
Meski tadi siang ia telah meminta maaf secara langsung, namun malam harinya Jessica tetap di hantui oleh rasa bersalah pada Rey karena telah menguncinya di lemari.
Ia meraih handphonenya di meja rias kamarnya, untuk menghubungi Rey. Pada deringan ke dua, Rey mengangkatnya. Rey merubah panggilan suara menjadi panggilan video agar ia bisa melihat wajah Jessica. "Apa ada yang mengganggumu?" ia melihat raut gelisah pada wajah Jessica.
"Aku hanya ingin minta maaf soal tadi siang, aku benar-benar..."
"Sudahku katakan, aku mengerti," potong Rey, ia tampak bersikap santai dan tenang. "Apa malam minggu ini kau ada acara?"
Pertanyaan Rey membuat Jessica tersenyum, ia menenggelamkan wajahnya di selimut, agar Rey tak melihat wajahnya yang memerah. "Apakah kamu mengajakku kencan?"
"Bisa di bilang seperti itu," jawabnya. "Kebetulan aku sedang libur syuting."
Perlahan Jessica menganggukan kepalanya, kemudian mereka berdua pun tersenyum. Tapi kemudian Rey berdehem. " Boleh aku bertanya sesuatu yang lenting?"
"Oke." Jessica mencoba menyembunyikan kegugupanya atas apa yang akan Rey tanyakan.
“Apakah kedekatan kita menjadi masalah bagi Daniel?”
Jessica bahkan tidak ragu untuk menjawabnya. "Ya."
"Mengapa?"
“Dia tidak menyukaimu.”
"Dia tidak menyukaiku atau dia tidak menyukai pria mana pun yang berpotensi kamu kencani?"
Jessica mengerutkan hidungnya. "Semua. Tapi khususnya kamu.”
"Karena perkelahian di rumah sakit?"
“Karena banyak hal,” Jessica mengakui, ia berguling telentang dan memindahkan handphonenya. "Dia menyalahkan sebagian besar pertengkaran kami padamu."
Rey terlihat bingung, sehingga Jessica menjelaskan tanpa membuat Rey menjadi tidak nyaman. “Film adaptasi dari novel Lady Rose yang kau perankan tahun lalu, memiliki kemiripan dengan kisah masa lalu kita, itulah pemicunya."
__ADS_1
"Come on, Jessie. Itu hanya sebuah film, hanya kebetulan saja."
Jessica menyalakan laptopnya, ia membuka blog yang selama bertahun-tahun ia tulis, dan memperluhatkannya ke Rey. "Itu tidak kebetulan, Rey. Aku yang mengirim email kepada Lady Rose dan memintanya untuk menulis ulang kisah kita dengan gaya bahasanya karena tadinya aku pikir buku itu bisa menjadi kenang-kenangan akhir cerita kita."
Rey menganga, ia tak menyangka jika tahun lalu dirinya benar-benar memerankan sosok dirinya sendiri, dan pantas saja ia tak mengalami kesulitan untuk pendalaman karakter, bahkan ia seperti tak sedang acting karena ternyata ia memerankan dirinya sendiri.
Rey menghembuskan napasnya. "Okay baiklah, tapi kisah kita sudah lama berakhir dan kita tidak pernah berkomunikasi lagi setelah kau kuliah di Amerika."
"Kecemburuan tampaknya tidak memiliki tanggal kedaluwarsa," ujar Jessica.
Rey menekan bibirnya menjadi garis tipis sejenak, seolah dia berusaha menekan rasa frustrasinya. “Aku mengerti. Ini adalah posisi yang sulit untukmu," ia menatap Jessica lekat-lekat. "Kita akan melakukannya selangkah demi selangkah, oke?"
"Satu langkah yang sangat lambat pada satu waktu," imbuh Jessica.
Rey menyesuaikan bantal di bawah kepalanya. “Boleh aku tahu apa nama blogmu?" tanyanya.
"Rahasia," Jessica tersenyum penuh misteri.
"Okay, kalau begitu apa saja yang kau tulis dalam blog itu? Apa hanya yang di tulis dalam novel Lady Rose itu saja?"
"Kalau kau tidak mau memberi tahu apa nama blogmu, bacakan aku sesuatu," pintanya.
