
Saat ini Vella sedang berada di Rooftop disana ada Bisma dkk kecuali Eric ditambah ada nya Sintya yang sedang menenangkan Vella yang sedang Emosi.
"Sumpah pengen gue bunuh tuh Ana." Gerutu Vella.
"Gue Juga kesel gampang banget dia nyuruh ngelepasin Rafzan buat Nayla."Kesal Sintya.
"Tapi siapa yang ngegagalin rencana nya Nayla?"Tanya Arlan bingung.
"Iya yah kok dia tau."Jawab Aries bingung.
Semua orang terdiam memikirkan siapa yang mengagal kan rencana Nayla.
"Gila Lo ya."Tanya Aries.
Yang melihat Bisma senyum senyum sendiri seperti orang gila
"Buset tajem amat tu mulut."Jawab Bisma.
"Kenapa sih bis?"Tanya Vella.
"Gue yang ngegagalin rencana nya Nayla."Jawab Bisma Enteng.
"Serius?"Tanya Mereka kompak.
"Ya kali gue boong."Jawab Bisma sombong.
"Kok lo bisa tau?"Tanya Arlan.
"Jadi...."
Mengalir lah Cerita dimana malan itu Bisma tidak segaja mendengar perkataan Nayla.
"Untung gagal."Kata Sintya.
"Obsesi banget kek nya dia sama bos."Kata Arlan.
"Terus pacar gue kemana?"Tanya Vella.
Bisma lupa dia menaro Rafzan dimana.
"Dimana ya?"Tanya Bisma.
"Kok malah balik nanya sih."Kata Arlan.
Bisma meringis melihat tatapan kesal Vella."Gue lupa."Kata Bisma sambil cengengesan.
"Oh ya gue inget."Lanjut Bisma setelah diam beberapa saat.
"Dimana."Tanya Vella tidak sabaran.
"Di tempat sa---
"Jadi Lo yang naro gue di tempat sampah."Perkataan Bisma terpotong Oleh Rafzan yang sedang menatap tajam Bisma.
"Sorry bos soal nya Lo berat."Jawab Bisma Enteng.
"Tapi bisa kan di tempat lain ngga usah dekat tong sampah."Kata Rafzan kesal.
"Ya karena tempat sampah paling dekat."Jawab Bisma.
***
Saat ini Rafzan membolos dia tidak tahan dengan bau tubuh nya.
__ADS_1
"Avel gatel ih." Adu Rafzan Kepada Vella.
Ya Vella ikutan membolos karena dipaksa oleh Rafzan.
"Mana sini gue liat,?"Tanya Vella sambil menatap Rafzan.
"Ini."Tunjuk nya di tangan kiri.
Vella menggosok tangan Rafzan dengan Lembut.
"Pakai baju nya Van nanti sakit."Suruh Vella kepada Rafzan yang hanya memakai Boxer saja.
"Nggak mau gerah."Jawab Rafzan Santai.
"Cih."
Vella berdecih dia kan tidak sanggup kalau melihat Abs atau roti sobek Rafzan dan itu tidak baik buat kesehatan jantung nya.
Vella tiduran di atas kasur Rafzan sedangkan Rafzan sedang duduk di atas kasur sambil memainkan Ponsel Vella, Rafzan mengalihkan pandangan nya ke Arah Vella. Yang sedang tidur terlentang.
"Wah udah besar."batin Rafzan berbinar-binar melihat itu.
"Sayang."Panggil Rafzan.
"Hm."
"Kok perut Avel mulus banget."Kata Rafzan sambil mengusap perut datar Vella.
"Tangan nya tolong di kondisikan."Kata Vella saat tangan Rafzan merambat ke atas.
"Hehe pengen Vel." Kata Rafzan sambil mengelus pusar Vella.
Vella membuka Mata nya dan menatap Rafzan."pengen apa?"Tanya Vella.
"Pengen itu."Kata Rafzan dengan nada imut.
"Itu loh."Kata Rafzan sambil memainkan tangan Vella.
"Apaan sih yang jelas ngomong nya?"Tanya Vella Kesal.
"Mau *****!."Jawab Rafzan spontan.
Mata Vella Melotot mendengar perkataan Rafzan.
"Mesum Lo ya!" Kata Vella sambil memukul tangan Rafzan.
"Stop ih."Rengek Rafzan.
"Nggak."Ketus Vella.
Melihat mata berkaca-kaca Rafzan membuat Vella Merasa bersalah.
"Maaf ya." Kata Vella Sambil mengelus tangan Rafzan yang memerah.
"Nggak."Ketus Rafzan sambil melipat tangannya di dada.
"Hei maaf dong."Bujuk Vella.
"Tapi ada satu syarat."Kata Rafzan sambil melihat Vella.
"Apa?"Tanya Vella.
"Mau n*n*n!"Jawab Rafzan.
__ADS_1
"Nggak yah!"Kata Vella ketus.
"Ya udah gue mau minta sama Nayla aja." Kata Rafzan sambil beranjak dari kasur.
"Ya udah sana."Suruh Vella.
***
"Udah dong nangis nya."Bujuk Vella.
Rafzan menangis sejak satu jam yang lalu saat dia bilang mau minta sama Nayla tapi Vella Cuek saja dan tidak perduli.
Rafzan menangis dia Fikir dengan ngomong gitu Vella akan ngasih ternyata Vella benar benar tidak perduli.
"Kamu ngga sayang lagi sama aku ya."Tanya Rafzan yang sedang memeluk pinggang Vella dan kepala nya di perut Vella.
"Kata siapa gue sayang kok sama Afan."Jawab Vella sambil mengelus rambut Rafzan.
"T-api kenapa tadi ngebiarin aku pergi."Tanya Rafzan.
"Udah nanti nggak bisa nafas."Kata Vella sambil mengangkat kepala Rafzan.
"Gue tau Afan cuma ngancem, dan kalau pun itu terjadi gue bakal lebih dulu bunuh si ulat bulu."Lanjut Vella sambil mengelus rambut Rafzan.
Mendengar jawaban Vella, Rafzan mendongak menatap Vella.
"Situ." Tunjuk Rafzan.
"Hm."
Vella membaringkan tubuhnya ke kasur lalu membuka baju nya dan melepas bh nya.
"Ayo sini, kata nya mau n*n?"
Rafzan mengerjap pelan "serius?" Vella mengangguk.
Rafzan tersenyum sumringah lalu berjalan ke arah Vella yang sedang menatapnya dengan tatapan gemas.
"Ih lucu pink."
Vella mengelus rambut Rafzan yang sedang memainkan ****** nya.
"Jangan di mainin!" Tegur Vella.
Rafzan menganguk lalu melahap tempat keluarnya ASI nanti.
"Enak?" Vella mengelus rambut lepek Rafzan.
"Hm."
Dengkuran halus dari mulut Rafzan menandakan dia bahwa dia sudah tertidur.
Vella dengan jail nya melepaskan niple nya dari mulut Rafzan.
Rafzan Mengeliat tak nyaman Mulut nya mencari sesuatu,Vella Memasukkan kembali niple nya ke mulut Rafzan.
Vella mengelus rambut Rafzan dengan lembut.
"Gue udah jatuh kedalam pesona Lo Van dan gue juga udah sayang sama lo gue nggak akan rela ngelepasin lo, Gue harap kalau Lo tau kebenaran nya lo jangan marah ya sama gue."
Kata Vella sambil mengusap pelan kerutan di dahi Rafzan.
"I love you baby boy."
__ADS_1
***
.