SAMPAI DISINI

SAMPAI DISINI
BAB 52


__ADS_3

Rey:


Sayang, apa kamu sedang ada di rumah?


^^^Jessica:^^^


^^^Iya, kenapa?^^^


Jessica membalas sembari mengemasi makanan Estelle ke dalam tas popoknya dan kemudian bergegas ke lemari, mengambilkan baju ganti untuknya. "Kau siap bertemu Dania?"


Estelle tersenyum saat Jessica menyebut nama Dania. Akhirnya Jessica menceritakan semua yang terjadi padi Claire dan Harry, sehingga mereka berdua langsung merencanakan diskusi bersama Daniel hari ini.Harry begitu mendukung Jessica, ia terus menyakininya untuk membawa ini ranah hukum.


Setelah semua barang-barang estelle siap, Jessica mendengar bell berbunyi. Jessoca tak ingin kejadian Daniel yang menerobos masuk ke apartemennya kembali terjadi, sehingga Jessica mengintip melalui lubang intip, ia lega melihat Rey yang berdiri di depan pintu.


"Di mana Jordy?”


Rey mendadak cemberut karena Jessica justru menanyakan Jordy bukan dirinya. "Di rumah," jawabnya kesal.


"Oh. Lalu mengapa kamu sini? “


"Memang ada larangan untuk mengunjungi pacar sendiri? Aku mau kerja, kebetulan lewat sini jadi aku pikir aku bisa mendapatkan pelukanmu sebentar sebelum pemotretan yang melelahkan." Rey terlihat semakin kesal, namun wajah kesalnya justru sangat menggemaskan bagi Jessica sehingga ia tersenyum, dan membukakan pintu untuknya. Kemudian Jessica memberikannya pelukannya, namun tidak bisa memberinya pelukan penuh karena Estelle bertengger di pinggulnya, jadi Rey memberinya ciuman singkat di sisi kepalanya kemudian beralih mencium kening Estelle.


Keduanya terkejut ketika Estelle mengulurkan tangannya ke arah Rey, ia beralih ke pelukan Rey dan menyelipkan kepalanya di dada Rey. Jessica terdiam sejenak melihat pemandangannitu, sementara Rey semakin mendekapnya dan membawanya duduk di ruang tamu. "Rupanya kau sudah siap mau bertemu Dania." ia melihat tas popok Estelle sudah ada di sofa. "Sayang sekali aku tidak bisa mengantar karena harus kerja." Rey mendudukan Estelle di pahanya kemudian ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, Estelle begitu senang bermain ciluk ba bersama Rey.


Setelah menutup pintu, Jessica ke ruang kerjanya, dan kembali dengan membawa sebuah berkas. "Kebetulan kamu disini," ia menyodorkan berkas itu ke arah Rey.


Rey mendongak, menatap Jessica sembari mengangkat alisnya. "Apa ini?"


"Aku berniat mengajakmu kerja sama dengan butikku," Jessica duduk di sebelah Rey. "Minggu lalu aku menandatangani kontrak kerjasama dengan pihak Kepresidenan untuk menggelar fashion show di Istana Negara, dalam acara Hari Batik Nasional yang jatuh pada dua Oktober mendatang. Aku ingin kau menjadi salah satu modelnya, kau tidak keberatankan? Sepengetahuanku kau pernah dua kali ikut catwalk."


Rey memasang wajah enggannya seolah tak tertarik dengan tawaran yang di ajukan Jessica. "Meski kau pacarku aku tetap akan membayarmu profesional seperti model yang lainnya," bujuk Jessica.


"Model lainnya? Kau tahu berapa judul film dan iklan yang sudah kubintangi? Kau menyamakan aku dengan yang lainnya?" Rey menatap Jessica dengan serius.


Jessica menghembuskan napas berat, ia pikir akan mudah mengajaknya kerja sama namun ternyata justru malah sebaliknya. "Oke, fine. Berapa bayaran yang kau minta untuk tampil di acara ini?"

__ADS_1


"Aku ingin kau membayarku dengan seluruh usia yang kau miliki," ucap Rey, ia merogoh kantong celananya untuk mengambil sebuah kotak berisi cinci berlian. "Menikah dan berbahagia-lah denganku Jessie, aku begitu mengingkan kalian ada di hidupku. Aku tidak bisa menunggu lagi, aku tidak peduli dengan apa yang akan Daniel lakukan, aku pasti akan melindungi kalian."


