SAMPAI DISINI

SAMPAI DISINI
BAB 32


__ADS_3

Grace mondar-mandir di hadapan Jessica dan Daniel, rasa khawatir menyelimuti dirinya. Ia yakin ada sesuatu yang tidak beres terjadi dalam pernikahan putranya. Grace tahu tidak ada pernikahan yang sempurna, terlebih di lima tahun pertama pernikahan pasti akan ada riak-riak maslah yang terjadi, seperti halnya dulu waktu dirinya dirinya baru menikah.


Butuh waktu panjang baginya untuk bisa beradaptasi, tapi ia dan suaminya tidak ada yang sampai pindah rumah. Grace bukan ingin mencampuri urusan rumah tangga anak-anaknya tapi, ia khawatir sesuatu yang buruk telah di lakukan Daniel kepada Jessica, namun di lain sisi ia belum siap mendengar perbuatan buruk apa yang di lakukan Daniel hingga Jessica tidak mau lagi tinggal di rumah anaknya.


"Oh ya, Tuhan." Grace menghembuskan napas beratnya, setalah siap mendengar, ia berbalik menghadap Jessica dan Daniel. "Jadi apa yang terjadi dengan rumah tangga kalian? Apa ini alasanmu pindah ke apartementmu?" tanya Grace kepada Jessica dan Daniel yang duduk bersebelahan di sofa, seolah mereka berdua tengah di sidang.


Claire dan Harry berada di sisi ruangan lainnya, mereka berdua tak ingin ikut campur tapi mereka berdua menyimak kalau-kalau Jessica membutuhkannya.


Jessica terdiam, ia menunggu Daniel berbicara karena ingin tahu Daniel akan menjawab apa, terlebih dia sendiri yang mengatakan bahwa dia pindah ke apartement ini, jadi tentu Daniel sudah memprediksikan jika ibundanya akan bertanya dan sudah mempersiapkan jawaban yang akan di lontarkannya.


Dua menit berlalu, Daniel tak menunjukan tanda-tanda bahwa dia akan menjawab pertanyaan ibundanya, dia malah terlihat menopang keningnya dengan tangannya yang bertumpu pada lutut seraya menundukan kepalanya.


"Daniel, Jessica. Ceritakanlah! Mommy janji tidak akan menghakimi siapa pun, Mommy akan besikap netral dan memberikan nasehat terbaik untuk kalian," Grace menatap Jessica lekat-lekat. "Ceritakanlah, sayang. Mommy tidak ingin kau menanggung beban di saat kau sedang mengandung," pintanya lirih dan terlihat begitu mengkhawatirkan Jessica.


Jessica memaksakan seulas senyuman di wajahnya. "Tidak ada yang perlu di khawatirkan, Mom." ia akhirnya berbicara karena ia tahu Daniel tak akan memulai. "Seperti pasangan baru pada umumnya, kami hanya mengalami sedikit salah paham dan aku ingin menangkan diri dari kesalahpahaman ini jadi aku memutuskan untuk kembali ke apartementku, lagi pula jarak antara apartement ini jauh lebih dekat dengan butikku. Aku sudah tidak ke butik lagi sampai nanti aku melahirkan, jadi untuk lelanggan-pelanggan pentingku, mereka bisa langsung datang kemari jika memang membutuhkan designku." Jessica beranjak dari tempat duduknya. "Itu saja aku ingin melukis kamar bayiku lagi, permisi."

__ADS_1


Bukan Jessica tidak sopan meninggalkan ibu mertuanya di ruang tamu, namun ia sudah tak ingin membahas masalah rumah tangganya, lagi pula Jessica tidak meninggalkan Grace sendirian di apartement ini, ada dua anak Grace dan satu menantunya yang lainnya.


Beru dua langkah Jessica melangkah, Daniel membuka mulutnya. "Aku yang salah," ucapnya dengan suara yang bergetar. "Aku telah menyakiti istriku sendiri, hingga dia pergi dariku. Aku tidak bisa menahan rasa cemburuku melihat Rey membicarakanmu di media." Sembari menangis Daniel menceritakan kejadian malam yang mengerikan itu di depan ibundanya.


