SAMPAI DISINI

SAMPAI DISINI
BAB 38


__ADS_3

"Jess," Claire menghampiri Jessica di ruang kerjanya, ia terliat sangat buru-buru dan panik. "Daniah demam. Kata Harry, dia agak sedikit flu. Kami harus membawanya ke dokter, aku pulang duluan ya?"


Mendenggar keponakan kesayangannya tidak enak badan, Jessica lamgsung mendongak dan mengalihkan perhatiannya pada laptop di depannya. "Tentu saja, Claire. Cepat kau antar Daniaku ke dokter! Kabari aku jika ada apa-apa dengannya."


"Okay," ia berbalik dan keluar dari butik.


Jessica menghela napas pelan, musim pancaroba seperti ini anak-anak memang lebih rentan terkena flu. Di sekolah Estelle saja setidaknya ada 2 anak yang tidak masuk dalam seminggu terakhir ini. Jessica menoleh ke arah tempat tidur putrinya yang berada di sudut ruang kerjanya, ia berharap daya tahan tubuh putrinya kuat sehingga tak mudah terserang flu.


Saat Jessica hendak kembali menekuri laptopnya, ia menemukan minyak wangi Claire tertinggal di meja kerjanya. Kemungkinan tadi pagi setelah ia mengenakannya di ruang kerjanya sebelum dia meeting, ia lupa memasukan kembali ke tasnya padahal minyak wangi itu begitu berarti bagi Claire.


Jessica berniat menghubungi Claire untuk mengatakan bahwa minyak wanginya akan ia titip dengan Daniel sore nanti, sehingga dia tidak perlu lagi datang ke butik. Belum sempat Jessica menekan nomor Claire, ia mendengar derap langkah dari luar ruang kejanya dan beberapa detik kemudian pintu terbuka.


"Aku baru saja mau..." kalimatnya terputus ketika mengetahui bahwa bukan Claire yang datang, melainkan Rey.


"Apa aku memngganggu?" tanya Rey, ia terus berjalan menghampiri Jessica. "Aku membawakanmu makan siang."


Jessica tersenyum kemudian melirik ke arah putrinya, memberi kode kepada Rey bahwa putrinya sedang tidur siang. Rey pun menoleh ke arah tempat tidur Estelle, ia mengangguk mengerti.


Mereka menikmati makan siang sembari berbincang dengan suara yang pelan agar tak mengganggu tidur Estella. Di tengah ke intiman obrolan mereka, secara mengejutkan Claire datang. Jessica baru ingat jika dirinya kelupaan mengirimkan pesan pada Claire agar tidak kembali ke butik.


"Oh, wow," seru Claire mengeluarkan ekspresi terkejut melihat Rey berada di ruang kerja Jessica.


Berbeda dengan Jessica yang nampak gugup dengan kedatangan Claire, Rey sendiri nampak santai dan tersenyum ke arah Claire. "Hai," sapanya. "Aku bawa banyak makan siang, mau makan bersama kami?"


"Terima kasih, sebetulnya aku kemari hanya ingin mengambil minyak wangiku yang tertinggal." Claire berjalan menuju meja kerja Jessica untuk mengambil minyak wanginya. "Sayang sekali, aku sedang buru-buru. Tapi Apa itu?"


“Ayam bakar madu buatanku,” ucap Rey.

__ADS_1


Claire yang penasaran dengan ayam bakar buatan aktor terkenal pun berjalan mendekat ke arah mereka.“Baunya sangat enak, boleh bungkuskan untukku?” pintanya. "Aku bisa makan di mobil."


Rey mengangguk, dengan cekatan dia mengambil tempat makan kosong, lalu menaruh nasi, dua potong ayam bakar, lengkap dengan sambal buatannya. Saat Rey menutup kotak makan Jessica beranjak dari tempat duduknya, ia mengambil kotak makan itu dari tangan Rey, dan menghampiri Claire.


"Aku mohon jangan ceritakan ini dengan Daniel," bisiknya sembari mengukurkan kotak makan.


Claire tersenyum mengedipkan matanya. "Kau tak perlu khawatir," ia beralih ke Rey. "Terima kasih ya Rey."


"Semoga kau suka," Rey tersenyum melihat Claire menutup pintu.


