SAMPAI DISINI

SAMPAI DISINI
BAB 36


__ADS_3

Jessica keluar dari gedung apartemennya, ia menerobos kerumunan orang-orang di Sudirman Central Business District. Ia melambatkan laju kereta bayinya, kemudian berhenti di tepi jalan untuk menunggu lampu merah menyala.


Jessica menarik atap kereta dorong itu hingga membuka dan mengamati putri kecilnya yang tengah tersenyum sembari menendang-nendang selimut di kakinya. Dia bayi yang sangat riang dan tenang, kedua energi itu menurun dari Jessica.


"Berpa usianya?" tanya seorang wanita muda yang terlihat sebaya dengannya, wanita itu berdiri di sampingnya, kemudian menunduk memperhatikan Estelle dengan kagum.


"Enam bulan."


"Dia cantik sekali," komentarnya. "Senyumnya mirip dengan ibunya."


Jessica tersenyum. "Terima kasih, andai anda melihat Papanya, bentuk wajah, hidung dan mata mereka sama persis."


"Memang kebanyakan anak perempuan lebih dominan mirip dengan Papanya," ujarnya. "Semoga suatu hari nanti aku dan suamiku memiliki yang seperti ini."


"Jangan!" cegah Jessica dengan cepat. "Maksudku, bayimu harus mirip denganmu dan suamimu," ia tergelak, kemudian berjalan di zebra cross ketika lampu merah menyala.


Jessica berusaha mendahuli kerumunan, sebab ia sudah terlambat tiga puluh menit dari waktu janjiannya bersama Daniel, dan Daniel sudah mengirimkan chat dua kali karena tidak sabar menanti kedatangan putrinya.


'Daniel akan mengalami kegembiraan bersama biskuit dan bubur bayi, dia akan tahu betapa berantakannya dua makanan bayi tersebut,' gumam Jessica, ia sengaja menjejalkan banyak makanan putrinya ke tas bayi.


Jessica kembali ke apartementnya, saat putrinya berusia tiga bulan. Ia sudah tidak bisa lagi merepotkan bundanya, banyak tugas kemanusiaan yang harus bundanya kerjakan. Jarak antara apartementnya dengan butik tidaklah jauh sehingga saat pagi seperti ini, Jessica memilih untuk berjalan kaki sembari menjemur bayinya di bawah sinar mata hari pagi yang kaya akan vitamin D.


Sementara Daniel sudah selesai dengan project Osakanya, dia kembali tinggal di kediamannya yang tak jauh dengan kediaman Claire. Saat Jessica dan Estelle mengunjungi kediaman Claire untuk melakukan playdate bersama Dania, Daniel juga sering berkunjung ke kediaman Claire seolah ia tak ingin kehilangan moment tumbuh kembang putri semata wayangnya.


"Kita hampir sampai, sayang," ia berbelok di sudut dan ia begitu sangat terburu-buru, hingga teriakan seseorang menghentikan langkahnya. "CUT!!!" teriak pria itu. "Itu kenapa ada wanita dan kreta bayinya lewat?"


Jessica melihat sekeliling, saking buru-burunya ia sampai tak menyadari jika kawasan tersebut sedang di gunakan untuk syuting, dan Jessica masuk pada camera yang tengah menyala, seketika Jessica merasa bersalah karena telah mengacaukan pekerjaan orang, ia sering memantau proses pembuatan video untuk iklan butiknya, alangkah melelahkannya jika harus mengulang adegan berkali-kali hanya karena masalah sepele.


Tapi sebelum Jessica minta maaf, sang sutradara kembali berteriak. "Sempurna! Kau membuat film ini terlihat natural."

__ADS_1


Jessica berbapas lega, ia kembali melajukan kereta bayinya. Saat ia melewati beberapa orang pemain dalam film tersebut, ia melihat sosok yang tak asing baginya.


Rey.


"Jessie?"


Jessica kembali menghentikan keretanya karena ia merasakan suara itu menjalar di jemari kakinya. Mata mereka bertemu, Jessica kembali menatap mata hijau Rey yang begitu meneduhkan.


"Hei," Rey menghampiri Jessica lebih dekat, ia melirik ke kereta bayi. "Apakan ini bayimu?"


Jessic mengangguk, sembari menepi dari area syuting. Rey berlutut dan tersenyum pada Estelle. "Wow dia cantik sekali," ujarnya. "Siapa namanya?"


"Estelle," jawabnya. "Tapi kau di larang memanggilnya es teler, karena dia akan marah."


Rey tergelak. "Kau bercanda Jessie, itu minumam favoritku," ia menaruh jarinya di tangan Estelle dan Estelle langsung mengguncang-guncangkan jari Rey maju mundur sembari menendang-nendang.


Rey begitu senang dengan reaksi yang di keluarkan Estelle, ia kemudian kembali berdiri. "Kau terlihat begitu segar dan sehat."


