
Ada yang nungguin ngga?
Tubuh Rafzan dan Ke Empat Putra nya menegang, tepat di depan mata nya Vella di tembak oleh Derion.
"K-enapa?!" Tanya Rafzan dengan tubuh bergetar.
"Haha Dia itu penipuan, gara gara dia Adik gue mati!" Jawab Derion.
"Penipu? Ini takdir bang." Jelas Rafzan.
"Ngga! Kalau dia ngga masuk ke tubuh Vella mungkin Adik gue masih hidup." Tekan Derion.
"Kenapa harus pakai kekerasan sih bang? Bisa kan ngomong nya secara baik baik, istri gue juga lagi ngandung." Kata Rafzan berusaha mengontrol emosi.
"Nyawa di balas nyawa." Jawab Derion enteng.
"SEHARUSNYA KALIAN ITU BERSYUKUR KARENA ANNE! KALIAN MASIH BISA NGELIHAT VELLA WALAUPUN JIWA NYA BUKAN JIWA ANNE."
Habis sudah kesabaran Rafzan,
"DIA ITU HANYA GADIS MISKIN YANG INGIN MENGUASAI HARTA KAMI, ARGHHH MATI AJA LO."
DOR
DOR
"LUKE, RAI"
Rafzan berteriak saat Derion menembak tepat di kepala anak nya.
"L-uke, R-ai." Panggil Vella sambil merangkak ke tempat putra nya.
"M-ami."
Luke dan Rai mencoba menggapai tangan sang Mami.
AKHHH
Luke berteriak saat tangan nya di pinjak oleh Derion.
"L-epas bang." Vella memukul kaki Derion agar melepaskan tangan Luke yang ada di bawah nya.
"Gue bukan Abang Lo." Ketus Derion.
Dughh
"Mamii."
Ver dan Kay berteriak saat Kepala Vella di tendang oleh Derion.
Luke dan Rai sudah tergeletak kaku di Lantai.
"Hiks Mami." Ver mencoba mengoyang kan lengan sang Mami.
"Mami hiks " Kay memeluk erat tubuh Vella.
Dor
Derion menembak kaki Rafzan, membuat nya terjatuh.
"Kalian keluarga Iblis!!" Bentak Rafzan
Hahahaha
Dengan kaki pincang Rafzan berjalan ke arah kedua putranya yang sudah terbujur kaku.
"Hei bangun boy."
Air mata Rafzan sudah menetes saat denyut nadi putra nya sudah tidak ada.
"B-oy."
Rafzan mengendong tubuh kedua putranya, dan berjalan ke arah Vella berserta dua putra nya.
"Papi Mami!" Adu Ver sambil menangis.
"Avel, Avel, Vel." Dengan tangan gemetaran Rafzan mencoba mengecek denyut nadi Vella,
Tubuh nya menegang saat denyut nadi Vella sudah tidak berdenyut,
"Mami Kenapa Pi?" Tanya Kay saat melihat Papi nya menatap kosong sang Mami.
"Ngga, ngga mungkin."
Rafzan menggeleng-geleng kan kepala nya tidak percaya.
"Mami cuma tidur kan Pi?" Tanya Ver mencoba berfikir positif.
Rafzan menggeleng kan kepala.
"MAMIIII."
Dua bocah itu menangis, dia mengerti apa maksud dari Papi nya.
"Paman pembunuh hiks."
"Ya saya yang membunuh Mami mu hahaha." Jawab Derion sambil tertawa.
"Kalian Jahat hiks."
"Tidak saya orang baik, saya hanya mengantar kan Mami mu ketempat yang semestinya."
"Papi hiks,"
"Sini Boy."
Rafzan memeluk erat tubuh Vella dan ke empat Putra nya.
"Abang sama Mami tidur dulu ya sayang kalian jangan sedih." Kata Rafzan.
"Mami Pasti bangun kan Pi?" Tanya Kay.
"Iya nanti Mami bangun kok."
Mommy Lina, Daddy Bara, dan Derion tersenyum miring melihat Vella dan dua putra nya sudah terbujur kaku.
"Ada yang mau ikut sama Mami nya?" Tanya Derion sambil tersenyum miring.
"NGGA," Teriak Ver.
Derion mulai menekan pelatuk nya dan mengarahkan ke Ver.
Dorr
"PAPIII,"
Rafzan bangun dengan nafas tersengal sengal, keringat dingin membasahi wajah nya,
"Mimpi kan?" Gumam Rafzan,
Rafzan melihat di sekeliling nya, ternyata dia berada di dalam kamar nya,
Rafzan Melihat ke arah putra sulung nya yang sedang tertidur pulas,
"Boy." Rafzan mengecek Nafas dan denyut nadi Luke,
Rafzan bernafas lega saat denyut nadi Luke stabil.
Kening Rafzan mengerut melihat tubuh putra nya mengeluarkan keringat dingin dan wajah nya seperti gelisah.
__ADS_1
"MAMIII."
Luke berteriak histeris saat membuka mata nya.
