
Jessica mencium aroma roti panggang, ia menggeliat ditempat tidurnya dan tersenyum, karena bunda membuatkan roti panggang kesukaannya. Untuk sesaat Jessica tetap berbaring mengumpulkan segenap tenaganya untuk bangkit dari tempat tidurnya yang nyaman, ia mulai mengayunkan kaki ke samping dan mendorong badannya sendiri agar bisa bangkit dari tempat tidur.
Hal pertama yang ia lakukan sebelum menghampiri bundanya di dapur adalah pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Dokter mengatakan bahwa hari perkiraan lahirnya hanya tinggal satu minggu lagi, sehingga tugasnya saat ini adalah berjalan kaki di sekitaran kediaman bunda dan buang air kecil.
Setelah buang air kecil, Jessica bergegas ke dapur, ia sudah tidak sabar dengan roti panggang buatan ibundanya. Alice yang tengah membuat telur orak-arik membalik tubuhnya ketika mendengar putrinya menarik kursi dan duduk di mini bar. "Pagi sayang," sapanya. "Belum merasakan mulas?"
Jessica menggeleng sembari menaruh tangannya di perut. "Belum, Bunda. Tapi dari malam tadi aku sudah buang air kecil sembilan kali."
Alice tergelak. "Itu sudah tanda-tandanya," ia menyendokan telur ke piring, kemudian menambahkan daging asap goreng dan roti panggang di atasnya. Alice mencondongkan tubuhnya sembari mengulurkan piring, kemudian mengecup kening putrinya. "Bunda, ada meeting penggalangan dana untuk anak-anak korban gempa di Sumatera. Handphone Bunda akan menyala sepanjang waktu, jadi langsung kabari bunda jika ada apa-apa."
Jessica mengangguk sembari tersenyum. "Aku bangga memilikimu, Bunda," ucapnya, suatu saat ia ingin seperti bundanya bisa mmbantu dan bermanfaat untuk banyak orang.
Alice baru jalan beberapa langkah, ia berbalik menghadap Jessica. "Ada yang ingin Bunda sampaikan," ujarnya. "Bunda menunda rencana adopsi anak," ia berpikir memiliki anak adalah tanggung jawab baru, sementara saat ini putri semata wayangnya sangat membutuhkannya. "Bunda hanya akan jadi orang tua asuh." Artinya hanya sebatas membiayai pendidikan dan memantau perkembangannya dari jauh tanpa tinggal satu atap dengan anak tersebut.
Jessica kembali tersenyum. "Aku mendukung apa pun keputusan bunda," ia menekuri makanan di hadapannya setelah bundanya melangkah keluar rumah. 'Okay, hari ini tugasku makan, buang air kecil, jalan-jalan, buang air kecil, makan, buang air kecil, dan menonton TV.'
Tinggal di kediaman bundanya terasa sangat menyenangkan dan damai, tidak ada gangguan dari Daniel dan keluarganya. Walau keluarga Daniel memberi perhatian penuh padanya tapi entahlah ia lebih menyukai perhatian yang di berikan dari ibu kandungnya sendiri.
Rasa malas setelah makan dan menenggak semua vitamin yang di berikan oleh dokter, menghinggapi dirinya. Jessica memilih untuk menonton TV ketimbang berjalan-jalan di halaman, ia meraih toples cemilannya dan membawanya ke ruang keluarga.
Ditengah keasyikannya menyaksikan tayangan Disney kesukaannya, handphone Jessica berdering, ia menjatuhkan kepalanya di sofa. "Uhhhh..." Jessica mengerang, sebab handphonenya berada jauh di dapur sana yang jaraknya empat setengah meter dari ruang keluarga.
Uh.
__ADS_1
Jessica mendorong tubuhnya bangkit dari sofa, namun ia sama skali tak bergerak. Ia mencoba lagi, namun ia tetap duduk di sofa. Akhirnya ia mencengkram lengan kursi dan mengangkat tubuhnya bangkit sofa. Kali ini ia berhasil.
Saat ia berdiri, segelas air tumpah membasahi daster yang di kenakannya. Jessica terkejut sebab ia tak membawa air minum, yang tadi ia bawa dari dapur hanya setoples biskuit gandum buatan ibundanya.
'Aduh gawat.'
Jessica menunduk, dan air masih mengalir di sepanjang kakinya. Handphone Jessica masih berdering di dapur, ia terpaksa berjalan seperti bebek yang berayun ke kanan, dan ke kiri, menuju dapur untuk menjawab teleponenya.
