SAMPAI DISINI

SAMPAI DISINI
BAB 47


__ADS_3

Mereka berhenti setelah menyadari jam menunjukan pukul 21.00 malam, Jessica panik karena melupakan pesta pernikahan Evelin. "Lokasinya cukup jauh, jika kita tetap memaksakaan hadir, aku yakin acaranya sudah selesai," ujar Rey.


Yang di katakan Rey memang ada benarnya, percuma jika memaksakan untuk datang. "Aku akan memberikan kado setelah dia masuk kerja," ia berpkir untuk mengganti gaun yang di kenakannya dengan pakaian tidur, sebab ia tidak akan pergi. "Tapi sepertinya dia lebih membutuhkan amplop di banding kado," Jessica tergelak sembari melangkahkan kakinya ke kamar.


Jessica berhenti di pintu kamar dan menoleh ke arah Rey. "Estelle menginap di rumah Bunda, apa kau mau langsung pulang?" ia berharap Rey mau menunggunya ganti baju.


Rey menggeleng. "Bagaimana kalau kita menonton filmku, aku punya filenya."


Jessica tersenyum sembari mengangguk, sebetulnya ia pun penasaran dengan film yang di bintangin oleh Rey. "Tunggu sebentar ya, aku mau ganti baju dulu."


Lima belas menit kemudian Jessica kembali, ia melihat rey sudah mencopot jasnya dan melebarkan sofa bed. Rey mengulurkan tangannya ke arah Jessica, tanpa ragu Jessica pun menghampirinya dan berlabuh di dekapan hangat Rey.


"Kau tahu betapa terkejutnya aku ketika kau memberi tahuku jika putrimu bernama Estelle?" Rey mendaratkan kecupan manisnya di kepala Jessica.


Ya, suatu kebetulan yang membuat Daniel kemarin marah pada Jessica. Jessica hanya tersenyum, menikmati tiap adegan yang di perankan Rey sembari menghirup aroma tubuhnya yang begitu familiar di hidungnya. Lama dengan rasa nyaman ini, membuat Jessica tak bisa menahan rasa kantuknya, ia pun tertidur dalam dekapan Rey.


Begitu film selesai, Rey mematikan televisi. Ia merogoh handphone di sakunya tanpa melepaskan pelukannya dengan Jessica. Meski tak ada telepon atau chat dari Raka, ia merasa harus pulang, ia tidak bisa meninggalkan anak dua belas tahun bersama seorang nelayan dan putranya.


Perlahan-lahan Rey melepaskan lengannya dari bawah kepala Jessica dan keluar dari sofa, kemudian ia mencari pena dan kertas. Rey tidak ingin membangunkannya, tetapi ia tidak ingin pergi tanpa mengatakan apa-apa.


Rey menemukan buku catatan dan pulpen di laci dapur Jessica, ia duduk di meja untuk menulis surat untuk Jessica. Ketika saya selesai, Rey membawanya kembali sofa dan ia meletakkan catatan itu di sebelahnya. Lalu Rey mencium dan menaikan selimut hingga ke dada Jessica. "Selamat malam, sayang."


...****************...

__ADS_1


Jessica terbangun oleh siara bel apartementnya, ia mengangkat wajahnya dari bantal dan merasakan air liur di daguku. Ia menyekanya dengan sudut sarung bantalku. Jessica duduk dan melihat Rey meninggalkan catatan di sampingku.


Jessica meraihnya, tapi kemudian ia mendengar belnya berbunyi lagi, ia menyelipkan catatan itu di bawah bantal. "Tunggu!" teriaknya, lalu membuka pintu. Jessica terkejut ketika mengetahui Daniel-lah yang datang sepagi ini ke apartementnya.


Daniel berjalan melewati Jessica, masuk ke apartemen, tanpa dipersilakan masuk. Pria itu melirik ke sekeliling ruangan untuk mencari Estelle. "Estelle meginap di rumah Bunda, karena semalam aku kondangan."


"Oh." Daniel kecewa. “Aku datang karena ingin menjempunya, kalau kamu mau pergi kenapa…” Suara Daniel menghilang saat dia melihat sofa. Jessica tidak perlu melihat ke sofa untuk mengetahui apa yang pria itu lihat. Jas Rey masih tertinggal di sana.


"Aku akan menghubungi Bunda untuk memberitahunya kalau kau mau menjemput Estelle." Jessica mengambil handphonenya dari kamarnya, sembari berharap Daniel tidak akan bertanya apa-apa. Dia merusak suasana hati Jessica yang tengah di mabuk Cinta.


Ketika Jessica berjalan kembali ke ruang tamu, ia berhenti sejenak sambil mencari kontak Bunda. Daniel memegang gelas anggur di tangannya, memeriksanya. Itu yang diminum Rey tadi malam salambil menonton. Sebelum Jessica benar-benar tertidur di pelukan Rey, mereka sempat mengobrol sembari minum wine.


Jessica bisa melihat kecemburuan Daniel meluap saat Daniel meletakkan gelas anggur dan menatap lurus ke arah Jessica. "Apakah ada yang menginap?"


Mungkin ucapan Jessica salah untuk di kemukakan, sebab Daniel menanggapi ucapan itu dengan mengambil dua langkah ke arah Jessica. Jessica mundur selangkah. "Apakah itu alasan Estelle menginap di rumah Bunda?" Mata Daniel menyipit seolah menuduhnya, ia terlihat jijik pada Jessica. "Kau tidak mengizinkan aku membawanya ke Surabaya untuk menghadiri ulang tahun pernikahan orang tuaku, tapi kamu menaruhnya di tempat Bunda agar kamu bisa bercinta?" Daniel tertawa. "Parenting yang hebat, Jess."


