
Vella menatap tidak percaya Elina yang bersih kukuh ingin memakai gaun itu.
"Ini Bagian dada nya terlalu terbuka sayang." Kata Bunda.
"Engga Bun, El mau nunjukin kalau El nice body.." Jawab Elina sambil memeluk gaun itu.
"Iya Tante ngga papa biar Abang ngiler!" Bujuk Vella ikut ikutan.
"Apa kamu ngga risih?!" Tanya Bunda.
"Engga kok Bunda ku sayang, Malah aku suka." Tutur Elina.
"Ya udah terserah kamu."
Elina memakai gaun itu.
Hari ini Elina dan Derion akan menikah setelah acara Pdkt an bulan kemarin, Mommy meminta pernikahan mereka di cepat kan.

Gaun yang di pakai Elina,
"Gila seksi banget gue." Puji Elina.
Vella menatap Jijik Elina yang senyum senyum sendiri, dan memuji muji tubuh nya.
"Iyuh gitu aja bangga." Sindir Vella.
"Kenapa iri, dasar tepos." Ejek Elina.
"Hasil Mantan aja bangga." Sindir Vella.
"Sorry ya punya gue alami kagak ada sentuhan dari mantan." Jawab Elina.
"Tapi jujur ya gue suka pegel gitu di bahu, bawaan nya mau rebahan Mulu, sama punggung gue rasa nya cepat banget pegel nya." Lanjut Elina.
"Kenapa?!"
"Ya karena beban ini." Tunjuk Elina sambil mengoyang goyang buah dada nya.
***
Ijab qobul berjalan dengan lancar, Sekarang acara memberikan selamat.
"Adek Mas udah gede ya." Kata Theo Sambil menghapus air mata nya.
"Udah lama."
"Harus nurut sama suami."
"Iya."
"Jangan lupain Mas ya!"
"El nikah mas bukan mati."
"Kamu jangan nakal ya!"
"Iya."
Vella dan Rafzan menatap ngeri Abang abang Elina yang terlewat lebay.
Bahkan mereka tidak malu dengan tubuh kekar mereka, mereka menangis sesenggukan sesekali menarik ingus nya yang akan jatuh.
"Iyuhh jijik." Kata Vella sambil memeluk tubuh Rafzan.
"Iya nangis nya kejer kejer lagi." Jawab Rafzan sambil memeluk tubuh Vella.
"Pengen nikah." Keluh Vella.
Rafzan langsung berbinar mendengar perkataan Vella, tapi setelah mendengar kelanjutan nya dia murung.
"Tapi takut di unboxing."
Aries dan Arlan mendengus melihat dua sejoli itu.
"Kalian kenapa?" Tanya Sintya sambil duduk di dekat Arlan. Di balas gelengan kepala oleh Arlan dan Aries.
__ADS_1
"Baju lo kok ngga seksi Vel?" Tanya Sintya.
"Lo ngga lupa pawang gue posesip." Kata Vella sambil memakan cake.

Vella hanya memakai gaun sederhana yang tidak terlalu terbuka, dan high heels yang tidak tinggi.
"Bilang aja kalau tepos." Ejek Sintya.
"Tenang nanti gue bikin montok.'' jawab Rafzan Enteng
Vella tersedak saat minum jus,

Baju yang di pakai Sintya dia couple dengan Arlan, ya mereka berdua memang dekat tapi tidak pacaran.
Vella fokus memakan cake nya, Rafzan hanya menatap mulut Vella yang belepotan,
"Berantakan." Kata Rafzan sambil membersihkan pinggiran Bibir Vella dengan ibu jari nya lalu memasukkan ke mulutnya.
"Ngga jijik?!"
Rafzan menggeleng, dia mengelus rambut Vella dengan lembut. Vella tersenyum menatap Rafzan di balas senyum manis.
"Mau." Tawar Vella Sambil menyuap Rafzan.
Rafzan Membuka mulut nya dan menerima suapan Vella.
"Cantik banget sih." Puji Rafzan.
"Emang nya kemaren Kemaren ngga Cantik?!"
"Cantik kok, tapi hari ini kamu cantik banget, pengen cepat cepat halalin." Wajah Vella memanas,
Rafzan mengajak Vella berdansa,
Vella mengalungkan tangannya ke leher Rafzan dan Rafzan memeluk erat pinggang Vella.
Mereka bergerak ke kanan ke kiri mengiringi musik,
Vella menyenderkan kepalanya di dada bidang Rafzan, meyalur kan rasa cinta yang begitu tulus dan besar dari kedua nya.
Mereka kembali melakukan gerakan dansa, Vella memutarkan tubuhnya, Rafzan tersenyum manis dan menangkap tubuh Vella.

