SAMPAI DISINI

SAMPAI DISINI
BAB 8


__ADS_3

Setelah satu minggu di rawat di rumah sakit, akhirnya Jessica sudah di perbolehkan pulang. Awalnya Daniel tidak mengizinkan Jessica untuk langsung ke butik, namun Messica terus merengek, ia sudah teramat rindu dengan kain, benang yang bertebaran di ruang produksinya.


Jessica juga rindu dengan deretan baju yang terpajang di bagian depan butiknya, yang 65% merupakan rancangannya. Jessica sudah tidak sabar melihat raut wajah penuh kepuasan dari pelanggannya ketika mereka fitting baju untuk di kenakan di hari bahagianya.


Dengan banyak wejangan, Daniel pun membolehkan Jessica untuk datang ke butiknya. Jessica begitu senangndan berterima kasih karena Daniel telah membolehkannya ke butik.


Di hari pertamanya ke butik setelah satu minggu di rawat, Jessica melihat banyak perubahan di butiknya. Baju-baju di depan mulai terlihat kosong, kebanyakan pembelinya membeli baju yang tersedia sebab tak bisa langsung bertemu dengan Jessica.


Jessica pun menyayangkan hal itu, tapi nilai plusnya adalah ia jadi fokus mengerjakan design pakaian milik anak pejabat daerah Riau. Dan hari ini, dalam akun sosial medianya, Jessica memberitahukan bahwa dirinya sudah ada di butik, ia siap menerima pelanggannya yang ingin berkonsultasi atau pun membuat baju untuk hari bahagia mereka.


Kurang dari tiga puluh menit setelah ia mengumumkan di sosial mendianya, Jessica langsung di datangi oleh pelanggannya. Pelanggannya kali ini cukup unik sebab ia ingin menggelar acara pernikahan bertemakan vintage tahun 60an. Jessica langsung teringat pada ibu mertuanya, ia pernah melihat foto pernikahan ibu mertuanya mengenakan gaun vintage ala eropa.


Setelah pelanggannya pergi, ia pun langsung menghubungi ibu mertuanya untuk berkonsultasi dengannya.


"Hi, mom?" sapa Jessica saat ibu mertuanyanya mengangkat telepon darinya.


"Hi, sayang," jawab Grace. "Bagaimana keadaanmu? Claire bilang kamu masuk rumah sakit, maaf ya mommy tidak sempat menjengukmu. Darah tinggi Mommy kumat, Daddy melarang Mommy untuk terbang ke Jakarta."


'Mommy tahu aku di rawat di rumah sakit? Apa mommy tahu penyebab aku masuk rumah sakit?' batin Jessica.

__ADS_1


"It's okay mom, aku sudah lebih baik, bahkan aku sudah kembali ke butik."


"Puju Tuhan, Mommy selalu berdoa untukmu setiap kali mommy ke gereja."


Ya Jessica tahu, bahwa ibu mertuanya ini sangat religius. Grace bahkan tidak pernah Bsen ke Gereja setiap hari minggu meski hujan badai, ia tetap pergi ke Gereja. "Terima kasih, mom." terkadang Jessic merasa malu dengan ibu mertuanya, ia merasa menjadi menantu yang kurang beriman, yang jarang sekali datang ke Gereja.


"Jangan capek-capek ya sayang, di jaga juga pola makannnya agar kamu tidak lagi terkena asam lambung."


Asam lambung? Jadi Claire mengatakan aku terkena asam lambung? Jessica penasaran apa reaksi ibu mertuanya jika dia tahu bahwa dirinya masuk rumah sakit karena perbuatan anaknya. Siapakah yang akan dia bela? menantunya? Atau dia akan tetap berpihak pada putra kesayangannya?


"Nanti Mommy akan kirimkan madu khusus untuk asam lambung, ini madu langsung dari cina, turun temurun dari nenek moyang mommy. Pokoknya kamu harus minum."


