
Jessica kehilangan pagi hari yang tenang setelah memiliki anak. Jika biasanya sebelum punya anak, ketika pagi hari membuka mata, ia masih berbaring di tempat tidur selama beberapa menit sebelum ia meraih handphonenya untuk melihat perkembangan bisnis atau berita terkini. Setelah itu ia akan menikmati secangkir kopi sembari menyusun rencana kerjanya, barulah ia mandi dan berangkat kerja.
Tetapi sekarang setelah memiliki Estelle, tangisannya di pagi hari membuat Jessica bangun dari tempat tidur, dan ia menjadi gophernya bahkan ia tidak punya waktu untuk buang air kecil. Jessica buru-buru mengganti poponya atau memandikannya, buru-buru mendandaninya, buru-buru memberinya makan.
Setelah Jessica selesai dengan tugasnya sebagai seorang ibu, ia sudah terlambat bekerja dan hampir tidak punya waktu untuk melakukan hal-hal untuk dirinya sendiri. Itu sebabnya Jessica begitu menghargai hari Minggu pagi. Rasanya seperti satu-satunya hari dalam seminggu ia merasa tenang.
Saat Estelle bangun di hari Minggu, ia selalu membawanya kembali ke tempat tidur bersamanya. Mereka berbaring bersama, sembari Jessica mendengarkan ocehannya tanpa perlu terburu-buru untuk bangun dan bekerja. Kadang-kadang mereka di tempat tidur hingga Estelle tertidur kembali.
Saat putrinya tidur Jessica saya hanya menatapnya untuk waktu yang lama, mengagumi keajaiban bahwa kini ia sudah menjadi seorang ibu, ia meraih hendphonenya untuk memotret wajah Estelle dan mengirimnya ke Daniel, tetapi ia ragu sebelum menekan tombol kirim, ia masih kesal dengan apa yang terjadi tadi malam, ia belum benar-benar ingin menghubunginya, sehingga ia membatalkan mengirim pesan padanya,
Perceraian itu sulit, dan Jessica tahu akan hal itu sebelum ia meminta cerai, tapi kenyataannya yang terjadi itu jauh lebih sulit daripada yang ia perkirakan. Ia terjebak berinteraksi dengan Daniel selama sisa hidupnya. Jessica harus berkomunikasi untuk urusan sekolah hingga rencana liburan, dan terus terang, Jessica bosan selalu mengasihani Daniel, mengkhawatirkannya, takut padanya, memikirkan perasaannya.
Sampai kapan ia harus menunggu untuk bisa berkencan dengan orang lain tanpa Daniel merasa cemburu? kapan ia bisa mulai membuat keputusan tentang hidupnya sendiri tanpa mengkhawatirkan perasaan Daniel?
Handphone Jessica bergetar, ada satu panggilan masuk dari Bunda. "Iya Bund," jawab Jessica.
"Bolehkah Estelle untuk Bunda hari ini?"
Jessica menertawakan pengabaian bundanya terhadapnya, sejak Estelle lahir sepertinya bunda lupa memiliki putri. "Kabarku baik, Bunda. Bagaimana kabar bunda?" bunda begitu mencintai Estelle, selama tiga bulan saat Estelle baru lahir bunda-lah yang merawat Estelle selama dua puluh empat jam. Jatah Jessica hanya saat menyusuinya saja, itulah salah satu alasan mengapa Jessica buru-buru pindah dari rumah bunda.
__ADS_1
"Oh maafkan bunda, sayang," ucap Alice tanpa rasa bersalah karena mengabaikan putrinya. "Bunda sedang di jalan, dua puluh menit lagi bunda akan sampai. Ada acara dengan anak-anak panti di kebun binatang Bogor, bolehkah Bunda mengajak Estelle? Agar kamu bisa istirahat atau keluar sejenak?"
"Ya, tentu. Aku akan mendandaninya.”
