
"Aku berencana membeli kapal, jadi aku juga membuat dermaga," ucap Rey ketika kapal yang membawa mereka bersandar di dermaga kediaman Rey. Belum sempat Jessica mengomentari betapa luar biasanya kediaman Rey, ia mendengar handphone Rey berdering.
"Tunggu sebentar ya, Jessie," wajah Rey seketika berubah menjadi kesal setelah melihat layar handphonenya, ia berbaling membelakangi Jessica. "Ada apa Mel?" ia terlihat serius. Hening cukup lama tapi kemudian Rey berbicara dengan nada yang agak sedikit meninggi. "Sudah kukatakan aku tidak bisa meeting hari ini, apa tidak bisa di reschedule? Kalau perlu batalkan saja kerja samanya."
Kembali hening, kemudian. "Akan kukabari lagi nanti," Rey mematikan sambungan telepon sembari berbalik ke arah Jessica. "Orang kantor.." ia terlihat kecewa.
"Kalau kau mau pergi, pergi saja. Aku sama sekali tidak keberatan jika kau ada kerjaan," melihat tayangan gosip kemarin jelas nampaknya Rey tengah sibuk untuk promosi film terbarunya.
"Ada meeting produk, tapi aku akan menyelesaikannya secepat mungkin dan kembali sebelum makan malam."
Jessica memaksakan seulas senyuman agar Rey tak merasa bersalah karena harus meninggalkannya. "Apa aku boleh pinjam laptopmu?"
Rey mengangguk. "Tentu saja. Ada di ruang kerjaku, kau boleh pakai apa pun yang ada di rumah ini." setelah berpamitan dengan Jessica Rey pun bergegas pergi meninggalkan kediamannya.
...****************...
Jessica membuka laptop Rey di teras samping yang menghadap langsung ke arah pantai. Tak ada siapa pun yang mengetahui, jika Jessica selama ini menulis sebuah blog dan fakta yang tak pernah ia ungkapkan kepada siapa pun bahwa salah satu tulisannya pernah ia kirim ke Lady Rose untuk di tulis ulang dan di jadikan buku dengan gaya bahasanya.
Tulisan yang Jessica kirim ke Lady Rose merupakan kisah cintanya bersama Rey, sehingga tak heran jika banyak kesamaan antara film yang kini tengah di tayangkan di bioskop dengan kisah asmaranya dengan Rey, karena itu merupakan kisahnya bersama Rey.
__ADS_1
Jessica mengirim tulisannya sebelum ia memutuskan untuk Daniel sebagai kekasihnya. Ia berpikir kisah cintanya bersama Rey sudah selesai dan hanya akan hidup dalam tulisannya bukan di dunia nyata, sebab ia akan memulai lembaran barunya bersama Daniel.
Setelah sekian lama tak menulis, kini Jessica membuka kembali blognya, namun bukan untuk menceritakan kisahnya dengan Rey melainkan dengan Daniel.
Hi, Reader's
Aku tahu sudah lama sekali aku tidak menulis. Amat sangat lama. Setelah aku dan pahlawan bertopeng putus, aku tak sanggup lagi menulis karena dengan menulis tentu aku akan kembali mengingat pahlawan bertopeng. Tapi sekarang aku akan menulis lagi.
Sebelum memulai, pertama-tama aku akan memberi tahu jika usiaku kini sudah 24 tahun, aku sudah lulus dari sekolah fashion, sekarang aku memiliki butik yang cukup besar, aku memiliki banyak pelanggan mulai dari artis dunia, pejabat, hingga rakyat biasa. Semua mimpiku sudah tercapai. Horeee!
Dan satu hal lagi yang ketinggalan, kini aku sudah menikah dengan Buri-Buri dan mengandung anaknya.
Aku jatuh cinta pada pria yang menyakitiku secara fisik. Aku tidak tahu bagaimana bisa kubiarkan diriku sampai ke titik ini. Saat tumbuh besar aku sering bertanya-tanya dalam hati apa yang ada dalam benak bunda ketika ayah menyakitinya. Bagaimana bunda bisa tetap mencintai pria yang ringan tangan padanya. Pria yang berulang kali memukulnya, berulang kali berjanji tapi tetap memukulnya lagi.
