SAMPAI DISINI

SAMPAI DISINI
BAB 35


__ADS_3

Jessica tahu, ia menyakiti Daniel di saat yang tidak tepat. Di saat seharusnya mereka menyambut kehadian buah hati mereka yang telah mereka nantikan, tapi Jessica pun tahu jika tidak sekarang, maka dia tidak akan punya kesempatan lagi.


"Daniel," ucapnya dengan lembut. "Apa yang akan kau lakukan? Jika suatu hari nanti gadis kecil ini mengadu padamu 'Papa, pacarku memukulku.' Apa yang akan kau katakan padanya, daniel?"


Daniel menarik putrinya ke dada, ia membanamkan wajahnya di selimut Estelle. "Hentikan, Jess!" pintanya.


Jessica duduk lebih tegak di tempat tidur, ia meletakkan tangannya di punngung Estelle dan berusaha meminta Daniel untuk menatap matanya. "Bagaimana jika dia mengadu padamu. 'Papa, suamiku mendorongku sampai jatuh dari tangga, tapi dia bilang itu kecelakaan. Apa yang haru aku pernuat?'"


Bahu Daniel mulai berguncang, untuk pertama kalinya sejak Jessica mengenal Daniel ia melihat Daniel mengeluarkan air mata. Air mata sungguhan yang mengalir di wajahnya sembari mendekap putrinya, ia memeluk Estelle dengan erat. Jessica pun menangis, tapi ia tetap berbicara demi putri kecilnya.


Sekilas ia melirik ke arah bundanya, Alice pun ikut menangis mendengar semua yang di katakan oleh putrinya, tapi ia mengangguk ketika mata mereka bertemu, ia seolah mengatakan bahwa dia begitu bangga karena Jessica mengambil keputusan dengan berani seperti yang pernah ia pesankan padanya.


Tatapan Jessica beralih pada adik ipar dan ibu mertuanya, mereka menangis sembari berpelukan. Meski terlihat sangat berat dengan keputusan yang Jessica ambil, keduanya tak berusaha untuk menahan Jessica.


Jessica kembali lagi ke Daniel. "Bagaimana jika..." suaranya pecah oleh tangisan. "Bagaimana jika dia mengadu padamu. 'Suamiku memperkosaku, Papa. Dia juga memukuliku dan menindihku, padahal aku sudah memohon supaya dia berhenti, tapi dia tetap tidak berhenti hingga aku nyaris kehilangan bayi yang sudah aku nanti. Namun tak lama setelah itu dia kembali berjanji dan bersumpah bahkan di hadapan ibunya, tidak akan melakukannya lagi. Apa yang harus aku perbuat, Papa?'"


Daniel mencium kening putrinya berulang kali, air mata membanjiri wajahnya. "Apa yang akan kau katakan pada putri kita, Daniel? Beri tahu aku.aku harus tahu apa yang akan kau katakan pada putri kita jika lelaki yang di cintai dengan segenap hatinua menyakitinya."


Sedu sedan bergema di ruang rawat inap Jessica. Daniel merapatkan tubuhnya ke Jessica dan merangkulnya dengan satu tangan. "Aku akan meminta padanya untuk meninggalkan pria itu," jawabnya di sela tangisnya. Bibirnyamelekat dengan putus asa di kening Jessica, hingga Jessica merasakan airmatanya berjatuhan di pipinya. "Aku akan bilang padanya. 'Estelle, kau lebih berharga dari apa pun. Jadi, tolong tinggalkan pria itu.' Putri kita terlalu berharga, dia tidak boleh kembali pada pria itu."


Mereka berdua hanyut dalam sedu sedan bercampur air mata dan dan hati yang hancur, serta mimpi yang remuk berantakan. Mereka memeluk satu sama lain, mereka memeluk Estelle. Meski ini adalah pilihan yang sulit, Jessica mematahkan pola sebelum pola mematahkannya.


Daniel menyerahkan putrinya ke Jessica, lalu mengusap air matanya. Dia beranjak daei tempat tidur Jessica, sembari berusaha menenangkan napasnya. Dalam lima belas menit terakhir Daniel merasa begitu senang karena telah menjadi seorang ayah dari anak yang ia nantikan, namun dalam lima belas menit itu pula dia kelihlangan cintanya.


Daniel menunjuk ke arah pintu, ia memberi tahu Jessica jika ia ingin keluar sebentar untuk menenangkan diri. Belum pernah Jessica melihat Daniel sesedih itu saat jalan ke pintu, tapi Jessica tahu suatu hari nanti Daniel akan berterima kasih padanya.

__ADS_1


Akan tiba waktunya dimana Daniel akan mengerti, bahwa keputusan yang ia ambil saat ini adalah keputusan yang tepat untuk putri kecil mereka.