Setengah jam kemudian Alice tiba, ia langsung masuk dan berjalan menuju ruang keluarga dimana Estelle sedang duduk di tempat bermainnya. “Lihatlah pakaian yang menggemaskan ini,” Bunda menggendong Estelle. "Apakah aku membelikannya ini?" Saking banyaknya ia membelikan baju untuk Estelle ia sampai lupa.
"Sayangnya bukan, ini pemberian Daniel." Jessica hampir tak pernah memusingkan masalah pakaian dan perlengkapan Estelle sebab orang-orang di sekitarnya selalu membelikan semua kebutuhan Estelle tanpa Jessica minta, atau bahkan sebelum Jessica memikirkannya.
“Ah, ini tidak cocok untuknya,” ucap Alice. "Di mana jaket pink yang Bunda belikan untuknya?"
“Itu terlalu kecil, bobot Estelle sudah naik dua kali lipat."
Jessica mencium pipi Estelle saat mereka jalan ke pintu depan, kemudian ia menyerahkan tas milik putrinya. "Perlu aku antar sampai basement?"
Alice menggeleng. "Tidak perlu, bunda bisa sendiri. Kami akan pulang sore."
“Kira-kira jam berapa?” ia bertanya sebab ia sedang berpikir untuk ,enghubungi Rey. Mungkin mereka bisa makan siang karena mereka berdua libur hari ini.
“Bunda akan menghubungimu. kenapa? Apakah kamu mau pergi"
__ADS_1
Aku tidak berani memberitahunya bahwa mungkin saja ia akan pergi dengan Rey. “Ya, mungkin aku akan tidur swpanjang hari, tapi aku akan tetap menghidupkan handphoneku. Selamat bersenang-senang."
Jessica menutup pintu ketika Alice dan putrinya pergi, ia bergegas mengambil handphone. Ia cukup terkejut karena ternyata ada dua panggilan tak terjawab dari Rey, kesibukannya mendadani anaknya membuatnya tak begitu memperhatikan dering handphonenya.
Jessica langsung menghubunginya kembali melalui sambungan video, ia selalu ingin melihat wajah Rey. Ia suka melihat apa yang Rey kenakan, di mana Rey berada dan wajah yang Rey buat ketika Rey mengatakan lelucon.
Jessica sudah tersenyum ketika mendengar suara yang menandakan Rey menjawab panggilannya. Jessica melihat Rey tengah berdiri di dapur, dapur yang masih ia ingat ketika ia ke rumahnya hampir dua tahun lalu. "Pagi," sapa Rey, ia tersenyum tapi dia terlihat lelah seperti baru bangun atau akan tertidur.
"Hai," sapa Jessica.
"Tidur nyenyak?" tanya Rey.
"Ya. Akhirnya. Apakah kamu sedang memasak?"
Rey mengarahkan handphonenya ke mejanya. Ada sepanci telur, setumpuk bacon, dan… dua piring. Dua gelas jus. Hati Jessica patah. “Makanannya banyak sekali,” ucap Jessica, berusaha menyembunyikan kecemburuan besar yang mengalir dalam hatinya.
"Aku tidak sendirian," jawab Rey sembari menggeser layar kembali ke wajahnya.
Kekecewaan Jessica pasti tertulis jelas di wajahnya karena Rey langsung menggelengkan kepala. “Tidak, Jessie. Itu bukan…” Rey tertawa dan tampak bingung.
__ADS_1
Reaksinya menggemaskan tetapi membuat Jessica cemburu. Rey mengangkat handphonenya sedikit lebih tinggi sampai Jessica bisa melihat seseorang berdiri di belakangnya. Jessica tidak yakin siapa yang bersama Rey, tetapi itu bukan wanita lain. Itu anak kecil. Seorang anak yang terlihat mirip dengan Rey dan anak itu menatap Jessica dengan mata yang mirip dengan mata Rey. Apa dia punya anak yang tidak kuketahui?