SAMPAI DISINI

SAMPAI DISINI
BAB 7


__ADS_3

Malam hari kondisi Jessica berangsur membaik, dan ia pun sudah siap untuk menghadapi Daniel. Jessica tahu Daniel kecewa dan sakit hati atas kejadian siang tadi tapi ia yakin Daniel tidak akan mencelakainya.


Setelah makan dan minum obat, Jessica duduk memandangi Daniel yang juga tengah memandangi dirinya. Jessica sempat ingin memulai percakapan namun Daniel menggeleng, ia masih belum mau mendengar penjelasan Jessica.


Hingga tiga puluh menit kemudian, akhirnya Jessica memberanikan diri untuk memulai pembicaraannya. "Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Daniel." ia melihat ada banyak kesedihan di mata Daniel.


"Pernikahan ini sungguh membuat aku sters, Jess. Kau sungguh mempermainkan rasa cemburuku," ucap Daniel


Ucapan Daniel tersebut membuat Jessica tersinggung. "Yah, kalau begitu mari kita berpisah!" Jessica menarik selimut dan siap untuk beristirahat, ia merasa tak ada gunanya berbicara dengan Daniel, meski berat ia akan menerima jika memang Daniel ingin berpisah dengannya.


"Berpisah?" tanyanya sambil menahan Jessica agar kembali duduk dan menatapnya.


"Aku tidak mau menjadi bebanmu, Daniel! Maaf jika kehadiranku dalam hidupmu ternyata sangat merepotkanmu, dan pernikahan ini tidak sesuai dengan ekspektasimu!"


Daniel masih memegangi lengan Jessica. "Bukan itu maksudku, Jess," ucapnya. "Kejujuran dan keterbukaan, hanya itu yang aku inginkan sekarang darimu."


Jessica mengangguk.


"Mengapa dia tiba-tiba bisa ada di sini?"


Jessica mengatupkan bibirnya dan melipat tangannya di dadanya. "Ya, aku sendiri tidak tahu, Daniel. Mengapa tiba-tiba dia ada di sini? Kau baru saja mengganti handphone dan nomor teleponku, tanganku masih di infus di sini. Mengapa kau bisa bertanya hal itu kepadaku? Memangnya kau pikir dengan cara apa aku menghubunginya dan memintanya datang kemari?"


Daniel mengusap wajahnya dengan kasar, apa yang di katakan istrinya sungguh masuk akal. "Lalu, apa tadi kau memberitahu dia tentang kejadian kemarin? Apa kau cerita padanya tentang pertengkaran kita?"

__ADS_1


Jessica menggeleng. "Tidak. Dia hanya menduga karena melihat luka di mataku, kemudian ia menyimpulkan sendiri."


Daniel menghebuskan nafas berat dan bersandar di tempat duduknya. "Lalu bagaimana dengan Jesie?"


"Itu nama panggilan yang dulu ia berikan saat kami masih berhubungan, aku tidak mau kau memanggilku dengan panggilan itu sebab aku tidak mau ada bagian dari masa laluku ada di antara kita. Percayalah Daniel, aku sama sekali tidak ada hubungan apa-apa sengan Rey. Sejak putus lima tahun yang lalu, aku baru bertemu dengannya kemarin di butik saat dia mau membuatkan gaun pernikahan untuk adiknya, dan kini gaun itu sudah di tanangani oleh Claire dan asistenku, aku sam sekali tidak mau tahu tentang gaun itu. Aku memilih untuk menangani gaun anak pejabat daerah Riau yang dua lagi akan menikah. "


Daniel mencerna setiap kata yang di sampaikan oleh Jessica. "Okay, sekarang giliranku." Ia menangkup wajah Jessica dan menatapnya dalam-dalam. "Kalau kau tidak ingin meneruskan pernikahan ini... Tolong katakan padaku sekarang. Karena saat melihatmu bersama dia, itu sangat menyakitkan. Aku tidak ingin merasakan itu lagi, Jessica."


"Daniel, aku tidak pernah berpikir untuk berpisah darimu." Air mata Jessica perlahan menetes di wajahnya, ia menaruh tangannya di atas tangan Daniel, kemudian ia menggeleng. "Aku tidak menginginkan orang lain, Daniel. Aku hanya menginginkanmu."


