
Ketika Jessica memasuki ruang tamu, ia terkejut mendapati Daniel duduk di sofa, dengan Estelle tertidur di dadanya. Ia memeluk putrinya sembari menikmati segelas es teler.
Mata Jessica masih bergrilya, sebab ia tak melihat tanda-tanda keberadaan Claire di apartementnya.
"Hai," sapa Daniel tanpa mendongak menatap Jessica.
Meski tak menatap ke arahnya, Jessica masih bisa melihat rahang Daniel mengeras, pertanda bahwa dia sedang marah. Jessica ingin mengambil Estelle dari dekapan Daniel, tetapi anak itu terlihat damai. "Berapa lama dia tertidur?"
Daniel masih menikmati es telernya. "Sejak es pesananku datang."
Es itu sudah mencair, sehingga menunjukan paling tidak sudah tiga puluh menit. Claire akhirnya datang. “Hei, Jess. Maaf aku dan Dania ketiduran di kamarmu, Harry sedang keluar sebentar membeli sesuatu." Mereka saling melirik selama dua detik, Claire memberi kode permintaan maaf jika Daniel tiba-tiba ada di apartementnya.
Jessica pun memberi kode, memberitahunya tidak apa-apa. Daniel ayahnya, suatu hal yang lumrah jika seorang ayah mendengar kabar bahwa anaknya sakit dan dia memutuskan untuk pulang lebih awal dari jadwal yang seharusnya.
“Claire, bisakah kau menidurkan putriku di tempat tidurnya? Aku perlu bicara dengan Jessica.” Ketegasan dalam suaranya membuat Jessica dan Claire waspada. Mereka saling menatap satu sama lain saat Claire melepaskan Estelle dari dada Daniel.
Daniel menaruh gelasnya di meja kemudian ia berdiri, sembari memperhatikan pakaian dan sepatu hak tinggi yang Jessica kenakan. Daniel memberi kode jika ia ingin bicara dengan Jessica di rooftop sebab di apartement ada Claire dan Harry, ia butuh privasi untuk bicara.
Daniel keluar dari apartemen dan berjalan menuju rooftop. Sementara Claire bergegas menghampiri Jessica kembali setelah Daniel menutup pintu. "Aku bilang padanya kalau kau sedang kondangan."
"Terima kasih."
Sebelum berangkat kencan, Claire bersumpah pada Jessica jika dia tidak akan memberi tahu Daniel tentang kencannya bersama Rey, tapi Jessica tidak tahu kenapa Daniel begitu marah jika dia tidak tahu Jessica pergi ke mana. "Kenapa dia kesal?"
__ADS_1
Claire mengangkat bahu. "Aku tidak tahu. Dia tampak baik-baik saja ketika dia datang tiga puluh menit yang lalu.”
Jessica lebih mengenal Daniel dari siapa pun, Daniel bisa terlihat baik-baik saja, tapi dalam waktu sekejap dia bisa meledak. Apakah dia tahu aku berkencan? Apakah dia tahu itu dengan Rey?'
"Ya sudah, aku akan menyusulnya. Tolong jaga Estelle sebentar!"
Begitu Jessica tiba di Rooftop, ia melihat Daniel bersandar di dinding sembari menatap jalanan di bawah. Perut Jessica sudah mulas, saat ia berjalan ke arahnya. Daniel menatap Jessica sekilas. "Kamu terlihat ... cantik."
Daniel mengatakannya dengan cara yang membuat Jessica tampak seperti penghinaan daripada pujian, atau mungkin Jessica saja yang salah mengartikannya. "Terima kasih," ia pun bersandar di dinding, menunggu Daniel berbicara tentang apa pun yang mengganggu pikirannya.
"Apakah kamu baru saja pulang kencan?"
"Aku habis kondangan." Jessica setuju dengan kebohongan Claire. Tidak ada gunanya jujur pada Daniel, karena terlalu dini bagi Daniel untuk mengetahui hubungannya dengan Rey dan kebenaran hanya akan membuat Daniel semakin kesal.
Daniel terdiam sesaat sebelum akhirnya berbicara. "Aku belum pernah menikmati es teler sebelum malam ini."
Jessica tahu dia sedang marah, tapi ia tidak tahu apa yang membuat Daniel marah dan apa kaitannya dengan es teler yang dia minum.
