
Bianca menatap kesal sang Papa yang sedari tadi tidak berhenti mengoceh, Telinga nya saja sudah sakit mendengar umpatan kasar sang papa yang mengumpat Eric.
"Diem deh Pa telinga Bi udah sakit ngedengerin nya."Kata Bianca sambil menatap kesal sang Papa.
"Kan Papa kesal baby, kamu mau kan pertunangan kamu dengan dia di batalkan."Tanya Papa dengan hati hati.
"Terserah Papa sih Bi juga ngga cinta lagi sama dia."Kata Bianca Santai.
"Terus anak Papa lagi suka sama nih."Goda Papa sambil mengelus kepala Bianca.
"Om Kulkas."Jawab Bianca polos.
Mata Hen melotot mendengar penuturan Bianca,Hen memasang Wajah datar tapi pipi nya merona.
Hahahaha
Papa Tertawa melihat reaksi Hen,dia sudah tau kalau Hen menyukai Putri nya saat Hen pertama kali dia bawa ke rumah karena itu lah Hen menolak saat dia ingin mengangkat nya menjadi Anak.
"Hen apa kau sudah tau Siapa orang tua mu?"Tanya Papa kepada Hen.
"Sudah tuan."Jawab Hen Sopan.
"Apa kau tidak ada niatan kembali ke Orang tua mu?"Tanya nya lagi.
"Belum tuan saya mau menunggu anak angkat keluarga saya di keluar kan dari rumah, baru saya akan menemui orangtua kandungan saya."Jelas Hen Panjang lebar.
"Om ngga benci sama orang tua kandung om?"Tanya Bianca hati hati.
"Tidak! Karena saya tahu alasan nya, dan mereka juga tidak pernah berhenti mencari saya walaupun saya sudah sebesar ini tapi mereka tetap mencari saya."Jawab Hen tenang.
"Tapi kok mereka ngga pernah ketemu sama Om?"Tanya Bianca heran.
Om Kulkas nya pasti berasal dari keluarga terpandang wajah nya saja mencerminkan bangsawan,Pasti keluarga itu bisa menyuruh detektif handal untuk mencari informasi.
"Karna Hen menyembunyikan identitas nya sayang."Kata Papa sambil mengelus kepala putrinya yang sedang bersandar di dada bidang nya.
"Oh gitu,terus Pa keadaan dua sampah itu gimana?"Tanya Bianca.
"Lilis masih hidup dengan keadaan tubuh yang sudah mengeluarkan belatung dan untuk Anaknya Papa pasung karena suka ngamuk dan meracau tidak jelas,"Jelas Papa.
"Ih jadi ngga waras"Kata Bianca yang menatap intens Hen.
Wajah Hen datar tapi tidak dengan hati nya dia sedang gugup di perhatikan gadis pujaan nya.
"Ya karena tiap hari di siksa Batin nya,"Jawab Papa santai.
"Berhenti menatap Hen seperti itu sayang "Lanjut Papa Sambil menutup Mata Bianca.
"Bi baru sadar Om Hen ganteng banget."
***
Disisi lain
Jam istirahat baru saja berbunyi dan Rafzan sudah standby di depan kelas sang Pacar.
"Woii ngelamun Bae."Kata Vella menepuk keras bahu sang pacar.
"Sakit."Kata Rafzan sambil menatap tajam Vella.
"Mau gue colok tu mata."Sindir Vella.
"Cih ayo ke kantin."Ajak Rafzan.
"Gendong."Kata Vella.
__ADS_1
Rafzan langsung jongkok di depan sang pacar.
"Cepat deh gue udah lapar."Ketus Sintya melihat dua sejoli itu.
"Eh ada yang jomblo,sorry gue kalau udah sama mas pacar suka lupa Ama orang lain."Kata Vella sambil tersenyum tengil.
Cih
Sintya berjalan meninggalkan Vella dan Rafzan.
"Ye Ngambek."Kata Vella yang sudah berada di gendongan Rafzan.
"Gue kemarin kan beli Bakso Ama Abang."Kata Vella sambil meletakkan dagu nya ke bahu sang pacar.
"Kenapa Lo ngga ngajak gue?" Tanya Rafzan.
"Ngga ah bosan liat muka Lo terus."Kata Vella enteng.
"Bacot."Kata Rafzan.
Plak
Vella memukul bibir Rafzan.
"Ngomong kasar mulu dari tadi."Kata Vella.
"Ngga tau mungkin karena belum di beri asupan."
"Bacot!"
***
"Ambilin Sambal dong Bis."Kata Vella yang sulit menjangkau sambal.
Vella menambah kan Sambal ke kuah bakso nya yang bening,kuah bakso tersebut sampai berubah warna menjadi merah.
