
Selamat membaca!!!
Setelah memberi Wejangan kepada anak anak nya, Vella pergi ke kamar nya, dengan perut buncitnya Vella berjalan menaiki Tangga.
"Mas serius kamu ngebunuh Kelinci Papi?!" Tanya Rafzan memastikan.
"Iya Pi soal nya Kelinci Papi lucu banget," Jawab Luke.
"Lucu? Tapi kenapa di bunuh hm?"
"Iya Pi lucu buat di bunuh dan daging nya aku kasih ke Bono."
Bono merupakan ikan piranha milik Rafzan,
"Mending mandi deh sore nanti kita kan pergi ke rumah Oma Lina." Suruh Rafzan.
"Oke Pi."
Bocah kembar itu pergi ke kamar masing-masing, Rafzan mengeluarkan Ponsel nya dan menelpon seseorang.
"Hallo Vin tolong kamu pesan kan satu televisi lagi, sama tolong pangilin tukang benerin kaca ya!!"
"Oh ya satu lagi sofa tolong pesan kan lagi."
Setelah mengatakan itu Rafzan memeriksa siapa tau ada barang selain Sofa, Tv dan Kaca yang dirusak oleh anak anak nya.
"Semoga aja yang mereka berubah bisa miskin gue kalau tiap hari gini terus."
Rafzan mengerutu sepanjang jalan, Rafzan Membuka pintu kamar nya, dan melihat Vella yang sedang rebahan di kasur nya.
"Sayang," panggil Rafzan.
Vella menoleh ke arah Rafzan.
"Fan kok perasaan aku ngga enak gini ya." Adu Vella dengan keringat dingin di wajahnya.
"Sytt mungkin perasaan kamu aja." Rafzan memeluk tubuh berisi Vella,
"Tap---
"Tenang aja ngga akan terjadi apa apa, kamu jangan banyak fikiran kasian Dede bayi nya." Kata Rafzan mengelus perut buncit Vella.
***
Krett
Vella menoleh ke arah pintu, Anak sulung nya berjalan ke arah Vella.
"Mami."
Vella mengelus rambut Luke dengan sayang.
"Kenapa sayang?!" Tanya Vella.
"Ngga papa." Jawab Luke sambil mengelus perut Mami nya.
"Mas kamu kan anak sulung Mami sama Papi kan?." Luke mengangguk.
"Kamu harus jadi Abang yang kuat, jangan pernah nyerah ya sayang, harus jadi contoh yang baik buat adik adik kamu."
"Mami kok ngomong gitu."
Vella mengecup pelipis Luke.
"Sayang dengerin Mami ya, Maut, jodoh, ngga ada yang tau itu semua sudah di atur oleh tuhan."
Mata Luke berkaca-kaca, dia sangat sensitif jika Mami nya membahas tentang Maut.
"Kurangin nakal nya ya boy, jangan suka ngebunuh kamu masih kecil,"
"Iya Mami."
"Luke janji jadi anak Yang kuat dan jadi Abang yang baik buat adik adik Luke."
"Dan Luke janji akan ngurangin ngebunuh nya."
Luke berbicara dengan tegas walaupun Masih Kecil dia sudah bisa berfikir dewasa.
"Pinter."
Vella memeluk tubuh anak sulung nya dan membawa kedalam pelukannya,
__ADS_1
Ibu dan anak itu tertidur pulas sambil berpelukan,
Rafzan keluar dari kamar mandi, dia tersenyum haru, Vella benar benar istri yang hebat di umur ke dua puluh lima dia bisa mengurus anak dan suami dengan baik.
Rafzan berjalan kearah putra dan istri nya dan mengecup kening mereka.
"Papi akan melindungi kalian meski pun Papi akan Mati."
***
Mobil yang di Kendarai oleh Rafzan berserta keluarga telah sampai di kediaman Adhitama.
Dengan gugup Vella turun dari mobil nya, perasaan nya semakin tidak karuan saat melihat Mommy Lina dan Daddy Bara Yang sedang menciumi Putra kembar nya.
"Ayo,"
Rafzan menuntun Vella berjalan masuk.
"Apa kabar Sayang?!" Tanya Mommy Lina sambil mengecup pipi Vella.
"Alhamdulillah Baik Mom." Jawab Vella.
"Ayo masuk ada Abang kamu di dalam." Ajak Mommy Lina.
Vella berjalan masuk ke Mansion, dia coba berfikir positif dan berusaha tidak khawatir.
"Abang." Vella memeluk tubuh Tegap Derion.
"Gimana kandungan nya sehat?!" Tanya Derion sambil mengelus perut Vella.
