
Sayang,
Maaf aku harus pergi tanpa pamit, karena kamu tertidur. Aku tidak keberatan, aku justru suka melihatmu tidur. Bahkan saat berada di dalam mobil di tengah kencan kita.
Dulu, saat kita masih remaja. Aku sering melihatmu tidur, aku suka betapa damainya wajahmu saat tidur, karena jika kau terjaga selalu ada rasa takut yang tidak tenang dalam dirimu. Namun rasa takut itu hilang saat kau tidur, dan itu membuatku tenang.
Sebelumnya aku begitu merasa bersalah padamu, karena aku tidak berjuang lebih keras untukmu. Jika aku tidak menerima tawaran settingan kencan dengan wanita lain untuk menaikan popularitasku, kamu tidak akan pernah bertemu dengan pria yang pada akhirnya akan menyakitimu seperti ayahmu menyakiti bundamu.
Tapi jika kau tidak bertemu dengannya, kau tidak akan memiliki Estelle, jadi aku bersyukur untuk hal itu. Kau tahu, saat melihat Estelle tertidur, dia mirip sekali dengamu. Aku bahagia sekali ketika melihatmu berinteraksi dengannya, melihatmu begitu antusias menceritakan tentang perkembangan Estelle.
Izinkan aku mengenal Estelle lebih jauh, izinkan aku menjadi bagian dari sumber kebahagiaanmu.
Rey
Jessica tersentak , dan hampir merobek surat itu menjadi dua saat seseorang menggedor jendela mobilnya. Ia terkesiap dan melirik ke atas untuk melihat Bunda berdiri di samping mobilnya, dan Estelle menyala ketika bocah itu melihat ibunya melalui jendela, dan senyum itu saja yang diperlukan untuk membuat Jessica tersenyum kembali.
Yah, senyum Estelle dan surat di tangannya. Ia melipatnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Bunda membuka pintu mobil. "Apakah semuanya baik-baik saja?"
"Ya, tidak ada apa-apa." Jessica mengambil Estelle dari bunda, tapi mata Bunda menyipit curiga. "Kamu terdengar takut ketika kamu meminta bunda untuk menemuimu di taman."
"Tidak ada apa-apa," ucap Jessica, ingin menepisnya. “Aku hanya tidak ingin Daniel menjemputnya hari ini. Dia sedang tidak dalam suasana hati yang baik, dan dia tahu Estelle di rumah Bunda, jadi…” Jessica menghela napas dan berjalan ke ayunan yang kosong. Ia duduk di salah satu ayunan dan meletakkan Estelle di pangkuannya, menghadap ke luar.
__ADS_1
Jessica menendang tanah dan mendorong ayunan itu sedikit, melihat bunda duduk di ayunan di sebelahnya. "Jess..." Bunda menatap Jessica dengan prihatin. "Ceritakan saja apa yang terjadi."
Jessica tahu Estelle baru berusia satu tahun dan belum bisa memahaminya, tetapi tetap saat itu membuat Jessica tidak nyaman untuk berbicara tentang ayahnya di hadapannya. Jessica yakin bayi dan balita dapat merasakan suasana hati ibunya, meskipun mereka tidak dapat memahami apa yang di katakannya.
Jessica mencoba menjelaskan situasi ini tanpa menyebutkan nama. "Aku berkencan dengan seseorang."
"Benarkah? Siapa?"
Jessica menggelengkan kepala, ia tidak akan memberitahunya bahwa itu Rey, meskipun Bunda mungkin tidak tahu siapa yang kubicarakan. Bunda pasti pernah melihat gosip di Tv atau sosial media yang memberitakan tentang hubungan Rey dengan dirinya.
Akan datang, di mana hari Jessica akan mengenalkan Rey kepada Bunda secara resmi. "Hanya seorang pria biasa..." ia menghela nafas dan menendang tanah lagi "Daniel mengetahuinya, dan dia tidak senang."