"Ya, Lin?" sapanya pada asisten baru yang ia pekerjaan menggantikan asisten lama yang tengah sakit.
"Hallo, maaf Bu Jess mengganggu waktu anda. Singkat saja, kebaya pesanan Ibu Dewan mengalami sedikit masalah di bagian resleting. Tapi beliau memaksa ingin pakai hari ini juga, apa Bu Jess ada solusi? Bu Claire sedang bingung mencari resleting yang serupa tapi nampaknya dia belum menemukannya," ucap Evelin.
"Ya, telepon toko bahan Sinar Terang. Di sana banyak menyediakan resleting serupa. Tak perlu bayar, kalau perlu kau ambil saja yang banyak. Jika mereka tak memberi gratis, kau sebut namaku, mereka punya hutang banyak denganku."
Jessica ingin menutup teleponnya, agar ia bisa menghubungi bunda untuk memberitahunya jika air ketubannya pecah, namun asisten barunya itu terdengar berseru. "Tunggu, Bu Jess!"
Jessica kembali menempelkan handphonenya ketelinga. "Tentang surat tagihan dari...."
"Kenapa kau tanyakan surat tagihan kepadaku? Kau tanya saja dengan Claire, dia yang akan mengurus pembayarannya," potongnya.
Sekali lagi Jessica ingin menutup teleponnya, namun gadis magang itu kembali meneriakan namanya. "Apa lagi?" tanya Jessica dengan kesal, tapi ia tidak menunggu Evelin menjawab, Jessica langsung berkata. "Serahkan semuanya pada Claire, air ketubanku sudan pecah, aku harus segera ke rumah sakit!"
Ada jeda sebentar, kemudian. "Baiklah, Bu Jess. Aku doakan semoga lancar persalinannya."
__ADS_1
Sebelum Jessica mematikan sambungan teleponnya, ia meminta Evelin untuk tidak mengatakan apa pun kepada Claire soal persalinannya. Jessica ingin melahirkan dengan tenang dan hanya di temani oleh ibundanya saja, meski sebagian hatinya terasa perih karena biasanya semua wanita yang hendak melahirkan pasti berkeinginan di temani oleh suaminya.
Jessica meringis, sembari mulai mencari nomor bundanya pada kontak handphonenya. Alice langsung mengangkat pada deringan pertama.
"Apa Bunda harus putar balik, Sayang?"
"Ya, Bund. Perutku sakit," rintihnya.
"Ya, Tuhan. Sungguh? Kau akan melahirkan, Sayang?"
"Iya Bund."
Jessica mendengar suara decitan ban mobil, sepertinya ibundanya langsung putar arah, kemudian sambungan terputus. Sembari menunggu Bundanya kembali, ia menghubungi rumah sakit, lalu mengambil tas yang sudah ia siapkan beberapa hari sebelumnya, tak lupa Jessica juga mengganti daster bolongnya dengan pakaian yang layak agar ia tak terlihat seperti gembel. Bagi Jessica, sebagus apa pun pakaian yang ia buat, favoritenya saat di rumah terlebih ketika hamil besar, daster bolong merupakan pakaian terbaik.
Bunda tiba saat Jessica telah siap di depan teras, ia keluar dari mobil dan menghampiri putrinya. "Bagaimana, sayang?"
"Hilang kontraksinya, tapi tadi sakit sekali."
"Ya sudah kita sekarang ke rumah sakit," Alice menaruh koper di bagasi, sementara Jessica berjalan dengan perlahan masuk ke mobil.
Jessica kembali mengalami kontraksi ketika mobil mulai melaju menuju rumah sakit. "Apa kau tidak ingin menghubungi suamimu?" tanya Alice. "Bukan Bunda tidak bersedia menemanimu, hanya saja kau masih istrinya dan bayi ini anaknya."
Jessica menggelengkan kepalanya, dalam benaknya ia berjanji apa pun keputusan yang akan ia ambil nanti, setelah persalinan ini, ia akan pergi dari rumah bunda. Jessica tidak bisa terus-menerus merepotkan bundanya, ia sudah cukup dewasa untuk harus bisa menghadapi masalah yang terjadi di hidupnya.
__ADS_1
Mereka berhasil sampai di rumah sakit, saat jarak kontraksi Jessica hanya hanya berjarak satu menit. Setelah dokter memeriksanya, ternyata Jessica sudah pembukaan sembilan, dan siap untuk melahirkan.