Sang Kehancuran Telah Kembali

Sang Kehancuran Telah Kembali
Chapter 22 - Pahlawan vs Guardian


__ADS_3

"Sepertinya batas waktu tubuh buatanku telah usai, aku sedikit terkejut ketika dia bertemu avatar dari Great Goddess lain." Star memandangi layar.


"Sungguh kejadian yang mengejutkan tuan." Kiana berdiri tepat di samping Star.


"Great Goddess ada di mana mana ya, mereka benar benar aktif sekali di bandingkan dengan Great Deity!." ucap Star .


"Ada kemungkinan Great Goddess sedang merencanakan sesuatu." ujar Orion.


"Yang di ucapkan Orion ada benarnya, tapi kita tidak tau Great Goddess yang mana yang sedang merencanakan sesuatu itu, makanya aku sengaja agar tidak membunuh avatar itu."


"Suatu tindakan yang bijak tuan." puji Orion.


"Yah, kita tunggu sebentar lagi karena Fi belum sampai di sini membawanya." ucap Star.


"Sepertinya dia sudah datang tuan Star." Kiana memandang lurus ke depan seperti memandangi udara yang kosong.


Mereka ada di ruangan pertemuan (tahta) dimana ada barisan penjaga yang di bagian dua di sisi kiri dan kanan.


Para penjaga semua nya sigap dan tidak bergerak sedikit pun dari tempat nya pandangan mereka juga fokus ke depan tapi ada beberapa mata mereka yang melirik kecil ke Star.


Memakai seragam berwarna biru tua dengan pedang di samping pinggang mereka, seragam yang di jahit rapih dan terlihat keren itu dari hasil ide Buko yang bertugas dalam Penanganan produksi barang.


Star yang melihat hasil kerja Buko merasa bangga pada nya karena dia telah mengerjakan seragamnya dengan baik.


Para penjaga seperti nya sedikit gugup karena itu terlihat jelas dari wajah mereka, Star yang melihat itu seperti nya harus memberi dorongan semangat agar mereka tidak tegang "semua, kalian tidak perlu tegang santai saja aku senang kalian belajar dengan baik dan menjadi penjaga Altair yang hebat." Star memuji mereka.


Wajah tegang kini langsung berganti menjadi senang karena pujian dan usaha mereka di akui tuan mereka. senyuman terlihat jelas dengan mata yang berbinar.


Fi datang menghadap Star dengan membawa Avatar dari Great Goddess itu "Salam tuan, dimana saya harus meletakan nya?." tanya Fi


"Berikan pada Gilda biar dia saja yang mengurus nya !." jawab Star.


"baik tuan." Fi segera pergi membopong wanita itu dengan berjalan santai keluar ruangan.


"Saya izin bertanya pada anda, selanjutnya apa yang akan anda lakukan pada wanita itu?." tanya Orion.


"Aku sudah meminta pada Gilda agar memanggil Mentri pengeksekusian yaitu Arata dan wakilnya Lio agar mengintrogasi wanita itu." ucap Star


"Yah, ku harap bisa mendapatkan informasi yang berguna dari nya, juga aku ingin tau dia avatar Great Goddess yang mana karena ada lebih dari satu Great Goddess." lanjut Star.

__ADS_1


"Baiklah, saya mengerti yang anda lakukan tuan Star." jawab Kiana.


"Seperti nya begitu." ucap Orion juga.


"Daripada itu lebih baik kita fokus pada pertunjukan ini." ucap Kiana.


"Kau benar Kiana." jawab Orion.


Area lantai satu ( Area mining )


"Ugh, sakit sekali." ucap seorang knight (kesatria) .


"Lemah sekali dong." ucap Alleen.


"Siapa kau?" tanya orang itu.


"Jadi kau ingin tau nama ku? baiklah akan aku beritahu toh, ini hari terakhir kau hidup. nama ku Alleen seorang Guardian area satu mulai detik ini mohon kerja samanya Mui." Alleen tersenyum lebar.


"Bagaimana kau bisa tau namaku? dan Guardian?."


"Cukup basa basi sekarang aku di perintahkan untuk membunuhmu." ucap Alleen.


"Kau pikir siapa dirimu, aku ini Pahlawan kau tau itu." gertak Mui


"Seperti nya tidak ada cara lain selain mengalahkan mu." Mui menarik pedangnya dan mengambil sikap kuda-kuda.


"Hahahaha...... aku malah tambah bersemangat dengan sikapmu itu." Alleen memegang Sabit bulannya.


"Mengerikan, melihat mu seperti baru saja melihat malaikat pencabut nyawa." ujar Mui.