"Baik, mom," ucap Jessica. "Sebetulnya aku menghubungi mommy untuk menayakan gaun vintage yang mommy kenakan dulu saat mommy menikah. Aku butuh inspirasi mom."


"Terima ksih banyak mom, kau memberiku banyak ide. Kalau begitu akan segera aku kerjakan pesanan pelngganku."


"Iya sayang, kau boleh memberikan hasil gambarmu jika kau masih membutuhkan saran mommy."


"Tentu saja mom, bye.." Jessica menutup sambungan teleponnya.

__ADS_1


Satu hal lagi yang memhuat Jessica berat untuk meninggalkan Daniel adalah, ia begitu dekat dengan ibu mertua dan adik iparnya. Kebanyakan wanita menikah, memiliki masalah atau kurang cocok dengan ibu mertua dan ipar wanita. Tapi tidak dengan dirinya, orang tua Daniel begitu menyayanginya dan ia pun sudah menganggap mertuanya seperti orangtua kandung sendiri.


Jessica menyelesaikan designnya hingga pukul 15.00 sore, ia tak menyadari jika sedari tadi Daniel sudah menunggunya di butik. "Oh maaf sayang, aku hanya tinggal menyelesaikan bagian akhirnya saja."


"It's okay baby. Tidak perlu buru-buru, aku akan menunggu." Daniel bersandar pada sofa sembari mengakat handphonenya, ia memilih untuk bermain games.


Inilah yang Jessica harapkan dari hubungan ini, satu sama lain saling ,engerti dan memberikan dukungan, ia pun akan selalu memberikan dukungan penuh pada karir dan mimpi suaminya.


Pukul 16.30, Jessica telah menyelesaikan gambarnya, ia bergegas membereskan barang-barangnya dan pulang bersama suaminya. Di perjalanan, Jessica nampak heran sebab Daniel membawanya bukan ke rumah mereka, melainkan ke arah rumah Claire. "Apa Claire mengndang kita?" tanyanya heran sebab tadi di butik Claire tak mengatakan apa pun.


Daniel menggeleng. "Nanti kau akan tahu sayang."


Du puluh menit kemudian Daniel menepikan kendaraannya di rumah Eropa dengan taman depan yang sangat luas. "Welcome New Home, babe." ia mempersilahkan Jessica untuk masuk.


Jessica nampak bingung melihat sekeliling. "Kau membeli rumah baru, Daniel? Kenapa kau tidak membicarakan ink sebelumnya?" tanya Jessica seakan ia merasa telah di bohongi oleh Daniel.


"Loh memangnya kenapa sayang?"


"Aku pikir sebagai sepasang suami istri seharusnya kita berdiskusi terlebih dahulu sebelum membeli barang-barang mewah."

__ADS_1


Daniel menghembuskan napasnya pelan, ia pun sebetulnya sepakat dengan pendapat Jessica, bahwa sebagai sepasang suami istri harus ada keterbukaan soal penggunaan keuangan. "Kau janji hanya kali ini saja. Ini sebagai wujud, kita memulai kembali rumah tangga yang lebih indah, kita kubur kenangan mengerikan yang kemarin terjadi dan lagi sebentar lagi aku kan mau ke Osaka. Aku tidak ingin kau kesepian, rumah Claire hanya beda dua rumah dari rumah kita, kau bisa kapan pun ke sana." Ia merentangkan tangannya. "Bagaimana kau suka dengan rumh ini?"


Sebetulnya tidak ada yang salah dengan rumah itu, rumah itu terlihat megah dan mewah. Ini hanya masalah selera, Jessica lebih suka rumah tepi pantai dengan lemandangan laut yang biru ketimbang kebun yang luas yang ia sendiri tak tahu kapan memiliki waktu untuk berkebun atau mau di tanami apa kebun itu, tapi Jessica tetap menghargai pemberian dan usaha Daniel untuk menyenangkan hatinya. "Ya aku suka," jawab Jessica sembari tersenyum.


__ADS_2