"Kenapa Mas?" Tanya Rafzan sambil menenangkan Putra nya.
"Luke mimpi kalau Mami hiks."
Tubuh Rafzan menegang, apa anak nya mimpi seperti diri nya.
"Sytt, Mimpi cuma bunga tidur kok." Rafzan menenangkan Luke yang masih menangis.
"Mami mana?" Tanya Luke saat menyadari Mami nya tidak ada.
Rafzan mengedong Tubuh putra nya, mereka mencari-cari Vella dari kamar mandi sampai dapur tapi tidak ada.
Mereka sudah gelisah saat tidak menemukan Mami nya.
Saat melewati kamar kembar mereka tidak sengaja mendengar suara tangisan,
Dengan bergegas Rafzan Membuka Kamar Ver, ternyata di sana ada Vella Yangs sedang memeluk tubuh ke tiga anak nya.
"Kembar Kenapa sayang?" Tanya Rafzan.
"Mereka mimpi buruk." Jawab Vella.
"Kok sama sih Mi, Aku juga mimpi buruk." Adu Luke dengan mata berkaca-kaca.
"Emang nya mimpi apa sih?!" tanya Vella penasaran.
Mereka bungkam tidak, Vella mengerut Kening nya, saat mereka bungkam.
"Bukan apa apa." Jawab Rafzan.
Rafzan meletakkan tubuh Luke, dan memeluk erat Vella dari belakang, begitu pun Luke dia ikut memeluk tubuh Vella.
***
"Mami kita harus pindah." Kata Luke dan di angguki oleh saudara saudara nya.
"Kenapa kok mendadak sih?" Tanya Vella bingung.
"Ngga papa Kita bosan di sini" Jawab Ver.
"Iya sayang kita harus pindah, kita akan ke Amerika, aku mau buka cabang disana." Kata Rafzan mencoba memberi alasan.
"Mansion dan semua kebutuhan sudah aku siap, tinggal berangkat aja."
"Aku ngga mau." Jawab Vella.
"Harus mau Mami." Kata Kay yang sudah mau menangis.
"Mami harus mau Hiks , aku ngga mau Nanti Mami di jahatin sama orang jahat." Kata Ver yang sudah menangis.
"Mami kita pindah ya." Bujuk Rai.
"Tapi kandungan Mami tinggal dua bulan lagi melahirkan." Kata Vella.
"Kata dokter ngga papa kok Mi, ya kan Pi."
"Iya kata dokter juga ngga Vel,"
"Oke."
***
Siang ini Vella akan pergi ke supermarket yang tidak jauh dari Mansion baru nya,
"Mas, Adek Adek mu mana?" Tanya Vella sambil mengelus perut nya.
"Lagi siap siap Mi." Jawab Luke.
Vella sekeluarga benar benar pindah setelah Rafzan beserta putra putra mengalami Mimpi yang sama.
"Ayo Mi." Tiga Bocah kembar itu datang secara bersamaan.
Mereka berjalan sambil menikmati indahnya udara di negara ini, meski pun sudah menjadi negara maju tapi udara di sini tetap segar.
Dengan wajah datar nya empat bocah itu mengawali Sang Mami.
Setelah Mimpi buruk itu ke empat bocah itu sudah tidak nakal lagi, dan sudah menjadi seperti anak kecil pada umum nya,
Dan mereka berempat akan berubah menjadi datar dan dingin jika bertemu dengan orang asing.
Awal nya Vella bingung,tapi mengingat Tingkah suami nya yang datar dan dingin dia sadar bahwa anak nya menuruni sifat suaminya.
Setelah berjalan selama lima belas menit mereka sampai di supermarket,
Vella mulai berjalan ke arah troli, tapi langsung di cegah oleh Luke.
"Biar Luke aja Mi." Cegah Luke.
"T-api--
"Ngga papa Mi, Mami pilih aja mau ngambil apa biar kita kita yang ngedorong Troli nya."
Vella hanya mengangguk, selain sifat nya berubah, Anak anak dan suaminya menjadi lebih posessive.
Vella mulai memasuki beberapa sayuran dan kebutuhan lain nya.
Saat sedang berkeliling Vella, Dia tidak menyadari Anak anak nya sedang mencari cari Sang Mami.
"Ver cari di sana."
"Oke."
"Kamu Kay Coba cari di sana."
"Oke."
"Koko kamu ikut sama Mas ya."
"Iya."
Rai dan Luke berjalan di barisan tempat buah buahan.
Vella berjalan tanpa melihat ke depan dia terlalu fokus melihat macam macam Snack.
Brukk
Aw
Vella terjatuh,
"Soryy." Kata seorang wanita yang memakai baju Formal.
Vella mendongak,
"Bianca?"
"Vella?"
Ya orang yang menabrak Vella Adalah Bianca.
Masih ingat Bianca?
"Vella Lo disini juga?" Tanya Bianca sambil membantu Vella berdiri.
"Iya kemaren baru pindah." Jawab Vella.
__ADS_1
"Gimana kabar Lo?" Tanya Bianca.