Tanpa Jessica sadari buliran-buliran bening jatuh di wajahnya, dengan adanya Rey di sisinya membuatnya tak takut lagi dengan apa yang akan Daniel lakukan, ia percaya Rey akan melindunginya dan juga putrinya, perlahan Jessica mengangguk.


Rey tersenyum sumringah sembari menyematkan cincin di jari manis Jessica. "Kau tidak menerimaku karena kontrak ini kan?" Rey tergelak, menandatangani berkas itu tanpa ia melihat nilainya.


Jessica menggeleng. "Tentu saja tidak," ia menyimpan kembali berkas itu ke ruang kerjanya.


"Aku akan mengantar kalian ke basement," masih dengan menggendong Estelle, Rey menyampirkan tas popok di bahunya sebelum Jessica membawanya, ia menggenggam tangan jessica sepanjang jalan menuju basement.


Tiba di basement, Jessica mengambil Estelle dari pelukan Rey dan menaruhnya di kursinya. "Pa.. Pa.. Pa... " oceh Estelle, membuat Rey tersenyum. "Kalau sempat nanti Papa jemput ya," Rey mengelus kepala Estelle, kemudian menaruh tas popokdi sampingnya.


"Aku sama supir, jadi aku rasa bisa menjemput kalian di rumah Claire," ucap rey ketika Jessica menutup pintu mobil belakang, Rey segera menarik Jessica dalam pelukannya. Pelukan Rey memberikan energi baru bagi Jessica, sehingga melunturkan rasa gugupnya. "Semoga diskusinya lancar," Rey mengecup bibir Jessica.


"Kau juga, semoga pemotretannya lancar."


"Love you, baby," Rey berjalan ke mobilnya dan Jessica pun masuk ke mobilnya.


Empat puluh menit kemudian, Jessica tiba di kediaman Claire. "Lasagna?" tanya Jessica pada Harry saat dia membuka pintu depan kediamannya. Jessica bisa mencium bau bawang putih dan tomat dari pintu depan.


Estelle cekikikan begitu di gendong Harry, Harry merupakan salah satu orang favorit Estelle, tetapi Jessica pikir akan kesulitan menemukan anak yang tidak mencintai Harry, sebab Harry begitu ramah terhadap anak-anak. "Apakah Claire ada di dapur?"


Harry mengangguk. "Ya, bersama Daniel, ” ucapnya berbisik. "Kita tidak mengatakan apa pun soal kedatanganmu."


"Oke." Jessica berjalan menuju dapur, ketika melewati ruang keluarga ia melihat ibu dan ayahnya Daniel tengah mengobrol dengan seseorang, Jessica hanya tersenyum sembari membungkukan badannya.


Saat samapai di dapur, Jessica melihat Daniel bersandar di bar, mengobrol santai dengan Claire, tetapi begitu dia melihat Jessica wajahnya menegang, dia berdiri tegak. Jessica tidak bereaksi sama sekali, ia tidak ingin Daniel berpikir dia memegang kendali apa pun atas dirinya lagi.


Claire menutup lasagna di oven. "Waktu yang tepat," ia menjatuhkan lap di atas meja dan menunjuk ke meja. “Kita punya waktu empat puluh lima menit sampai makanannya siap,” ucapnya, membimbing Daniel dan Jessica ke meja.


"Apa ini?" Daniel bertanya, melihat bolak-balik di antara Claire dan Jessica.


“Hanya ngobrol-ngobrol ringan,” ucap Claire sembari mendesak Daniel untuk duduk.


Daniel memutar matanya tetapi dengan enggan, ia duduk di seberang Claire dan Jessica, ia bersandar di kursinya, melipat tangannya di depan dada.

__ADS_1


Claire menatap Jessica dengan lantai. Jessica kini sudah tidak takut lagi dengan Daniel, sebab Rey sudah bicara banyak dengan Daniel, dan ia pun memiliki Claire dan Harry yang melindunginya, serta kedua orang tua Daniel.


"Aku sudah bicara dengan pengacaraku," ucap Jessica pada Daniel. "Dia punya beberapa saran.” Daniel menggigit bibir bawahnya selama beberapa detik. Lalu dia mengangkat alis, menandakan dia mendengarkan. "Aku ingin kamu kembali menjalani terapi dengan lebih intensif." Begitu kata-kata itu keluar dari mulut Jessica. Ya, dia tahu Daniel saat ini masih terapi namun kesibukannya yang luar biasa membuatnya tak jarang melewatkan jadwal terapinya.