"Hahaha.... kalau begitu aku akan membuat ujaran mu itu menjadi nyata." Alleen menyabit udara di depannya itu.


"Kita lihat saja." Mui maju dengan pedangnya.


"Sringg." suara benturan kedua senjata dapat terdengar, mereka berdua bertarung dengan gesit dan cepat.


Mui mengayunkan pedang pada Alleen sambil mencari titik lemahnya, dia melihat banyak celah pada Alleen tapi anehnya sangat sulit menyerang titik tersebut. Karena kepekaan Alleen yang mengetahui kemana arah serangan Mui itu.


Alleen terus mengayunkan sabitnya pada Mui hingga beberapa kali sabit itu terkena tanah pada area itu. tanah yang terkena serangannya meninggalkan keretakan besar yang di akibatkan sabit Alleen.

__ADS_1


Mui hanya bisa terkejut mengetahui damage dari serangan Alleen "mengerikan." gumam Mui yang langsung terfokus menyerang Alleen.


"pertahanan diri 'invulnerable weapon'." pedang yang di pegang Mui bersinar terang hanya sebentar.


"Hiyaaaa...." Mui menyerang Alleen dari segala sisi.


Jika di lihat saja pertempuran mereka terlihat imbang tapi jika di lihat dengan teliti jelas bahwa Alleen tidak sepenuh nya memakai kekuatannya dalam bertarung.


Jelas sekali itu terlihat dari dia memegang sabit nya hanya satu tangan dengan wajah yang bosan.


Senyuman dan tawa Alleen terngiang di kepala Mui membuat nya muak dan kesal "bisakah kau tidak tertawa itu sangat menganggu sekali." ujar nya.


"Aaaa..... jadi maksud mu tawa ku itu jelek?."


"Bukankah itu sudah jelas !." ungkap Mui.


Mui berniat memancing amarah Alleen agar dia lengah dengan pertahanan dirinya, tapi yang di harapkan malah sebaliknya tatapan Alleen pada Mui sangat datar.


Perlahan tatapan datar itu berubah menjadi ekspresi tidak puas yang membuat hati Mui kesal. Alleen menurunkan sabitnya "membosankan, ternyata hanya segitu kemampuan mu."


Mui tersentak dengan apa yang di ucapkan Alleen. wajah nya mengkerut marah lalu pedangnya mengarah ke Alleen.


Mui menyerang Alleen terus menerus tetapi Alleen tidak menahan serangan nya. dia hanya menghindari nya saja dengan sabit di pundaknya seperti memegang cangkul.


Serangan Mui selalu mengarah pada kepala Alleen seakan itu kelemahan Alleen. mata nya membara dengan kemarahan hingga membuat nya membuka celah pada diri nya sendiri.


Alleen yang menyadari itu segera mengayunkan sabit nya tepat mengenai dada Mui yang memakai armor.


Walau memakai armor yang keras Mui tetap saja terluka dan mengeluarkan darah yang mengalir keluar dari celah tebasan tersebut.


Serangan yang terlihat ringan itu malah membuat Mui kesakitan, dia memegang dada nya berusaha menahan darah yang terus mengalir dari armornya itu walaupun begitu Mui tetap maju menyerang Alleen dengan hanya satu lengan kanan yang memegang pedang.


Alleen tertawa kecil melihat kondisi Mui. Alleen yang melihat keadaan Mui merasa Mui orang yang menyedihkan karena hanya luka kecil seharusnya tidak membuat nya kesakitan.


"Sebenar nya kalian di anggap Pahlawan karena melawan apa sih.... luka segitu saja kau merengek terus." ujar Alleen


ekspresi Mui berubah menjadi tegang atas ucapan itu, Alleen perlahan berjalan ke arah Mui dengan tatapan tajam.


Momentum semakin kuat terasa Mui saat Alleen dengan tatapan pembunuh itu mendekati nya. benar benar gila energi yang di pancarkan Alleen sangat tidak normal.

__ADS_1


Alleen semakin dekat dengan Mui yang diam membeku itu, Alleen seperti berbisik sesuatu pada Mui "kau tidak akan bisa mengalahkan ku meski berlatih beribu tahun pun, lemah tetap lah lemah." dengan senyum licik nya.


"crackkk." suara semburan darah keluar dari kepala Mui yang di tebasan Alleen mengalir seperti air mancur. cipratan berhamburan kemana mana sampai mengenai wajah Alleen yang tak sedikitpun menunjukan ekspresi. Alleen melihat ke atas lalu ekspresinya berubah menjadi tersenyum sepertinya karena dia tau kalau dirinya sedang di lihat tuannya.


__ADS_2