
Bunda menangkup tangan Jessica, dan memijat ibu jarinya maju mundur. "Aku tahu apa yang kau maksud, sayang. Tapi satu hal yang perlu kau ingat, jangan sampai kau kehilangan batasanmu. Tolong, jangan biarkan itu terjadi."
Jessica terlihat bingung dan tak mengerti maksud ucapan bundanya, sehingga Alice menjelaskannya dengan lebih rinci. "Kita semua punya batasan toleransi. Sebelum menikah dengan ayahmu, bunda tahu persis apa batasan bunda. Tapi perlahan... Setiap kejadian kekerasan itu terjadi... Batasan yang bunda miliki terdorong sedikit lebih jauh, dan sedikit lebih jauh lagi. Saat pertama kali ayahmu memukul bunda, dia langsung menyesal, dia langsung bersumpah tidak akan mengulanginya lagi. Saat kedua kalinya memukul, dia lebih menyesal lagi. Saat ketiga kalinya hal itu terjadi, itu bukan sekedar pukulan, melainkan hajaran yang bertubi-tubi. Di setiap kejadian itu terjadi, bunda menerimanya kembali karena berharap dia akan berubah dan menyesali perbuatannya. Tapi sayangnya harapan hanya tinggal jarapan, kejadian itu kembali terulang, namun hanya berupa tamparan, bunda merasa lega, dan bunda berpikir 'Paling tidak kali ini dia tidak menghajarku, ini tidak terlalu buruk.'"
Alice meraih tisu untuk mengusap matanya, kemudian berkata. "Setiap insiden mematahkan sedikit batasanmu, setiap kali kau memutuskan untuk bertahan, itu membuatmu semakin berat untuk pergi. Lama-kelamaan kau kehilangan seluruh batasanmu karena kau mulai berpikir. 'Aku sudah bertahan sejauh ini, apa sulitnya untuk bertahan lagi?'" Alice menggenggam tangan Jessica, sementara Jessica menangis tersedu-sedu. "Jangan jadi seperti bunda, sayang. Bunda tahu kau mencintai Daniel, dan Daniel pun mencintaimu. Tapi dia tidak mencintaimu dengan cara yang benar, dia tidak mencintaimu dengan cara yang pantas kau dapatkan. Jika dia benar-benar mencintaimu, dia akan membuat keputusan untup pergi darimu tanpa di minta, agar dia bisa menjamin bahwa dia tidak akan bisa menyakitimu lagi. Itulah yang di namakan cinta, Jess."
Jessica menarik bundanya ke dalam pelukannya, ia begitu salah menilai bundanya. Tadinya ia berpikir jika bundanya akan membela Daniel dan memintanya untuk memaafkan pria yang telah menyakitinya tapi nyatanya tidak. "Bunda," ujarnya sembari melepaskan diri dari pelukan ibundanya. "Kau sungguh wanita yang sangat kuat, aku bangga sekali memilikimu."
Alice merangkum wajah putrinya, ia menyingkirkan helai demi helai yang menutup wajahnya. "Jadilah wanita yang berani dan percaya diri."
...****************...
Hari demi hari berlalu sejak ia datang ke kediaman ibundanya, sejak saat itu Jessica merasa lebih tenang dan lega. Kini usia kandungan Jessica sudah memasuki bulan ke sembilan, ia sudah tidak lagi ke butik, semuanya ia serahkan pada Claire. Hanya sesekali ia mendesign itu pun hanya pelanggan-pelanggan tertentu dan ia kerjakan di rumah.
Hari itu Jessica di buat bingung oleh Claire, karena mendadak dia meminjam mobil padanya dengan alasan yang tak jelas. Bukan Jessica tak ikhlas meminjamkan mobilnya kepada Claire, tapi Jessica tahu jika Claire memiliki deretan mobil mewah di garasinya, jadi untuk apa dia me injam mobil bututnya.
__ADS_1
Jessica tak mau ambil pusing dengan hal itu, ia memilih untuk melukis di dinding kamar calon buah hatinya. Ia memilih tema Zoo yang ia anggap netral, sebab hingga detik ini ia sama sekali belum mau mengetahui jenis kelamin bayi yang di kandungnya.
Di tengah ke asikannya menlukis, tiba-tiba Claire kembali, ia menarik tangan Jessica ke basement. Claire memberikannya dua kejutan, yang pertama Claire memodifikasi kendaraan Jessica, dengan memasang car seat untuk bayi Jessica, dan kedua Jessica kedatangan ibu mertuanya.
