SAMPAI DISINI

SAMPAI DISINI
BAB 40


__ADS_3

Jessica nyaris saja membatalkan kencannya dengan Rey, sebab secara mendadak putri kecilnya mengalami demam yang cukup tinggi, ia tak mungkin mengajak Estelle keluar bersamanya.


Jessica sudah mencoba menghubungi bundanya namun bundanya baru saja pulang dari Kalimantan, ia tak tega jika harus menitipkan Estelle padanya, sementara Daniel tengah sibuk mendesign sebuah rumah ibadah di pusat kota Bandung.


Namun Dewi keberuntungan rupanya berpihak pada Jessica, sebab di menit-menit terakhir sebelum dirinya menghubungi Rey. Claire bersama Dania datang ke apartementnya. "Loh kenapa belum siap?" tanyanya heran sembari menerobos masuk, ia berjalan ke ruang keluarga di ikuti Jessica dari belakang.


Claire menaruh Dania di playpen bersama dengan Estelle. Estelle tersenyum melihat Dania, dua gadis-gadis itu mulai menunjukkan kegembiraan di hadapan satu sama lain.


"Aku tidak bisa meninggalakan Estelle, tadi dia demam," ucap Jessica.


Tak mempercayai perkataan Jessica begitu saja, Claire mengulurkan tangannya ke dahi Estelle. "Sepertinya sudah turun," ucapnya. "Bersiap-lah, biar aku yang akan menjaganya."


"Tapi, Claire..."


"Kau pikir aku datang kemari untuk apa?" Claire menatap Jessica lekat-lekat. "Tentu saja karena aku tahu kau tidak punya orang untuk menitipkan Estella." beberapa hari lalu Jessica sempat mengatakan padanya jika ia akan jalan dengan Rey, Claire yang mengetahui Daniel tengah ke luar kota berinisiatif datang ke apartement Jessica untuk menawarkan bantuan padanya, sebab rasanya terlalu aneh kencan dengan membawa anak kecil, terlebih Dania sudah beberapa hari ini tidak bermain dengan Estelle. "Sudah sana ganti baju!"


Jessica mengangguk, ia bergegeas ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Kurang dari lima belas menit ia kembali dengan short dress berwarna merah muda. Ia menghampiri Claire kembali yang tengah menonton tayangan Disney dengan anak-anak. "Claire, tolong jangan beritahu kakakmu.”


"Kau tidak perlu khawatir," hubungannya dengan Jessica tidak ada yang berubah meski mereka bukan saudara ipar lagi, dan Jessica terlihat lebih bahagia sekarang jadi sudah pasti dirinya ikut bahagia melihat kebahagiaan Jessica. "Kemana dia membawamu?"


Jessica merapikan pakaianku dengan tangan, lalu mengibaskan sepotong benang. “Hanya makan malam, tapi aku belum tahu tempat yang di pesan Rey. Aku harap pakaianku tidak berlebihan.”


“Apakah kalian sudah resmi? Kamu tampak gugup.”


“Ya, aku memang gugup. Tapi kami masih di taraf berteman."

__ADS_1


Claire memperhatikan sejenak dengan mata lembutnya. “Kau tampak sangat bahagia. Aku merindukan sisi dirimu ini.”


"Ya. Aku juga."


Jessica membungkuk untuk memberikan ciuman Dania dan Estelle. “Aku tidak akan pulang terlalu larut, sekitar pukul sembilan tiga puluh aku sudah pulang. Apa kau tidak keberatan?”


“Mengapa kau pulang begitu cepat? Itu payah.”


“Aku tidak tidur tadi malam. Aku lelah. Tapi aku tidak ingin membatalkan tanggalnya, jadi aku akan melanjutkannya.”


“Uh. Sungguh mengharukan, ”ucap Claire, memutar matanya. “Aku akan menjaga anak-anak, bersenang-senanglah. Minumlah kopi agar kau tidak mengantuk.'"


"Sudah banyak kopi yang aku minum hari ini. Terima kasih telah menjaga Estelle," ucap Jessica sembari berjalan menuju pintu keluar apartementnya. Begitu keluar dari lift, Jessica langsung bisa melihat mobil Rey terparkir di lobby.


Ia semakin mempercepat langkahnya, dan mauk ke mobil Rey. "Maaf aku terlambat," ia langsung memasang sabuk pengaman.


Jessica tergelak. "Kau bercanda, aku semalaman tidak tidur karena Estelle demam. Wajahku jadi terlihat tua."


