SAMPAI DISINI

SAMPAI DISINI
BAB 24


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Jessica pergi ke butiknya, tangannya gemetar sewaktu ia meraih kenop pintu, padahal biasanya ia selalu bahagia setiap kali memasuki butiknya, tanpa ada rasa gelisah.


Bangunan itu gelap saat ia masuk, jadi ia langsung menyalakan seluruh lampu. Jessica berjalan ke ruang kerjanya, mendorong pintu dengan waspada sampai pintu itu terbuka. Daniel tidak ada di sini.


Saat duduk di meja kerjanya, Jessica menghidupkan handphone. Ada 30 pesan masuk dari Daniel, tapi tak ada satu pun yang Jessica baca, ia memilih untuk bekerja. Banyak berkas yang harus ia tanda tanganni, banyak lesanan yang harus ia gambar.


Jessica berusaha untuk berkonsentrasi meski hatinya begitu was-was. Sepanjang waktu ia terus mendongak ketika mendengar pintu terbuka. Ia betanya-tanya apakah Daniel telah benar-benar menghancurkan hidup dan ketenangannya?


Setengah hari berlalu tanpa ada satu pun telepon masuk dari Daniel, Jessica terus bekerja menyelesaikan pola terakhirnya, hingga Claire menghubunginya untuk mengabarkan jika dia sudah ada di Jakarta, dari suaranya jelas Claire belum mengetahui soal pertengkarannya dengan Daniel. Jessica membiarkan Claire bercerita tentang kunjungan singkatnya ke rumah ibu mertuanya sampai akhirnya Jessica pura-pura kedatangan pelanggan dan mengakhiri teleponnya.


Jessica berencana pulang setelah para pegawainya selesi istirahat makan siang, oa masih punya waktu tiga puluh menit lagi untuk menyelesaikan semuanya.


Tiga menit kemudian Daniel datang, ia berjalan ke ruang kerja Jessica dan inilah lertama kalinya Jessica melihat suaminya sejak Daniel menganiyaya dirinya, dua malam yang lalu.


Seluruh tubuh Jessica langsung hanyut pada kenangan malam itu, perasaannya di selubungi rasa takut bercampur marah yang begitu deras di sekujur tubuhnya ketika Daniel berdiri di hadapannya.


Danile mengangkat tangan dan menaruh satu set kunci di meja kerjanya. "Aku akan berangkat ke Osaka malam ini," ujarnya. "Seperti yang kau tahu, jika projectku mengalami kendala, jadi mungkin aku tidak pulang selama tiga sampai empat bulan ini."


Suaranya terdengar begitu tenang. "Aku tahu kau perlu waktu," daniel menelan ludah dengan susah payah. "Aku akan memberikannya." Daniel meringis perih dan menggeser kunci itu ke arahnya. "Pulang-lah Jessica, aku tidak akan di sana. Aku janji."


Daniel membalik badan dan mulai berjalan ke arah pintu. Tersadar oleh Jessica bahwa Daniel sama sekali tak berusaha untuk meminta maaf padahal dia sudah membuat kesalahan yang teramat fatal, ingin sekali rasanya Jessica menusukan pisau ke tubuh pria itu.


"Daniel."


Daniel menoleh ke arah Jessica menatapnya seolah memberi pembatas di antara mereka. Dia tidak membalik badan sepenuhnya dan nampak kaku menunggu apa yang ingin Jessica sampaikan padanya.

__ADS_1


"Kau tahu apa bagian terburuk dari semua ini?" tanya Jessica.


Daniel tidak menjawab, dia hanya menatap dan menunggu jawaban dari Jessica.


"Satu-satunya yang lerlu kau lakukan ketika kau menonton wawacara dan gosip murahan itu, kau meminta konfirmasi dulu kepadaku. Aku pasti akan menceritakan semuanya padamu dengan jujur, tapi kau tak melakukan itu, kaumsama sekali tidak mau tahu penjelasanku dan sekarang kita sama-sama menanggung akibat yang telah kau perbuat."