Grace belum mengetahui apa yang terjadi dengan Jessica dan Daniel, sebab Jessica melarang Claire untuk cerita kepada ibu mertuanya. "Oh menantuku sayang," Grace memberikan peluk dan cium hangatnya untuk Jessica. "Mommy sengaja datang ke Jakarta untuk menemanimu persalinan nanti," ia begitu bahagia menyambut kehadiran bayi dalam kandungan menantunya.
"Apa aku bukan menantu kesayangan mommy?" protes Harry, sembari membawakan oleh-oleh yang di bawakan Grace untuk Jessica, mereka semua berjalan menuju lift dan kembali ke unit apartement Jessica.
"Hei, kau ini bicara apa?" sahut Claire, sementara dirinya menggendong Dania, bocah itu nampak bergerak aktiv dalam gendongan ibundanya, apa pun di dekatnya mencoba ia raih termasuk rambut ibunya. "Bagaimana kau mau di sebut menantu kesayangan, sejak awal saja kau menculikku agar orang tuaku mau memberi restu untukmu masuk ke keluarga kami."
Harry mengerutkan keningnya. "Aku tidak menculikmu," ia menggelengkan kepalanya dan beralih ke ibu mertuanya. "Dengar mom, Claire yang menyerahkan diri untuk aku culik dan berpura-pura..."
"Sudah-sudah kalian ini," Grace berdiri diantara Claire dan Harry. "Semuanya kesayangan mommy. Titik." Meski ia mengatakan bahwa semua adalah kesayangannya namun gesture tetap tak bisa berbohong, ia lebih condong kepada Jessica, mengapa tidak. Dulu ia berpikir bahwa putranya tidak akan menikah apa lagi punya anak, tidak ada yang mau dengan pria temprament seperti Daniel, tapi Jessica mampu merubah Daniel, bahkan sebentar lagi mereka akan segera memiliki bayi, untuk itulah ia begitu menyayangi Jessica dan rela terbang dari Surabaya untuk menunggu kelahiran cucu tercintanya.
"Tapi ngomong-ngomong kenapa kamu tinggal di apartementmu lagi, Sayang? Setahu Mommy, Daniel memberimu apartement dan rumah."
__ADS_1
Jessica terdiam, ia tak mungkin mengatakan jika kedua tempat tersebut memiliki memory yang mengerikan yang di ukir oleh Daniel. "Entahlah, mom. Mungkin ini karena hormon kehamilan, aku ingin sekali tinggal di sini," dusta Jessica.
"Ya jika itu keinginan bayimu," pintu lift terbuka, mereka keluar bertepatan dengan Daniel yang hendak masuk ke lift.
Jessica tak dapat menyembunyikan rasa gugup dan keterkejutannya. 'Mengapa dia tiba-tiba ada di sini? Mau apa dia di apartement ini?' tanyanya dalam hati.
"Oh, hai," sapa Daniel seolah tak terjadi apa-apa. "Apa kabar mom?" ia memeluk dan mencium Grace. "Kapan kemari? Kenapa tidak bilang jika mommy mau ke Jakarta, aku akan menjemput mommy."
"Mommy kemari untuk Jessica, Mommy ingin menunggu proses kelahirannya, sebab Claire bilang kau masih sibuk di Osaka," mereka berjalan ke arah unit apartement Jessica.
Jessica sendiri masih nampak gugup, ia terus menunduk tak berani menatap Daniel. Tapi jantungnya berdegup kencang, ia berdoa semoga ibu mertuanya tak mengetahui jika dirinya dan Daniel tidak tinggal satu atap lagi.
"Pekerjaanku di Osaka memang masih banyak, tapi tidak ada yang lebih penting dari Jessica dan bayiku," jawabnya, ia melirik ke arah Jessica yang sedang merogoh kantongnya untuk menemukan acsess card.
"Aku sampai membeli satu unit di sebelah unit apartement Jessica untuk memudahkanku mengawasi Jessica."
__ADS_1
Tanpa sadar Jessica melepas acess card itu dari tangannya, ia berusaha menutupi semuanya dari ibu mertuanya, tapi sekarang malah di buka sendiri oleh anaknya.
"Apa maksudmu membeli apartement di sebelah?" tanya Grace.