
Selesai menulis Jessica mematikan laptopnya, ketika ia hendak menutup laptop itu matanya tertuju pada pantai yang berada di hadapaannya. Dari kejauhan ia melihat sekelompok nelayan mendekat ke bibir pantai.
Mererka kian mendekat hingga memasuki halaman rumah Rey. 'Siapa mereka? Mau apa?' batin Jessica, entah mengapa ia berpikir jika ke tiga orang itu adalah orang suruhan Daniel. 'Tapi benarkah Daniel tahu jika aku ada di sini?' batinnya kembali bertanya.
Sama halnya dengan Jessica, ketiga orang itu pun nampak asing dengan Jessica. "Apakah sekarang Rey sudah punya kekasih?" tanya salah satu di antara mereka.
Tapi dari pertanyaan itu, Jessica langsung tahu jika mereka tidak ada kaitannya dengan Daniel, tapi yang jelas mereka pasti mengenal Rey. "Kalian siapa?" tanya Jessica saat mereka benar-benar tiba di teras kediaman Rey.
"Aku Rudi," ucap seorang pria bertubuh pendek, gempal dan berkulit hitam mengkilap, terlihat jelas bahwa ketiganya sering berada di bawah sinar matahari. Tangan Rudi mengarah pada pria di sebelah kanannya yang bertubuh lebih tinggi darinya. "Ini Raka," kemudian tangan Rudi beralih ke sebelahnya lagi, pada pria jangkung dan kurus. "Dan yang itu Raden."
"Oh hai, trio R." sapa Jessica ramah. "Aku Jessica," ia mengurlurkan tangannya menyalami mereka satu persatu. "Ada keperluan apa kalian kemari?"
"Kami nelayan yang biasa membawakan ikan untuk Rey," Raka menunjukan ikan hasil tangkapannya. "Biasanya Rey akan memborong semua hasil tangkapan kami. Di mana dia?"
Jessica melongok ke arah ember kecil yang berisi berbagai macam ikan, ada yang kecil namun ada pula yang besar. "Biasanya ikan-ikan ini kami bakar dan makan bersama di sana," sahut Raden menunjuk ke arah sudut halaman, terdapat sebuah alat bakar. "Kami bakar ikan sambil main kartu dan ngopi."
Kau boleh pakai apa pun yang ada di rumah ini.
Kalimat itu tiba-tiba saja terngiang di kepala Jessica, ia merasa ketiga pria itu bisa menghibur dan mengusir rasa sepinya sehingga tak ada salah ia menerima kedatangan mereka. "Sebetulnya Rey sedang meeting, tapi tadi dia bilang tidak akan lama, bagaimana jika kita bakar itu bersama nanti aku yang akan membelinya. Bagaimana?"
Mereka bertiga mengamati Jessica untuk sesaat, kemudian mereka tersenyum. "Baiklah."
Dua orang pria menyalakan api, yang lainnya membersihkan ikan, sementara ke dapur membuat kopi dan mencari cemilan pendamping makan ikan bakar.
__ADS_1
Menikmati ikan bakar di tengah semilir angin pantai, sembari mengobrol dengan ketiga nelayan membuat Jessica sejenak melupakan Daniel. "Jess, apa kamu bisa bermain poker? Jika tidak, kita bisa bermain cangkul saja," ucapan Randen seolah meremehkan Jessica.
"Aku bisa main poker, mari kita main," jawabnya, kemudian Jessica menenggak tetesan kopi terakhirnya.
"Kau yakin bisa main poker?" Rudi mulai mengcok kartu.
"Sudah lama sekali aku tidak bermain poker, terakhir saat masih kuliah," ujar Jessica. "Sini biar aku saja yang mengocoknya, kau mengocok seperti bayi," ejeknya sembari tertawa.
Ridi mengangkat alis dan memberikan setumpuk kartu kepada Jessica. Sebenarnya Jessica tak banyak tahu tentang bermain kartu, namun ia bisa mengocok kartu seperti pemain profesional.