Bunda mengernyit, seolah dia tahu betul apa arti ketidakbahagiaannya. “Dia datang pagi ini, dan reaksinya menakutkan. Aku panik, lalu menduga ia akan datang ke rumah Bunda untuk menjemput Estelle."
Jessica menggelengkan kepala. “Aku tidak terluka, meskipun tadi dia cukup membangkitkan traumaku, tapi aku baik-baik saja.” ia mencium puncak kepala putrinya, tanpa ia sadari air mata mengalir di pipinya.
Jessica segera menghapusnya. “Aku tidak tahu harus berbuat. Tadi aku hampir berharap sesuatu akan terjadi sehingga aku bisa melaporkannya kali ini. Tapi kemudian saya merasa seperti ibu yang buruk karena berpikir tetantang memenjarakan ayahnya.”
Alice meraih dan meremas tangan Jessica. “Tidak peduli keputusan apa yang akan kamu ambil, kamu akan tetap jadi ibu yang terbaik," ia melepaskan tangan Jessica dan mencengkeram rantai, kemudian menatap Estelle. “Bunda sangat mengagumi keputusan yang kamu buat untuknya. Terkadang aku sedih karena aku tidak bisa sekuat itu untukmu.”
Jessica langsung menggelengkan kepala. “Bunda tidak bisa membandingkan situasi kita. Aku mendapat banyak dukungan yang memungkinkan aku membuat pilihan yang aku buat, sementara dulu Bunda tidak punya siapa-siapa. Selain itu aku juga memiliki kematangan financial yang Bunda tidak miliki dulu.”
__ADS_1
Alice tersenyum, kemudian ia bersandar dan menendang tanah. "Siapa pun pria itu, dia pria yang beruntung telah memenangkan hatimu," ia melirik ke arah Jessica. "Jadi siapa dia?"
Jessica tertawa. “Tidak. Aku tidak akan membicarakan dia sampai hubungan kami benar-benar serius.”
"Dia pasti serius," ucap Bunda. "Bunda bisa melihatnya di senyummu."
Mereka berdua melihat ke atas langit pada saat rintik hujan mulai turun. Jessica menyelipkan putrinya di bawah dagu dan mereka mulai kembali ke mobil. Bunda mencium Estelle sebelum Jessica menaruhnya di kursi bayi.
"Gemma mencintaimu, Estelle.”
"Gemma?" Jessica bertanya. “Minggu lalu Eyang, kenapa sekarang berubah?”
"Biar keren" Bunda mencium pipi Jessica dan kemudian bergegas ke mobilnya.
Jessica masuk ke mobilnya tepat ketika hujan semakin lebat. Tetesan hujan yang sangat besar menyerang kaca depan dan kap mobilnya. Jessica duduk sejenak, menunggu untuk memikirkan ke mana ia akan pergi sebelum menyalakan mobil.
Jessica belum ingin pulang karena Daniel mungkin muncul kembali, ia juga tak ingin kerumah Claire sebab kemungkinan Daniel pun di sana. Ia merasa sangat protektif terhadap putrinya sekarang karena Daniel memiliki hak di atas kertas untuk muncul dan mengambilnya dari Jessica, tetapi Jessica tidak mengizinkan putrinya berada di dekat Daniel di kondisi Daniel baru saja marah.
Jessica melihat ke kaca spion saya, dan Estelle hanya duduk dengan tenang, memandang ke luar jendela ke arah hujan. Dia tidak tahu jenis kekacauan yang mengelilingi keberadaannya, karena baginya, Jessica adalah tumpuannya.
Estelle bergantung pada Jessica untuk segalanya, dan dia hanya duduk di sana dengan bahagia dan nyaman, seolah-olah Jessica mengendalikan semuanya. Jessica tidak merasa bisa mengendalikan semua situasi ini, tetapi faktanya Estelle menganggap Jessica adalah pelindungnya.
__ADS_1
"Ke mana kita pergi hari ini, sayang?"