SAMPAI DISINI

SAMPAI DISINI
BAB 34


__ADS_3

Mereka berhasil sampai di rumah sakit, saat jarak kontraksi Jessica hanya hanya berjarak satu menit. Setelah dokter memeriksanya, ternyata Jessica sudah pembukaan sembilan, dan siap untuk melahirkan.


Lima menit kemudian dokter menyuruh Jessica mengejan, Jessica meremas tangan ibundanya setiap kali ia mengejan. Sekelebat ia berpikir bahwa seharusnya tangan yang ia remas saat ini adalah tangan Daniel bukan tangan ibundanya.


"Kepalanya hampir keluar," ucap sang dokter. "Hanya perlu mengejan beberapa kali lagi."


Jessica tak bisa menggambarkan apa yang terjadi beberapa menit selanjutnya. Semuanya kabur dan capur aduk, antara rasa sakit, napas yang tersenggal-senggal, kegelisahan, kebahagiaan, dan tekanan. Tekanan yang luar biasa dahsyat seolah dirinya hendak meledak, kemudian. "Perempuan!" seru Alice. "Sayang, bayimu perempuan!"


Jessica membuka mata, dan dokter mengangkat bayinya, ia hanya bisa melihat siluetnya sebab pandangannya terhalang oleh air mata. Ketika dokter membaringkan bayinya di dada Jessica, ia merasa itu adalah moment terindah dalam hidupnya.


Jessica langsung menyentuh bibir mungilnya yang merah, pipinya yang menggemaskan, dan jemarinya. Sementara dokter memotong tali pusarnya, tak lama setelah itu perawat mengambil bayinya untuk di bersihkan dan di periksa, seketika Jessica merasa hampa.


Tiga puluh menit kemudian Jessica dan bayinya di pindahkan ke ruang rawat inap, alangkah terkejutnya Jessica ketika masuk ke ruang rawat inap, Daniel dan keluarganya sudah berada di sana.


'Siapa yang memberitahu merereka? Mengapa mereka ada di sini?' Jessica mendekap erat bayinya, seolah ia ingin melindungi putri kecilnya dari Daniel.


Daniel mendekat ke arahnya. "Saya suaminya, Sus. Biar saya saja yang mendorongnya," ia mengambil alih untuk mendorong kursi roda Jessica hingga ke tempat tidur.


Jessica memaksakan seulas senyuman pada Claire dan ibu mertuanya, ketika kursi rodanya melewati mereka. Daniel juga membantu Jessica berbaring di tempat tidurnya.

__ADS_1


Claire dan Grace memberikan kesempatan pada Daniel untuk menemani Jessica dan bayi, sehingga mereka berdua tetap di tempatnya tak berusaha mendekat, eski ingin sekali melihat sang bayi lebih dekat.


"Jess, aku tidak akan menyakitimu. Pecayalah!!" Daniel duduk di tempat tidur di sebelah istrinya, ketika perawat telah meninggalkan ruang rawat inap. Daniel menurunkan selimut yang membungkus bayi mereka hingga ke dagu, agar ia bisa melihat dengan jelas bayi yang selama ini ia nantikan kehadirannya.


Bayi perempuan cantik itu berusaha membuka matanya, mereka berdua merasa itu adalah hal yang paling menakjubkan, saat bayi mungil itu menguap, Daniel dan Jessica saling pandang, mereka berdua langsung jatuh cinta pada bayi mereka.


Dengan ragu-ragu, Daniel meminta izin kepada Jessica untuk menggendong putrinya. "Aku mohon, Jess," pintanya lirih.


Perlahan Jessica mengulurkan bayinya ke arah Daniel, pria itu nampak bahagia bisa mendekap bayi secara langsung, bahkan matanya mulai berkaca-kaca. "Terima kasih Jess, kau telah mengandung dan melahirkan bayi kita." ia juga membawa Jessoca ke dalam pelukannya.