Saat ini aku merasa Buri-Buri sudah mati. Aku sudah kehilangan sahabatku, kekasihku, suamiku, pegangan hidupku. Aku membencinya. Aku sangat marah padanya, bahkan aku tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Tapi di tengah seluruh kebencianku itu ada beberapa gelombang alasa yang menerpaku.
Harusnya aku jujur dan menceritakan semuanya tentang kisahku dengan pahlawan bertopeng kepada Buri-buri. Pembenaran adalah bagian terberat dai kejadian ini, dia menggerogotiku sedikit demi sedikit, menggoyahkan kekuatanku. Pembenaran memaksaku untuk membayangkan masa depan kami , dan hal-hal apa saja yang bisa kulakukan untuk mencegah kemarahannya seperti itu, aku tidak akan menyimpan rahasia lagi, apa pun itu.
Kami hanya perlu sama-sama lebih keras lagi untuk mempertahankan rumah tangga ini. Dalam suka dan duka, benar seperti itu kan seharusnya?
__ADS_1
Aku tahu hal seperti ini pasti yang dulu terlintas dalam pikiran bunda. Tapi perbedaan di antara kami berdua adalah bunda mencemaskan bayak hal, bunda tidak memiliki ke stabilan financial yang aku miliki, bunda tidak punya modal untuk pergi, memberiku makan dan sekolah yang layak. Serta, bunda juga tidak ingin menjauhkan aku dengan ayah, sebab menurutnya keluarga sempurna adalah keluarga yang lengkap.
Aku tak sanggup mencerna kenyataan bahwa aku mengandung anak buri-buri. Ada manusia baru yang kami hasilkan bersama dari program kehamilan yang kami jalani selama tiga bulan belakangan ini. Dan apa pun pilihan yang nanti akan aku ambil, entah aku akan memilih untuk bertahan atau pun melepaskannya yang jelas bukan pilihan yang kuharapkan untuk anakku. Tumbuh besar di keluarga broken home atau penuh kekerasan? Yang jelas aku sudah mengecewakan bayi ini.
Aku tidak pernah merasakan hal yang seperti ini. Begitu marah, begitu kesepian, begitu hancur, dan begitu sangat-sangat terluka.
Orang-orang di luaran sana sering keheranan kenapa si wanita mau kembali pada pria yang sudah memukulnya? Aku pernah membaca sebuah penelitian yang menyatakan bahwa 85% orang-orang yang mengalami situasi seperti inimemilih untuk kembali pada pasangan yang jelas-jelas melakukan tindak kekerasan, salah satunya adalah aku.
Sebelum kejadian ini tadinya aku berpikir mereka bodoh atau lemah, tapi alasan terbesarnya adalah karena mereka jatuh cinta. Ya aku mencintai suamiku, aku mencintai semua hal yang ada pada dirinya. Andai menghilangkan rasa cinta itu semudah membalikan telapak tangan? Melarang hatimu untuk memaafkan seseorang yang kau cintai nyatanya lebih sulit ketimbang memaafkannya begitu saja.
Aku termasuk orang dalam penelitian itu sekarang, semua yang pernah aku pikirkan tentang para wanita yang mengalami tindak KDRT adalah apa yang di pikirkan orang lain terhadapku sekarang. Bagaimana dia bisa mencintai pria yang telah melakukan kekerasan padanya? Bagaimana menerima pria itu lagi?
Sedihnya pikiran itulah yang muncul di benak kita, ketika mengetahui ada tidak KDRT. Bukankah seharusnya yang patut di salahkan adalah pelaku?
Aku tahu bahwa pernikahan adalah selalu bersama mulai hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, dalam senang maupun susah, dalam sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kita.
Mungkin seharusnya sumpah itu tidak di artikan secara harfiah, seperti yang di percaya beberapa pasangan.
Dalam senang maupun susah?
__ADS_1
JJ