Sang Figuran

Sang Figuran
34


__ADS_3

Selamat Membacađź’›


Lima ratus lebih rombongan Rafzan dkk pergi ke rumah sakit dimana Bisma di rawat.


"Yang serius nih mereka ngikut Semua?" Tanya Rafzan.


"Iya." Jawab Vella kalem.


"Nanti bikin rusuh gimana, nanti kalau rumah sakit nya rame gara gara rombongan LOD." Kata Rafzan.


"Ya ngga papa biar rame kayak pasar." Jawab Vella.


Rafzan diam, dia hanya fokus mengendarai mobil nya. Tidak lama mereka sampai di rumah sakit Mantan?


Suara kenalpot motor membuat semua orang yang berada di rumah sakit itu keluar, mereka penasaran Kenapa ramai sekali.


Tanpa menghiraukan tatapan penasaran dan kagum Rafzan dan Vella berjalan masuk ke arah tempat admistrasi.


"Permisi Pasien atas nama Bisma Erlangga dirawat di ruangan mana?" Tanya Rafzan dengan datar dan aura intimidasi.


Perawat itu melongo melihat ketampanan wajah Rafzan, Sampai dia tidak mendengar pertanyaan Rafzan.


"Sus."


"Sus."


Suster itu tidak menyahut saat Vella memanggil nya, Karena kesal Vella mengeluarkan pistol dari saku jaket nya dan-


Dorr


Prangg


Kaca pintu rumah sakit pecah akibat tembakan Vella.


"Dimana ruangan atas nama Bisma Erlangga." Ulang Rafzan dengan penuh penekanan.


"V-IP no 8." Jawab Suster itu dengan badan gemetar.


"Jaga mata Lo sebelum gue buat lo ngga bisa melihat dunia lagi." Kata Vella sambil menggandeng tangan Rafzan.


***


Bagai kan anak bebek semua anggota LOD mengiring Rafzan dan Vella yang sedang berjalan di depan.


"Berasa induk bebek gue." Gumam Vella.


"Apa mau Bebek?" Tanya Rafzan yang seperti mendengar sesuatu.


"Ngga."


Setelah berjalan beberapa menit mereka semua sampai di depan ruangan Bisma.


"Permisi." Kata Vella sambil mengetuk pintu ruangan Bisma.


Pintu terbuka menampakkan Mama Bisma.


"Kalian mau ngejenguk Bisma ya."


"Iya Tante."


Mereka semua masuk, Tidak hanya beberapa orang sisa nya menunggu di luar, tidak mungkin semua anggota LOD masuk ke ruangan Bisma. Bisa bisa pengap.


Mata Vella berkaca kaca melihat kondisi Bisma Sekarang, tubuh yang dulu kekar dan berotot Sekarang tinggal tulang lagi, dulu rambut Bisma lebat dan hitam Sekarang Kepala nya tidak ada rambut lagi.

__ADS_1


"B-isma." Panggil Vella dengan nada bergetar.


Perlahan Bisma Membuka mata nya dan tersenyum kecut melihat para sahabat nya berkumpul di ruangan nya.


"K-alian da-tan-g?" Tanya Bisma terbata bata.


"Kenapa lo ngga bilang dari awal bis, lo ngga ngangep gue adik lagi, sahabat lagi? Kenapa hah?" Tanya Vella sambil mengelus tangan yang kurus bahkan tinggal tulang nya lagi.


"G-ue Ng-ga mau ngeropotin kalian." Jawab Bisma.


"Gue ngga merasa Lo ngeropotin bis Hiks." Tangis Vella pecah saat darah keluar dari hidung Bisma.


"KENAPA bis lo ngga jujur hah, lo mau bikin gue nanggis hah, lo tega ninggalin kita semua." Kata Vella sambil menangis bahkan semua orang disana menitik kan air mata nya.


"Jangan nangis gue ngga mau Queen gue sedih." Kata Bisma sambil mengelus pipi Vella.


"Lo jahat, kita baru beberapa bulan kumpul masa Lo mau ningglin gue sih."


"M-aaf tapi ini takdir." Jawab Bisma dengan air mata yang sudah menetes.


"Nanti kalau gue udah ngga ada kalian jangan suka berantem ya! Gue mau salah satu dari Kalian Ngeazanin gue ya, kalian mau kan nganterin gue ke rumah terakhir gue."lanjut Bisma sambil menatap mereka satu satu.


"Apa lo ngga bisa di sembuhin lagi, operasi gitu?" Tanya Vella.


"N-gga, kata dokter Bisma tinggal menunggu saja," Jawab Mama Bisma.


Semua orang di dalam Bahkan di luar ruangan itu menangis mendengar perkataan Mama Bisma.


"Sejak kapan Bisma sakit tan?" Tanya Vella.


"Dari umur 15 tahun." Jawab Mama Bisma.


"K-enapa Lo ngga bilang sih bis kita sahabat lo dari kecil, kenapa ngga jujur sih, suka banget bikin orang khawatir." Kata Arlan.


