
Bunda:
Sayang, bunda sudah pulang dari Bali dan rindu padamu, bisakah kita bertemu?
Jessica tercengung membaca pesan dari bundanya. Satu minggu telah berlalu saat Daniel datang ke acara baby showernya dan mendapati dirinya tengah mengandung. Sekarang Jessica merasa bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk memberitahu bundanya bahwa ia tengah mengandung.
Jessica tidak gugup untuk menceritakan kehamilan, sebab ia tahu bundanya juga menantikan kehadiran cucu pertamanya, tapi ia takut untuk membahas masalahnya dengan Daniel.
Jessica:
Aku juga merindukan, bunda. Aku akan berkunjung besok sore, jika bunda tidak repot buatkan aku sop iga, ya?
Bersamaan dengan terkirimnya pesan itu, satu pesan dari Claire masuk ke handphonenya.
Claire:
Aku dan sop igaku akan tiba kurang dari lima menit, bersiaplah menjadi kelinci percobaan masakanku. Kita akan makan malam bersama.
Jessica mengerutkan keningnya, sop iga lagi? benar saja begitu Jessica mematikan handphonenya bel apartementnya berbunyi. Jessica bergegas membukanya, ia melihat Claire tidak hanya datang dengan eksperimen sop iga buatannya tapi dengan suami serta putrinya.
Jessica memperhatikan ke arah belakang Claire dan Harry. "Jess, aku tidak setega itu padamu, membawa bajingan itu kemari," ucap Claire sembari masuk ke apartement Jessica di ikuti dengan suaminya dari belakang.
__ADS_1
Claire yang sudah terlalu sering bolak-balik ke apartement Jessica menganggap apartement itu seperti miliknya sendiri, ia langsung menuju dapur dan mengambil beberapa mangkuk serta piring, kemudian menyajikan di meja makan.
Dania sedang tidur di stroler ketika masuk, Jessica membangunkan bocah itu karena ingin menggendong dan bermain dengannya. Claire sama sekali tak keberatan Jessica mengganggu tidur putrinya. "Ada baiknya dia bangun jam segini agar jam sembilan malam nanti dia mengantuk dan tidak mengganggu waktu bercintaku bersama suami kaya rayaku," ujar Claire sembari menggeser-geser piring dan menatanya di meja makan.
Jessica hampir terkekeh mendengar ucapan Claire. "Kau harus tidur nyenyak agar tak mengganggu waktu lembur orang tuamu," bisik Jessica pada Dania.
"Kau tahu Jess, sejak punya Dania kita hampir tak punya waktu untuk berdua," Harry menghampiri meja makan dan membantu istrinya.
"Aku bahkan tak punya waktu lagi untuk mencukur bulu," sambung Claire.
Kali ini Jessica tak bisa menahan gelak tawanya. Sembari menggendong Dania Jessica bergabung bersama Harry dan Claire di meja makan. "Kalau begitu malam ini Dania tidur bersamaku, bagaimana? Sekalian aku belajar menjaga bayi?" ia mulai memasukan sop iga buatan Claire ke mulutnya.
Jessica menunduk ke arah Dania. "Kau dengar itu? Kita berdua akan melewati malam yang indah bersama," ucapnya.
Makan malam berlangsung hangat. "Bagaimana sop iga buatanku?" tanya Claire penasaran.
"Not bad," Jessica tahu Claire sebetulnya pandai memasak hanya saja, dia kurang percaya diri.
Selesai makan malam, Harry turun ke basement untuk mengambil semua keperluan Dania yang mereka simpan di mobil. Sementara Claire, Jessica dan Dania berbaring di tempat tidur Jessica yang nyaman sembari menunggu Harry.
Claire meletakan satu tangannya di perut Jessica, ia meraba dengan lembut mencari pergerakan bayi dalam perut sahabatnya. "Jess, apa bayimu baik-baik saja?" tanyanya khawatir, sepengalamannya mengandung Dania, di usia kandungan seperti Jessica, Dania bergerak aktiv dalam perutnya terlebih ketika dirinya selesai makan, tapi Claire tidak menemukan itu di perut Jessica.
__ADS_1
"Dia baik-baik saja, aku sudah memeriksakannya ke dokter kemarin," jawab Jessica, ia tersenyum ke arah Claire agar wanita itu tak merasa cemas. "Aku pikir aku sedang mengandung bayi termalas di dunia." Jessica tertawa, namun tidak dengan Claire, wanita justru menatap Jessica dengan tatapan iba.
Claire tahu, seharusnya Daniel-lah yang berada di tempat tidur ini, memegang perut Jessica, mengelusnya dengan lembut, dan berbicara dengan bayinya. Tapi Daniel justru merenggut semua kebahagiaan dan euforia menyambut kehadiran bayi mereka pada awal kehamilan Jessica.
"Jessica," ujarnya. "Sudah lama aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
'Ya Tuhan', batin Jessica, ia tak suka dengan tatapan dan cara bicara Claire yang seperti itu sebab bisa dipastikan Claire akan bicara hal yang serius.
"Apa?" tanya Jessica.
"Aku tahu kau sedih karena harus melewati kehamilan ini tanpa kakakku, tapi satu hal yang harus kau tahu kehamilan ini akan menjadi peristiwa hebat yang pernah kau alami seumur hidupmu. Kau akan jadi ibu yang luar biasa, bayimu akan bangga memiliki ibu sepertimu."
Jessica memeluknya dan mengucapkan terima kasih. Sungguh menakjubkan rasanya bagi Jessica mendengar kata-kata yang bisa mengembalikan kebahagiaannya. Jessica bangkit dari tempat tidurnya bersamaan dengan kedatangan Harry bersama satu koper besar berisi seluruh keperluan Dania, seolah Dania akan menginap di tempatnya selama satu abad penuh.
"Bubur bayi akan kami kirim jam 06.00 pagi," ucap Harry.
Claire menatap Jessica lekat-lekat. "Kau yakin, akan menjaga Dania malam ini?"
Jessica mendorong Claire dan Harry keluar dari apartementnya. "Bercinta-lah sampai kalian lemas!" usir Jessica, ia menutup pintu apartement dan bersiap memulai pertualangannya bersama keponakannya tercinta.
Dania, bayi yang begitu menyenangkan, sebab hanya dalam waktu semalam bocah itu mengajarkan banyak hal kepada Jessica, mulai dari cara mengganti popok, memanaskan ASI yang benar hingga menidurkannya. Jessica merasa sudah siap untuk menyambut kehadiaran bayi dalam kandungannya.
__ADS_1