
"Bagaimana kalau kau mulai dengan 'Aku meminta maaf karena telah menyerang dan mempekosamu.'"
Seketika Daniel menoleh ke arah Jessica, matanya mebelalak menatap Jessica tajam. "Jessica kau tidak tahu apa yang aku rasakan selama ini, aku benar-benar tersiksa setiap kali aku mengingat apa yang aku perbuat kepadamu."
Jessica menggertakan gigi, ia meremas pinggiran sofa dengan kencang. Aku tak bisa membayangkan apa yang Daniel rasakan selama ini setelah kejadian itu.
Jessica menggeleng perlahan. "Kau yang tak bisa membayangkan apa yang aku rasakan setelah kejadian malam itu, Daniel!!" kemarahan dan kebencian meluap dalam dirinya.
Jessica berdiri dan menudingnya. "Kau tak bisa membayangkan bagaimana hari-hariku setelah kejadian malam itu! Bagaiamana takutnya aku tewas di tangan suamiku sendiri, padahal malam itu aku ingin memberiku kejutan mengenai kehamilanku, tapi kau mengacaukan semuanya hanya karena kau melihat tayangan gosip murahan itu!"
Jessica menarik napas panjang, ia sendiri terkejut atas reaksi yang ia keluarkan, kemarahan ini mendadak muncul bagai gelombang yang tak bisa ia tahan. Jessica membalik badan karena tak sanggup memandang Daniel.
"Jess," ujarnya. "Aku tidak..."
__ADS_1
"Diam!" teriaknya, berbalik menghadap Daniel lagi. "Aku belum selesai, kau boleh bicara setelah aku mengeluarkan semuanya."
Daniel mencengkram rahang, meremasnya dengan tegang. Daniel mengarahkan pandangannya ke lantai karena tak sanggup memandang Jessica. Jessica mJu dua langkah untuk mendekatinya, ia meletakan dua tangan di pahanya untuk memkasa Daniel menatapnya. "Ya, buku itu pemberian Rey sewaktu dia datang ke butik untuk memesan gaun pengantin adiknya, tapi aku sama sekali tidak tahu jika buku itu ada di tumpukan buku fashionku. Yang kemungkinan besar alasannya asistenku sendiri yang menumpuknya dan menaruhnya ke paper bag yang akan aku bawa pulang. Ya, aku satu pesawat dan mengobrol dengan Rey sewaktu kami pulang dari Osaka. Tapi kita membicarakan akhir cerita kita, agar kita bisa sama-sama melewati hidup masing-masing. Aku tidak tahu jika ada fansnya yang dengan sengaja memotret kami. Ya, cerita pada novel dan film kemarin sama dengan cerita cinta kami, sebab aku-lah yang menulisnya. Aku meminta Lady Rose menulis ulang dengan gaya bahasanya. Dan Ya, Rey masih ada di dalam lubuk hatiku dan selamanya aka tetap ada, tapi itu tak memberimu hak untuk kau melakukan itu padaku, bahkan kalau kau memergokiku seranjang dengan Rey pun kau tak berhak menganiyayaku! Dasar kau lelaki bajingan!!"
Jessica bertumpu pada lutut Daniel untuk berdiri tegak. "Sekarang giliranmu, bicar-lah," teriaknya.
Jessica terus hilir mudik di hadapan Daniel, ia merasakan jantungnya berdebar begitu kencang. Beberapa menit berlalu, sementara Jessica hilir mudik Daniel hanya diam memnadangi istrinya.
Jessica begitu lelah merasakan semuanya, ia ambrug di sofa di samping Daniel. Ia membenamkan wajahnya di bantal yang berada di pangkuannya, Jessica menangis sampai napasnya sesak.
"Kau duniaku, Jess. Duniaku. Saat terbangun pada malam itu, aku melihatmu tidak ada di sisiku lagi. Aku langsung mengecek CCTV, kau pergi bersama Rey. Saat itu juga aku langsung tahu aku tidak akan mendapatkanmu lagi, kau pasti akan lebih memilihnya di bandingkan aku. Tapi Jess.." Daniel mendekatkan bibirnya ke kepala Jessica, ia menghembuskan napas hangat. "Aku tak bisa melepaskanmu, ada bagian dariku yang tumbuh di rahimu, dan kamu tahu aku begitu mencintai dan menginginkannya lebih dari apa pun di dunia ini." suara Daniel pecah, ia memeluk Jessica dengan erat.
Rasa sakit dari suaranya mengoyak hati Jessica. Saat Jessica mengankat wajahnya yang penuh dengan air mata untuk menatapnya, Daniel mendaratkan bibirnya di bibir Jessica. "Aku mohon, Jess. Aku begitu mencintai kalian. Bantu aku, aku mohon." bibirnya memagut bibir Jessica.
__ADS_1
Dua kali, tiga kali. Daniel merengkuh Jessica dalam dekapannya. Tubuh Jessica masih mengenali bagaimana tubuh Daniel bisa begitu menghangatkannya selama ini, tubuhnya begitu mendamba pelukan Daniel selama masa kehamilan ini.
"Aku mencintai kalian," bisiknya di bibir Jessica. "Mari kita ulangi semuanya demi buah cinta yang telah kita nantikan, sayang." bibir Daniel menyapu lembut bibir Jessica.
Rasanya begitu nikmat, hingga Jessica tak bisa menolak kehangatan yang Daniel tawarkan. Ciuman Daniel semakin lama semakin dalam, tangannya bergerak naik ke rambut Jessica dan menggenggamnya. Seketika hal itu membangkitkan rasa traumanya, saat malam itu Daniel menjambak rambutnya hingga kepalanya terasa sangat sakit.
Daniel melepaskan ciumannya, bibirnya turun ke leher Jessica. Ingatan akan Daniel mengoyak lehernya terbayang jelas dalam benaknya, hingga Jesscia tak bisa lagi menahan rasa ketakukannya. Dengan sekuat tenaganya, ia mendorong Daniel hingga terjatuh ke lantai. "Pergi kau dari dini!" teriaknya histeris.
Daniel mengangkat tangannya. "Demi Tuhan, aku tidak akan menyakitimu, Jess," ucapnya memelas. "Aku merindukanmu sayang."
Jessica menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Pegii.. Atau aku akan menghubungi polisi," ancam Jessicam ia menjadi semakin tak terkendali.
Dengan buru-buru, Daniel beranjak dari tempatnya. "Baiklah aku akan pergi, tapi tolong kamu tenang-lah," ia mundur beberapa langkah menuju pintu keluar, Daniel begitu terlihat terluka karena Jessica jadi takut dengannya. "Aku pergi, Jess.. Kau tenang-lah."
__ADS_1
"Aku berharap kita bisa bicara lagi, kau boleh katakan apa yang membuatmu tak nyaman dan apa yang boleh aku lakukan untukmu," ucap Daniel, ia membuka pintu depan dan bersiap pergi dari apartement Jessica.
"Andai bayi ini bukan anakmu, Daniel. Hanya itu yang aku mau sekarang." Jessica berharap dengan kalimat itu akan menyakiti Daniel, seperti Daniel menyakitinya. Tapi nyatanya, hati Jessica pun terluka dengan kata-katanya sendiri, ia kembali membenamkan wajanya di bantal ketika Daniel pergi dan menutup pintu apartemenya.