Daniel tertawa, kemudian ia berdiri, bersiap untuk mendorong kursinya dan mengakhiri percakapan ini, tetapi begitu dia melakukannya, Harry dan kedua orang tua, berserta seorang pria yang tadi ngobrol di ruang tamu (pengacara orang tua Daniel) datang. "Duduk!" perintah ayahanda Daniel, sembari menatap tajam ke arah putra sulungnya.


Daniel langsung menyadari bahwa ia sedang di tipu oleh keluarganya sendiri. "Sementara kau kembali menjalani terapi, kunjunganmu dengan Estelle dilakukan di sini, atau di suatu tempat di mana Harry atau Claire ada."


Daniel mengalihkan pandangannya ke Claire dengan tatapan pengkhianatan yang dia tembak akan membuat siapa pun merinding. "Kami sekeluarga memutuskan, kau di larang bersama dengan anak-anak, tanpa pengawasan," ucap Claire.


"Anak-anak?" Daniel mengulangi dengan tidak percaya, menatap Claire. "Apakah Jessica mempengaruhi kalian bahwa aku tidak aman berada di dekat keponakanku sendiri?" Suaranya lebih lantang sekarang.


Harry menatap Daniel sebentar, lalu mencondongkan tubuh ke depan. “Minggu lalu kau hilang kendali dan menjepit Jessica di dinding, kami pun tahu semua chat makian serta hinaan yang kau kirim padanya, dan ancaman yang kau lontarkan saat dia mengatakan akan berbicara dengan pengacaranya.”


Daniel menatap kosong ke arah Harry, wajahnya memerah, tetapi dia tidak bereaksi apa pun, dia terjebak di sudut. "Intervensi sialan," gumam Daniel, menggelengkan kepalanya. Dia kesal, jengkel, dan merasa dikhianati.


“Aku sudah banyak mengalah dan memberimu banyak kelonggaran, Daniel. Tapi ketahuilah bahwa Estelle adalah hal terpenting bagiku. Jika kau melakukan sesuatu yang mengancam atau merugikanku dan Estelle, aku akan menjual apa pun yang aku miliki untuk melawanmu di pengadilan," ucap Jessica.


“Dan aku akan membantunya,” ucap Harry. "Aku mencintaimu, tapi aku juga akan membantunya," sahut Claire. "Kami semua akan membantu, Jessica." Grace menyodorkan berkas perjanjian ke hadapan putranya.


"Apa ini?" Daniel kian merasa tersudut, ketegangan di ruangan itu terlihat jelas saat pengacara orang tua Daniel menjelaskan isi perjanjian itu salah satunya Daniel di larang mencampuri urusan pribadi Jessica, dan hubungannya hanya sebatas pengasuhan Estelle.


Daniel menggelengkan kepalanya. "Kalian tidak bisa melakukan ini padaku."


Jessica sendiri terkejut, karena Claire dan Harry tak mengatakan soal pengacara keluarga mereka, yang ia tahu hanya-lah kedua orang tua Daniel akan datang.


"Kau tanda tangani, atau kita lanjutkan ini di pengadilan?" ucap ayahanda Daniel dengan tegas.


Daniel semakin tersudutkan, ia tak punya pilihan lain. Ia sudah kehilangan Jessica, ia tak mau kehilangan karir yang ia bangun dengan susah payah, dan yang terpenting ia juga tak ingin kehilangan Estelle karena bukan tidak mungkin jika kasus ini naik ke pengadilan ia akan kehilangan hak asuh putri semata wayangnya. Tangan Daniel gemetar ketika mengambil bolpoin, perlahan ia menandatangani surat itu. Setelah menandatangani surat itu ia mundur dari meja, kemudian berbalik dan pergi.


“Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpa kalian semua,” Jessica menangis di pelukan Claire, ia begitu berterima kasih pada mereka semua.


Grace mendekat ke arah Jessica, ia pun ikut memeluknya. "Ini tanggung jawab kami, sayang," ia mengelus punggung Jessica dengan lembut. "Tidak seharusnya kau menangung ini sendirian." Grace pun meminta maaf karena selama ini putranya telah banyak menyakitinya, ia bisa memastikan jika kali ini Daniel tidak akan lagi mengganggunya.


Harry dan ayah mertuanya mengantar sang pengacara hingga ke pintu depan, sementara Jessica masih bersama Grace dan Claire di dapur. Jessica sangat bersyukur atas banyaknya dukungan yang mengalir deras untuknya, ia tahu tidak semua orang yang terjerat dalam kasus yang sama memiliki dukungan sebesar yang ia miliki untuk itulah banyak orang tetap bertahan pada toxic relationship mereka karena kurangnya dukungan dari orang sekitar.

__ADS_1


__ADS_2