
Rey mengangkat telepon pada deringan pertama. "Hei," ucapnya.
"Hai."
"Kamu lagi ngapain?"
“Membantu Jordy mengerjakan PR sambil mencoba berpura-pura untuk tidak memikirkanmu.”
Jessica yang tak menanggapi gombalannya langsung bisa merasakan ada yang tidak beres. "Apakah kamu baik-baik saja?"
“Ya, aku hanya tidak ingin pulang. Apakah aku boleh ke rumahmu?"
"Tentu saja sayang. Apakah Estelle masih bersama bunda?”
Jessica mendesah. “Itu masalahnya. Sekarang aku bersamanya, dan tak ingin membawanya pulang atau tetap berada di rumah bunda, nanti aku akan menjelaskannya saat aku sampai di sana.”
Rey langsung terdengar panik. "Kamu di mana? Aku akan menjemputmu."
"Tidak usah, terima kasih. Aku bawa mobil dan sudah di jalan ke arah rumahmu.”
"Baiklah, berkendaralah dengan hati-hati. Jangan matikan handphonenya, aku akan mengawasimu sampai di sini."
Rey diam mengawasi Jessica dari seberang telepon, dalam benaknya bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Jessica. Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah? Apa Jessica akan memutuskan hubungan denganku? Semua kekhawatiran itu berputar-putar di kepalanya.
Atau apakah Daniel menyakitinya? Rey terus menajamkan telinganya dan terus menwadi Jessica hingga Jessica mengatakan jika dia sudah ada di depan gerbang komplek perumahannya, namun ia tertahan oleh satpam sebab tak memiliki izin masuk komplek. "Serahkan handphonemu pada security, aku akan bicara padanya."
Rey mengatakan pada security bahwa Jessica adalah istrinya, dan meminta security mencatat nomor plat mobilnya agar Jessica bisa keluar masuk komplek kapan pun dia mau. Ia menghembuskan napas lega ketika mobil Jessica bergerak masuk ke halaman rumahnya.
Begitu Jessica keluar dari mobil, Rey langsung menariknya kepelukannya. "Apa yang telah terjadi sayang?"
Jessica meletakkan tangannya di dada Rey, ia ragu untuk mengatakannya. Sesaat Jessica melirik ke jendela belakang untuk memeriksa Estelle, yang tertidur di kursi bayi.
Buliran-buliran bening mulai jatuh di wajahnya, Jessica menangis di dada Rey. Hal otu membuat Rey merasa pilu, ia menempelkan bibirnya ke rambut Jessica dan memberinya waktu sejenak.
__ADS_1
Jessica tidak butuh waktu lama untuk menenangkan diri, dengan cukup cepat ia menyeka matanya. "Maaf," ucapnya.
"Apa yang telah terjadi?" Rey terlihat cemas "Apakah kamu terluka?"
"TIDAK. Tapi Daniel benar-benar kesal padaku. Aku tidak mau pulang, aku tidak ingin bertemu dengannya, aku takut dia akan mengambil Estelle."
Rey mengangkat dagu Jessica sampai menatapnya. “Tinggal-lah di sini selama yang kau mau.”
Jessica menghembuskan napas dan menekan bibirnya ke bibir Rey. "Terima kasih." ia berjalan ke pintu mobil belakang untuk mengeluarkan Estele dari kursi mobilnya.
Estelle tidak bangun, dia lelep di pelukan Jessica. “Kami sudah berada di taman selama satu jam, dia kelelahan.”
Rey menatap Estelle, meski sudah sering melihat Estelle, ia masih di buat takjub dengan balita itu yang mirip sekali Jessica. "Ada yang bisa aku bantu?"
"Tas popoknya ada di kursi penumpang."
Rey segera mengambilnya, dan mereka masuk ke rumah. Jordy yang tengah belajar di ruang tamu menoleh saat dia mendengar Rey dan Jessica berjalan masuk. Jessica melambai padanya, dan Jordy menganggukkan kepalanya, tetapi kemudian tatapannya tertuju pada Estelle. "Apa itu bayi?" tanyanya.
Jordy menatapku. "Apakah dia anak kakak?" ia tangannya menunjuk Estelle. "Apakah itu keponakanku?"
Jessica tertawa tidak nyaman.
Rey merasa tidak enak pada Jessica, seharusnya tadi ia memperingatkan Jordy sebelum Jessica datang. "Tidak, aku bukan ayahnya, dan kamu bukan paman."
Jordy menatap mereka sebentar, lalu mengangkat bahu dan berkata, "Oke," ia berbalik dan memberikan perhatiannya kembali pada pekerjaan rumahnya.