Daniel berbalik menghadap Jessica dengan ekspresi penuh pengkhianatan. “Kamu menamai putri kita Estelle?” ia mengambil langkah lebih dekat. "Karena hubunganmu dengan pria itu?"
Jessica langsung merasakan denyut pada pelipisnya, ia memilih nama Estelle karena memiliki makna yang bagus, yaitu menerangi, tidak ada hubungannya dengan Rey. Jessica berdeham “Aku memilih nama itu karena itu nama yang indah, tidak ada hubungannya dengan orang lain.”
Daniel melepaskan tawa putus asa dan kecewa. "Kau benar-benar pendusta, Jessica. Estella merupkan pelesetan dari es teler, menu utama pada restoran milik pria itu dan Estella adalah nama pemeran wanita pada film yang dia perankan, yang film tersebut mirip dengan kisah kalian."
__ADS_1
Sungguh Jessica sendiri tak menonton film itu dan tak tahu menahu tentang restoran milik Rey. Ia ingin berdebat dengannya, untuk lebih membuktikan bahwa Daniel keliru, tapi ia mulai takut. Sikapnya membawa kembali pada rasa takut yang pernah ia alami. Jessica mencoba meredakan situasi dengan melarikan diri. "Aku mau pulang sekarang." ia berjalan menuju tangga, tapi Daniel berjalan lebih cepat dari Jessica.
Daniel bergerak melewati Jessica, lalu dia berada di antara Jessica dan pintu menuju tangga. Jessica mundur selangkah dengan takut. Jessica memasukkan tangannya ke tasnya untuk mencari handphone, takut kalau-kalau ia memerlukan bantuan.
"Kita harus merubah namanya," ucapnya.
Jessica menjaga suaranya agar tetap terdengar tegas dan stabil ketika saya menanggapi. “Daniel, demi Tuhan aku tidak tahu menahu soal itu. Aku bahkan tidak pernah menonton film yang Rey bintangi, dan aku juga tidak tahu mengenai bisnis restorannya. Aku bisa memastikan ini hanya kebetulan, aku tidak memikirkan tentangnya ketika aku menyebut nama Estelle. Dan kita sudah menyepakati nama itu, jadi jangan coba-coba merubah nama putri kita." Jessica mencoba menghindarinya, tapi Daniel bergerak bersamanya.
Jessica melirik ke belakang untuk mengukur jarak antara dirinya dengan batas ujung rooftop. ia merasa Daniel akan melemparnya ke jalan, karena pria itu pernah mampu mendorongnya di tangga.
"Apakah dia tahu?" tanya Daniel.
Pertanyaan bodoh macam apa ini? Tentu saja Rey tahu, meski aku tak memberi tahunya sekalipun. Rey punya sosial media dan aku sering mengunggah foto-foto Estelle di sana. Tapi sekali lagi Estelle tidak ada kaitannya dengan Rey.
“Mana aku tahu, Daniel. Kau membuatku gugup. Bisakah kita kembali ke bawah?”
Sikap Daniel membuat Jessica gila karena ketakutan, ia menatapnya sejenak, bertanya-tanya apakah pertengkaran ini sudah selesai atau masih banyak yang ingin dia katakan. Jessica ingin ini selesai, ia pun menyingkirkan Daniel dan mulai membuka pintu. "Jess, tunggu!"
Jessica berhenti karena suara Daniel jauh lebih tenang. "Aku minta maaf, Jess. Kamu tahu bagaimana perasaanku tentang semua hal yang berhubungan dengannya? Aku betul-betul kesal mengetahui bahwa nama putri kita ada kaitannya dengannya, atau mungkin kau memang sengaja menggunakan nama itu untuk menyakitiku?"
Jessica melipat tangan di depan dada. “Itu tidak ada hubungannya denganmu atau Rey. Itu semua hanya semata-mata karena aku menyukai nama itu dan nama itu yang terlintas dalam kepalaku ketika pertama kalinya aku menatap Estelle."
Daniel mengangguk sekali dengan ekspresi kaku, tapi sepertinya dia menerima jawaban itu. Mereka berdua diam untuk beberapa saat, Jessica hanya ingin pergi dari rooftop dan tidur bersama putrinya, tetapi Daniel tampaknya memiliki lebih banyak hal untuk dikatakan.
__ADS_1