Jessica menujuk ke arah jalan. "Maaf Rey, kami sudah terlambat," ujarnya. "Daniel sudah menunggu tiga puluh menit yang lalu."


Ketika Jessica menyebutkan nama Daniel, ada kesedihan di mata Rey yang ia coba tutupi. Dia menganngguk dan bergeser memberikan jalan untuk Jessica dan bayinya.


"Hari ini jadwalnya Daniel mengasuh Estelle di rumahnya." delapan kata yang cukup menjelaskan apa yang terjadi di antara dirinya dan Daniel saat ini.


Seketika raut kesedihan itu berubah menjadi sebuah kelegaan. "Ya aku juga masih ada satu adegan lagi, ia menujuk ke arah sutradara yang sudah memberinya kode untuk kembali melanjutkan adegan terakhir.


"Wow, semoga sukses. Aku dan Bunda pasti akan nonton film terbarumu."


Rey tersenyum. "Itu harus, kabari aku jika kalian ingin menonton, aku akan beri tiket vvip untuk kalian."

__ADS_1


Ada jeda yang cukup canggung, hingga akhirnya Jessica kembali menunjuk jalan. "Kami harus...."


"Silahkan," sahut Rey sembari tersenyum.


Jessica mengangguk kemudian meneruskan perjalanan, ia tak mengerti mengapa ia begitu canggung dan tidak mengobrol dengan normal bersama Rey. Setelah berjalan beberapa meter, Jessica melirik ke balik bahu. Rwy belum beranjak dari tempatnya, pria itu masih mengamatinya berjalan.


Jessica berbelok pada deretan ruko-ruko yang berjejer, ia melihat Daniel tengah berdiri di depan butiknya dengan wajah yang berbinar saat melihat mereka berdua mendekat. "Kau sudah baca emailku?" tanyanya sembari berlutut dan melepas sabuk pengaman putrinya.


"Tentang pembuatan taman bermain?"


Daniel mengangguk dan mengangkat Estelle dari kerertanya. "Aku bukan hanya bekerja sama dengan Harry selaku investor, tapi juga dengan Bunda. Kemarin kita sempat mengobrol dan membuat kesepakatan jika taman bermain itu akan di gratiskan untuk anak-anak yang kurang mampu," terangnya.


Jessica menekan tombol untuk melipat kereta dorong putrinya dan mendorongnya hingga ke bagian belakang mobil Daniel. "Ya, Bunda sudah cerita padaku tadi pagi di telepon. Katanya, kau dan Harry hanya mengambil keuntungan untuk menggaji karyawan dan biaya pemeliharaan."


Daniel membuka bagasi, lalu menyentuh dagu putrinya. "Taman bermain hebat itu untukmu sayang," bisiknya. Estelle tersenyum pada Daniel seolah ia mengerti bahwa ayahnya tengah mengerjakan project yang begitu hebat untuknya. Daniel mengecup kening putrinya lalu dengan satu tangan ia mengangkat kereta dorong dan memasukannya ke bagasi.


"Project taman bermain anak senilai 3T yang di gelontorkan Harry. Designmu sungguh luar biasa," puji Jessica sembari membanting tutup bagasi hingga tertutup, tak bias ia pungkiri bahwa Daniel memang bersedia melakukan apa pun untuk putrinya.


Jessica mencondongkan tubuhnya ke arah putrinya. "Mama sayang padamu, sampai jumpa nanti malam sayang."


Daniel membuka pintu belakang dan menaruh putrinya di tempat duduk bayi. Jessica mengucapkan selamat jalan kepada putrinya, lalu ia berbalik ke arah jalan tadi yang ia lalui.


"Jess," ujarnya. "Kau mau kemana?" tanya Daniel heran karena Jessica tak melangkah ke arah butiknya.


Jessica kembali berbalik ke arah Daniel. "Ada hal penting yang harus aku kerjakan," ia tak mungkin mengatakan jika dorongan untuk kembali menemui Rey. "Sampai jumpa nanti malam."


Daniel mengangkat tangan Estelle, untuk mengucapkan sampai jumpa pada Jessica, kemudian ia masuk ke mobil dan Jessica bergegas pergi setelah mobil Daniel tak terlihat lagi.


Jessica berlari berbelok-belok menghindari kerumunan orang-orang yang lalu lalngan di jalan. Dari dari jarak beberapa meter dari tempatnya berdiri ia melihat Rey, yang juga menghampirinya. Mereka berdua berlari saling menghampiri satu sama lain.

__ADS_1


Beberapa detik mereka berhenti saling berhadapan untuk mengatur napas, hingga akhirnya Rey menarik Jessica dalam pelukannya. "Segalanya lebih indah saat bersamamu, Jessie," bisik Rey, dengan getaran suara yang sama seperti dua belas tahun silam. Mereka segera menepi sebelum ada paparazi yang memotret mereka dan menjadikannya headline berita gosip.


__ADS_2