SAMPAI DISINI

SAMPAI DISINI
BAB 45


__ADS_3

Sudah lima hari sejak Jessica berkencan dengan Rey, ia belum juga memberi tahu Daniel. Sungguh hal ini membuat Jessica frustrasi, tapi mengatakannya kepada Daniel juga merupakan hal yang menakutkan untuk dilakukan. Jadi ia berencana untuk menundanya selama mungkin.


Ia memilih fokus pada butiknya yang minggu ini kekurangan pegawai sebab Evelin akan menikah, lagi pula sepertinya ia dan Rey tak memiliki rencana berkencan lagi sebab Rey tengah menghadapi masalah hukum soal hak perwalian Jordy, ia juga sibuk syuting iklan serta film terbarunya, bisnis restorannya, dan tentunya merawat seorang anak yang menginjak remaja tentu merupakan hal yang tidak mudah.


Siang ini Jessica baru saja mendapat kabar jika Bunda mengalami flu berat, sehingga Jessica sama sekali tak bisa menitipkan Estelle pada bundanya di saat pekerjaannya menumpuk tanpa Evelin. Satu minggu yang terlalu berat untuk Jessica.


Claire kembali dari makan siangnya dengan membawa sebungkus mie ayam dan dua gelas kopi untuk dirinya dan Jesica. Ia mengulurkannya kepada Jessica kemudian kembali menekuri laptopnya yang masih menyala di ruang kerja Jessica.


Sementara Jessica mulai menuang mie ayam ke dalam mangkuk. "Apa yang kau kenakan ke pernikahan Evelin?" Jessica bertanya padanya, sembari menikmati mie ayam gerobag kesukaannya.


"Aku dan Harry tidak datang."


"Apa?" hampir saja Jessica tersedak.


“Kami tidak bisa, karena bertepatan dengan hari ulang tahun pernikahan keempat puluh orang tuaku. Daniel memberi tahuku, dia akan membuat kejutan makan malam.'"


Jessica kembali menyendokan mie ayam ke mulutnya, ia tahu jika akhir-akhir ini Daniel mulai mengurangi pekerjaannya, Daniel seperti ingin memiliki banyak waktu untuk putrinya dan juga keluarganya sehingga dia membuat acara itu. "Apakah Evelin tahu kau tidak akan datang?"


Claire mengangguk. “Dia tidak masalah, malah terlihat bahagia karena mengurangi catering, tapi dia tetap meminta jatah dua amplop dariku dan Harry," ia menyeruput kopinya. "Apakah kamu akan mengajak Rey?"


“Tentu saja tidak, media ada di mana-mana. Kupikir kau dan Harry akan datang, dan aku tidak ingin memintamu dan Harry berbohong untukku lagi.” ia merasa tidak enak karena minggu lalu sewaktu dirinya kencan, mereka harus berbohong kepada Daniel.


"Kapan kamu berencana memberi tahu Daniel bahwa kamu mulai berkencan?"


Jessica mengerang. "Apakah harus?"


"Pada akhirnya dia akan tahu, apa lagi Rey aktor yang sangat terkenal."


“Mungkin aku tidak perlu menjelaskan secara spesifik tentang dengan siapa aku kencan, agar dia tidak marah."


Claire tertawa, tapi kemudian dia menatap Jessica dengan rasa ingin tahu. “Mengapa Daniel sangat membenci Rey?”


“Dia tidak suka karena Rey pernah memerankan film karya Lady Rose yang kisahnya mirip dengan kisah kami."


Claire menatapku. "Apa lagi?"


Jessica menggelengkan kepala. Tidak ada yang lain. "Apa maksudmu?"


"Apakah kamu menyelingkuhi Daniel dengan Rey?"


“Apa? Tidak. Demi Tuhan, tidak. Aku tidak akan pernah melakukan itu pada Daniel." Jessica sedikit tersinggung dengan pertanyaannya, tetapi sekali lagi ia merasa tidak pernah menyelingkuhi Daniel. Pertemuannya dengan Rey ketika dirinya masih menjadi istri Daniel merupakan pertemuan yang tidak di sengaja, ia sudah berusaha keras menghindari Rey. Hanya sekali ia meminta bantuan Rey, itu pun karena kondisi mendesak dan Daniel sendiri penyebabnya, Daniel telah menganiaya dirinya.


Mata Claire berenang dalam kebingungan. "Aku masih belum mengerti. Jika kamu tidak berselingkuh dengan pria itu, mengapa Daniel membencinya?"