"Tidak. Tuhan, tidak."
"Jessie."
Wajah Rey terlihat sangat berharap dan bersemangat menunggu Jessica membacakan blognya."Ayo!"
Jessica menutupi wajahnya dengan tangan. "Tidak, jangan memohon." Ia akan menyerah pada mata hijau Rey yang menyejukan itu jika dia tidak berhenti menatapnya seperti itu.
“Jess, sejak remaja aku sangat ingin tahu apa yang kau pikirkan tentangku. Satu paragraf saja yang tidak ada di buku itu.”
Bagaimana aku bisa mengatakan tidak kepada Rey? Jessica mengerang dan melempar handphonenya ke tempat tidur dengan kekalahan. "Beri aku waktu dua menit." ia mencari bagian yang tidak ia berikan kepada Lady Rose.
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu mau, aku baca? Menceritakan kembali saat pertama kali kita berhubungan intim?"
Seketika wajah Rey memerah, ia masih ingat itu semua bahkan ia masih ingat bagaimana rasa Jessica. Meski pekerjaannya di kelilingi oleh banyak model-model cantik namun ia tak pernah tertarik untuk tidur dengan wanita lain selain Jessica.
"Aku akan mulai dari pertama kalinya aku datang kepadamu sambil menangis karena orang tuaku bertengkar."
"Ya, aku ingat," sahut Rey, ia meletakkan satu tangan di belakang kepalanya.
Jessica memutar bola matanya. "Bersikaplah santai saat aku mempermalukan diriku sendiri," gumamku.
“Ini aku, Jessie. Kau tidak perlu merasa malu denganku." Suaranya masih sama seperti dulu, begitu menenangkan.
Jessica duduk bersila dan memegang handpjone dengan satu tangan dan laptop di tempat tidurnya, kemudian ia mulai membaca.
Beberapa detik kemudian pintu belakang terbuka dan Pahlawan bertopeng melihat aku menangis. "Kau baik-baik saja, Je?" dia bertanya sembari melangkah keluar. Aku menggunakan bajuku untuk menyeka air mata, dan dia mengajakku pergi ke suatu tempat yang begitu menenangkan yaitu pinggir pantai.
Kami melihat ombak yang bergulung-gulung, dia merangkul dan menarikku ke tubuhnya hingga kepalaku bersandar di bahunya. Aku tidak tahu bagaimana dia menenangkanku bahkan tanpa berbicara, tetapi dia melakukannya. Beberapa orang bisa menenangkan tanpa berbicara dan dia adalah salah satu dari beberapa orang itu. Benar-benar kebalikan dari ayahku.
Kami duduk seperti itu selama beberapa saat, sampai malam hampir larut barulah dia mengantarku pulang.
Rey tidak tersenyum ketika Jessica selesai membaca. Rey menatap Jessica dengan banyak perasaan, dan beban di matanya membuat dadanya sesak. “Kita masih sangat muda untuk ikut campur masalah orang tuamu,” ucap Rey, suaranya membawa sedikit rasa sakit di dalamnya.
"Aku tahu. Terlalu muda untuk berurusan dengan hal-hal yang kita tidak bisa tangani."
Jessica ingin membacakan yang lainnya, tapi ada notifikasi Daniel menghubunginya. "Apa ada masalah?" Rey langsung tahu jika ada perubahan di raut wajah Jessica.
"Daniel menelepon. Malam ini Estelle menginap di rumahnya, kemungkinan Estelle mau mengucapkan selamat tidur denganku."
Rey mengangguk mengerti. "Angkat-lah. Aku juga ada hal yang ingin aku kerjakan. Jangan lupa malam minggu ya," Rey menatap Jessica dengan tatapan menggoda.
"Ya, selamat malam, Rey."
"Malam, Jessie."
__ADS_1
Bahkan cara Rwy melakukan kontak mata yang begitu intens sambil mengucapkan selamat tinggal membuat perut Jessica mual. Ia mengakhiri panggilan dan membenamkan wajahnya ke bantal, Jessica menjerit seperti aku enam belas tahun lagi. Setelah hatinya tenang barulah ia menghubungi Daniel.