
Untuk pertama kalinya sejak Estelle berusia genap satu tahun, Jessica mengizinkan putrinya menginap di kediaman Daniel. Rasanya sungguh sunyi berada di apartement seorang diri, biasanya apartementnya di warnai oleh celotehan-celotehan kecil dari mulut putri kecilnya.
Dering handphone di atas meja kamarnya memecah kesunyian, dengan segera Jessica menyambarnya. Ia sedikit kecewa ketika melihat layar bukan dari Rey, melainkan dari Daniel.
"Bisakah dia makan kentang goreng?" tanyanya sembari mengarahkan handphonenya pada putrinya.
Sebetulnya Jessica tidak suka jika putrinya makan kentang goreng, tapi ia tahu jika Daniel lebih banyak menyetok makanan siap saji ketimbang sayuran segar. "Hanya boleh satu atau dua biji saja," jawabnya, Jessica akan memastikan jika saat bersamanya putrinya akan banyak mendapatkan makanan bergizi.
"Okay, baiklah," Daniel meminta putrinya untuk say good bye dengan ibunya sebelum ia mematikan teleponnya.
Jessica pun tersenyum sembari melambaikan tangannya. "Bye honey, sampai jumpa besok siang, Mama akan jemput di sekolah." Jessica melempar handphonenya di kasurnya bersamaan dengan dirinya menghempaskan tubuh di ranjang setelah Daniel menutup handphonenya.
Bisa di bilang hubungannya dengan Daniel berjalan dengan lancar, mereka kompak dalam mengasuh Estelle bersama-sama, namun ada hal yang Jessica khawatirkan, mengenai hubungannya dengan Rey. Bagaimana jika Daniel melihatku jalan dengan Rey? Apa yang akan Daniel lakukan? Apa mungkin aku terlalu terburu-buru menjalin hubungan dengan Rey?
Sebagian dari diri Jessica ingin menghubungi Claire dan memberitahunya tentang hubungannya dengan Rey, tapi ia tidak bisa. Claire tahu bagaimana perasaan Daniel terhadapnya. Jessica juga tidak bisa menceritkannya pada Bunda, sebab Bunda terlalu sibuk untuk mendengarkan kisah cinta lamanya yang bersemi kembali.
Satu-satunya jalan untuk menumpahkan semua yang ada di benaknya adalah dengan menulis, sudah lama sekali Jessica tidak menulis di blognya. Ia beranjak dari tempat tidurnya untuk mengambil laptop di meja kerjanya.
Dear, Readers.
__ADS_1
Aku kembali lagi... Ya aku dan pahlawan bertopeng bertemu beberapa waktu lalu, dan dari situ kami mulai dekat kembali.
Oh, tunggu dulu... Sebelum kalian mengiraku berselingkuh, aku dan buri-buri sudah bercerai. Aku memutuskan berpisah dengannya setelah melahirkan peri cantik. Jujur saja awalnya aku bingung untuk mengambil keputusan ini, tapi setelah memeluk bayi cantikku aku langsung yakin untuk memutus pola ini.
Ya, peceraian itu menyakitkan. Aku patah hati karena perceraian itu, tapi aku tidak menyesalinya. Meski aku tidak bisa berbohong dan mengatakan aku tidak merindukannya. Sangat sulit rasanya untuk menyingkirkan rasa rindu itu karena aku masih harus berinteraksi dengannya. Dia masih memiliki semua hal terbaik yang membuatku jatuh cinta, dan sekarang setelah kami bercerai aku sama sekali tidak pernah melihat sisi negatif pada dirinya.
Tapi terlepas dari apa pun itu, dia memang harus bersikap menyenangkan, karena jika sekali saja dia bersikap tidak baik, aku akan melaporkannya atas semua insiden kekerasan dalam rumah tangga yang aku alami dulu. Dia bukan hanya kehilangan istri, tapi nantinya hak asuh atas peri cantik akan di cabut darinya.
