
Ini adalah malam kedua Jessica bermalam di kediaman Rey, ia berbaring dan memandangi langi-langit. Kediaman Rey begitu nyaman, setiap sudutnya merupakan rumah idaman yang selama ini ia impikan, tapi entah mengapa ada rasa yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata ketika ia mengingat Daniel. Ia merasa sedih dan marah.
Berulang kali Jessica meletakan kedua tangannya di perut, ia merasakan ada gelombang cinta datang. Ia sama sekali tak mengerti bagaimana ia bisa langsung mencintai sesuatu sebesar ini, tapi kenyataannya demikian.
Jessica berpikir apakah bayi ini nantinya laki-laki atau perempuan, dan akan ia beri nama apa? Ia penasaran apakah nantinya bayi ini akan mirip dirinya atau Daniel? Mendadak rasa kemarahan datang dan menghancurkan gelombang cinta tadi. Jessica merasa kebahagiaan atas kesuksesan program kehamilannya, telah di rampas oleh Daniel kemarin malam, dan itu membuatnya membenci Daniel.
Pukul 12.00 Jessica mendengar suara pintu kamarnya di ketuk, dan ia mendengar Rey membuka pintu untuk memeriksa keadaannya, tapi Jessica pura-pura tidur. Sebenarnya ia merasa canggung berada di kediaman Rey.
Rey-lah alasan Daniel marah padanya kemarin malam, tapi Rey juga yang ia datangi saat ia butuh pertolongan, berada di kediaman Rey membuatnya merasa bersalah, bahkan ia sedikit malu, seolah teleponnya pada Rey kemarin malam membuktikan bahwa kemarahan Daniel memang beralasan.
Tapi Jessica benar-benar tak memiliki tempat lain yang bisa ia datangi, sementara dirinya butuh waktu berpikir dan menenagkan diri, dan jika ia tinggal di hotel, Daniel bisa melacaknya melalui tagihan kartu kredit dan menemukannya. Daniel juga bisa menemukannya di rumah Bunda, Claire dan pegawai butiknya
Tapi Jessica tidak bisa membayangkan jika Daniel akan melacak rumah Rey, media pasti akan sangat heboh. Tapi kemungkinan hal itu sangat kecil mengingat sistem keamanan rumah Rey begitu ketat. Itulah alasannya mengapa Jessica masih di kediaman Rey, ketimbang mendatangi kkeluarga atau kerabatnya.
Jessica melirik handphonenya yang kemarin ia letakan di meja, ia mengambilnya. Jessica melewati semua chat dari Daniel dan membuka chat dari Claire.
__ADS_1
Claire:
Hi, Aunty Jess. Aku akan pulang besok pagi dari rumah Eyang, mampirlah ke rumah kami besok sore, setelah pulang kerja, aku sudah merindukanmu.
Claire mengirimkan foto dirinya bersama dengan Dania dan ibu mertuanya, foto itu membuat Jessica menangis, betapa ia sangat menyayangi ke tiganya.
Jessica menghapus air matanya, ia pergi ke dapur untuk mengambil sesuatu yang bisa ia makan, sebab menangis menguras banyak energinya. Jessica terkejut ketika mendapati Rey tengah duduk di mini bar dapur, sembari memperhatikan laptopnya.
"Hei." Jessica berusaha tersenyum. "Aku lapar," ucapnya dengan jujur.
Jessica mengangguk, menuruti perintah Rey. Lagi pula duduk di bangku kayu meja makan membuat badannya sakit. Jessica bersantai di sofa sementara Rey sibuk di dapur, ia melihat beberapa DVD film yang di bintangi oleh Rey berserakan di meja. Jessica tersenyum, memutar salah satu DVD itu.
Tak lama kemudian Rey datang dengan sepiribg pasta dan segelas jus untuk Jessica, ia melirik ke arah TV kemudian duduk di sebelah Jessica. Selama dua jam berikutnya mereka menonton film horor yang Rey perankan.
Rwy bersandar ke belakang dengan dua kaki berselonjor ke meja, secara alamiah Jessica nersandar ke badan Rey, persis seperti kebiasaannya waktu mereka masih berpacaran, Rey merengkuh Jessica ke dadanya dan mereka duduk diam tanpa bicara. Ibu jarinya mengusap bagian luar bahu Jessica, dan Jessica tahu itu adalah cara Rey memberitahu dirinya bahwa dia ada untuknya. Bahwa dia merasa sedih atas apa yang menimpa Jessica dan ia ingin membahasnya.
__ADS_1
Kepala Jessica bersandar di bahunya, ia memain-mainkan pakaian tidur Rey yang kebesaran di tubuhnya. "Rey," ujar Jessica dengan suara lirih. "Maaf atas kejadian di rumah sakit. Kau benar..." ia mendongak dan menatap Rey memaksakan seulas senyuman sedih. "Kau boleh bilang 'Kubilang juga apa' sekarang."
Alis Rey Bertaut. "Jess, ini bukan sesuatu yang ingin aku buktikan. Aku berdoa setiap hari semoga aku keliru tentang dia. Lagi pula kau istrinya, aku tetap tidak boleh membawamu pergi. Aku bukan bermaksud menyuruhmu pergi..."
"Aku mengerti, Rey." potong Jessica. "Besok aku akan ke butik, dan setelah itu mungkin aku akan tinggal di apartement."
Rwy memegang bahu Jessica. "Jangan Jess! Aku takut dia melukaimu lagi terlebih kau sedang hamil, izinkan aku menjagamu Jess, " pinta Rey, dari matanya terpancar jelas rasa ke khawatiran.
Jessica menggelengkan kepalanya. "Tidak, Rey. Aku tidak ingin masalah semakin ruyam jika Daniel mengetahui aku bersamamu, sebab..." Jessica menceritakan alasan mengapa Daniel menyakitinya, Daniel menonton tayangan wawancara Rey di gala premier film terbarunya, di tambah dengan film tersebut mirip dengan kisah cinta mereka, dan tersebarnya foto-foto mereka di pesawat.
Rey menghembuskan napas beratnya, ia tak menyangka jika apa yang dia ucapkan kepada wartawan memberikan efek buruk kepada Jessica padahal Rey sama sekali tak menyembutkan nama Jessica. Untuk alur film yang mirip dengan kisah cintanya bersama Jessica, ia pun sama sekali tak mengerti, tugasnya hanya memerankan sesuai dengan naskah yang ia terima, dan mengenai foto-foto mereka di pesawat, Rey sudah menemukan pelakunya dan sedang dalam proses hukum.
"Jessie, apa pun itu. Dia tetap tidak berhak menyakitimu, terlebih kau sedang mengandung."
"Dia tidak tahu aku sedang mengandung," Jessica juga menceritakan mengenai program kehamilan yang ia jalani bersama Daniel dan rencana pemberian kejutan untuknya yang malah berakhir petaka bagi hidup Jessica. "Sekarang aku sudah tidak berniat memberi tahunya," buliran-buliran bening kembali membasahi wajahnya, tumbuhnya kembali gemetar mengingat betapa Daniel menghancurkan hatinya di saat seharusnya mereka tengah berbahagia atas kehamilan yang telah di nantikan.
__ADS_1
Rey pun mendari jika Jessica terus berada di sini tentu akan semakin memperburuk masalah. "Aku akan mengantarmu ke butik," Rey mengelus lengan Jessica dengan lembut. "Kabari aku jika ada apa-apa, aku akan datang kapan pun kau membutuhkanku."