Daniel meringis. "Jessica," ia berbalik sepenuhnya dan hendak berjalan ke arahnya, tapi Jessica mengacungkan tangannya melarangnya untuk berbicara. "Aku tidak ingin mendengar alibimu Daniel, lebih baik kau pergi dan selamat bekerja semoga pekerjaanmu lancar."


Jessica bisa melihat perang berkecamuk dalam diri Daniel dan Daniel tahu ia tidak akan bisa membujuk Jessica saat ini, tak peduli seberapa kerasnya dia memohon maaf kepada Jessica. Satu-satunya pilihan yang dia punya hanya-lah berbalik ke pintu dan pergi dari butik istrinya.


Saat akhirnya Daniel berhasil menyeret langkahnya keluar dari butik, Jessica lari dan langsung mengunci pintu ruang kerjanya. Ia merosot ke lantai dan memeluk lutut, ia membenamkan wajahnya di sana. Jessica gemetar begitu hebatnya, sampai-sampai giginya gemeletuk. Ia kini mengandung anak yang telah menganiyaya dan menghancurkan dirinya, bagaimana suatu saat nanti Jessica akan menceritakan hal ini kepada anaknya?


...****************...


Alih-alih memilih antara rumah dan apartemet lamanya, Jessica malah memilih untuk ke kediaman Rey. Bukan tanpa alasan ia kembali ke rumah pinggir pantai itu, ada barangnya yang tertinggal di rumah Rey.


Saat taxi yang dia tumpangi menuju kawasan kediaman Rey, Jessica menerima satu pesan masuk dari Claire.


Claire:


Kau sudah pulang kerja? Datanglah ke rumah, mama menitipkan banyak oleh-oleh untukmu. Aku dan Dania pun merindukanmu.


Jessica belum siap untuk bertemu dan menjawab pertanyaan Claire ketika dia nanti melihat luka di tubuhnya. Luka di leher bisa saja ia tutupi dengan syal cantikm tapi di kening? Claire pasti akan menghujaninya dengan banyak pertanyaan yang belum siap untuk ia bagi.


Jessica:

__ADS_1


Maaf Claire sepertinya akuntidak bisa ke rumahmu sekarang, Aku sedang di IGD, kepalaku tadi terbentur di ruang produksi.


Hessica benci harus berbohong pada Claire, tapi ini akan menolongnya agar lebih mudah menjelaskan tentang luka di keningnya dan alasan mengapa ia tidak kerumahnya sekarang.


Claire:


Ya, Tuhan. Kau sama siapa? Aku akan minta Harry ke sana sekarang juga, Kakakku sudah kembali ke Osaka tadi pagi.


Jadi Claire sudah tahu jika Daniel sudah pulang, dan dia berpikir jika Jessica dan Daniel baik-baik saja. Jessica memang tak berencana untuk cerita dengan Claire, cerita dengan keluarga Daniel tentu akan menimbulkan masalah baru, ia ingin tenang.


Jessica:


Tidak perlu, aku baik-baik saja. Sebentar lagi aku selesai dan langsung pulang. Aku ingin istirahat. Aku akan mampir ke rumahmu besok sore setelah dari butik. Titip peluk dan ciumku untuk Dania.


Jessica mematikan handhonenya dan menaruhnya di tas ketika mobil yang membawanya menepi di kediaman Rey. Ia memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan kemudian turun dari taxi.


"Kenapa tidak memberitahuku jika kau mau pulang? Aku akan menjemputmu, Jessie." Rey menyambut kedatangannya dengan hangat. "Bagaimana tadi di butik? a kau bertemu dengannya? Apa dia menyakitimu?"


Jessica menggeleng. "Dia ke butik hanya memberikan kunci rumah dan pamit pergi ke Osaka," jawab Jessica. "Aku kemari karena lipstik kesayanganku tertinggal di kamar tamu."


"Lalu apa kau akan pulang?" Rey tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.


"Aku tidak bisa tinggal di sini terus Rey, aku masih berstatus istri orang. Lagi pula Daniel sudah pergi ke Osaka, tiga sampai empat bulan ini dia tidak akan pulang."


Rey menghembuskan napas beratnya. "Baiklah, tapi kau makan dulu ya. Aku sudah siapkan pasta untukmu," ia mengajak Jessica ke dapur.

__ADS_1


__ADS_2