Belum ada dua menit Claire pergi, ia kembali menerobos pintu dengan mata terbelalak, ia menghampiri Jessica dan berbisik, "Daniel ada di depan." Darah Jessica terasa seperti membeku di pembuluh darahnya. "Apa?"


"Daniel ada di butik ini, kau punya sepuluh detik untuk menyembunyikannya," Claire melirik ke arah Rey.


Jessica yakin Rey dapat melihat ketakutan dalam ekspresi wajah Jessica ketika Jessica melihatnya, tetapi dengan sangat tenang Rey berkata, "Kau mau aku bersembunyi di mana?"


Rey melihat lemari dan kemudian menatap Jessica, dia menunjuk ke pintu. "Di lemari?"


Jessica mendengar suara Daniel menyapa staffnya di luar, dan ia merasa lebih mendesak. "Iya disana?" Jessica bergegas membuka pintu lemari. Itu bukan tempat yang paling ideal untuk menyembunyikan manusia yang sebenarnya, tapi Jessica tak ada pilihan lain. "Maafkan aku, Rey," icapnya saat Jessica menutup pintu.


Claire bingung melihat kegelisan Jessica. "Kau menyembunyikannya di lemari?" "Aku tahu."


"Jess..." Claire terdengar kecewa pada Jessica, tapi apa yang Claire ingin Jessica lakukan? Memperkenalkan mereka satu sama lain?


“Maksudku, aku senang kau mulai membuka hati lagi, tapi… kau menyembunyikannya di lemari seperti mantel tua," ucap Claire.


"Aku tidak punya pilihan lain, Claire. Rey adalah satu-satunya pria di bumi ini yang tidak akan di restui oleh Daniel untuk aku berkencan.”

__ADS_1


“Aku benci mengatakan ini padamu, tapi hanya ada satu pria di bumi ini yang akan di restui oleh kakakku untuk berkencan denganmu, dan itu adalah Daniel.”


Jessica tidak menanggapi karena apa yang di ucapkan oleh Claire benar. "Tunggu," ucap Claire. "Apa kau dan Rey sudah pacaran?"


"TIDAK."


“Tapi kamu baru saja mengatakan bahwa dia adalah satu-satunya pria yang tidak akan direstui Daniel untukmu kencani.”


"Aku mengatakan itu karena jika Daniel melihatnya di sini, dia akan berasumsi seperti itu."


Claire melipat tangannya di dada dan terlihat kecewa. “Aku merasa sangat tersisih sekarang."


"Apa maksudmu?"


“Kenapa dia membawakanmu makan siang jika kalian berdua tidak ada apa-apa? lalj mengapa kamu juga tidak cerita apa-apa tentangnya?"


"Dia hanya teman lamaku, Claire."


“Aku bertemu teman lama setiap hari. Mereka tidak membawakanku makan siang.”


"Teman-temanmu mungkin bukan artis yang memiliki restoran koki. Itulah yang dilakukan pemilik restoran. Mereka akan membawakan makan siang untuk temannya." Jessica mengambil tas yang berisi keperluan putrinya kemudian ia menggendong Estelle secara perlahan tanpa membangunkannya.


Claire tidak bicara lagi, dalam angannya ia memikirkan tentang dunia yang sempurna, dia memiliki saudara laki-laki yang tidak pernah menyakiti Jessica, dan Jessica akan tetap menjadi iparnya.


Begitu Daniel membuka pintu ruang kerjanya, Jessica langsung memberikan Estelle kepada Daniel. Sekilas Daniel menoleh ke arah sofa. "Kau sedang makan?"tanyanya pada Claire. "Bukankah kau harus membawa Dania ke rumah sakit?"


Claire menyambar tas milik Estelle dari tangan jessica. "Ya, aku baru mau keluar. Biar aku bawakan hingga ke mobil, Jessica sedang banyak pekerjaan sehingga dia makan di ruangannya." ia keluar lebih dahulu. Sementara Jessica mengecup kening putrinya, barulah Daniel mengikuti Claire keluar dari butik.

__ADS_1


Saat Rey keluar dari lemari, Jessica benar-benar merasa bersalah, ia hampir minta maaf sebanyak sepuluh kali kepada Rey. "Aku mengerti, Jessie.. Kau belum siap dengan hubungan ini, tapi satu hal yang perlu kamu tahu. Dia bukan siapa-siapamu lagi," Rey pun pergi meninggalkan butik


__ADS_2