Sekarang Jessica mulai marah, ia tak mengizinkan Daniel membawanya ke luar kota sebab ketakutan seorang ibu akan kehilangan putrinya. Bagaimana jika Estelle tak kembali? Bagaimana jika nantinya Daniel mengulur-ulur waktu untuk memulangkan putrinya, ia tak ingin mengambil resiko itu. “Ini baru kedua kalinya aku meninggalkannya dalam semalam sejak Estelle lahir lebih dari setahun yang lalu. Jangan menyalahkanku karena menghabiskan malam untuk diriku sendiri, dan apa yang aku lakukan tadi malam itu bukanlah urusanmu, Daniel."


Kemarahan Jessica langsung berubah menjadi ketakutan, ia mundur dari Daniel. Melihat Jessica ketakutan Daniel meninggalkan apartemen, ia membanting pintu depan sampai tertutup.


Jessica mendengar Daniel meneriakkan kata sialan di lorong, ia menghembuskan napas lega karena Daniel sudah pergi. Tapi sayangnya kelegaan itu hanya berlangsung singkat, Daniel membuka pintu lagi. Dia menatap Jessica dari lorong dengan tatapan tajam. "Apakah itu dia?"


Jessica bisa merasakan jantungnya tercekat saat Daniel menanyakan itu. Daniel memang tidak menyebutkan nama Rey, tapi siapa lagi yang dia maksud selain Rey?

__ADS_1


Daniel menatap langit-langit sebentar, lalu menggelengkan kepalanya. "Jadi kecemburuanku kemarin sangat beralaskan."


Jessica mengambil beberapa langkah sampai ia berdiri di ambang pintu, bersiap untuk menutup pintu. “Jika kau percaya aku selingkuh, silakan saja percaya itu. Aku tidak punya energi untuk terus meyakinkanmu. Aku sudah menjelaskan ini kepadamu sebelumnya, jadi aku tidak mengatakannya lagi. Aku tidak pernah meninggalkanmu demi Rey. Aku meninggalkanmu karena semua perlakuanmu kepadaku.” Jessica menutup pintu, tetapi sebelum pintu itu terteutup Daniel mendorongnya hingga punggung Jessica membentur tembok


Matanya dipenuhi amarah ketika Daniel menyelipkan tangan kirinya ke pangkal tenggorokanku, memberikan tekanan seolah ia ingin menahan Jessica di tempatnya.


Daniel menonjokkan tangannya ke dinding di dekat kepala Jessica, dan itu membuatnya sangat takut. Jessica memejamkan mata, ia tidak ingin melihat apa yang akan terjadi. Gelombang besar kecemasan dan ketakutan menggulungnya begitu kuat.


Jessica bisa merasakan napas Daniel di pipinya, Jantung Jessica berdegup kencang. Ia ingin berteriak, tapi ia takut jika ia membuat suara, itu akan membuatnya semakin marah.


Beberapa detik berlalu, Daniel mulai menyadari perbuatannya, ia melepaskan cengkraman tangannya do leher Jessica sembari mengucapkan permintaan maaf. Maafkan aku, Jess. Maafkan."


Hati Jessica hancur, karena Daniel tidak berubah sama sekali. Padahal ia sangat berharap Daniel bisa berubah, tapi nyatanya Daniel masih pria yang sama seperti dulu. Entah bagaimana, Jessica berpegang pada secercah harapan bahwa ia harus menjadi lebih kuat untuk Estelle, tetapi kejadian ini adalah konfirmasi yang mutlak bahwa Jessica membuat pilihan yang tepat untuk putrinya.


Daniel menempelkan keningnya di kening Jessica, sembari terus meminta maaf. Danirl terlihat hancur, tapi memang dia pria yang hancur. Dia hancur bukan karena Jessica, dia hancur sebelum bertemu dengannya.


Kadang-kadang orang berpikir bahwa seorang pria akan berubah di tangan wanita yang tepat, karena cinta yang ia miliki begitu besar. Tapi ternyata tidak, tidak akan ada yang bisa merubah watak seseorang, yang terjadi malah Jessica pun ikut hancur. Tapi kali ini Jessica tidak mau hancur lagi. Ia memiliki seorang putri yang membutuhkan seorang ibu yang bahagia untuk menjadikannya utuh.


Dengan lembut Jessica mendorong Daniel keluar dari apartementnya, ia bergegas menutup dan menguncinya. Lalu Jessica segera menghubungi Bunda memintanya untuk membawanya ke taman. Jessica tidak ingin Daniel menyambangi kediaman Bunda dan mengambil putrinya.


Setelah mematikan telepon, ia bergegas mengambil tas. Ingin rasanya ia menangis, tapi ia tidak punya waktu untuk menangis sekarang, ia harus ke taman untuk mengambil putrinya.


Sebelum keluar dari apartement, Jessica mengambil surat yang di tulis Rey untuknya, dan memasukannya ke tas. Jessica merasa kata-katanya akan menjadi satu-satunya titik terang hingga hari ini.

__ADS_1


Firasat Jessica menjadi kenyataan, ia mendengar suara guntur yang keras ketika ia tiba di parkiran taman. Jessica belum melihat mobil ibundanya, sembari menunggu ia ingin membaca sesuatu yang semoga dapat membuat suasana hatinya lebih baik sebelum ia menyapa putrinya.


__ADS_2