Jessica terlihat sangat nyaman sekali bersandar di bahu suaminya. "Kau sudah ada ide untuk nama bayi kita?" tanya Daniel. Hubungan mereka tak seperti pasangan suami istri pada umumnya, sepanjang kehamilannya mereka bersih tegang sehingga tak pernah ada kesempatan untuk membahas nama anak.


"Mungkin Estelle, karena dia bercahaya seperti bintang," ucap Jessica, memberikan gagasan yang ada di kepalanya.


Jessica mengangguk setuju, ia pun tak ingin putrinya memiliki nama yang terlampau panjang.


Claire dan Grace merasa lega karena rupanya kehadiran buah hati bisa mencairan suasana rumah tangga mereka yang hampir di ujung tanduk. Berbeda halnya dengan Claire dan Grace, ibunda Jessica tak menunjukan wajah haru bahagianya sejak ia masuk ke ruang rawat inap melihat Daniel dan keluarganya.


Alice bukannya menginginkan putrinya bercerai dengan Daniel, hanya saja untuk bisa seperti dulu, setidaknya Daniel harus memberikan jaminan keselamatan putri dan cucunya jika mereka memutuskan untuk kembali bersama.

__ADS_1


Setelah agak lama bersandar, akhirnya Jessica menjauh dari bahu Daniel, agar ia bisa mengamati Daniel menggendong putri mereka. Sungguh pemandangan yang sangat indh melihat Daniel berinteraksi dengan putrinya, Jessica bisa melihat betapa besar cinta yang Daniel miliki untuk putrinya.


Harus Jessica akui bahwa Daniel begitu menakjubkan dalam banyak hal. Dia penuh kasih sayang, perhatian, cerdas, pekerja keras dan sukses. Tak jauh berbeda dengan apa yang mendiang ayahnya miliki, ayahnya begitu menyayanginya, cerdas, pekerja keras, dan sukses. Namun meskipun demikian rasa benci Jessica lebih besar dari rasa sayangnya kepada ayahnya karena semua hal yang terbaik yang di miliki oleh ayahnya seketika hilang saat Jessica melihat ayahnya memukuli ibundanya.


Jessica menatap Daniel kemudian beralih ke putrinya, ia merasa sekarang adalah saatnya bagi dirinya untuk melakukan yang terbaik untuk Estelle, untuk hubungan baik yang akan terjalin antara putrinya dengan ayahnya.


Jessica mengambil keputusan ini bukan demi dirinya mau pun demi Daniel, tapi ini semua demi Estelle.


"Daniel.."


Daniel tersenyum, menoleh ke arah Jessica. "Iya sayang."


"Aku minta cerai."


Mata Daniel mengerjap dua kali, kata-kata itu menghatam dirinya bagai sengat listrik. Tak hanya Daniel yang terkejut, namun Claire dan Grace pun ikut terkejut, pasalnya ia menduga jika Jessica akan menerima Daniel kembali.


Ingin rasanya Grace menanyakan apa maksud Jessica, namu Alice melarangnya, ia memberi kode kepada Grace untuk tetap tenang dan tidak mencampuri urusan rumah tangga anaknya.


Daniel meringis dan kembali menunduk menatap putrinya. "Jess..." ujarnya sembari menggelengkan kepalanya. "Aku mohon jangan lakukan ini padaku, Jess.." suaranya terdengar mengiba, dan Jessica benci dengan suara itu, sebab suara itu sama ketika Daniel meminta maaf untuk kejadian kekerasan yang ia lakukan sebelumnya.

__ADS_1


"Satu kesempatan lagi, Jess. Aku mohon." Suaranya pecah bersamaan dengan air mata yang mengalir deras di pipinya. "Aku akan melakukan apa pun untuk kamu dan Estelle."


Jessica tahu, ia menyakiti Daniel di saat yang tidak tepat. Di saat seharusnya mereka menyambut kehadian buah hati mereka yang telah mereka nantikan, tapi Jessica pun tahu jika tidak sekarang, maka dia tidak akan punya kesempatan lagi.


__ADS_2