"Maaf, jika Jordy tidak sopan," ucap Rey pelan, ia mengajak Jessica ke kamar yang dulu pernah Jessica tempati. Rey meletakkan tas popok Estelle di meja rias. “Mau aku ambilkan selimut tambahan untuknya?
Jessica mengangguk. Rey bukan hanya mengambil tambahan selimut, tapi juga banyak bantal untuk Estelle, ia ingin anak itu nyaman tidur di rumahnya. "Dia tidur sangat nyenyak," ujar Rey ketika Jessica menaruh Estelle di kasur.
Jessica melepaskan sepatunya dan duduk di pinggir tempat tidur, sementara Rey menarik kursi hingga ke hadapan Jessica. "Apa yang telah terjadi?"
Jessics menghela nafas berat “Daniel tiba-tiba datang ke apartemen untuk menjemput Estelle, kemudian dia melihat gelas anggur kita, jasmu. Lalu dia mengeluarkan reaksi yang menakutkan."
__ADS_1
"Reaksi apa?"
"Dia marah. Tapi dia pergi sebelum situasi menjadi terlalu buruk."
"Apakah dia tahu aku yang tadi malam di apartementmu?"
Jessica mengangguk. “Itu hal pertama yang dia tanyakan. Dia marah, dan aku memintanya untuk pergi. Dan dia melakukannya… tapi…” ia berhenti bicara, tangannya gemetar.
Rey menariknya ke arahnya sehingga pipi Jessica menempel di dadanya dan Rey memeluknya. "Apa yang dia lakukan sehingga membuatmu takut, Jessie?"
Jessica berbisik, “Dia mendorongku ke dinding, dan dia mendekati wajahku. Tadinya kupikir dia akan memukulku, tapi syurkurlah tidak terjadi.” Jessica mengangkat kepalanya dan menatap Rey. “Aku baik-baik saja, Rey. Tidak ada yang terjadi setelah itu, aku hanya ketakutan saja."
“Dia mendorongmu ke dinding. Itu bukan apa-apa?”
Jessica meletakkan kepalanya kembali di dada Rey. "Aku tahu itu, Rey. Hanya saja aku tidak tahu harus berbuat apa. Terutama untuk Estelle, aku pernah membiarkan Estelle menginap dengannya, tapi sekarang aku tidak mau lagi, aku takut."
"Jangan biarkan Estelle menginap lagi dengannya, kau harus membawanya kembali ke pengadilan.”
Jessica menghela nafas berat. Rey mengerti tidak mudah bagi Jessica untuk menyeret Daniel ke pengadilan sebab dia tak ingin putrinya memiliki ayah seorang narapidana, apa pun keputusan yang nanti di ambil Jessica Rey akan mendukungnya, yang terpenting baginya Jessica dan Estelle sudah ada di sini, di tempat yang aman. Rey sama sekali tak keberatan jika Jessica ingin tinggal di rumahnya untuk jangka lanjang, ia bersedia membangun kedekatan bersama Estelle.
Jessica mengangkat wajahnya untuk menatap Rey. Ada noda maskara di dekat pelipis Jessica dan Rey menghapusnya. "Inilah konflik yang terjadi anatara akundan Daniel," ucap Jessica. “Konflik ini bisa terus menerus terjadi, terutama sekarang. Saat dia tahu kamu kembali ke hidupku lagi." Jessica nengatakan seolah-olah oa memberikan Rey kesempatan untuk mundur dari hubungan mereka.
Rey menggelengkan kepalanya. “Sekali pun kamu memiliki lima puluh mantan suami yang mencoba mengganggu hubungan kita, selama kamu masih menginginkan aku, aku akan selalu bersamamu, aku tidak akan terpengaruh oleh apa pun."
Akhirnya Jessica bisa tersenyum kembali. Rey tak ingin kehilangan Jessica lagi, ia bersedia melakukan apa pun untuk membuatnya nyaman dan tersenyum saat bersamanya. "Kamu haus?"
Jessica mendorong dada Rey sembari menyeringai lebih besar. "Ya. Aku haus dan aku lapar. Bisakah aku mendapatkan makan dan minum?"
"Selama kau di sini, kau wajib makan apa pun yang aku buat untukmu." Rey beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke dapur untuk membuatkan Jessica makan siang.
Jessica dan Estelle sudah berada di kediaman Rey sekitar empat jam. Begitu Jordy selesai mengerjakan pekerjaan rumahnya, dia mulai bermain dengan Estelle di pinggir pantai. Jordy begitu gembira menuntun Estelle di pasir, kesana-kemari hingga Estelle menangis karena lelah.
Dengan segera Rey menggendong dan mengayun-ayunnya dengan lembut, hingga Estelle tertidur di bahunya. Jessica menawarkan untuk memindahkannya ke kamar tapi Rey tak mengizinkannya.
__ADS_1