Daniel berusaha untuk tersenyum meski hatinya masih terasa perih, ia menarik tubuh Jessica dan mendekapnya dengan erat. "Aku mencintaimu, Jessica. Aku benar-benar mencintaimu."


Jessica membalas pelukan Daniel sambil mencium bahunya. "Aku juga mencintaimu."


"Bagaimana sekarang kondisimu? Apa lebih baik?" tanya Daniel, rasa lega karena dapat menyelesaikan masalahnya dengan Jessica terpancar jelas di wajahnya.


Daniel naik ke atas tempat tidur dan tidur di sebelah Jessica. Jessica menyandarkan kepalanya di bahu Daniel, dengan antusias ia bercerita mengenai gaun yang di pesan oleh anak pejabat daerah Riau. Daniel menyimak dengan penuh seksama, dan memberikan semua perhatiannya pada Jessica hingga akhirnya Jessica berhenti bercerita dan tidur dalam dekapannya.


Sementara itu di ruang rawat inap Jenny, nampak terjadi keributan antara Rey dan calon adik iparnya. Rey meminta Marco ununtuk menyamar menjadi perawat dan masuk ke ruang rawat inap Jessica.


"Kau gila, Rey. Aku ini seorang insinyur, mana bisa aku memeriksa pasien?" Marco menolak mentah-mentah permintaan Rey.


"Kali ini saja, Marco. Aku harus memastikan jika Jessica baik-baik saja, aku tidak bisa menanyakan pada perawat sebab mereka terlihat sinis kepadaku karena kejadian tadi siang."

__ADS_1


"Karena mas membuat keributan di rumah sakit, untuk saja pihak rumah sakit tak mengusirmu," sahut Jenny.


"Tapi aku berhasil mendampatkan seragam perawat," Rey melempar seragam itu ke arah Marco agar Marco segera mengenakannya.


"Kau mencurinya," Marco hanya memandanginya untuk beberapa saat.


"Tidak, aku hanya meminjamnya."


"Tidak izin berarti mencuri!" Marco ragu untuk mengenakannya, namun Rey terus memaksa dan mendorongnya keluar dari ruang rawat inap Jenny.


"Demi Tuhan, aku tidak akan menolong kalian berdua, jika kalian tertangkap petugas keamanan." Jenny terlihat pusing melihat tingkah keduanya terutama kakaknya yang seperti orang gila.


Perdebatan terus berlanjut ketika mereka berdua mulai mendekati ruang rawat inap Jessica. "Aku akan menunggu di sini untuk berjaga," ucap Rey sembari menoleh ke kanan dan kekiri.


"Marco pun menoleh ke kanan dan kekiri, ia tak ingin ada orang yang tahu jika dia adalah perawat gadungan. "Bukan itu masalahnya, tapi apa yang harus aku lakukan di dalam?"


"Terserah, yang penting kau lihat Jessica baik-baik saja. Sudah sana masuk!" Rey membuka pintu dan mendorong Marco masuk.


Marco nampak bingung dan gugup berhadapan dengan Daniel, keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. "Ada apa?" tanya Daniel.


"A-aku," Marco meraba kantong baju perawat itu, beruntung ia menemukan termometer. "Aku hanya ingin mengukur suhu tubuhnya saja," ia mencoba menahan tangannya agar tidak terlihat gemetar ketika ia mengarhkan termometer itunke kening Jessica.


"Normal," ucapnya kepada Daniel yang sedari tadi terus mengamatinya. "Aku permisi dulu, selamat malam." Marco bergegas keluar dari ruang rawat inap Jessica. Begitu kembali ke ruang Jenny ia melepar seragam perawat itu ke arah Rey. "Harusnya tadi aku lebih memilih untuk membawa kawin lari adikmu ketimbang berpura-pura menjadi perawat," gerutunya.

__ADS_1


"Tapi bagiamana dengan Jessica, apa dia baik-baik saja?"


Marco menatap Rey dengan tatapan tajam. "Semua orang tahu siapa Jesicca. Dia designer terkenal dan berbakat lulusan luar negeri, dia bukan orang sembarangan atau bodoh. Kalau dia kenapa-kenapa, sudah pasti dia akan menedang suaminya. Jadi lebih baik kau move on dan tidak mencampuri urusan rumah tangga mantanmu!!"


__ADS_2