Saat sidang perceraian berlangsung, pengacaraku dengan lugas mengatakan aku bisa mendapatkan hak asuh tunggal, dengan melaporkan Daniel atas tidak KDRT yang di lakukannya. Tapi aku tidak melakukannya, aku ingin peri cantik tetap mendapatkan kasih sayang dari ayahnya.
Aku memasang sistem keamanan ketat di rumah Daniel, mulai dari penambahan CCTV di setiap sudut yang bisa aku akses 24 jam, dua orang security dan asisten rumah tangga yang mengawasi peri cantik saat bersamanya. Hal itu aku lakukan semata-mata demi keamanan peri cantikku.
Padahal aku tidak mengkhendaki hal itu, aku ingin pindah arah ke pahlawan bertopeng, aku tahu ini terdengar seperti terlalu terburu-buru, tetapi andai kalian tahu betapa mudahnya pahlawan bertopeng untuk aku cintai.
Ada sedikit kekhawatiran dalam benakku atas hubungan ini, bagaimana perasaan buri-buri tentang hubungan baruku? Aku berharap jika suatu saat dia mengetahui kedekatan kami, dia tidak akan cemburu dan memandang pahlawan bertopeng adalah penyebab perceraian kami.
Aku betul-betul bingung pada keputusan, apakah aku akan mengorbankan apa yang aku tahu akan membuatku bahagia demi menghindari perselisihan dengannya? Atau membiarkan Pahlawan Bertopeng mengisi hatiku yang hampa ini? Aku butuh waktu untuk memikirkan semua ini. Aku akan menulis lagi jika aku sudah tahu jawabannya.
Jeje ❤
__ADS_1
Tepat di saat Jessica menutup laptopnya, ia mendengar suara bel berbunyi. Dengan rasa enggan, Jessica bangkit dari tempat tidurnya untuk mengetahui siapa yang malam-malam datang.
"Hai, Mah..."
Jessica terkejut karena Daniel dan putrinyanya-lah yang datang. "Aku merasa tidak seru jika makan sushi sendirian," ia mengacungkan sebuah box berukuran besar. "Aku bawa Nigiri Sushi untukmu."
Tanpa Jesssica mempersilahkannya masuk, Daniel dengan menggendong Estella di dadanya, satu tangan memegang box sushi dan satu tangan lagi memegang anggur merah, menerobos masuk ke apartement Jessica.
Jessica menghela napas panjang. 'Bagaimana aku bisa memulai hubungan dengan orang baru ketika mantanku masih saja membawakanku makan malam dan menerobos masuk ke apartementku? Aku perlu menetapkan batasan yang tegas dengan Daniel.'
Daniel bergabung bersama Jessica di meja makan saat ia selesai menidurkan putrinya di kamar. "Putriku, sungguh menggemaskan sangat tidur," ucap Daniel sembari menarik kursi dan duduk di samping Jessica.
Jessica menyesap minuman sodanya, dan berkata. "Jika begitu menggemaskan kenapa kesempatan bermalam di rumahmu tidak kau manfaatkan saja dengan baik?"
"Maksudmu?"
"Aku berbicara soal privasi," ucap Jessica. "Daniel, kita ini sudah bercerai. Kau tidak bisa lagi datang seenaknya ke apartementku apa lagi sampai menginap, dan kau pun tidak perlu lagi membawakanku makan malam atau makan siang ke butik. Aku bisa masak atau cari makan sendiri!"
Daniel terlihat tegang, dan kesal, tapi ia tak bisa marah dengan Jessica sebab Jessica bisa sewaktu-waktu mencabut hak asuh anaknya dan merubahnya menjadi hak asuh tunggal, hal yang paling di takuti oleh Daniel.
__ADS_1
"Baiklah, terserah kau saja." Daniel menjatuhkan sendok dan garpunya di piring kemudian ia beranjak dari tempat duduknya. "Karena malam ini Estelle tidak jadi menginap di rumahku, besok sore setelah pulang dari kantor aku akan jemput dia di butikmu," ia keluar dari apartement Jessica.