"Sehat dong, istri Abang mana?" Tanya Vella saat tidak melihat Elina.
"Ada di rumah." Jawab Derion.
"Hai bang." Sapa Rafzan.
"Hm."
Derion menatap ke arah keponakan nya dan berjalan mendekati nya.
"Hai boy's." Sapa Derion.
Luke dan Rai memeluk kaki Derion, Kay berada di gendongan bagian belakang dan Ver di gedong di depan.
"Turun Boy's lihat Paman mu yang tua itu kesusahan." Sindir Rafzan.
"Tidak aku masih muda." Dengus Derion.
"Bagaimana kandung El bang?!" Tanya Vella.
"Baik cuma Ngidam nya aneh aneh." Adu Derion dengan lesu.
"Aneh?"
"Iya masa dia minta rujak dari buah kelapa tapi aku yang memakan nya." Kesal nya.
"Lah Abang masih mending, Aku Waktu Vella Ngidam dia nyuruh aku nyuri mangga bang," Curhat Rafzan.
"Kenapa ngga beli aja?" Tanya Daddy.
"Dia bilang harus nyolong, untung aja kagak ketauan."
Vella Tertawa Mendengar curhat suami nya, siapa suruh nanam benih kan kena sendiri.
"Pi pengen es krim." Kata Kay dengan memelas.
"Kalian mau?" Tanya Rafzan melihat ketiga putranya.
"Mau mau mau."
"Ya udah kita beli es krim dulu ya di depan."
Setelah mengatakan itu Rafzan dan Empat Putra nya keluar untuk membeli Es di krim yang tidak jauh dari Mansion.
Vella hanya diam, dia fokus mengelus perut bucit nya. Vella Merasa kan Aura dingin di ruangan ini, Membuat nya tidak nyaman.
Vella mendongak, dia terkejut melihat tatapan dingin dari Mommy, Daddy dan Abang Derion.
"K-alian kenapa?!" Tanya Vella gugup.
"Udah puas sandiwara nya."
__ADS_1
Bukan nya menjawab tapi Derion malah bertanya dengan nada dingin dan datar.
"Maksud Abang?"
Vella benar benar tidak mengerti.
"Sudah puas sandiwara nya." Kali ini Mommy Lina bertanya nya.
"Siapa yang sandiwara Mom?"
"Kamu pembunuh, penipu!!!" Sentak Mommy Lina.
Tubuh Vella bergetar ketakutan,
"M-aksud Mommy Apa?!!" Tanya Vella yang masih belum paham.
Derion berjalan ke arah Vella, dengan kuat Derion menjambak rambut Vella.
"Aww s-akit B-ang." Kata Vella menahan sakit.
Plakkk
Plakkk
Dughh
Bughh
Dengan kejam Derion menampar pipi Vella dengan kuat, lalu mendorong kepala Vella ke Dinding, merasa tidak puas Derion menendang Perut Bucit Vella.
Darah segar mengalir dari kening dan dari sela sela paha Vella.
"Arghhh sakit hiks."
Vella berteriak kesakitan saat Derion menendang nya, sampai terjauh ke lantai yang dingin.
Lantai putih itu kotor karena darah dari perut Vella.
"S-alah V-ella apa hiks??" tanya Vella.
"Kamu tanya salah kamu apa?!!"
"Karena kamu Putri saya meninggal, dasar penipu!!"
"Coba saja kamu tidak masuk ke dalam raga putri ku mungkin dia tidak akan meninggalkan ku."
Mommy berteriak sambil menampar pipi Vella.
"Penipu hiks."
Vella terkejut mendengar teriakan Mommy Lina.
"Puas hah bersandiwara menjadi Vella!!"
Derion menatap Dingin Vella yang sedang menangis tersedu sedu.
"M-aaf." Lirih Vella.
"Maaf kamu tidak akan membuat Putri saya hidup dasar sialan!!"
Teriak Mommy lina Sampai terdengar sampai Keluar.
Jantung Rafzan berdegup dengan kencang begitu pun dengan ke empat putra nya.
Rafzan membuka pintu dan tubuh nya mematung Melihat Tubuh Vella yang sudah kacau.
Darah mengalir dari sela paha, pipi memar dan Kening terluka.
Derion menatap Ke arah Rafzan, dan tersenyum Ibils.
"Ada kata Terakhir adik manis."
Vella menggeleng cepat saat Derion mengeluarkan Pistol dari Saku nya dan mengarahkan ke arah nya.
Rafzan berlari secepat mungkin ke arah Vella, jari Derion menekan pelatuk pistol dan
Dor
-END-
***
__ADS_1