"Kenapa bis kenapa lo ngga Cerita sama gue apa Lo ngga ngangep gue Sahabat lagi hah." Kata Aries.


"Gue capek hiks gue ngga mau Kalian kasian Sama gue, gue mau orang yang gue Sayang bahagia bukan khawatir sama gue."


"Kalian sahabat gue yang terbaik, gue Sayang sama kalian semua nya, kalian hadiah dari tuhan yang paling berharga."


"Gue mohon ikhlasin gue ya, gue capek pengen tidur hiks, di sini sakit, dan darah sialan itu keluar terus hiks."


"G-ue capek hiks."


Bisma memgeluar kan unek unek nya dengan air mata yang mengalir deras dan darah dari hidung nya keluar lagi.


"Lo hebat bis bisa menyembunyikan penyakit itu dan berpura pura seperti orang terbahagia di dunia ini."


"Lo orang munafik yang cuma mikir perasaan lo doang, Lo fikir dengan Lo gini ngga bikin kita sedih hah."


"Plis lo sahabat terbaik gue bis."


"Lo harus berjuang."


Semua orang di dalam ruangan itu mengeluarkan unek-unek mereka dengan air mata yang mengalir.


"Ngga bisa gue capek paham ngga, gue ngga kuat ini sakit Banget, gue mau pulang." Kata Bisma dengan lirih.


"Pliss ikhlasin gue, gue capek." Lirih Bisma yang masih bisa di dengar Semua orang.


"Gue ngga ikhlas." Jawab Vella Sambil memukul dada Rafzan yang sedang memeluk Vella.


"T-olon-g g-ue p-engen tidur." Kata Bisma dengan nafas tersengal-sengal.

__ADS_1


"Ngga." Lirih semua orang.


"B-antuin g-ue." Lirih Bisma.


Mama Bisma mendekati ranjang sang anak.


"Anak mama capek? Pengen tidur hm, mama ikhlas sayang," jawab Mama sambil mengecup kening Bisma lama.


"P-apa." Lirih Bisma.


"I-ya boy." Jawab Papa dengan nada bergetar.


"Bisma Pamit ya, jagain Mama ya pa, jangan sibuk kerja harus jaga kesehatan, B-isma Sayang papa."


"Iya boy Papa akan jaga mama kamu, papa juga sayang sama pangeran kecil papa."


"A-sya-du A-n L-aa Ilaaha, Wa As-yhadu Anna Mu-ham-mad-ar Rasulullah." Lirih Bisma sambil menggenggam erat tangan orang tua nya.


Nafas Bisma semakin pendek, Bisma menatap semua sahabat nya lalu tersenyum dan menghembuskan nafas terakhir nya.


Pukul 20.06 Bisma Erlangga meninggal dunia,


"BISMA."


Teriak semua orang bahkan Mama Bisma langgsung pingsan saat Bisma menghembuskan nafas terakhir nya.


Sahabat terbaik yang selalu ada disaat Suka mau pun duka kini telah berpergi untuk selamanya, dan Bisma Sekarang sudah tidak merasakan sakit nya lagi.


Dia bebas tidak ada lagi minum obat obatan, tidak ada lagi darah yang keluar dari hidung nya, dan dia bebas dari rasa sakit tapi dia meninggal kan sejuta kesedihan untuk semua orang.


Kabar putra tunggal Erlangga meninggal Dunia sudah tersebar.


Hari ini Bisma Erlangga Orang baik telah dia Mandi kan bahkan sudah di sholat kan untuk terakhir kali nya.


Dan sesuai pesan Bisma, Rafzan yang mengazani Nya.


Bahkan bumi pun bersedih karena kehilangan orang baik seperti Bisma.


Bisma sudah di makam kan di pemakaman umum Semua anggota LOD hadir Bahkan Eric pun hadir untuk mengantarkan sahabat nya ke rumah baru nya.


"Bisma sayang udah ngga ngerasin sakit lagi ya, maaf ya mama nangis terus." Kata Mama Bisma sambil mengelus batu Nisan.


"Yang tenang boy." Kata Papa Bisma.


"Kita pamit ya hari mau hujan." Pamit Papa Bisma.


"Iya Om." Jawab Arlan Sopan.


Hening tidak ada yang Membuka suaranya, Vella masih menangis dalam pelukan Rafzan.


"Kalian pulang duluan hari mau hujan." Suruh Rafzan dengan nada dingin.


Mau tidak mau semua anggota LOD pulang dengan rasa kehilangan yang sangat mendalam.


"Udah ya jangan nangis." Kata Rafzan sambil mengusap air mata Vella yang masih menetes.


"B-isma jahat hiks." Kata Vella sambil menujuk gundukkan tanah.


"Ikhlas Sayang nanti Bisma ngga tenang." Jawab Rafzan.


"Bisma," lirih Vella sebelum terjatuh pingsan.


"Heii, Sayang bangun."

__ADS_1


Rafzan menepuk nepuk pipi Vella dengan pelan.


***


__ADS_2