Ketika pintu di tutup oleh Daniel, Jessica menunduk memandangi putrinya. Ia tahu ia tidak memberinya kehidupan yang di impikannya. Rumah tempatnya hidup bersama orang tua yang lengkap dan bahagia, yang membesarkannya bersama-sama. Tapi Jessica pun tidak ingin putrinya hidup seperti dirinya dulu. Jessoca tidak ingin Estelle melihat papanya dalam keadaan terburuk. Jessica tidak ingin Estelle melihat papanya dalam kemarahan yang meledak ke padanya sampai tak mengenali sosoknya sebagai ayahnya. Karena sebanyak apa pun kebahagiaan yang Daniel berikan kepada putrinya, menurut pengalamannya bahwa melihat bundanya di pukuli oleh ayahnya itulah yang akan terus melekat dan membuatnya benci dengan ayahnya. Jesssica tidak ingin Estelle membenci Daniel, ia ingin Daniel menjadi cinta pertama putrinya, menjadikan Daniel sebagai sosok panutannya.


Bituh keberanian dan kepediahan yang luar biasa untuk bisa memutuskan pola ini.


Bunda mengalami ini.


Aku mengalami ini.


Terkutuklah aku jika membiarkan anak perempuanku mengalami ini.


Jesscia mencium kening putrinya, seraya berjanji. "Semuanya SAMPAI DISINI."


...****************...


essica melepas pelukan ibundanya setelah Alice lebih tenang, ia beralih menatap Claire dan Grace yang sudah berada di sebelahnya di sisinya yang lainnya. Maaf, aku telah mengecewakan mommy," ucapnya.


Grace menggelengkan kepalanya, ia memeluk Jessica di ikuti Claire yang juga ikut memeluk Jessica. "Tidak sayang, kau mengambil keputusan yang tepat," ucap Grace.


"Seperti yang pernah aku katakan padamu, Jess," sahut Claire. "Aku tidak akan mau bicara padamu jika kau kembali pada kakakku. Aku sangat mengingkanmu sebagai saudaraku, tapi aku lebih menginkanmu bahagia."


Satu tangan Jessica terulur ke lengan Claire. "Tidak akan ada yang berubah, kau adalah saudara perempuan terbaiku, Claire." kemudian tangan Jessica bergeser ke lengan ibu mertuanya. "Dan mommy tetap akan jadi mommy terbaim dalam hidupku."


Tangis Grace semakin pecah, di satu disisi ia tetap menginginkan Jessica tetapa amenajadi menantinya, tapi disisi yang berbeda dan lebih besar jika bahagia Jessica tidak bersama putranya, ia ikhlas melepas Jessica, ia tak ingin Daniel menyakiti Jessica.

__ADS_1


Setelah semua mulai tenang, Jessica mulai menanyakan bagaimana mereka tahu dirinya melahirkan di rumah sakit ini sebab di bulan ke sembilan usia kandungannya, atau setelah ia meninggalkan apartementnya, Jessica mengganti rumah sakit tempat ia memeriksakan kehamilannya.


"Dari asisten barumu, aku tak sengaja mendengar percakapanmu dengannya di telepon." Claire menatap tajam ke arah Jessica. "Kau tahu betapa sulitnya kami mencari informasi di mana kau melakukan persalinan?"


"Aku minta maaf, Claire.." ucap Jessica dengan raut wajah bersalah, ia sebetulnya ingin memberitahu setelah ia merasa tenang, paling lama dua hari setelah ia melahirkan.


Claire tersenyum, ia kembali memeluk Jessica. "Tidak apa-apa," ucapnya, ia kemudian mengucapkan selamat kepada Jessica karena telah resmi menjadi seorang ibu.


...****************...


Hi, readers..


Maaf jika tulisan ini terkesan Jessica lamat sekali dalam mengambil keputusan. Sungguh, menjadi korban dalam tindak KDRT, terlebih dalam kondisi hamil itu bukanlah hal yang mudah. Banyak hal yang harus di pertimbangkan, meski pun Jessica sangat mapan dan mampu memenuhi semua kebutuhan dirinya dan anak dalam kandungannya. Namun ia tak ingin gegabah dalam mengambil keputusan, untuk itulah ia menunggu setelah persalinan agar keputusan yang di ambil telah benar-benar matang dan tidak terpengaruh pada hormon kehamilan.


Lagi pula, berpisah dalam keadaan hamil juga tidaklah mudah. Untuk itulah ia memilih untuk berpisah setelah ia melahirkan.


Pesan moral yang aku mau sampaikan dalam tulisan ini, jika kita sudah melihat tanda-tanda emosional yang berlebihan atau tanda-tanda ringan tangan pada diri seorang pria sejak masih pacaran atau pendekatan. Please RUN... RUN...! Karena jika tetap nekat untuk di lanjutkan bukan hal yang mustahil kejadian itu akan terulang atau lebih parah.


Ada dua tabiat yang sulit untuk di ubah dari dalam diri seseorang, yaitu selingkuh dan ringan tangan. Jika kalian bukan psikolog atau tidak memiliki ilmu tenatang psikologi manusia, jangan nekat untuk melanjutkan hubungan. Tidak ada istilah "Pria akan berubah di tangan wanita yang tepat" terkecuali jika wanita itu memiliki ilmu psikolog.


Itu saja dari aku, semoga tulisan ini bermanfaat, next bab beganti tema MEMULAI BERSMAMU.😊


Jangan lupa untuk terus membaca!


Terima kasih❤

__ADS_1


__ADS_2