Daniel beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Jessica. Ia berlutut di hadapan Jessica sembari memasang wajah melas bercampur rasa penyesalannya yang teramat dalam. "Jess, di depan dua orang yang paling penting dalam hidupku, mommy dan adikku, aku bersumpah padamu tidak akan melakukannya lagi. Aku mohon Jess, kembalilah padaku, kita mulai lagi semuanya dari awal," pintanya lirih.


Jessica seperti merasa terdesak, Daniel menggunakan ibu dan adiknya untuk meyakinkannya agar kembali padanya. Daniel tahu akan kelemahannya yang tak mungkin menolak permintaannya di depan mommy dan Claire.


"Jess, aku mohon," desaknya kembali.


Jessica menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Ia tak ingin memaafkan Daniel hanya karena dirinya merasa terdesak oleh situasi ini. "A-aku..." Jessica betul-betul tidak bisa berkata-kata.


Daniel memberontak, ia berhasil lepas dari cengkraman Grace. "Mom, aku betul-betul tak sadar telah melakukan itu. Aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Jessica, aku tidak hisa jika harus kehilangan istri dan anakku..."protes Daniel.


Grace melipat tangannya ke dada dan menatap Daniel dengan tatapan tajam. "PERGI!! PERGI KAU DARI SINI!!" Teriaknya dengan lantang hingga membuat Daniel tak berkutik dan membalik tubuhnya menuju pintu. Daniel tak punya pilihan lain selain pergi dari apartement Jessica.

__ADS_1


Grace berbalik menuju Jessica ketika Daniel sudah benar-benar pergi. "Sayang..."


Jessica mengangkat tangannya. "Tidak, Mom." potongnya, sembari menggelengkan kepalanya. "Aku tidak ingin membahas ini. Aku minta maaf, bisakah kalian meninggalkan aku sendiri?"


"Tapi sayang..."


"Please, Mom. Aku ingin sendiri!"


Claire dan Harry berjalan ke ruang tamu, Harry mendekat ke arah ibu mertuanya dan memegang bahunya, mengajaknya pergi "Biarkan Jessica sendiri, Mom," ucap Harry. Sementara Claire mendekat ke arah Jessica dan menggenggam tangannya. "Hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu, aku pasti akan langsung kemari saat mendengar handphoneku berdering darimu."


Jessica menganggukan kepalanya, ia sungguh berterima kasih atas semua perhatian yang Claire, Harry dan ibu mertuanya berikan kepadanya, ia pun sangat bersyukur untuk hal itu karena tidak semua wanita seberuntung dirinya yang bisa mendapatkan banyak perhatian dari ibu mertua dan ipar mereka.


"Terima kasih," ia mengantar mereka bertiga hingga pintu depan. "Sekali lagi aku minta maaf." Jessica menutup pintu apartement dan tersungkur ke lantai setelahnya, rasanya begitu menyakitkan dengan semua kondisi yang ada, ia semakin bingung untuk melepas atau melanjutkan pernikahannya.


Lama Jessica menangisi dirinya, perlahan ia bangkit dari lantai, meski dengan bersusah payah sebab perutnya yang begitu besar. Jessica berjalan menuju ruang kerjanya, ia menghubungi asistennya di butik untuk mengatakan jika dirinya benar-benar off, tidak menerima pesanan dari siapa pun sampai mepahirkan nanti.

__ADS_1


Jessica memutuskan untuk tinggal bersama ibundanya hingga ia melahirkan, tak ada tempat yang membuatnya aman dan nyaman selain bersama bunda. Jessica yakin bunda tak kebaratan jika dirinya akan merepotkannya saat persalinan nanti.


Ia mengemasi barang-barangnya dan barang-barang calon buah hatinya, dengan di batu oleh dua orang petugas keamanan apartement Jessica berhasil memasukan semua koper ke taxi yang sudah menunggunya di lobby.


__ADS_2