"Seperti yang Lo liat." Jawab Vella.
"Lo udah nikah ya?"
Vella hanya mengangguk.
"Sama Rafzan?"
"Iya lah,"
"Makin Cantik ya sekarang." Puji Vella.
"Bisa aja kamu Vel." Wajah Bianca memerah malu.
"Eh udah berapa bulan?" Tanya Bianca melirik perut Vella.
"Udah 7 Bi, lo udah nikah?"
"Belum, tapi dua bulan lagi resmi kok.
Jangan lupa datang ya!" Vella mengangguk.
"Ini anak pertama atau?" Tanya Bianca.
"MAMII."
Empat bocah itu berlari ke arah Vella.
"Mami kemana aja Koko Sama Mas nyariin."
"Mami ngga papa kan bilang sama Abang?"
"Mami Tante ini siapa? Orang jahat ya?"
Vella meringis malu saat semua orang Melihat ke arah nya.
Bianca dia melongo dia fikir Vella baru hamil anak pertama nyata nya sudah banyak buntut nya.
"I-ni anak lo semua?" Tanya Bianca terbata bata.
"I-ya ini anak gue mereka kembar empat." Jawab Vella.
"Hebat banget Rafzan sekali tanam keluar empat!" Kata Bianca sambil tertawa kecil.
"Papi nanem apa Mi?" Tanya Rai.
"Nanam benih." Jawab Vella.
"Benih nya mana?"
"Ini!"
Jawab Vella sambil mengelus perut buncitnya.
***
Vella berdiri di balkon kamar nya, dia menatap indah nya pemandangan malam hari di mansion baru nya,
Tiba tiba ada tangan kekar memeluk nya dari belakang, Vella tersenyum kecil saat Rafzan mendusel dusel leher nya.
"Kamu gendutan." Kata Rafzan masih mencium cium leher putih milik Vella.
Mata Vella Melotot, mata nya berkaca kaca.
"A-ku jelek ya?!" Tanya nya.
Rafzan panik, saat melihat Vella Sudah berkaca kaca. Rafzan membalikkan tubuh Vella agar menghadap ke arah nya.
"Engga sayang! Kamu Cantik banget sumpah, jangan pernah inscure, kamu gini juga Karena aku."
Rafzan memeluk tubuh Vella yang bergetar karena menangis.
Rafzan duduk di sofa di balkon lalu memangku Vella.
"S-erius?!"
Dengan mata memerah dan hidung memerah Vella menatap Rafzan.
"Imut Banget sih?"
Rafzan mengecup Wajah Vella berkali kali.
Rafzan diam sambil menatap Vella yang sedang menghapus jejak air liur nya, di wajah nya akibat ulah Rafzan.
Makasih sayang." Kata Rafzan sambil mencium perut Vella.
"Kamu mau mengorbankan masa muda kamu demi mengurus aku dan putra putra ku,"
"Aku sayang banget sama kamu, jangan pernah berfikir untuk pergi ya!!"
Vella tersenyum mendengar perkataan tulus dari sang suami.
"Kalau aku mati gimana?"
Tanya Vella dengan iseng.
"Engga! Kemana pun kamu pergi aku akan ikut walaupun itu ke akhirat sekali pun." Jawab Rafzan dengan tegas.
Vella memeluk tubuh Rafzan dan menghapus air mata Rafzan.
"Iya aku juga sayang kok sama kamu."
Pukul 23,56 ke empat putra Vella sedang menyiapkan Lilin di atas kue ulang tahun.
Dengan perlahan Bocah bocah itu, Membuka kamar nya dan Melihat Mami dan Papi nya tertidur pulas.
Menit terus bergulir dan sekarang menujuk kan menit ke 59.
"3 2 1,"
"Dorr."
"Happy birthday happy birthday."
Vella terkejut karena letusan balon, sama hal nya dengan Rafzan dia juga terkejut.
Mata Vella berkaca kaca melihat ke empat putra nya, dia saja lupa kalau dia sedang berulang tahun,
"Happy birthday Mami Panjang Umur ya, Luke sayang Mami."
"Happy birthday Mami, Mami Adalah ibu terbaik sedunia, Rai sayang Mami."
"Ver Ngga tau mau ngucap Apa pokok nya Bahagia selalu ya Mami, kami semua sayang sama Mami."
"Mami Adalah malaikat ku, dan Mami adalah dunia ku, makasih ya mami udah mau ngelahirin anak nakal kayak Kay."
"Hiks makasih sayang! kalian Adalah hadiah terindah dari Tuhan,."
Vella memeluk erat tubuh keempat putra nya.
"Tiup lilin nya Mami, jangan lupa buat permintaan Mami."
Vella memejamkan Mata nya
"Tuhan terima kasih atas segalanya, takdir mu memang lah yang terbaik, terimakasih sudah mengirimkan Suami dan Putra putra yang baik untuk ku, semoga kami selalu bahagia ya tuhan,"
fyuhh
__ADS_1
"YEAHHH."
...