Jessica melepaskan d*sahan berlebihan. "Aku pun tidak tahu, Claire."


Claire memasang wajah kesal. "Aku tidak pernah ingin bertanya karena kupikir kamu malu karena kamu telah selingkuh dari kakakku."


“Kami bahkan belum pernah berciuman lagi, sejak dua belas tahun yang lalu. Daniel hanya tidak bisa menerima bagian masa laluku yang terkadang merayap ke masa kini."


"Tunggu. Jadi kalian belum pernah berciuman lagi sejak dua belas tahun yang lalu?” Claire mengangkap poin dari percakapan ini. "Bahkan tidak pada kencanmu minggu lalu?"


“Hubungan kita berjalan dengan lambat karena banyak hati yang harus kita jaga, salah satunya saudaramu."

__ADS_1


Claire meraih handphone Jessica di meja kerjanya, kemudian ia beranjak dan memberikannya. "Chat, Daniel sekarang juga! katakan padanya jika kamu berkencan dengan Rey. Biarkan dia mengatasi masalah perasaannya sendiri.”


“Tidak bisa, masalah seperti ini sebaiknya di bicarakan secara langsung.”


"Kamu terlalu memikirkan perasaannya."


“Kamu tidak mengenal kakakmu.”


Claire mend*sah dan menghempaskan tubuhnya di sofa. "Harry memberitahuku bahwa dia cerita aku pernah berselingkuh."


Jessica sangat senang Claire mengubah topik pembicaraan. "Ya, itu mengejutkan."


“Karena aku mabuk dan aku masih terlalu muda."


Jessica tertawa. "Tapi kau sudah merencanakan pernikahan dengan Harry."


"Ya." Claire mengakuinya. “Ceritakan lebih banyak tentang Rey, anggap aku sahabatmu bukan saudara perempuan mantan suamimu.” Mereka kembali ke percakapan tadi.


"Kamu yakin ini tidak terasa aneh?"


“Kenapa? Apa karena Daniel adalah kakakku? Tidak, masalah.” Claire menggoyangkan alisnya sambil menyeringai. “Jadi, seperti apa dia? Dia terkenal tapi tampak misterius.”


Jessica tak bisa menahan wajahnya untuk tidak tersenyum ketika mengingat Rey. “Dia sangat mudah diajak berdiskusi, dia pria yang baik sama seperti Harry. Dia juga pekerja keras, meski di luaran sana banyak gosip mengenai dirinya tapi nyatanya dia tidak seperti yang di beritakan, dia juga memiliki restoran. Sementara aku, aku memiliki butik dan memiliki Estelle, jadi kami sulit meluangkan waktu untuk bersama. Plus, dia baru tahu dia punya adik laki-laki minggu ini, jadi hidupnya agak kacau sekarang. Chat dan panggilan telepon adalah sumber komunikasi utama kami, itu sangat menyebalkan.”


"Itukah sebabnya kamu terus memeriksa handphonemu?"


Jessica bisa merasakan pipinya memanas saat Claire mengatakan itu, Jessica tidak ingin ada yang tahu seberapa sering dirinya dan Rey saling bertukar pesan atau telepon sampai ia tahu Daniel tidak akan marah pada Rey.


Jessica mengangguk. "Apa yang dia katakan?" tanya Claire kembali.


"Rey bertanya apakah aku ingin dia membawakanku makan siang."


"Ya," jawab Claire dengan tegas. "Katakan padanya kau kelaparan, begitu juga temanmu."


Jessica tertawa. "Kita baru saja makan," ia menunjuk ke arah mangkuk mie ayam yang sudah ia habiskan, tapi sebagai ibu menyusui yang sebentar lagi akan menyusui Estelle maka Jessica menjawab chat Rey dengan.


Jessica:


Bisakah kau membawa makan siang untuk dua orang hari ini? Rekan kerjaku cemburu jika kamu membawakan makanan hanya untukku.


Rey:


Aku akan tiba di sana dalam satu jam.


Setelah satu jam akhirnya Rey muncul. Jessica tengah sibuk dengan pelanggannya, sementara Claire di ruang produksi memantau para penjahit. Rey membawa paper bag cokelat, dan Jessica langsung memberi isyarat agar Rey menunggu di ruang kerjanya.