Bisma dkk meringis melihat kuah bakso itu
Kecuali Rafzan yang menatap minat bakso milik Vella.
"Minta Vel."Kata Rafzan yang sudah menyiapkan sendok dan garpu.
"Nih."
Vella menaro bakso tersebut di tengah-tengah antara Rafzan dan Vella.Rafzan mulai menyendokkan kuah Bakso itu kemulut nya.
"Uh pedes."Kata Rafzan dengan wajah datar..
"Em enak banget nih bakso."Kata Vella yang mulai menyendokkan bakso itu kemulut nya.
Bisma dkk meneguk air liur melihat dua sejoli itu memakan lahap bakso itu.
"Enak?"Tanya Bisma dengan wajah ngilu.
"Enak banget pedes nya nendang."Kata Vella sambil mengibas wajah nya yang mengeluarkan keringat.
"HUAA PEDESS." teriak Vella menggelegar sambil berlari ke penjual Es krim.
Rafzan ikut berlari dengan wajah datar yang memerah menahan Pedas.
Semua orang melongo melihat kelakuan dua orang itu,Cara pacaran mereka Aneh sekali tapi terkesan romantis.
"Aduh perut gue mules."Kata Vella sambil mengelus perut nya.
"Sama tapi masih pengen."Jawab Rafzan sambil memakan Es krim nya.
__ADS_1
Setelah habis beberapa bungkus Es krim Vella dan Rafzan kembali ke meja nya.
Tidak lama datang Eric dan Ana.
"Kok muka kak Rafzan merah gitu?"Tanya Ana dengan Nada di Lembut lembut kan.
"Bukan urusan Lo."Jawab Rafzan ketus.
"Biasa aja ngga usah gitu."Eric memeluk tubuh Ana yang bergetar.
"Diem deh gue lagi panas."Kata Rafzan datar.
Dia sedang kepedasan dan Eric memancing Emosi nya.
"Bisa kan ngga usah ketus ketus Ana jadi takut." Kata Eric sambil menatap tajam Rafzan.
"Cengeng!" Kata Rafzan.
"MAKSUD LO APA!!" Bentak Eric.
"U-dah kak jangan marah marah Ana takut
Kak Rafzan engga salah Ana aja yang sok perhatian sama Kak Rafzan."Kata Ana dengan nada bergetar.
"Tapi kamu kan cuma nanya kondisi dia An."Kata Eric.
"Diem deh pacar gue ngga perlu perhatian Lo."Kata Vella menatap Datar Ana dan Eric.
"Tapi kan ngga seharusnya Rafzan kayak gitu."Kata Eric.
"Mau Lo kayak gimana sih Ric,Lo tau kalau bos emang gitu kalau ngga suka sama orang asing."Kata Bisma Membela Rafzan.
"Ana bukan orang asing."Kata Eric penuh penekanan.
"Dia orang asing Ric semenjak dia datang Lo jarang ngumpul sama kita kita,Lo sering foya foya,sering mabuk mabukan,"Kata Arlan Sambil menatap Eric.
"Dan gara gara dia juga Lo ngebentak Mommy Lo."Lanjut Arlan Membuat semua orang terkejut.
"Gue ngga segaja karena Mommy juga sih yang ngatain Ana."Eric Membela diri.
"Ngga gitu seharusnya ric cuma gara gara Mommy Lo bilang gitu Lo sampai ngebentak wanita yang membesarkan Lo merawat Lo dengan kasih sayang, Seorang ibu tau mana yang terbaik untuk putra nya, Lo berubah terlalu jauh sejak dia datang ke kehidupan Lo."Kata Vella menujuk Ana.
"Semarah marah nya Lo se Emosi apapun Lo jangan sampai Lo ngomong kasar apalagi Sampai ngebentak Mommy Lo,"Lanjut Vella
sambil Pergi dari kantin
"Lo pembawa pengaruh buruk buat Eric."Kata Rafzan menunjukkan Kening Ana sampai dia mundur beberapa langkah.
"Ingat saat lo sakit siapa yang ngerawat lo,
Siapa yang ngajar Lo ngomong, makan, berjalan dan sampai Lo Segede gini."Kata Aries sambil menepuk bahu Eric.
"Penyesalan selalu di akhir."Kata Arlan tanpa melihat Eric.
"Lo beruntung masih punya ibu yang ngingetin lo makan ngingetin elo saat berada di jalan yang buruk di luar sana masih banyak anak yang udah ngga punya ibu, kekurangan kasih sayang seorang ibu contoh nya tunangan Lo."Kata Bisma sambil menendang Perut Eric dengan keras.
Byurr
Byurr
Sintya menyiram Eric dan Ana dengan jus milik Bisma dkk.
"Salam penutup."Kata Sintya sambil membungkuk badan nya sekitar 90°
***
__ADS_1