Wajah Rey seketika berubah menjadi merasa bersalah. "Apa kita harus membatalkan acara ini? Kita bisa jalan minggu depan kalau kau mau."


Jessica menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, ada Claire yang menjaga Estelle. Kau tidak perlu khawatir."


Rey menghembuskan napas lega, kemudian ia mulai melajukan kendaraannya. "Ada restoran Jepang yang baru buka di dekat sini, kata teman-temanku rasanya sangat enak. Bagaimana jika kita makan di sana?"


Hening.

__ADS_1


Rey menoleh ke arah Jessica, rupanya wanita itu sudah terlelap tidur. Rey membiarkan Jessica tidur sementara ia tetap melajukan kendaraannya. Hingga mereka tiba di parkiran restoran Jessica masih tertidur bahkan dengkurannya terdengar sangat menawan seperti wajahnya. Ini begitu halus, hampir terlalu ringan untuk didengar.


Rey mengambil video singkat untuk menggodanya nanti, ia tersenyum mengamati wajah cantik Jessica di hanphonenya. Rey sempat hampir melempar handphonenya saat ia terkejut mendengar suara alarm dari handphone Jessica yang berdering. Anehnya Jessica sama sekali tak terusik, ia masih tidur dengan lelapnya.


Perlahan Rey mengambil handphone itu dari tangan Jessica. "Maaf Jessie, aku tidak bermaksud tidak sopan," ucapnya, ia hanya ingin mematikan handphonenya. Namun Rey terdiam untuk beberapa saat memandangi handphone Jessica. Bunyi alarm tersebut rupanya pengingat tanggal pertama kalinya mereka bertemu, sama halnya dengan Jessica, Rey pun tak pernah lupa dengan tanggal itu.


Rey mematikan alarm pada handphone Jessica, kemudian ia menunggu Jessica tertidur, sembari mengelua kepalanya. "Kau sungguh wanita hebat, Jess." Rey tak bisa membayangkan bagaimana lelahnya menjadi orang tua tunggal, andai ada kesempatan untuknya untuk bisa membantu wanita yang ia cintai tentu akan ia lakukan.


Hampir dua jam Jessica tidur, akhirnya terbangun dari tidurnya. Wajah Jessoca terlihat panik, ia melihat sekeliling dan merasa bersalah pada Rey. "Ya, Tuhan. Maafkan aku, Rey," ucapnya penuh penyesalan.


Rey menarik Jessica ke pelukannya, ia mendekap erat tubuh Jessica. "Apa kekagagalan kencan kita, membuatmu sedih dan kecewa?" tanya Jessica bingung bercampur rasa bersalah.


Rey menggeleng masih terus memeluk Jessica. "Aku pikir kau sudah benar-benar melupakanku," ucap Rey hampir terisak. "Tapi ternyata kau tidak pernah melupakanku, bahkan kau masih ingat tanggal pertama kali kita bertemu."


Jessica melepaskan pelukan Rey, ia langsung memeriksa handphonenya. "Apakah tadi ini berbunyi?"


"Ya," Rey mengangguk. "Tapi aku justru senang alarm itu tak membangunkanmu. Aku senang melihatmu biasa beristirahat dengan nyaman."


Jessica menatap Rey lekay-lekat. "Rey, bagaimana mungkin aku bisa lupa tanggal di mana kita bertemu. Itu adalah tanggal kau menyelamatkanku dari keterpurukanku, kalau tidak ada kau mungkin sekarang aku sudah mati."


Pertama kalinya, mereka bertemu di lantai atas gedung kosong. Saat itu Jessica yang sudah tidak kuat mendengar orang tuanya tiap hari bertengkar, serasa ingin mengakhiri hidup. Namun Rey menyelamatkannya, Rey bukan hanya menyelamatkannya tapi juga mengajarinya rasa syukur. Jangan hanya karena Tuhan memberikan cobaan, membuat kita melupakan nikmat yang Tuhan berikan, padahal nikmat itu sungguh luas.


"Kau juga menyelamatkanku, Jess." Rey membalas tatapan dengan lembut. "Karena kau, aku jadi semangat mengejar karirku kembali, padahal saat itu aku pun putus asa karena di tolak banyak agensi."


Lima belas menit mereka berbincang, Rey mengantar Jessica kembali ke apartementnya. "Aku sudah membelikanmu banyak makanan. Makanlah bersama Claire."

__ADS_1


Jessica mengangguk. "Selamat malam, Rey. Terima kasih untuk malam ini," ia pun keluar dari mobil Rey dan bergegas kembali ke unitnya.


__ADS_2