Vella memeluk tubuh Rafzan dengan nafas terengah-engah,
Rafzan menangkup Pipi Vella dan mengecup bibir Vella
Semua nya bertepuk tangan saat Vella dan Rafzan mengakhiri dansa nya, Mommy lina menatap garang kedua sejoli itu.
***
Setelah acara kemarin Vella dan Rafzan menginap di hotel, Mereka terlalu malas untuk pulang,
Vella membuka mata nya melihat jam yang berada di samping tempat tidur.
"Fan dingin." Adu Vella.
Rafzan membuka mata nya dan menarik tubuh Vella agar masuk kedalam pelukannya.
Rafzan mengelus kepala Vella agar kembali tertidur, Vella mendusel dusel ke dada Rafzan mencari tempat ternyaman, setelah mendapat kan nya Vella kembali memejam kan mata nya.
Rafzan masih setia mengusap kepala Vella dengan lembut, tidak lama denguran halus terdengar dari mulut Vella.
Rafzan mencium pelipis Vella dan ikut memejam kan mata nya.
***
"Mommy pengen nikah juga lohh." Rengek Vella.
"Kamu masih kecil adekk." Jawab Mommy sambil memijit pelipisnya.
"Adek udah gede loh udah tujuh belas tahun KTp aja udah punya." Balas Vella.
__ADS_1
"Kamu tau masak?!"
Vella menggeleng.
"Kamu masih suka bangun siang."
Vella mengangguk.
"Kamu bisa ngurus suami sama anak?!"
Vella mengangguk lalu menggeleng.
"Nah nikah itu ngga mudah Adek, harus punya kesiapan yang gede." Nasehat Mommy.
"Tapi adek ngga mau tidur sendiri lagi." Kata Vella.
"Kenapa sih kamu kekeh banget mau nikah."
"Abang bilang kalau nikah itu enak, tidur ada yang nemenin, sakit ada yang ngurus, dan tiap malam kuda kudaan!" Jawab Vella semangat.
"Tapi Mommy kuda kudaan itu kayak gimana?" Tanya Vella polos.
Mommy Melotot mendengar pertanyaan Vella.
"Y-a ya gitu." Jawab Mommy gugup.
"Gimana Mommy, kayak gini." Kata Vella sambil memperaktekkan dengan manaiki kuda kudaan main.
"K-amu dapat itu dari mana?" Tanya Mommy.
"Ngambil yang anak tetangga."
***
"Pa Rafzan mau nikah!!" Tekan Rafzan.
"Sama?"
"VELLA DONGG!!"
Teriak Rafzan dengan semangat.
"Emang nya kamu udah siap nyari uang?"
"Siap Pa."
"Ya udah besok kamu belajar ngurus perusahaan."
Rafzan menganguk dengan semangat dan berlalu pergi dari ruang kerja Papa Bram.
Gue kawinn
Asikkkk gue kawinn
WOIII guee mau kawinn nih
Hahahah Gue kawin!!!??
Rafzan bernyanyi dengan riang, dan sesekali berteriak dengan gembira.
"Bibi Rafzan Mau kawinn!!" Adu Rafzan kepada pengasuh yang susah mengurus nya dari kecil.
Bibi tertawa kecil melihat Rafzan yang antusias bahkan dia beberapa kali mengecup kening wanita hampir satu abad itu.
Mira menyaksikan bagaimana putranya yang sangat bahagia, kapan dia dekat dengan putra nya, dia juga ingin memeluk putra nya, dan di dicium putranya, tapi kapan?
Mira menghapus air mata nya.
"Gimana udah tau gimana rasanya tidak di anggap oleh putra mu sendiri." Kata Papa Bram Dingin.
"A-ku menyesal." Jawab Mira menunduk.
"Menyesal kamu tidak ada guna nya lagi Mir, Coba dari dulu mungkin kamu tidak akan sejauh ini dengan putra kamu sendiri,"
Papa Bram hanya menatap Rafzan yang sedang bercerita tentang Vella kepada bibi Nini.
"Jangan pernah kamu menghancurkan kebahagiaan putra ku."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu papa Bram meninggal kan Mira yang sedang menangis sambil memukul dada nya.
***