sekali ia menginginkan memiliki seorang ibu sebab ibunya sudah lama meninggal dan ibu mertuanya tidak tinggal di Indonesia. Jenny senang Jessica memiliki ibu yang sangat baik dan mau berbagi kasih padanya, untuk itulah ia sering mengunjungi Alice.
Kehebohan terjadi bukan hanya di kediaman Alice, namun di kediaman Harry. Dia menonton bersama Dania dan kedua mertuanya. "Ternyata cucuku memiliki bakat seorang model," gumam Grace. "Mommy akan jadi fans nomor satu untuknya."
Dari kejauhan Daniel menonton, ia mengepalkan tangannya menahan rasa cemburunya melihat kedekatan Rey bersama putrinya di depan umum. "Bukankah seharusnya kau bangga dan bersyukur melihat putrimu tumbuh menjadi anak yang ceria serta berbakat?" ayahnya menepuk pundak Daniel dari belakang. "Rey dan Jessica tak pernah melanggar janjinya untuk memberikan akses bertemu dengan Estelle. Rey tak pernah menggantikan posisimu, kau masih orang terhebat yang akan terus menjadi favoritnya. Kau boleh gagal menjadi suami yang terbaik, tapi jangan sampai kau gagal menjadi ayah terbaik untuk putrimu."
__ADS_1
Akhirnya Daniel bisa tersenyum menyaksikan putrinya tampil. Harry turut lega, perlahan tapi pasti ia melihat perubahan pada diri sahabatnya.
...****************...
Selesai acara, Jessica benar-benar tumbang hingga ia harus di larikan ke rumah sakit. Rey nampak panik, ia membawa istrinya ke rumah sakit, sementara Claire mengurus Estelle dan Jordy.
Rey nampak frustasi menunggu di ruang tunggu, lima belas menit berlalu rasanya setara dengan satu tahun. Ia terus bolak balik sembari berdoa untuk kesembuhan istrinya. Begitu pintu ruangan terbuka, ia berlari menghampiri dokter. "Bagimana dengan istri saya dok?" tanyanya panik.
Sang dokter malah tersenyum sembari mengulurkan tangannya. "Selamat Pak Rey," ucapnya. Rey nampak bingung. "Istri Pak Rey tengah mengandung."
"Me-mengandung dok?" tanyanya seolah tak percaya.
"Benar Pak Rey, istri ada tengah mengandung. Namun untuk lebih jelas mengenai kondisi kandungan istri bapak, nanti dokter kandungan yang akan menjelaskannya. Sekali lagi selamat," sang dokter pamit untuk memeriksa pasien lainnya.
__ADS_1
Tak menunggu waktu lama, Rey bergegas menghampiri istrinya. Dengan mata yang berkaca-kaca Jessica mengangguk, membenarkan jika kini ia tengah mengandung buah cinta mereka. Rey meraih tubuh Jessica dan memeluknya erat. "Terima kasih sayang, kau sudah mengandung buah cinta kita. Aku pastikan kau akan memiliki masa kehamilan yang begitu menyenangkan, sayang. Kau akan jadi ibu hamil yang paling berbahagia di dunia ini." janji Rey, masih jelas dalam ingatannya bagaimana kondisi Jessica ketika tengah mengandung Estelle, rasanya begitu sakit setiap kali Rey membayangkan itu, namun kini ia akan membayar rasa sakit yang pernah Jessica rasakan dengan kebahagiaan dan cinta yang ia miliki.
The end