Ia membagi kartu menjadi dua tumpukan dan menggesernya dengan cepat, kenudian menekan dua ibu jarinya ke masing-masing ujung. Ketiga pria yang berada di sekelilingnya tercengang menatap Jessica. "Kau sungguh luar biasa dan terlihat profesional, Jess," puji Raka.
"Apa Rey sengaja memacarimu hanya untuk mengejek kami? Karena orang biasa tidak mungkin bisa mengocok kartu sehebat itu!" sambung Raden.
Di tengah permainan, Raden nampak memperhatikan perban yang membalut kepala dan leher Jessica. "Kamu kecelakaan di mana, Jess?" tanyanya penasaran.
Jessica memegang perban di kepala dan lehernya. "Di rumah. Suamiku sendiri yang melakukan ini, ia menandukku dengan kepalanya dan menggigit leherku," jawabnya dengan santai sembari memperhatikan kartu-kartu di tangannya.
Ketiganya saling menatap. "Jadi kau sudah menikah?" Raden merasa sedikit merasa bersalah karena dugaannya keliru, ia mengira bahwa Jessica adalah kekasih Rey.
"Rupanya kau menikah dengan seorang baj*ngan. Seharusnya kau menghubungi kami, agar kami datang untuk menghajarnya," ucap Raden. "Kalau kau punya suami mengapa kau ada di rumah Rey? Apa kalian berteman" tanya kembali.
Belum sempat Jessica menjawab, Rey sudah datang dan bergabung dengan mereka. "Jessie, kenapa kau tidak memberitahuku jika mereka datang? Apa mereka mengganggumu?" Rey menatap ketiganya penuh curiga.
__ADS_1
"Tentu saja tidak," Jessica menepuk tempat duduk di sebelahnya. "Kami menyisakan ikan bakar untukmu, makanlah!" Jessica menggeser piring berisi ikan bakar yang ia siisihkan untuk Rey.
Sembari makan, Rey menekuri kartu Jessica dan memperhatikan wanita itu melempar tiga keping poker. "Kau bisa main poker?" ia melihat Jessica nampak sangat profesional.
Jessica hanya tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya. "Tadi aku mengira jika Jessica ini adalah kekasihmu," ujar Raden. "Tapi ternyata dia sudah menikah dengan pria brengs*k yang hanya berani menghajar istrinya."
Rey mengangkat alisnya dan menatap Jessica. "Aku cerita sedikit kepada mereka," bisik Jessica.
"Lebih baik kau ceraikan saja suami brengsekmu itu, kemudian menikah dengan Rey," sahut Raka. "Kadihan dia kelamaan jomblo. Selama mengenalnya, kamintidak pernah melihatnya bersama wanita."
Rey terbatuk mendengar ucapan Raka, ia merebut semua kartu dari tangan mereka. "Kurasa permainan sudah selesai, Jessica masih harus beristirahat." Dengan terang-terangan Rey mengusir teman-temannya.
Mereka semua protes tapi mereka tetap menurut ketika Rey menggiringnya keluar dari halaman rumahnya. "Jess hubungi aku jika kau butuh bantuan untuk menghajar suami baj*nganmu," ucap Raden sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan kediaman Rey.
Rey menutup pagar dan kembali pada Jessica. "Tidak perlu kau dengarkan, mereka hanya bercanda," ia menghabiskan sisa ikan bakar miliknya,
"Tidak apa-apa, aku sangat terhibur dengan kedatangan mereka." Jessica membuatkan kopi untuk Rey. "Bagaimana tadi meetingnya?"
Sembari makan Rey menceritakan bahwa dia berhasil menjadi brand ambasador produk pembersih wajah untuk pria. "Aku ingin sekali menjadi model pakaian suatu brand yang aku impikan."
"Brand apa?" tanya Jessica penasaran. "Aktor seterkenal kau pasti bisa dengan mudah menjadi brand ambasador."
"Pakaian buatanmu," jawab Rey tanpa menoleh ke arah Jessica.
__ADS_1