Rey menunggu dengan sabar, sembari memandangi Estella yang tengah tertidur di ruangan yang berada di sebelah ruang kerja Jessica, ruangan itu dipisahkan oleh pintu penghubung. Claire selesai lebih dulu, ia menghampiri Rey dan bercakap-cakap dengannya. Sesekali Jessica melirik ke arah ruang kerjanya yang pintunya terbuka, ia penasaran dengan apa yang di bahas Claire dan Rey.


Apa pun yang mereka bicarakan kelihatannya Rey terlihat senang, Jessica bisa mendengar suara tawanya. Rasanya seperti satu dekade, baru kemudian akhirnya Jessica bisa bergabung dengan mereka.


Rey membungkuk dan menyapa Jessica dengan ciuman di pipi. Jemarinya menyentuh siku Jessica selama beberapa detik, gerakan fisik sederhana itu mengirimkan arus yang membuat Jessica seketika kehilangan fokusnya.


"Terima kasih untuk makan siangnya," ucap Jessica melawan rasa salah tingkahnya. "Apakah kamu sudah menyelesaikan pendaftaran sekolah Jordy?"

__ADS_1


Rey sudah mendaftarkan Jordy di sekolah yang tak jauh dari kediamannya. "Ya. Semoga saja dia bisa mengikuti pelajaran dengan baik, sebab dia sudah lama tidak sekolah.”


"Aku yakin dia pasti bisa," ucapnya. "Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya."


"Berapa umurnya?" tanya Claire.


“Dia baru berusia dua belas tahun,” jawab Rey.


"Wah," ujar Claire. “Usia menjelang puber, pasti sulit mengatasi anak usia segitu.” Claire menjentikkan jarinya. “Ngomong-ngomong, sabtu depan Jessica mau kondangan tapi dia tidak memiliki gandengan."


Jessica memutar kepalanya dan menatap Claire dengan tajam. “Aku bisa mengajaknya sendiri, tanpa bantuanmu!”


"Boleh, tapi apa kamu punya rencana untuk tidur dan melewatkan kondangan itu?"


Jessica langsung tersipu, dan itu membuat Claire penasaran. Rey menoleh pada Claire dan berkata, "Apa dia tidak memberitahumu bahwa dia tidur selama kencan kemarin?"


Jessica terlalu malu untuk menatap Claire, tapi ia bisa merasakan tatapan Claire. "Aku lelah," ucap Jessica."Itu kejadian yang tak di sengaja."


“Oh, bisakah kau ceritakan lebih jelasnya?” pinta Claire dengan riang.


“Dia tertidur dalam perjalanan kami ke restoran, bahkan ia masih tertidur saat kami tiba di parkiran selama lebih dari satu jam. Kami bahkan tidak masuk ke restoran.”


Claire mulai tertawa, tapi Jessica ingin merangkak ke bawah meja dan bersembunyi sekarang. "Siapa yang akan menikah?" tanya Rey pada Jessica.


“Asistenku, Evelin. Dia bekerja di sini.”


"Jam berapa?"


“Jam tujuh malam, jika kau ada syuting tidak perlu di paksakan."


"Aku bisa," jawab Rey “Sayang sekali harus kembali bekerja. Selamat menikmati makan siang." Rey mengangguk pada Claire. “Senang bertemu denganmu.”


"Aku juga juga," ucap Claire saat Rey sudah setengah jalan menuju pintu keluar, ia berjalan pergi dalam suasana hati yang ceria, dan itu membuat hati Jessica bahagia.


"Apa yang salah dengan dia?" tanya Claire ketika Rey baru saja menghilang dari pintu.


"Apa maksudmu?"


“Mengapa dia belum menikah? Apa mungkin dia buruk di ranjang? Sampai-sampai dia mendekatimu lagi?"


"Enak saja," Jessica seolah tak terima


“Kamu bilang kalian bahkan belum berciuman. Bagaimana kamu tahu?”


“Aku bilang kami belum pernah berciuman lagi sejak dua belas tahun yang lalu, kami bahkan pernah tidur bersama," Jessica terpaksa mengatakannya karena tak ingin Rey di bilang buruk di ranjang.


“Sekarang aku tahu mengapa Daniel begitu membencinya, karena kau telah berbagi ranjang dengan makhkuk sempurna seperti dia."


Jessica mengangkat alis. "Aku tidur dengannya hanya sekali itu pun jauh sebelum aku mengenal Daniel. Dan setahuku Daniel yang justru sering tidur dengan mantan-mantannya sebelum kami menikah?"


"Beda level dengan Rey."


Jessica terkejut mendengar ucapan Claire, berani sekali dia mengatakan itu padahal Daniel kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2